Saturday, September 19, 2026

Problematika Penerjemahan Sosial-Budaya dan Intervensi Kecerdasan Buatan

Problematika utama penerjemahan sosial-budaya terletak pada istilah atau unsur budaya spesifik (culture-specific items) yang tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa sasaran, sehingga “kehilangan budaya” sulit dihindari. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) menunjukkan dua sisi yang sangat jelas: di satu sisi, large language models (LLM) menunjukkan kemampuan yang melampaui penerjemahan mesin saraf tradisional dalam mengidentifikasi unsur budaya spesifik dan memberikan informasi kontekstual; bahkan ChatGPT 4.0 dalam penerjemahan istilah budaya tertentu dapat mendekati tingkat kemampuan manusia. Di sisi lain, AI masih cenderung mengandalkan strategi penerjemahan harfiah dan transliterasi, memiliki keterbatasan sistematis dalam memahami makna budaya yang mendalam, serta belum mampu menilai tingkat keberterimaan suatu terjemahan dalam budaya sasaran. Oleh karena itu, jalur yang paling rasional saat ini bukanlah menggantikan penerjemah manusia dengan AI, melainkan menempatkan AI sebagai “alat bantu penerjemahan budaya”—AI melakukan identifikasi awal dan menghasilkan draf, sedangkan penerjemah manusia melakukan kalibrasi budaya dan mengambil keputusan strategis.

I. Problematika Penerjemahan Sosial-Budaya: Ketika Kata Mengandung Makna yang Tidak Dapat Dipindahkan Begitu Saja

1.1 Hakikat Permasalahan Unsur Budaya Spesifik

Unsur budaya spesifik (culture-specific items) merujuk pada kata atau frasa yang memiliki makna khusus dalam konteks budaya tertentu. Unsur tersebut membawa kepercayaan dan nilai-nilai suatu budaya, tetapi sering kali tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa lain. “Kekosongan leksikal” ini bukan sekadar persoalan kemampuan berbahasa, melainkan mencerminkan perbedaan mendasar dalam cara berbagai budaya mengklasifikasikan dunia dan membangun kerangka kognitifnya.

Sebagai contoh, dalam penerjemahan antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia, istilah “كرم الضيافة” (karam al-diyafah) yang dapat diterjemahkan sebagai “keramahan” atau “kemurahan hati dalam menjamu tamu” tidak hanya mengandung makna harfiah hospitality, tetapi juga mencerminkan seperangkat nilai budaya yang berkaitan dengan kehormatan, kewajiban sosial, dan hubungan antarmanusia. Jika hanya diterjemahkan secara harfiah, konsep tersebut berpotensi kehilangan bobot sosial dan nuansa emosionalnya ketika ditempatkan dalam konteks budaya Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa unsur budaya spesifik yang berkaitan dengan ekologi, struktur sosial, adat istiadat, dan istilah keagamaan merupakan salah satu hambatan utama dalam penerjemahan budaya.

1.2 Ketegangan Abadi antara Domestikasi dan Forenisasi

Dalam teori penerjemahan, pertentangan klasik antara domestikasi (domestication) dan forenisasi (foreignization) menjadi semakin nyata dalam praktik penerjemahan budaya. Strategi domestikasi mengubah unsur budaya bahasa sumber menjadi bentuk yang lebih familiar bagi pembaca sasaran. Strategi ini meningkatkan keterbacaan, tetapi berpotensi mengorbankan keunikan budaya sumber. Sebaliknya, strategi forenisasi mempertahankan karakteristik budaya bahasa sumber sehingga keaslian budaya lebih terjaga, tetapi dapat menimbulkan hambatan bagi pembaca.

Sebuah penelitian mengenai penerjemahan istilah budaya Indonesia ke dalam bahasa Inggris menunjukkan bahwa strategi penerjemahan tidak didominasi oleh satu ideologi tertentu, melainkan memperlihatkan karakter “adaptasi pragmatis”: forenisasi dan domestikasi masing-masing digunakan sekitar 40%, sementara 20% lainnya menggunakan strategi campuran. Secara khusus, peminjaman (borrowing) merupakan strategi yang paling sering digunakan, misalnya dengan mempertahankan istilah yeye dan menambahkan penjelasan deskriptif “the skipping rope game”. Strategi tersebut memungkinkan identitas budaya tetap dipertahankan sekaligus membantu pembaca sasaran memahami maknanya. Fleksibilitas strategi ini menunjukkan bahwa tantangan utama penerjemah adalah menyeimbangkan kesetiaan budaya dengan kejelasan komunikasi.

