Tuesday, September 22, 2026
Monday, September 21, 2026
Blog Dr. Faizal Risdianto: HATI-HATI DENGAN KEKERASAN HATI DAN KEBAL JIWA: TA...
Saturday, September 19, 2026
Problematika Penerjemahan Sosial-Budaya dan Intervensi Kecerdasan Buatan
Problematika utama penerjemahan sosial-budaya terletak pada istilah atau unsur budaya spesifik (culture-specific items) yang tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa sasaran, sehingga “kehilangan budaya” sulit dihindari. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) menunjukkan dua sisi yang sangat jelas: di satu sisi, large language models (LLM) menunjukkan kemampuan yang melampaui penerjemahan mesin saraf tradisional dalam mengidentifikasi unsur budaya spesifik dan memberikan informasi kontekstual; bahkan ChatGPT 4.0 dalam penerjemahan istilah budaya tertentu dapat mendekati tingkat kemampuan manusia. Di sisi lain, AI masih cenderung mengandalkan strategi penerjemahan harfiah dan transliterasi, memiliki keterbatasan sistematis dalam memahami makna budaya yang mendalam, serta belum mampu menilai tingkat keberterimaan suatu terjemahan dalam budaya sasaran. Oleh karena itu, jalur yang paling rasional saat ini bukanlah menggantikan penerjemah manusia dengan AI, melainkan menempatkan AI sebagai “alat bantu penerjemahan budaya”—AI melakukan identifikasi awal dan menghasilkan draf, sedangkan penerjemah manusia melakukan kalibrasi budaya dan mengambil keputusan strategis.
I. Problematika Penerjemahan Sosial-Budaya: Ketika Kata Mengandung Makna yang Tidak Dapat Dipindahkan Begitu Saja
1.1 Hakikat Permasalahan Unsur Budaya Spesifik
Unsur budaya spesifik (culture-specific items) merujuk pada kata atau frasa yang memiliki makna khusus dalam konteks budaya tertentu. Unsur tersebut membawa kepercayaan dan nilai-nilai suatu budaya, tetapi sering kali tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa lain. “Kekosongan leksikal” ini bukan sekadar persoalan kemampuan berbahasa, melainkan mencerminkan perbedaan mendasar dalam cara berbagai budaya mengklasifikasikan dunia dan membangun kerangka kognitifnya.
Sebagai contoh, dalam penerjemahan antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia, istilah “كرم الضيافة” (karam al-diyafah) yang dapat diterjemahkan sebagai “keramahan” atau “kemurahan hati dalam menjamu tamu” tidak hanya mengandung makna harfiah hospitality, tetapi juga mencerminkan seperangkat nilai budaya yang berkaitan dengan kehormatan, kewajiban sosial, dan hubungan antarmanusia. Jika hanya diterjemahkan secara harfiah, konsep tersebut berpotensi kehilangan bobot sosial dan nuansa emosionalnya ketika ditempatkan dalam konteks budaya Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa unsur budaya spesifik yang berkaitan dengan ekologi, struktur sosial, adat istiadat, dan istilah keagamaan merupakan salah satu hambatan utama dalam penerjemahan budaya.
1.2 Ketegangan Abadi antara Domestikasi dan Forenisasi
Dalam teori penerjemahan, pertentangan klasik antara domestikasi (domestication) dan forenisasi (foreignization) menjadi semakin nyata dalam praktik penerjemahan budaya. Strategi domestikasi mengubah unsur budaya bahasa sumber menjadi bentuk yang lebih familiar bagi pembaca sasaran. Strategi ini meningkatkan keterbacaan, tetapi berpotensi mengorbankan keunikan budaya sumber. Sebaliknya, strategi forenisasi mempertahankan karakteristik budaya bahasa sumber sehingga keaslian budaya lebih terjaga, tetapi dapat menimbulkan hambatan bagi pembaca.
Sebuah penelitian mengenai penerjemahan istilah budaya Indonesia ke dalam bahasa Inggris menunjukkan bahwa strategi penerjemahan tidak didominasi oleh satu ideologi tertentu, melainkan memperlihatkan karakter “adaptasi pragmatis”: forenisasi dan domestikasi masing-masing digunakan sekitar 40%, sementara 20% lainnya menggunakan strategi campuran. Secara khusus, peminjaman (borrowing) merupakan strategi yang paling sering digunakan, misalnya dengan mempertahankan istilah yeye dan menambahkan penjelasan deskriptif “the skipping rope game”. Strategi tersebut memungkinkan identitas budaya tetap dipertahankan sekaligus membantu pembaca sasaran memahami maknanya. Fleksibilitas strategi ini menunjukkan bahwa tantangan utama penerjemah adalah menyeimbangkan kesetiaan budaya dengan kejelasan komunikasi.
