https://docs.google.com/document/d/1M_BtHojNt2vFq6wIHfaB2HYxWL6HfuP_/edit?usp=sharing&ouid=114000742223423553730&rtpof=true&sd=true
Friday, May 22, 2026
IMAGERY KIA HAI?
IMAGERY
In poetry, imagery refers to the use of descriptive language that appeals to the reader’s senses in order to create vivid mental pictures and emotional experiences. Although the word image is often associated with visual pictures, imagery also includes sounds, smells, tastes, and physical sensations. Through imagery, poets are able to make readers not only understand an idea intellectually but also experience it emotionally and sensorially. Effective imagery allows readers to imagine scenes clearly, feel emotions deeply, and connect personally with the poem.
Imagery is one of the most important literary devices because it enriches the meaning of a poem and makes abstract emotions more concrete and memorable. By using imagery, poets can transform ordinary experiences into powerful artistic expressions that stimulate the imagination of the reader.
VISUAL IMAGERY
Visual imagery refers to descriptions that appeal to the sense of sight. This type of imagery creates vivid pictures in the reader’s mind, making scenes, objects, or characters appear realistic and alive. Visual imagery is commonly used to describe colors, shapes, movements, landscapes, and appearances in detail.
An example of visual imagery can be found in Elizabeth Bishop’s poem The Fish:
Here and there
His brown skin hung in strips
Like ancient wall-paper,
And its pattern of darker brown
Was like wall-paper:
Shapes like full-blown roses
Strained and lost through age.
He was speckled with barnacles,
Fine rosettes of lime,
And infested
With tiny white sea-lice,
And underneath two or three
Rags of green weed hung down. (9–21)
Thursday, May 21, 2026
Dr. Faizal Risdianto Berbagi Strategi AI dan Penguatan Jurnal Ilmiah di Universitas Bengkulu
Kepala Pusat Publikasi dan Rumah Jurnal UIN Salatiga, Dr. Faizal Risdianto, S.S., M.Hum., mendapat kehormatan menjadi narasumber dalam rangkaian kegiatan akademik yang diselenggarakan oleh Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Bengkulu pada 23 April 2026. Kehadiran Dr. Faizal menjadi bagian dari upaya penguatan budaya riset, publikasi ilmiah, dan literasi digital di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris serta pengelola jurnal ilmiah di lingkungan Universitas Bengkulu yang antusias mengikuti setiap sesi diskusi dan pelatihan.
Pada sesi pagi, Dr. Faizal mengisi workshop academic writing bertajuk “The Use of AI to Find Research Gap and Novelty. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bagaimana perkembangan Artificial Intelligence (AI) dapat dimanfaatkan secara strategis dalam dunia penelitian dan publikasi ilmiah. Peserta diberikan wawasan mengenai cara menemukan research gap, membangun novelty penelitian, hingga memanfaatkan teknologi AI untuk memperkuat analisis akademik dan mempercepat proses penulisan artikel ilmiah. Materi yang disampaikan tidak hanya menekankan aspek teoritis, tetapi juga memberikan contoh praktis penggunaan AI dalam penyusunan proposal penelitian dan artikel jurnal bereputasi.
Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Mahasiswa aktif berdiskusi mengenai tantangan penulisan akademik di era digital, termasuk bagaimana menjaga orisinalitas karya ilmiah di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin pesat. Dr. Faizal juga menekankan pentingnya etika akademik dalam penggunaan AI agar teknologi tersebut menjadi alat bantu yang mendukung kualitas penelitian, bukan menggantikan kemampuan berpikir kritis peneliti. Suasana workshop berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan diskusi yang memperkaya wawasan peserta mengenai academic writing modern.
Wednesday, May 20, 2026
Troubleshoot Mendeley: jika mendeley tidak bisa connect dengan ms word
Troubleshooting Mendeley
Sering terjadi Mendeley sulit diinstal di ms Word karena versi Mendeley yang mutakhir, sementara ms Word-nya versi lama seperti Windows 2003 atau 2006. Solusinya bisa diupgrade ms Word-nya ke versi yang mutakhir atau bisa juga menurunkan versi aplikasi Mendeley nya., dan bisa jadi kendala instalasi Mendeley di ms Word itu terjadi karena Windows-nya bajakan. :D d^^b
Tutorial lengkap Trouble Shooting Mendeley: https://zenodo.org/record/3910341#.YecBBnpBzIU
- Penyebab Masalah: Ketidakcocokan antara versi Mendeley terbaru dengan versi Microsoft Word yang lama (seperti 2003 atau 2006), atau kendala pada sistem operasi.