1.3 Ketakterbalikan Kehilangan Budaya

Bahkan ketika kombinasi strategi penerjemahan yang sangat cermat digunakan, kehilangan informasi dalam penerjemahan budaya tetap sulit dihindari. Analisis terhadap penerjemahan bahasa Inggris serial Netflix Indonesia Gadis Kretek menunjukkan bahwa sejumlah istilah budaya mengalami “penyempitan makna” (semantic reduction) selama proses penerjemahan. Misalnya, tubruk—sebuah cara menyeduh kopi—diterjemahkan menjadi plain brewed; buta—tokoh dalam suatu tarian—disederhanakan menjadi monster; sedangkan bude—sebutan untuk perempuan yang lebih tua—digeneralisasi menjadi aunt.

Meskipun terjemahan tersebut dapat berfungsi secara komunikatif, berbagai unsur yang melekat pada istilah aslinya menjadi hilang, termasuk konteks sosial tertentu, latar belakang sejarah, tingkat tutur bahasa, serta asosiasi ekonomi.

Akar persoalannya adalah bahwa “makna” sebuah unsur budaya spesifik tidak pernah hanya berupa fungsi referensialnya. Makna tersebut juga merupakan bagian dari jaringan makna dalam suatu budaya. Ketika sebuah kata dikeluarkan dari jaringan tersebut melalui proses penerjemahan, ketebalan maknanya hampir pasti menjadi lebih tipis, apa pun strategi yang digunakan.

II. Intervensi Kecerdasan Buatan: Dari Alat Menuju “Semi-Subjek”

Friday, September 18, 2026

Ringkasan eBook Genre Relations: Mapping Culture karya J. R. Martin dan David Rose

 Berikut adalah rangkuman poin-poin terpenting dari Bab 1 ("Getting going with genre") buku Genre Relations: Mapping Culture karya J. R. Martin dan David Rose:



1. Latar Belakang dan Definisi Genre

  • Kritik Praktik Literasi Sekolah Dasar (1980-an): Penelitian gerakan literasi Sydney School di Australia menemukan bahwa sekolah dasar pada masa itu kurang mengajarkan struktur tulisan secara eksplisit. Guru cenderung menganggap semua tulisan siswa sebagai "cerita" (story) dan menilainya berdasarkan kriteria cerita.
  • Variasi Jenis Teks Siswa: Peneliti mengidentifikasi pelbagai jenis teks yang ditulis siswa, seperti recount (merekam pengalaman berurutan), observation/comment (pengamatan dan komentar), report (laporan faktual umum), description (deskripsi spesifik), procedure (petunjuk langkah-demi-langkah), protocol (aturan/larangan), narrative (cerita dengan komplikasi), serta explanation (penjelasan ilmiah).
  • Definisi Genre: Genre didefinisikan sebagai proses sosial yang bertahap dan berorientasi pada tujuan (staged, goal-oriented social process).
    • Bertahap (staged): Membutuhkan beberapa langkah atau tahapan struktur (schematic structure) untuk mencapai tujuan.
    • Berorientasi tujuan (goal-oriented): Memiliki target penyelesaian yang jelas.
    • Sosial (social): Penulis membentuk teksnya untuk pembaca dalam konteks budaya tertentu.

2. Pemodelan Konteks: Register dan Genre

Bahasa dipahami beroperasi dalam konteks situasi (context of situation) dan konteks budaya (context of culture).

  • Register (Konteks Situasi): Terdiri dari tiga variabel utama yang berelasi langsung dengan tiga metafungsi bahasa:
    1. Field: Aktivitas sosial yang sedang berlangsung (apa yang terjadi) \(\rightarrow\) merealisasikan metafungsi ideational (pengalaman).
    2. Tenor: Hubungan status dan solidaritas antarpartisipan (siapa yang terlibat) \(\rightarrow\) merealisasikan metafungsi interpersonal (interaksi dan evaluasi).
    3. Mode: Saluran komunikasi dan peran bahasa (lisan, tulisan, dialog, monolog) \(\rightarrow\) merealisasikan metafungsi textual (pengorganisasian pesan).
  • Genre (Konteks Budaya): Ditempatkan pada tingkatan (stratum) semiotik budaya di atas register. Genre berfungsi sebagai pola yang mengatur kombinasi variabel field, tenor, dan mode menjadi praktik sosial yang dikenali oleh anggota masyarakat.

3. Ideologi dan Keadilan Sosial

*10 Simplified Research Topics on ELT in Indonesia*

 *10 Simplified Research Topics on ELT in Indonesia*

Here are the 10 topics rewritten in simple English, keeping their main research ideas.

1. Teachers’ Views on the 2027 Mandatory Primary English Policy

Study what primary English teachers think about the new policy. Focus especially on teachers without special English training and how the policy affects their professional identity.

2. The Gap Between ELT Policy and Classroom Reality

Study why English education policies are difficult to apply in real classrooms. Look at large classes, limited teaching time, and differences in teacher qualifications.

3. English Education and Inequality in Indonesia

Study why some students have better English learning opportunities than others. Examine differences in school resources, teacher distribution, technology, and regional access.