1.3 Ketakterbalikan Kehilangan Budaya
Bahkan ketika kombinasi strategi penerjemahan yang sangat cermat digunakan, kehilangan informasi dalam penerjemahan budaya tetap sulit dihindari. Analisis terhadap penerjemahan bahasa Inggris serial Netflix Indonesia Gadis Kretek menunjukkan bahwa sejumlah istilah budaya mengalami “penyempitan makna” (semantic reduction) selama proses penerjemahan. Misalnya, tubruk—sebuah cara menyeduh kopi—diterjemahkan menjadi plain brewed; buta—tokoh dalam suatu tarian—disederhanakan menjadi monster; sedangkan bude—sebutan untuk perempuan yang lebih tua—digeneralisasi menjadi aunt.
Meskipun terjemahan tersebut dapat berfungsi secara komunikatif, berbagai unsur yang melekat pada istilah aslinya menjadi hilang, termasuk konteks sosial tertentu, latar belakang sejarah, tingkat tutur bahasa, serta asosiasi ekonomi.
Akar persoalannya adalah bahwa “makna” sebuah unsur budaya spesifik tidak pernah hanya berupa fungsi referensialnya. Makna tersebut juga merupakan bagian dari jaringan makna dalam suatu budaya. Ketika sebuah kata dikeluarkan dari jaringan tersebut melalui proses penerjemahan, ketebalan maknanya hampir pasti menjadi lebih tipis, apa pun strategi yang digunakan.
II. Intervensi Kecerdasan Buatan: Dari Alat Menuju “Semi-Subjek”
Friday, September 18, 2026
Ringkasan eBook Genre Relations: Mapping Culture karya J. R. Martin dan David Rose
Berikut adalah rangkuman poin-poin terpenting dari Bab 1 ("Getting going with genre") buku Genre Relations: Mapping Culture karya J. R. Martin dan David Rose:
1. Latar Belakang dan Definisi Genre
- Kritik Praktik Literasi Sekolah Dasar (1980-an): Penelitian gerakan literasi Sydney School di Australia menemukan bahwa sekolah dasar pada masa itu kurang mengajarkan struktur tulisan secara eksplisit. Guru cenderung menganggap semua tulisan siswa sebagai "cerita" (story) dan menilainya berdasarkan kriteria cerita.
- Variasi Jenis Teks Siswa: Peneliti mengidentifikasi pelbagai jenis teks yang ditulis siswa, seperti recount (merekam pengalaman berurutan), observation/comment (pengamatan dan komentar), report (laporan faktual umum), description (deskripsi spesifik), procedure (petunjuk langkah-demi-langkah), protocol (aturan/larangan), narrative (cerita dengan komplikasi), serta explanation (penjelasan ilmiah).
- Definisi Genre: Genre didefinisikan sebagai proses sosial yang bertahap dan berorientasi pada tujuan (staged, goal-oriented social process).
- Bertahap (staged): Membutuhkan beberapa langkah atau tahapan struktur (schematic structure) untuk mencapai tujuan.
- Berorientasi tujuan (goal-oriented): Memiliki target penyelesaian yang jelas.
- Sosial (social): Penulis membentuk teksnya untuk pembaca dalam konteks budaya tertentu.
2. Pemodelan Konteks: Register dan Genre
Bahasa dipahami beroperasi dalam konteks situasi (context of situation) dan konteks budaya (context of culture).
- Register (Konteks Situasi): Terdiri dari tiga variabel utama yang berelasi langsung dengan tiga metafungsi bahasa:
- Field: Aktivitas sosial yang sedang berlangsung (apa yang terjadi) \(\rightarrow\) merealisasikan metafungsi ideational (pengalaman).
- Tenor: Hubungan status dan solidaritas antarpartisipan (siapa yang terlibat) \(\rightarrow\) merealisasikan metafungsi interpersonal (interaksi dan evaluasi).
- Mode: Saluran komunikasi dan peran bahasa (lisan, tulisan, dialog, monolog) \(\rightarrow\) merealisasikan metafungsi textual (pengorganisasian pesan).
- Genre (Konteks Budaya): Ditempatkan pada tingkatan (stratum) semiotik budaya di atas register. Genre berfungsi sebagai pola yang mengatur kombinasi variabel field, tenor, dan mode menjadi praktik sosial yang dikenali oleh anggota masyarakat.