- Solusi Versi: Cara menurunkan (downgrade) versi aplikasi Mendeley melalui situs penyedia versi lama agar kompatibel dengan perangkat Anda.
- Langkah Instalasi Plugin: Panduan menutup Microsoft Word dan menggunakan menu Tools > Install MS Word Plugin pada Mendeley Desktop.
- Troubleshooting Add-ins: Langkah manual jika plugin tetap tidak muncul, yaitu melalui menu File > Options > Add-ins di Microsoft Word, lalu mengaktifkan file
.dotmMendeley secara manual
Tuesday, May 19, 2026
Hati-hati dengan Kekerasan hati dan Jiwa yang kosong
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, marilah terlebih dahulu kita menasihati diri kita sendiri sebelum menasihati orang lain. Karena sesungguhnya hati ini sangat mudah berubah. Hari ini kita merasa semangat beribadah, besok bisa saja hati menjadi lalai. Hari ini mata mudah menangis ketika mendengar ayat Allah, tetapi beberapa waktu kemudian hati bisa terasa keras dan sulit tersentuh. Oleh sebab itu Allah mengingatkan dalam QS. Al-Anfal ayat 24 agar kita memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, karena seruan itu membawa kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang dimaksud bukan hanya hidup secara jasad, tetapi hidupnya hati, hidupnya iman, hidupnya ketenangan. Banyak orang yang tubuhnya sehat, hartanya banyak, pekerjaannya bagus, tetapi hatinya kosong, gelisah, mudah marah, dan jauh dari Allah. Sebaliknya ada orang sederhana, tetapi hidupnya tenang karena hatinya hidup bersama Allah.
Jamaah yang dimuliakan Allah, Rasulullah ﷺ sendiri sering berdoa, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Padahal beliau adalah manusia terbaik. Ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang aman dari perubahan hati. Kadang kita melihat seseorang dahulu rajin ke masjid, sekarang mulai sibuk dengan urusan dunia. Ada yang dahulu semangat mengaji, tetapi kemudian tenggelam dalam media sosial, hiburan, atau urusan pekerjaan sampai lalai dari salat. Bahkan mungkin itu terjadi pada diri kita sendiri. Ketika azan berkumandang, hati terasa berat melangkah ke masjid. Ketika Al-Qur’an ada di depan mata, tangan lebih cepat membuka telepon genggam daripada membuka mushaf. Inilah tanda bahwa hati perlu dijaga dan dihidupkan kembali.
Tips Kesehatan Lansia Agar UMUR PANJANG dan SEHAT
Video ini menjelaskan bahwa ada kebiasaan sederhana yang sering dilakukan orang Jepang setiap pagi dan dipercaya membantu menjaga kesehatan hingga usia lanjut. Kebiasaan tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit setelah bangun tidur, tanpa obat atau biaya mahal, tetapi dapat membantu memperlambat proses penuaan tubuh.
Penjelasan utama video membedakan antara umur kronologis dan umur biologis. Umur kronologis dihitung berdasarkan tanggal lahir, sedangkan umur biologis menunjukkan kondisi nyata sel dan organ tubuh. Seseorang bisa saja berusia tua secara angka, tetapi tubuhnya masih sehat dan kuat karena gaya hidup yang baik.
Menurut penjelasan dalam video, banyak lansia mengalami tubuh pegal, kaku, dan pusing saat bangun tidur. Kondisi ini bukan sekadar akibat usia tua, melainkan tanda bahwa tubuh mengalami penuaan lebih cepat. Kebiasaan pagi hari sangat memengaruhi proses tersebut.
Saat tidur, tubuh melakukan proses perbaikan sel dan pemulihan energi. Ketika bangun tidur, tubuh mengalami perubahan besar seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan hormon stres. Jika perubahan ini terjadi terlalu mendadak, tubuh akan mengalami stres yang mempercepat penuaan.
Video kemudian menjelaskan enam gerakan sederhana yang dapat dilakukan setiap pagi. Gerakan pertama adalah peregangan tubuh di tempat tidur sebelum bangun. Peregangan membantu melancarkan aliran darah, mengurangi kekakuan otot, dan mencegah kram yang sering dialami lansia.