4. Translanguaging in Multilingual English Classrooms

Study how teachers and students use different languages to support English learning. Explore how Indonesian, local languages, English, and other communication resources can work together in diverse classrooms.

5. Teachers’ English Skills and Teaching Ability

Study the English proficiency and teaching skills of Indonesian English teachers. Identify the causes of low proficiency and ways to improve their speaking and teaching abilities.

6. Communicative Language Teaching in the Merdeka Curriculum

Study how teachers apply Communicative Language Teaching (CLT) in real classrooms. Explore why CLT is sometimes used only partially and what helps teachers use it more effectively.

7. English Education and Local Language Preservation

Study how English can be taught together with Bahasa Indonesia and local languages. Explore ways to improve English education without weakening indigenous languages and cultures.

8. Technology and the Digital Divide in ELT

Study how technology supports English learning in Indonesian schools and universities. Focus on unequal internet access, digital skills, and teaching methods that fit local conditions.

9. Student Motivation, Anxiety, and Speaking Participation

Study why some Indonesian students are afraid or unwilling to speak English. Examine the roles of vocabulary, pronunciation, confidence, and opportunities to practice.

10. English as a Lingua Franca and Intercultural English Teaching

Study how English can be taught as a global communication language rather than only following native-speaker standards. Explore how English learning relates to Indonesian culture, identity, religion, and different ways of thinking.

Wednesday, September 16, 2026

9 Scopus Docs of Dr. Faizal Risdianto





Breaking through the Ivory Tower of High-Indexed Journals: Insights from EFL Academics in Private Universities, East Java, Indonesia
no-Q as Journal Dirasat Human and Social Sciences
Author Order : 3 of 6 Creator : Tajuddin A.J.A.
2026 0 cited
How Spatial and Temporal References Construct Cultural Identity and Ecological Awareness: The Case of Little Forest Movie
Q1 as Journal International Journal of Society Culture and Language
Author Order : 4 of 4 Creator : Hamidah I.
2025 0 cited
Appraisal and Ideology Realization in Indonesia State Capital Relocation News Texts
Q1 as Journal International Journal of Society Culture and Language
Author Order : 1 of 4 Creator : Risdianto F.
2024 1 cited
Unlocking Potential: A Closer Look at Research Engagement and Productivity Among EFL Academics in East Java, Indonesia
no-Q as Journal Arab World English Journal
Author Order : 5 of 6 Creator : Fadhilawati D.
2024 1 cited
“The Sum of All Fears” from Novel to Film: Shifting the Discourse of Terrorism
Q1 as Journal World Journal of English Language
Author Order : 3 of 6 Creator : Rahayu M.
2023 1 cited
Women’s language features: Identifying language and gender in a talk show from a sociolinguistics the perspective
Q1 as Journal Research Journal in Advanced Humanities
Author Order : 5 of 7 Creator : Purba R.
2023 3 cited
Sociolinguistic analysis of language and gender identity in talk shows
Q1 as Journal Research Journal in Advanced Humanities
Author Order : 5 of 7 Creator : Purba R.
2023 12 cited
Intercultural Linguistic Borders, Stereotypes and Representations in Americanah by Chimamanda Adichie Ngozie Adichie: A Sociolinguistics perspective
no-Q as Journal Isvs E Journal
Author Order : 7 of 10 Creator : Sutrisno D.
2023 12 cited
Video as Educational Multimedia to Teach English Speaking
Q4 as Conference Proceedin Journal of Physics Conference Series
Author Order : 3 of 4 Creator : Fajar Masyitoh N.
2019 3 cited

Thursday, September 10, 2026

Pak Fay New Blog: Wall of ideas 1-3

Pak Fay New Blog: Wall of ideas 1-3: Wall of Commentaries 1 Wall of Commentaries 2 Wall of Commentaries 3

Blog Dr. Faizal Risdianto: My post in Kaskus English Forum

Blog Dr. Faizal Risdianto: My post in Kaskus English Forum: English  •  07-07-2011 19:46 Do U agree if smoking will be permanently Prohibited in Public Places 3 18.3K 475 English Education & Liter...

Blog Dr. Faizal Risdianto: Boso Jowo kuwi luwih simpel tinimbang Boso Enggres

Blog Dr. Faizal Risdianto: Boso Jowo kuwi luwih simpel tinimbang Boso Enggres:  Boso Jowo kuwi luwih simpel tinimbang Boso Enggres. Iki buktine: 1. Walking slowly on the edge (side) of the road: MLIPIR 2. Falling backwa...