3. Ideologi dan Keadilan Sosial
*10 Simplified Research Topics on ELT in Indonesia*
*10 Simplified Research Topics on ELT in Indonesia*
Here are the 10 topics rewritten in simple English, keeping their main research ideas.
1. Teachers’ Views on the 2027 Mandatory Primary English Policy
Study what primary English teachers think about the new policy. Focus especially on teachers without special English training and how the policy affects their professional identity.
2. The Gap Between ELT Policy and Classroom Reality
Study why English education policies are difficult to apply in real classrooms. Look at large classes, limited teaching time, and differences in teacher qualifications.
3. English Education and Inequality in Indonesia
Study why some students have better English learning opportunities than others. Examine differences in school resources, teacher distribution, technology, and regional access.
4. Translanguaging in Multilingual English Classrooms
Study how teachers and students use different languages to support English learning. Explore how Indonesian, local languages, English, and other communication resources can work together in diverse classrooms.
5. Teachers’ English Skills and Teaching Ability
Study the English proficiency and teaching skills of Indonesian English teachers. Identify the causes of low proficiency and ways to improve their speaking and teaching abilities.
6. Communicative Language Teaching in the Merdeka Curriculum
Study how teachers apply Communicative Language Teaching (CLT) in real classrooms. Explore why CLT is sometimes used only partially and what helps teachers use it more effectively.
7. English Education and Local Language Preservation
Study how English can be taught together with Bahasa Indonesia and local languages. Explore ways to improve English education without weakening indigenous languages and cultures.
8. Technology and the Digital Divide in ELT
Study how technology supports English learning in Indonesian schools and universities. Focus on unequal internet access, digital skills, and teaching methods that fit local conditions.
9. Student Motivation, Anxiety, and Speaking Participation
Study why some Indonesian students are afraid or unwilling to speak English. Examine the roles of vocabulary, pronunciation, confidence, and opportunities to practice.
10. English as a Lingua Franca and Intercultural English Teaching
Study how English can be taught as a global communication language rather than only following native-speaker standards. Explore how English learning relates to Indonesian culture, identity, religion, and different ways of thinking.
Wednesday, September 16, 2026
9 Scopus Docs of Dr. Faizal Risdianto
Breaking through the Ivory Tower of High-Indexed Journals: Insights from EFL Academics in Private Universities, East Java, Indonesia
no-Q as Journal Dirasat Human and Social Sciences
Author Order : 3 of 6 Creator : Tajuddin A.J.A.
2026 0 cited
How Spatial and Temporal References Construct Cultural Identity and Ecological Awareness: The Case of Little Forest Movie
Q1 as Journal International Journal of Society Culture and Language
Author Order : 4 of 4 Creator : Hamidah I.
2025 0 cited
Appraisal and Ideology Realization in Indonesia State Capital Relocation News Texts
Q1 as Journal International Journal of Society Culture and Language
Author Order : 1 of 4 Creator : Risdianto F.
2024 1 cited
Unlocking Potential: A Closer Look at Research Engagement and Productivity Among EFL Academics in East Java, Indonesia
no-Q as Journal Arab World English Journal
Author Order : 5 of 6 Creator : Fadhilawati D.
2024 1 cited
“The Sum of All Fears” from Novel to Film: Shifting the Discourse of Terrorism
Q1 as Journal World Journal of English Language
Author Order : 3 of 6 Creator : Rahayu M.
2023 1 cited
Women’s language features: Identifying language and gender in a talk show from a sociolinguistics the perspective
Q1 as Journal Research Journal in Advanced Humanities
Author Order : 5 of 7 Creator : Purba R.
2023 3 cited
Sociolinguistic analysis of language and gender identity in talk shows
Q1 as Journal Research Journal in Advanced Humanities
Author Order : 5 of 7 Creator : Purba R.
2023 12 cited
Intercultural Linguistic Borders, Stereotypes and Representations in Americanah by Chimamanda Adichie Ngozie Adichie: A Sociolinguistics perspective
no-Q as Journal Isvs E Journal
Author Order : 7 of 10 Creator : Sutrisno D.
2023 12 cited
Video as Educational Multimedia to Teach English Speaking
Q4 as Conference Proceedin Journal of Physics Conference Series
Author Order : 3 of 4 Creator : Fajar Masyitoh N.