Gerakan kedua adalah rotasi pergelangan kaki dan tangan. Gerakan ini membantu memperlancar sirkulasi darah dan mengurangi risiko penggumpalan darah, terutama bagi lansia yang memiliki tekanan darah tinggi atau riwayat stroke ringan.
Gerakan ketiga adalah teknik bangun secara bertahap. Lansia dianjurkan tidak langsung berdiri setelah bangun tidur karena dapat menyebabkan hipotensi ortostatik, yaitu kondisi ketika tekanan darah turun mendadak sehingga menimbulkan pusing dan risiko jatuh.
Gerakan keempat adalah latihan napas dalam menggunakan perut. Teknik ini membantu meningkatkan oksigen ke otak dan organ tubuh, menurunkan hormon stres, serta membuat tubuh lebih segar dan tenang sepanjang hari.
Monday, May 18, 2026
PPT SLIDES FREE GENERATOR
4 Situs free generator pembuat PPT dalam hitungan menit
Blog Dr. Faizal Risdianto: pragmatik siber atau cyber pragmatics by Prof Kunj...
pragmatik siber atau cyber pragmatics by Prof Kunjana Rahardi
CALL FOR PAPER AIICARE 2026
✨ CALL FOR CONTRIBUTIONS ✨
AIICARE LP2M UIN Salatiga invites scholars, researchers, and practitioners to contribute to: 2026 Annual International Interdisciplinary Conference and Research Expo (AIICARE)
Theme: “Integrating Islamic Thought, Education, Science, and Society: Multidisciplinary Approaches to Global Transformation”
📅 Key Dates:
Submission (Full Paper): May 31, 2026
Editorial Check & Peer Review: July 15, 2026
Conference Date: October 5-6, 2026
Notification: 26 October 2026
Revision: 9 November 2026
📅 Conference Date: October 5-6, 2026
📍 Venue: Laras Asri Hotel, Salatiga
Keynote Speaker
Prof. Zakiyuddin, M.Ag. – Rector of UIN Salatiga
Invited Speakers
Prof. Dr. Irma Wani Binti Othman, Universiti Malaysia Sabah
Associate. Prof. Dr. Abd. Razak Zakaria, University of Malaya, Malaysia
Associate Prof. Dr. Ashek Mahmud, Jagannath University of Dhaka, Bangladesh
Prof. Farhana Zaman, PhD, Jagannath University of Dhaka, Bangladesh
Prof. Dr. Anak Agung Ayu Dian Andriyani, S.S., M.Hum, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Bali, Indonesia
Dr. Faizal Risdianto, S.S,M.Hum, Universitas Islam Negeri Salatiga
Conference Topics
- Contemporary Ijtihad and Reform in Islamic Legal Thought (Renewal of Islamic jurisprudence in response to global issues)
- Islam, Human Rights, and Global Ethics (Islamic perspectives on justice, equality, and humanitarian values)
- Islamic Governance, Civil Society, and Public Policy (Religion-state relations, democracy, and policy reform)
- Transforming Islamic Education in the Digital Era (Blended learning, AI in madrasah, e-learning models)
- Curriculum Integration: Bridging Religious and Scientific Knowledge (Integration-interconnection paradigm in Islamic institutions)
- Teacher Professional Development in Islamic Educational Institutions (Pedagogical innovation and competency development)
- English Language Teaching in Islamic Educational Contexts (ESP, EAP, TOEFL preparation, global communication)
- Arabic Language, Literature, and Islamic Intellectual Heritage (Philology, literary studies, classical and modern texts)
- Religious Communication and Digital Da’wah in the Global Age (Media studies, social media discourse, cyber-pragmatics)
- Islamic Finance, Banking, and Financial Technology (FinTech) (Innovation in Sharia-compliant systems)
- Islamic Economic Ethics and Sustainable Development Goals (SDGs) (Social justice, poverty alleviation, green economy)
- Halal Industry, Global Trade, and Economic Transformation (Halal supply chains, certification, global markets)
- Integration of Islamic Worldview and Scientific Inquiry (Philosophy of science in Islamic perspective)
- Mathematics and Quantitative Approaches in Social and Religious Studies (Statistical modeling, big data in Islamic research)
- Muslim Societies in a Globalized World: Identity, Pluralism, and Social Change (Migration, multiculturalism, interfaith engagement)