1. Walking slowly on the edge (side) of the road: MLIPIR

2. Falling backward and then hitting own head: NGGEBLAK

3. Falling/tripping forward (and may hit own face): KEJLUNGUP

4. Smearing one's body with hot ointment or liquid and then massaging it: MBLONYOHI

5. Got hit by a truck that is moving backward: KUNDURAN TRUK

6. Hot pyroclastic cloud rolling down a volcano: WEDHUS GEMBEL

7. A small, sharp thing embedded inside one's skin: KESUSUBEN

8. Things getting out from a container accidentally because of gravity: MBROJOL

9. Get hit by thing collapsing on top of one's head/body: KEMBRUKAN

10. Drinking straight from the bottle without using a glass, where the whole bottle tip gets into the mouth: NGOKOP

11. Difficult to open eyes because something is shining very bright: BLERENG

12. Hanging on tightly to something to be inert: GONDELAN

13. Being overly active carelessly with eyes opened wide: PECICILAN

14. Releasing "wind" from the body through a coin drawn across the back skin's surface: KEROKAN

15. Finding by accident something good or functional/valuable/useful without looking for it: NDILALAH

16. Expression or gesture due to a sudden appearance (of something): MAK JEGAGIK

17. Very surprise of an unexpected experience: NJENGGIRAT

18. Water comes out from the mouth uncontrollably: NGENCES

19. Doing something nonchalantly with your finger: UTEK-UTEK



SOURCE: https://www.kaskus.co.id/thread/51d86e681dd7199c63000002/ternyata-bahasa-jawa-lebih-canggih-dari-bahasa-inggris

UNDERSTANDING PRAGMATICS

 

https://drive.google.com/file/d/1N9K2E2DapfLBvCPZfivwc-NEeLWYYAND/view

Is it the same conception multimedia in ELT teaching vs multimodal in ELT learning?

 No, they are not the same conception, although they overlap in practice. In ELT, multimedia usually refers to the technological/media mix used to deliver instruction, while multimodal refers to the semiotic modes through which meaning is made and learned.[academic.oup][e-journal.undikma.ac][ihworld][thebioscan]

Core difference in conception

  • Multimedia in ELT (teaching-focused, tool-oriented)

    • Defined as the integration of multiple media forms—text, audio, images, animation, video, interactive digital tools—to support teaching and learning.[thebioscan][scribd][kuey]
    • Emphasis is on what technologies/media are used in the classroom (e.g., videos, slides, audio recordings, apps).[scribd]
    • Often framed as a teaching aid or instructional resource to make lessons more engaging and to provide varied input.[thebioscan][scribd]
  • Multimodal in ELT (learning-focused, meaning-oriented)

So:

Where they overlap

In practice, multimedia resources are often multimodal texts: a video, for example, combines linguistic (speech, captions), visual (images, layout), aural (music, sound effects), and sometimes gestural (body language) modes. That’s why in classroom talk the terms can feel similar:[proceeding.unnes.ac][ritassida.weebly]

Implications for ELT


Commedy terms: Laughing at our self

 Dalam dunia komedi, “mentertawakan diri sendiri” berarti menjadikan diri, pengalaman, kesalahan, kekurangan, kebodohan, atau kegagalan pribadi sebagai bahan humor, bukan selalu menertawakan orang lain.


Contoh sederhana

Misalnya seorang komedian berkata:

“Saya ini sebenarnya orang yang sangat disiplin. Setiap pagi saya bangun jam 5... untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi.”

Di sini komedian menertawakan dirinya sendiri karena mengakui kebiasaan malas dengan cara yang lucu.

Contoh lain:

“Saya sudah belajar bahasa Inggris selama 20 tahun. Sampai sekarang kalau orang bilang How are you?, saya masih menjawab, ‘Yes.’”

Ia menggunakan kekurangannya sendiri sebagai sumber humor.


Mengapa teknik ini efektif?

Ada beberapa fungsi penting:

  1. Membuat komedian terlihat rendah hati
    Ia tidak selalu memosisikan dirinya sebagai orang yang lebih pintar daripada penonton.

  2. Menciptakan kedekatan dengan penonton
    Penonton sering berpikir, “Wah, saya juga pernah begitu.”

  3. Mengurangi risiko menyinggung orang lain
    Daripada menjadikan orang lain sebagai sasaran lelucon, komedian menjadikan dirinya sendiri sebagai “target”.

  4. Mengubah pengalaman negatif menjadi sesuatu yang menghibur
    Kegagalan, rasa malu, kesalahan, atau pengalaman canggung dapat diolah menjadi humor.

  5. Membangun persona komedian
    Misalnya seseorang membangun karakter sebagai “orang yang kikuk”, “pelupa”, “terlalu serius”, atau “tidak pandai dalam urusan cinta”.

Tetapi “mentertawakan diri sendiri” bukan berarti merendahkan diri terus-menerus

Ini perbedaan yang penting. Self-deprecating humor yang sehat biasanya memiliki pesan:

“Saya tahu kekurangan saya, dan saya bisa melihat sisi lucu dari kekurangan itu.”