The submitted papers will be published in SINTA 1 & SINTA 2 indexed journals and AIICARE Proceedings https://conferences.uinsalatiga.ac.id/index.php/iicare/index
📌 Submission Link: https://s.id/2026AIICAREregistration
Conference Fees:
Presenters Fees: Mahasiswa 150 K, Dosen UIN Salatiga 250 K, Dosen umum 350 K
Non-Presenters Fees: Mahasiswa 100 K, Dosen UIN Salatiga 200 K, Dosen umum 300 K Contact Person: Faizal Risdianto -085642019501
🌟 Organized by AIICARE LP2M UIN Salatiga
Lima Kombinasi Telur yang Dianggap Berbahaya
Lima Kombinasi Telur yang Dianggap Berbahaya Sumber: https://www.youtube.com/watch?si=7ZvSphN--iPa_Fbb&v=VlNxNq3E2qE&feature=youtu.be
1. Telur + teh
Dalam konten tersebut, kombinasi telur dan teh dianggap kurang baik karena teh mengandung tanin yang disebut dapat mengikat protein dan zat besi dari telur. Akibatnya, penyerapan nutrisi dianggap menjadi kurang optimal, terutama pada lansia yang kemampuan pencernaannya sudah menurun. Kebiasaan sarapan telur dengan teh manis panas juga disebut dapat memicu keluhan seperti perut kembung, mudah lelah, dan anemia ringan apabila dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang. Karena itu, video tersebut menyarankan agar konsumsi teh dipisahkan beberapa waktu setelah makan telur.
2. Telur + susu kedelai
Kombinasi telur dengan susu kedelai dijelaskan sebagai pasangan yang dapat mengganggu proses pencernaan protein. Dalam video disebutkan bahwa kedelai mengandung tripsin inhibitor, yaitu senyawa yang dianggap dapat menghambat kerja enzim pencernaan protein di dalam tubuh. Akibatnya, protein telur disebut tidak tercerna secara maksimal dan dapat menyebabkan perut terasa penuh, begah, atau mudah bergas. Oleh karena itu, konsumsi telur dan susu kedelai dianjurkan tidak dilakukan secara bersamaan, tetapi diberi jeda waktu.
3. Telur + daging olahan
Telur yang dikombinasikan dengan daging olahan seperti sosis, nugget, ham, atau kornet disebut sebagai kombinasi yang perlu dibatasi. Konten tersebut menjelaskan bahwa daging olahan mengandung nitrit dan pengawet tertentu yang jika dikonsumsi terlalu sering dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Selain itu, kombinasi ini biasanya tinggi lemak jenuh, garam, dan kalori sehingga dianggap kurang baik bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, terutama pada usia lanjut. Karena itu, video menyarankan agar konsumsi telur lebih baik dipadukan dengan bahan alami seperti sayuran dibandingkan makanan olahan.
Friday, May 15, 2026
Membuat Jalan baru dan Tinggalkan jalan lama: 5 tips meninggalkan bad habit
Meninggalkan kebiasaan buruk bukanlah proses yang instan. Kata para Ulama kita bisa pergi lari ke ujung dunia. Kita bisa meninggalkan harta, kampung halaman dan orang-orang dekat kita tapi kemanapun kita pergi kebiasaan atau habit tetap melekat pada diri. Jika kebiasaan itu baik Alhamdulillah tetapi jika kebiasaan itu buruk sadarilah itu salah dan segeralah berubah.
Kemudian, persoalannya ialah Banyak orang ingin berubah, tetapi akhirnya kembali pada kebiasaan lama karena perubahan memang membutuhkan waktu, kesabaran, dukungan sosial, dan lingkungan yang sehat. Namun, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk membuat “jalan baru” dalam hidupnya selama ia mau jujur pada diri sendiri dan terus berusaha bangkit.
(1) Langkah pertama yang penting adalah menyadari bahwa masalah itu nyata. Perubahan dimulai ketika seseorang berhenti membenarkan perilaku yang merusak diri, kesehatan, hubungan, atau masa depan. Mengakui kelemahan bukan tanda kegagalan, melainkan tanda keberanian untuk memulai hidup yang lebih baik. Dalam proses ini, penting untuk berkata pada diri sendiri: “Saya akan menjalani proses ini tanpa menghakimi diri sendiri.” Kesalahan masa lalu tidak harus menjadi identitas hidup seseorang. Karena itu, seseorang juga perlu memahami bahwa perilaku buruk yang pernah dilakukan bukanlah jati dirinya.
(2) “Saya mengakui bahwa perilaku buruk saya bukanlah identitas saya.” Seseorang bisa berubah dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat, lebih bijak, dan lebih kuat.
Selain itu, perubahan akan sulit terjadi jika seseorang tetap berada dalam lingkungan yang terus mendorong kebiasaan lama. Oleh karena itu, menjauhi pergaulan, tempat, atau situasi yang menjadi pemicu sangatlah penting. Lingkungan yang baik dapat membantu seseorang lebih fokus menjaga perubahan yang sedang dibangun. Pada saat yang sama, hidup juga perlu diisi dengan kegiatan yang lebih sehat dan bermakna.
Pikiran yang kosong sering kali membuat seseorang kembali pada kebiasaan lama. Karena itu, waktu luang dapat diarahkan pada olahraga, membaca, belajar keterampilan baru, bekerja produktif, kegiatan sosial, ibadah, atau hobi positif lainnya. Dalam proses penyembuhan, seseorang juga perlu memberi ruang untuk merasakan emosi secara jujur tanpa terus menekan atau melarikan diri darinya.
(3) “Saya memberi izin pada diri sendiri untuk menjadi rentan, mudah terdampak, dan saya mengakui saya rapuh secara emosional.” Penyembuhan sejati membutuhkan keberanian untuk menghadapi rasa takut, luka, dan perasaan yang selama ini disembunyikan.
Perubahan juga akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang terpercaya. Dukungan dari keluarga, sahabat, mentor, tokoh agama, konselor, atau tenaga profesional dapat membantu seseorang tetap kuat ketika semangat mulai menurun. Tidak semua perjuangan harus dipikul sendirian. Selain itu, penting untuk memahami bahwa perubahan besar biasanya dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Banyak orang gagal karena ingin melihat hasil instan dalam waktu singkat. Padahal, kemajuan kecil tetaplah kemajuan.
Karena itu, seseorang perlu belajar menghargai dirinya sendiri dengan berkata:
(4) “Saya akan merayakan setiap kemenangan kecil.” Bahkan keberhasilan sederhana, seperti mampu menahan diri satu hari lebih lama atau berhasil menjauhi lingkungan buruk, adalah bagian penting dari perjalanan perubahan. Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah kesempurnaan, tetapi komitmen untuk terus berjalan.
(5) “Saya berkomitmen pada proses, bukan pada hasil instan.” Jika suatu hari terjatuh atau mengulangi kesalahan, jangan langsung menyerah. Jadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan menuju hidup yang lebih sehat dan bermakna.
Untuk kasus seperti adiksi narkoba, kleptomania, perilaku kriminal berulang, atau gangguan psikologis tertentu, bantuan profesional dari psikolog, psikiater, dokter, atau lembaga rehabilitasi tetap sangat penting karena beberapa kondisi membutuhkan pendampingan medis dan terapi khusus.
Thursday, May 14, 2026
UIN Salatiga, 25 Professor dan 53 Doktor di data Mei 2026
Prof. Dr. Mansur, M.Ag.
Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag.
Prof. Dr. Muh. Saerozi, M.Ag.
Prof. Dr. Winarno, S.Si., M.Pd.
Prof. Dr. Phil Widiyanto., M.Ag., M.A.
Prof. Dr. Imam Sutomo, M.Ag.
Prof. Dr. Agus Waluyo, M.Ag.
Prof. Dr. Sa`adi, M. Ag.
Prof. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag.
Prof. Dr. Benny Ridwan, M.Hum.
Prof. Kastolani, M.Ag., Ph.D.
Prof. Dr. Budiyono Saputro, M.Pd.
Prof. Dr. Mubasirun, M. Ag.
Prof. Dr. Mukti Ali, S.Ag., M.Hum.
Prof. Dr. Mochlasin, M.Ag.
Prof. Dr. Abdul Aziz N.P., S.Ag., M.M.
Prof. Dr. Rasimin, S.PdI., M.Pd.
Prof. Dr. Miftahuddin, M.Ag.
Prof. Dr. Supardi, S.Ag., M.A.
Prof. Dr. Siti Zumrotun, M.Ag.