Bukan:

“Saya memang tidak berharga dan pantas dihina.”

Jadi, dalam komedi, mentertawakan diri sendiri adalah kemampuan melihat absurditas atau kelucuan dalam diri dan pengalaman pribadi, kemudian mengubahnya menjadi humor.

Dalam konteks teori humor dan pragmatik, teknik ini juga menarik karena dapat berfungsi sebagai strategi menurunkan jarak sosial, membangun rapport, menunjukkan humility, dan mengelola face. Ini bahkan bisa dikaitkan dengan konsep face menurut Goffman/Brown & Levinson dan Rapport Management Spencer-Oatey.

Wednesday, September 9, 2026

100 Bahasa Gaul Gen Alpha

 100 Bahasa Gaul Gen Alpha

Flex - Pamer kekayaan atau skill yang bikin orang melirik.
Lit - Super seru, bikin suasana meledak.
Bet - Bentuk persetujuan kayak "oke gas!".
Vibe Check - Ngecek mood atau aura seseorang.
FOMO - Takut ketinggalan momen asik yang lagi rame.
Sus - Kelihatan mencurigakan dan bikin ragu.
Clout - Popularitas atau pengaruh gede di medsos.
No Cap - Beneran serius, gak bohong.
Simp - Orang yang terlalu ngefans sama seseorang sampai bucin.
Drip - Outfit keren dan stylish abis.
Bussin' - Makanan yang enaknya keterlaluan.
Slay - Ngadepin sesuatu dengan hasil maksimal.
Ohio - Code buat hal yang cupu atau aneh.
Glow Up - Upgrade penampilan jadi makin kece.
Red flag - Tanda bahaya soal sifat buruk seseorang.
Tea - Info juicy atau gosip panas.
Lowkey - Diam-diam aja, gak mau ribut.
Highkey - Kebalikannya, jelas banget dan terbuka.
Green flag - Pertanda hubungan yang sehat dan bikin happy.

THE GOLDEN CUCUMBER GIRL

 https://drive.google.com/file/d/1t7jBdZ8a_dfPT5_qkwCmsoxgtm5eiJut/view?usp=sharing


Assalamu'alaikum wrwb.


To honorable judges, teachers, and my dear friends.

In front of you all, let me to intoduce myself. My name Humaira ... from SMP N 1 Tasikmadu. Today, I am very excited to share a wonderful story entitled “The Golden Cucumber Girl. “

THE GOLDEN CUCUMBER GIRL

Once upon a time, in a peaceful village in Central Java, Indonesia, there lived a kind and lonely widow named Mbok Sirni.

She lived alone in a small wooden house near a green forest. Every day, she worked hard in her garden. She grew vegetables, took care of her plants, and sold them in the village.

Although she was a kind woman, she often felt lonely because she had no child.

One evening, while she was sitting in front of her house, she looked at the sky and said, “I wish I had a daughter. I would love her and take care of her with all my heart.”

Suddenly, she heard a strange voice from behind the trees. “Mbok Sirni, I can give you a child.”

She was surprised and looked around. An enormous green giant named Buto Ijo appeared from the forest.

Mbok Sirni was frightened, but she was also very happy when she heard that she could have a child.

Buto Ijo gave her some cucumber seeds and said,

“Plant these seeds. You will have a beautiful daughter. But when she is seventeen years old, you must give her to me.”

Mbok Sirni was shocked. However, because she desperately wanted a child, she agreed to his condition.

She planted the seeds in her garden and took care of them every day.

A few months later, one cucumber grew bigger and brighter than all the others. It was shining like gold.

Mbok Sirni quickly picked the golden cucumber. When she opened it, she was amazed. Inside the cucumber was a beautiful baby girl.

Mbok Sirni was extremely happy. She named her Timun Mas, which means Golden Cucumber.

She raised Timun Mas with love. Timun Mas grew into a beautiful, brave, and kind-hearted girl.

Years passed quickly.

When Timun Mas was seventeen years old, Mbok Sirni remembered her promise to Buto Ijo. She became worried and told Timun Mas about the agreement.

She said,

“My dear daughter, I have something important to tell you. When you were a baby, I promised Buto Ijo that I would give you to him when you became seventeen.”

Timun Mas was shocked.

“Mother, what should we do?” she asked.

Mbok Sirni did not want to lose her daughter. She went to a wise hermit and asked him for help.

The hermit gave her four magical objects: cucumber seeds, needles, salt, and shrimp paste. He told Mbok Sirni,

“Give these to Timun Mas. When Buto Ijo comes, she must run as fast as she can and throw these objects behind her one by one.”