Prof. Dr. Muh. Irfan Helmy, Lc., M.A.
Prof. Dr. Ilyya Muhsin, S.HI., M.Si.
Prof. Dr. Suwardi, S.Pd., M.Pd.
Tuesday, May 12, 2026
What Is English Language Imperialism?
What Is English Language Imperialism?
English language imperialism is the idea that English has become a dominant world language not just by chance, but through history—especially colonialism, economic power, and global education. This dominance often pushes local languages and cultures to the sidelines.
The Main Idea
In his famous 1992 book Linguistic Imperialism, scholar Robert Phillipson argued that the spread of English has created unfair conditions. It makes English seem more important than other languages, which harms multilingualism and indigenous tongues. He calls this "linguicism"—a prejudice in favor of English that works much like racism. For example, English gets more money and attention in schools than local languages.
How Did English Spread?
English spread through three types of colonization:
Trader colonization (commerce)
Settler colonization (moving populations, as in the US, Canada, and Australia)
Exploitation colonization (taking resources, as in India and Africa)
In settler colonies, indigenous languages nearly disappeared because of harsh policies like boarding schools. In exploitation colonies, local elites were taught English, which created a bigger gap between rich and poor. A famous example is the "Macaulay Minute" in British India, which promoted English over Indian languages.
Criticisms of This View
Not everyone agrees with Phillipson. Some critics say his view makes English teachers feel guilty and unfairly assumes that non-Western people have no choice. In reality, many people choose to learn English because it opens doors to jobs and opportunities. Also, a language itself isn't good or bad—it's the power structures around it that matter. In places like Cameroon and Vietnam, people have taken English and made it their own, fitting local needs.
Why This Matters Today
Instrumental and integrative attitude in Sociolinguistics
In sociolinguistics, “instrumental” and “integrative” attitudes (or motivations) refer to two main psychological orientations toward learning or using a language, especially a second or foreign language.
1. Instrumental language attitude
An instrumental attitude toward a language means that a speaker learns or uses it mainly because it is practically useful—for example, to get a job, pass exams, earn more money, or gain social status. In this orientation, the language is seen as a tool rather than something to identify with culturally or emotionally.
Examples:
A student in Indonesia studies English mainly to pass a university entrance exam or apply for an international scholarship.
A local worker in Bali learns English because tourism jobs pay more and require English communication.
A university graduate learns Mandarin because it helps them get a promotion in a company that deals with Chinese clients.
In all these cases, the attitude is instrumental: the language is valued for its external benefits, not for bonding with native speakers or their culture.
2. Integrative language attitude
An integrative attitude toward a language means that the speaker wants to identify with or become closer to the community that uses that language. This attitude involves interest in the culture, lifestyle, and social world of the target‑language group, not just in the language itself.
Monday, May 11, 2026
Today's Indonesian Political News
Ade Armando resigns from PSI after incitement allegations
Politician Ade Armando has resigned from the Indonesian Solidarity Party (PSI) after dozens of Islamic organizations filed police reports against him over alleged incitement against former vice president Jusuf Kalla.
3 days ago
Abuse concerns linger over extremism prevention plan
The new Perpres notes that while Indonesia has seen a decline in terrorist attacks in recent years, including what it describes as “zero terrorist attacks” in the past two years, threats persist beneath the surface, with more than 1,000 suspected militants arrested between 2020 and 2024.
3 days agoReform team pushes demilitarization of police amid brutality concerns
The government-sanctioned police reform commission has proposed demilitarizing the work culture of the National Police as part of broader reforms, amid persistent cases of police brutality that have fueled public demands for systemic change within the institution.
3 days agoIndonesia eyes e-commerce ban for under-16s: Minister
Ministry has found that children tend to fall victim to e-commerce scams, Meutya said.
4 days agoTrial suspended again as Nadiem’s health declines
The Jakarta Corruption Court has once again postponed the trial of former education, culture, research and technology minister Nadiem Makarim on Tuesday after he was admitted to the hospital following a sudden decline in his health.
4 days agoOligarchic consolidation threat to Golden 2045 vision, LAB 45 says in new book
A newly published book by the Jakarta-based think tank examines eight decades of the country's history through various topics to explore three possible future trajectories, though only one will lead to fulfilling the Golden Indonesia 2045 vision.
5 days agoCreeping militarization looms as battalions expand nationwide: CSIS
Sunday, May 10, 2026
Peringkat tinggi, jangkauan rendah pada jurnal-jurnal di Indonesia
Namun penulis menilai bahwa tingginya peringkat tersebut belum mencerminkan pengaruh akademik global yang nyata. Berdasarkan analisis sitasi, artikel-artikel di jurnal tersebut sebagian besar hanya dikutip oleh jurnal lain dalam jaringan PTKIN di Indonesia sendiri, bukan oleh akademisi internasional. Penulis menyebut adanya indikasi “citation ring” dan “citation stuffing”, yaitu praktik saling mengutip untuk meningkatkan ranking jurnal secara artifisial.
Artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan administratif dan indeksasi internasional belum cukup jika tidak diikuti dampak akademik yang luas secara global. Penulis mengajak perguruan tinggi dan pemerintah Indonesia untuk lebih fokus pada kualitas, substansi, dan kontribusi nyata terhadap percakapan akademik dunia, bukan sekadar mengejar ranking.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah asal institusi jurnal-jurnal tersebut. Hampir semuanya berasal dari perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN). Jurnal Ijtihad yang diterbitkan oleh UIN Salatiga berada di peringkat 25, melampaui University of Pennsylvania Law Review (26), Duke Law Journal (30), dan California Law Review (34). El-Mashlahah dari IAIN Palangkaraya berada di posisi 46, Al-Manahij dari UIN Purwokerto di posisi 58, dan Juris dari UIN Batusangkar di posisi 73, bahkan mengungguli UCLA Law Review (75) dan American Journal of International Law (76). Secara keseluruhan, sekitar 22 jurnal hukum Indonesia kini menyandang status bergengsi Scopus Q1, dan sebagian besar berasal dari lingkungan PTKIN.
Selama satu dekade terakhir, perguruan tinggi di Indonesia menjalankan apa yang sering disebut sebagai “Scopusisasi”, yaitu upaya sistematis yang didukung pemerintah untuk memasukkan publikasi akademik Indonesia ke dalam platform indeks internasional. Tujuannya jelas: mengangkat pendidikan tinggi Indonesia ke panggung dunia.
Dorongan kebijakan ini sangat kuat. Peraturan Menteri PANRB No. 17 Tahun 2013 yang kemudian diperbarui melalui No. 46 Tahun 2013 menjadikan publikasi di jurnal terindeks Scopus sebagai syarat profesional bagi dosen. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi kemudian memperkuatnya lewat Permen No. 20 Tahun 2017 yang mengaitkan publikasi Scopus dengan syarat meraih jabatan profesor penuh.
Dampaknya terasa sangat cepat dan luas. Para dosen berlomba-lomba menulis artikel, jurnal kampus bersaing keras mendapatkan indeksasi, dan pelatihan penulisan ilmiah menjamur di berbagai daerah.
Dilihat dari sudut ini, kenaikan peringkat jurnal Indonesia tampak sebagai hasil yang wajar, bahkan pantas, dari investasi institusi dan kerja keras individu selama bertahun-tahun. Banyak pihak memang merayakannya sebagai keberhasilan besar.
Namun ketika data ditelaah lebih dekat, muncul pertanyaan serius. Penulis melakukan studi khusus terhadap tiga artikel paling banyak disitasi dari tiga jurnal Indonesia dengan peringkat tertinggi tersebut.
Artikel paling banyak disitasi di Juris, berjudul “The Construction of Islamic Inheritance Law: A Comparative Study of the Islamic Jurisprudence and the Compilation of Islamic Law”, memperoleh 44 sitasi. Artikel di El-Mashlahah berjudul “Land Reform Policy in Determining Abandoned Land for Halal Tourism Destination Management Based on Fiqh Siyasah” mendapat 22 sitasi. Sementara artikel Ijtihad berjudul “Halal Tourism Regulation in Indonesia: Trend and Dynamics in the Digital Era” memperoleh 35 sitasi.
Untuk artikel yang usianya belum mencapai lima tahun, jumlah sitasi seperti itu biasanya dianggap menunjukkan pengaruh akademik yang cukup kuat. Namun persoalan utamanya adalah: siapa yang memberikan sitasi tersebut? Untuk jurnal yang mengklaim berada dalam seratus besar dunia, seharusnya ada sitasi dari akademisi hukum dari berbagai negara dan institusi internasional. Tetapi data menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Hampir seluruh sitasi terhadap artikel-artikel tersebut berasal dari jurnal lain dalam jaringan PTKIN. Tidak ada satu pun artikel atau akademisi luar Indonesia yang muncul sebagai penyitasi karya-karya tersebut.