Monday, September 7, 2026

APPRAISAL SFL MAIN SOURCES

 








Konsep Inscribed vs. Invoked dalam Appraisal (SFL)

Konsep Inscribed vs. Invoked dalam Appraisal (SFL)

Dalam kerangka Appraisal milik Martin & White (2005) dan Martin & Rose (2003/2007), pembedaan inscribed (tertulis/eksplisit) dan invoked (terundang/implisit) adalah cara sistemik untuk membedakan seberapa langsung sikap evaluatif (Attitude) diwujudkan dalam teks.libstore.ugent+2
1. Posisi dalam Sistem Appraisal
Appraisal adalah subsistem dari interpersonal meaning dalam SFL yang memodelkan sumber daya bahasa untuk mengekspresikan:
Attitude (sikap: Affect, Judgement, Appreciation)
Graduation (penguatan/pelemahan: Force, Focus)
Engagement (posisi terhadap suara/orientasi lain: expand, contract)
Dalam subsistem Attitude, setiap penilaian (positif/negatif) dapat diwujudkan sebagai:
Inscribed attitude: evaluasi yang langsung dan leksikal
Invoked attitude: evaluasi yang tidak langsung, muncul lewat implikasi, asosiasi, atau “fakta” yang tampak netrallibstore.ugent+2

2. Inscribed Attitude: Evaluasi Eksplisit
Inscribed attitude adalah penilaian yang diekspresikan melalui leksikon yang secara inheren bermuatan evaluatif dan relatif stabil nilainya di berbagai konteks.libstore.ugent+2
Ciri-ciri utama:
Menggunakan kata sifat, kata kerja, atau adverbia evaluatif seperti:
bahagia, sedih, marah (Affect)
jujur, korup, berani, pengecut (Judgement)
indah, memukau, buruk, merugikan (Appreciation)

Nilai evaluatifnya tidak terlalu bergantung pada konteks; kata itu sendiri sudah “membawa” penilaian positif/negatif.libstore.ugent+1

Sulit diabaikan atau “dibaca lain” karena evaluasinya terbuka dan langsung.omu.repo.nii.ac
Contoh:
“Kebijakan itu merugikan rakyat kecil.” → merugikan adalah inscribed appreciation negatif.

“Ia bertindak jujur dan bertanggung jawab.” → jujur, bertanggung jawab adalah inscribed judgement positif.libstore.ugent+1
3. Invoked Attitude: Evaluasi Implisit
Invoked attitude adalah penilaian yang tidak diucapkan langsung, tetapi dibangkitkan pada pembaca melalui:
Penyajian “fakta”, detail peristiwa, atau narasi yang tampak netral
Pemilihan kata denotatif yang dalam budaya tertentu memicu asosiasi evaluatif
Metafora, ironi, kontras, atau pengulangan yang mengarahkan interpretasilibstore.ugent+2
Ciri-ciri utama:
Tidak ada (atau sedikit) leksikon evaluatif eksplisit.
Evaluasi muncul lewat implikasi dan asosiasi, bukan lewat makna leksikal yang stabil.libstore.ugent+1
Lebih bergantung pada posisi sosial-budaya-ideologis pembaca; bisa lebih ambigu atau multitafsir.functionallinguistics.springeropen+1

Martin & White membedakan dua mekanisme utama invoked attitude:
Provoked (dipicu):
Melalui metafora leksikal, idiom, atau ungkapan figuratif yang secara kultural bermuatan evaluatif.
Contoh: “Ia adalah serigala berbulu domba” → tidak memakai kata berbahaya atau menipu, tetapi metafora memicu judgement negatif.functionallinguistics.springeropen+1

Invited (diundang):
Melalui penyajian fakta, urutan peristiwa, atau detail naratif yang “mengundang” pembaca menyimpulkan sikap.
Contoh: “Di tengah antrian panjang untuk beras subsidi, ia membeli mobil seharga 5 miliar.” → tidak ada kata korup atau tidak peduli, tetapi fakta mengundang judgement negatif.functionallinguistics.springeropen+1
4. Contoh Kontras: Inscribed vs. Invoked
Teks tentang pejabat
Inscribed:
“Pejabat itu sangat korup dan tidak bertanggung jawab.”

Kata korup dan tidak bertanggung jawab adalah inscribed judgement negatif.libstore.ugent+1

Invoked:
“Selama masa jabatannya, tiga proyek infrastruktur mangkrak, sementara ia membeli rumah kedua dan mobil mewah.”