Jurnal Samarah dari Aceh, misalnya, menyitasi artikel utama di Juris lebih dari sepuluh kali. El-Usrah, juga dari Aceh, menyitasinya sembilan kali. Jurnal Ilmiah Peuradeun, yang juga merupakan jurnal Scopus Q1 dari Aceh, menambah tujuh sitasi lagi. Pola lingkaran tertutup yang sama juga tampak pada artikel-artikel El-Mashlahah dan Ijtihad: sitasi hanya mengalir dari jurnal-jurnal PTKIN lain di berbagai kota di Indonesia, tetapi hampir tidak pernah menembus komunitas akademik internasional.
Fenomena ini dikenal dalam dunia akademik sebagai citation ring, yaitu praktik saling menyitasi secara terkoordinasi—sering kali tidak tertulis—antarjurnal yang memiliki kedekatan institusional untuk menaikkan metrik dampak secara artifisial. Ada juga indikasi citation stuffing, yaitu praktik menambahkan sitasi yang sebenarnya tidak perlu demi meningkatkan posisi jurnal tertentu.
Sebagai contoh, artikel di Juris menggunakan sekitar 60 referensi, dan sekitar 70 persen di antaranya berbahasa Indonesia. Dari referensi berbahasa Inggris yang digunakan, hampir semuanya berasal dari jurnal-jurnal PTKIN lain. Kurang dari lima referensi yang benar-benar berasal dari akademisi internasional di bidang tersebut.
Kesimpulannya cukup tajam. Meskipun memiliki peringkat global yang tinggi, artikel-artikel dalam jurnal PTKIN masih sangat lokal dalam jangkauan dan pengaruhnya. Artikel-artikel itu ditulis oleh akademisi PTKIN, diterbitkan oleh institusi PTKIN, dan—jika sitasi dianggap sebagai ukuran keterbacaan—hampir hanya dibaca oleh sesama akademisi PTKIN.
Dengan kata lain, jurnal-jurnal ini memang telah masuk ke platform global, tetapi tetap beredar dalam lingkaran yang tertutup, di antara aktor yang sama, dalam arena yang sama, tanpa benar-benar terhubung dengan percakapan akademik internasional yang lebih luas.
Tentu saja, hal ini bukan untuk meremehkan kerja keras yang telah dilakukan dalam membangun infrastruktur publikasi akademik Indonesia. Namun pencapaian administratif di atas kertas harus diiringi dengan dampak nyata dalam praktik. Tujuan awalnya bukan sekadar memenuhi target birokrasi, melainkan menempatkan karya ilmiah Indonesia dalam dialog sejati dengan komunitas akademik dunia.
Tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan ini juga tidak hanya berada di pundak PTKIN. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga perlu mengevaluasi dampak kebijakan yang mereka buat sendiri. Sistem insentif yang lebih menghargai indeksasi dibanding substansi telah menghasilkan berbagai distorsi yang sebenarnya sudah dapat diprediksi.
Kasus Telkomnika, jurnal teknik dan teknologi yang dikeluarkan dari indeks Scopus pada tahun 2025 setelah mengumpulkan angka sitasi yang tidak masuk akal—mencapai lima juta sitasi sejak 2021—menjadi contoh nyata persoalan tersebut.
Jalan ke depan harus dimulai dari kejujuran: kejujuran intelektual dan kejujuran institusional. Keberhasilan perlu diukur dengan standar yang tidak mudah dimanipulasi.
Kini jurnal-jurnal Indonesia memang semakin terlihat di mata komunitas akademik internasional. Namun visibilitas itu ibarat pedang bermata dua. Pengawasan yang suatu hari bisa membawa pengakuan internasional juga dapat menghadirkan kerusakan reputasi yang jauh lebih sulit diperbaiki dibanding sekadar menaikkan peringkat.
Komunitas akademik Indonesia telah membuktikan bahwa mereka mampu membangun. Tantangan yang lebih berat dan lebih mendesak sekarang adalah membangun sesuatu yang benar-benar bertahan lama.