Tidak ada kata evaluatif eksplisit, tetapi detail fakta mengundang pembaca menilai: tidak kompeten, mungkin korup, tidak peduli publik.functionallinguistics.springeropen+1
Teks tentang tokoh publik
Inscribed:
“Ia adalah pemimpin yang visioner dan berani.”
Invoked:
“Ia mengambil keputusan yang tidak populer, tetapi lima tahun kemudian angka kemiskinan turun drastis dan lapangan kerja meningkat.”
Pembaca diundang menyimpulkan: visioner dan berani, tanpa kata itu muncul.functionallinguistics.springeropen+1

5. Mengapa Pembedaan Ini Penting?
Analisis wacana kritis
Teks yang banyak menggunakan invoked attitude sering terlihat “objektif” atau “hanya menyajikan fakta”, padahal sangat evaluatif secara tersembunyi.functionallinguistics.springeropen+1

Dominasi invoked attitude bisa menjadi strategi untuk menyembunyikan bias atau menghindari tanggung jawab atas penilaian.omu.repo.nii.ac+1

Retorika dan persuasi
Invoked attitude sering lebih persuasif karena pembaca merasa “menemukan sendiri” kesimpulan, bukan “dipaksa” oleh kata evaluatif.functionallinguistics.springeropen
Inscribed attitude lebih cocok untuk posisi yang ingin terbuka dan jelas tentang nilai yang dipegang (mis. manifesto, pidato normatif).omu.repo.nii.ac

Variasi interpretasi lintas budaya
Karena invoked attitude bergantung pada asosiasi kultural, penilaian yang “jelas” dalam satu komunitas bisa tidak terbaca sama sekali dalam komunitas lain.functionallinguistics.springeropen+1
Inscribed attitude lebih stabil lintas konteks, meski tetap bisa “dibalik” oleh ko-teks (mis. ironi).omu.repo.nii.ac+1

6. Nuansa Teoretis: Spektrum, bukan Dikotomi Kaku

Beberapa pengembang Appraisal (mis. Thomson, White, dan lain-lain) menekankan bahwa:
Inscribed vs. invoked sebaiknya dipahami sebagai spektrum keeksplisitan, bukan dikotomi hitam-putih.functionallinguistics.springeropen+1
Ada kata yang secara leksikal tampak netral, tetapi dalam konteks budaya tertentu sudah berfungsi hampir seperti inscribed (mis. “ia selalu datang tepat waktu” → hampir otomatis dibaca sebagai disiplin/terpuji).functionallinguistics.springeropen+1
Bahkan inscribed attitude pun bisa “dibalik” nilainya oleh konteks (mis. ironi: “Benar-benar pemimpin yang hebat” saat menggambarkan kegagalan besar).omu.repo.nii.ac+1

7. Ringkasnya
Inscribed attitude: Evaluasi langsung, lewat leksikon evaluatif stabil.

Mudah dikenali, lebih terbuka, lebih sulit “ditolak” sebagai sekadar opini karena memang dinyatakan sebagai penilaian.libstore.ugent+2
Invoked attitude: Evaluasi tidak langsung, lewat fakta, narasi, metafora, ironi, dan detail provokatif.
Teks tampak lebih “netral”, tetapi sebenarnya sangat evaluatif; menuntut pembaca aktif menyimpulkan sikap penulis.libstore.ugent+2

Dalam analisis teks, pertanyaan kuncinya adalah: Apakah penulis menyatakan sikapnya (inscribed), atau menuntun pembaca untuk menyimpulkan sikap itu sendiri (invoked)? Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting untuk memahami strategi retorik, ideologi, dan bias dalam wacana.

Friday, September 4, 2026

SALAM SATU JARI = SALAM TAWHEED

 








Jurnal SINTA 1 – ELT & Linguistics (2025–2026)

 Berikut adalah daftar jurnal bidang ELT (English Language Teaching) dan Linguistics yang masih berstatus SINTA 1 dan SINTA 2 pada periode 2025–2026, berdasarkan informasi terbaru dari portal SINTA dan sumber terverifikasi.[pakfaizal][publikasi.internationaljournallabs][journal.teflin]


🥇 Jurnal SINTA 1 – ELT & Linguistics (2025–2026)

Nama JurnalISSN / e-ISSNPenerbit / InstitusiStatus & Catatan
TEFLIN Journal0215-773X / 2356-2641TEFLIN & Universitas Negeri MalangTerakreditasi SINTA 1 (SK 164/E/KPT/2021), juga terindeks Scopus Q2. Berlaku hingga Vol. 36 No. 2 (2025), sedang dalam proses reakreditasi untuk 2026. [journal.teflin]
LLT Journal: A Journal on Language and Language Teaching1410-493X / 2579-9533Universitas Sanata DharmaTerakreditasi SINTA 1, gratis APC, fokus pada linguistik terapan dan pengajaran bahasa. [pakfaizal]
Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL)2301-9468Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)Terindeks Scopus Q1, juga berstatus SINTA 1, fokus pada linguistik terapan dan pendidikan bahasa. [scilit][yuvijen]

⚠️ Catatan: Status akreditasi SINTA dievaluasi secara berkala oleh ARJUNA. Pastikan untuk memverifikasi langsung di portal SINTA sebelum submit.


🥈 Jurnal SINTA 2 – ELT & Linguistics (2025–2026)

Nama JurnalISSN / e-ISSNPenerbit / InstitusiStatus & Catatan
Vision: Journal for Language and Foreign Language Learning2085-027X / 2580-9288UIN Walisongo SemarangSINTA 2, gratis APC, fokus pada pembelajaran bahasa asing dan linguistik. [pakfaizal]
OKARA: Jurnal Bahasa dan Sastra / Journal of Languages and Literature2085-3076 / 2656-8438IAIN MaduraSINTA 2, gratis APC, mencakup linguistik, sastra, dan pengajaran bahasa. [pakfaizal]
JOLL (Journal of Language and Literature)1412-3320 / 2580-2054Universitas Sanata DharmaSINTA 2, gratis APC, fokus pada kajian bahasa dan sastra. [pakfaizal]
k@ta: A Biannual Publication on the Study of Language and Literature1410-2601 / 2579-6472Universitas Kristen PetraSINTA 2, gratis APC, mencakup linguistik, sastra, dan pengajaran bahasa Inggris. [pakfaizal]
Indonesian Journal of English Education (IJEE)2356-1777 / 2443-0285UIN Syarif Hidayatullah JakartaSINTA 2, fokus pada pendidikan bahasa Inggris dan ELT. [publikasi.internationaljournallabs]
Journal of English Teaching and Learning Issues (JETLI)2775-0078Universitas Negeri MalangSINTA 2, fokus pada isu-isu pengajaran bahasa Inggris. [jurnal.uin-palangkaraya.ac]
Journal on English as a Foreign Language (JEFL)2088-1657 / 2548-6365UIN Raden Intan LampungSINTA 2, fokus pada pengajaran EFL dan linguistik terapan. [jurnal.uin-palangkaraya.ac]
Eltin: Journal of English Language Teaching in Indonesia2302-9366 / 2615-7691STKIP SiliwangiSINTA 2, fokus pada ELT di konteks Indonesia. [e-journal.stkipsiliwangi.ac]
VELES (Voices of English Language Education Society)2549-7855 / 2579-7832Universitas HamzanwadiSINTA 2, fokus pada pendidikan bahasa Inggris. [e-journal.hamzanwadi.ac]

🔍 Cara Verifikasi Status Terkini

  1. Kunjungi portal SINTA.
  2. Gunakan filter Rank (Sinta 1 / Sinta 2) dan Subject Area (Humanities / Education).
  3. Cari jurnal berdasarkan nama atau ISSN.
  4. Periksa masa berlaku akreditasi dan SK terbaru.

💡 Tips Memilih Jurnal

  • Cocokkan scope jurnal dengan topik naskah Anda.
  • Periksa jadwal terbit dan antrean artikel.
  • Pastikan gratis APC jika mencari jurnal tanpa biaya.
  • Verifikasi status akreditasi langsung di portal SINTA sebelum submit.

Daftar ini dapat berubah seiring evaluasi ARJUNA berikutnya. Untuk informasi paling mutakhir, selalu merujuk ke portal resmi SINTA.[peloporpublikasi][publiora]

7 Jurnal Terindeks Scopus yang Gratis atau Memiliki APC Relatif Rendah

 

7 Jurnal Terindeks Scopus yang Gratis atau Memiliki APC Relatif Rendah

1. Issues in Language Studies (ILS)

2. KEMANUSIAAN: The Asian Journal of Humanities

3. Pertanika Journal of Social Sciences & Humanities

4. 3L: Language, Linguistics, Literature

5. XLinguae

  • Bidang: Linguistics, Applied Linguistics & Philology
  • Scopus: Q2
  • APC: ± €500 / USD 538
  • URL: http://www.xlinguae.eu/

6. The English and English-related Journals (TEWT)

  • Bidang: English Language / English-related Studies
  • Scopus: Q1
  • APC: Perlu dicek pada ketentuan terbaru
  • URL: https://tewtjournal.org/

7. Issues in Educational Research (IIER)

📌 Ringkasan URL

No.JurnalQuartileAPCURL
1Issues in Language StudiesQ2± RM500https://www.ils.unimas.my/
2KEMANUSIAANQ1± USD150http://web.usm.my/kajh/
3Pertanika JSSHQ2± USD300http://www.pertanika.upm.edu.my/pjssh/introduction
43LQ1± USD300https://ejournal.ukm.my/3l
5XLinguaeQ2± €500http://www.xlinguae.eu/
6TEWTQ1Cek jurnalhttps://tewtjournal.org/
7IIERQ1Relatif rendahhttps://www.iier.org.au/

Catatan: Untuk keperluan publikasi, sebaiknya cek kembali status Scopus dan quartile terbaru, APC, serta kebijakan waiver di website resmi masing-masing jurnal sebelum submission karena informasi tersebut dapat berubah.