2019 3 cited
Monday, September 14, 2026
Saturday, September 12, 2026
Friday, September 11, 2026
Thursday, September 10, 2026
Pak Fay New Blog: Wall of ideas 1-3
Blog Dr. Faizal Risdianto: My post in Kaskus English Forum
Blog Dr. Faizal Risdianto: Boso Jowo kuwi luwih simpel tinimbang Boso Enggres
1. Walking slowly on the edge (side) of the road: MLIPIR
2. Falling backward and then hitting own head: NGGEBLAK
3. Falling/tripping forward (and may hit own face): KEJLUNGUP
4. Smearing one's body with hot ointment or liquid and then massaging it: MBLONYOHI
5. Got hit by a truck that is moving backward: KUNDURAN TRUK
6. Hot pyroclastic cloud rolling down a volcano: WEDHUS GEMBEL
7. A small, sharp thing embedded inside one's skin: KESUSUBEN
8. Things getting out from a container accidentally because of gravity: MBROJOL
9. Get hit by thing collapsing on top of one's head/body: KEMBRUKAN
10. Drinking straight from the bottle without using a glass, where the whole bottle tip gets into the mouth: NGOKOP
11. Difficult to open eyes because something is shining very bright: BLERENG
12. Hanging on tightly to something to be inert: GONDELAN
13. Being overly active carelessly with eyes opened wide: PECICILAN
14. Releasing "wind" from the body through a coin drawn across the back skin's surface: KEROKAN
15. Finding by accident something good or functional/valuable/useful without looking for it: NDILALAH
16. Expression or gesture due to a sudden appearance (of something): MAK JEGAGIK
17. Very surprise of an unexpected experience: NJENGGIRAT
18. Water comes out from the mouth uncontrollably: NGENCES
19. Doing something nonchalantly with your finger: UTEK-UTEK
Is it the same conception multimedia in ELT teaching vs multimodal in ELT learning?
No, they are not the same conception, although they overlap in practice. In ELT, multimedia usually refers to the technological/media mix used to deliver instruction, while multimodal refers to the semiotic modes through which meaning is made and learned.[academic.oup][e-journal.undikma.ac][ihworld][thebioscan]
Core difference in conception
Multimedia in ELT (teaching-focused, tool-oriented)
- Defined as the integration of multiple media forms—text, audio, images, animation, video, interactive digital tools—to support teaching and learning.[thebioscan][scribd][kuey]
- Emphasis is on what technologies/media are used in the classroom (e.g., videos, slides, audio recordings, apps).[scribd]
- Often framed as a teaching aid or instructional resource to make lessons more engaging and to provide varied input.[thebioscan][scribd]
Multimodal in ELT (learning-focused, meaning-oriented)
- Defined as the use of multiple semiotic modes—linguistic, visual, aural, gestural, spatial—to construct and interpret meaning.[academic.oup][e-journal.undikma.ac][ihworld][files.eric.ed]
- Emphasis is on how meaning is made through combinations of modes, not just which media are present.[academic.oup][ihworld][scitepress]
- Grounded in social semiotics (Kress, van Leeuwen, New London Group): each mode contributes differently to meaning, and learners develop multimodal literacy (reading/creating multimodal texts).[academic.oup][e-journal.undikma.ac][scitepress][teachingenglishwithoxford.oup]
So:
- Multimedia = multiple media channels/tools (often digital) used in teaching.[thebioscan][scribd]
- Multimodal = multiple meaning-making modes (language, image, sound, gesture, layout) involved in communication and learning.[academic.oup][e-journal.undikma.ac][ihworld]
Where they overlap
In practice, multimedia resources are often multimodal texts: a video, for example, combines linguistic (speech, captions), visual (images, layout), aural (music, sound effects), and sometimes gestural (body language) modes. That’s why in classroom talk the terms can feel similar:[proceeding.unnes.ac][ritassida.weebly]
- A teacher using multimedia (e.g., a video lesson) is typically exposing students to a multimodal text.[thebioscan][proceeding.unnes.ac]
- A multimodal approach in ELT may use multimedia, but its theoretical focus is on how those modes work together for meaning-making, not just on the technology itself.[scitepress][proceeding.unnes.ac][proceeding.unnes.ac]
Implications for ELT
- If your focus is instructional design and tools (“What media should I use?”), you’re working with a multimedia conception.[thebioscan][scribd]
- If your focus is semiotic analysis and literacy (“How do students make meaning from language + image + sound + gesture?”), you’re working with a multimodal conception.[academic.oup][e-journal.undikma.ac][scitepress]
- A strong contemporary ELT stance often combines both: using multimedia resources deliberately to develop learners’ multimodal literacy.[teachingenglishwithoxford.oup][proceeding.unnes.ac][proceeding.unnes.ac]
Commedy terms: Laughing at our self
Dalam dunia komedi, “mentertawakan diri sendiri” berarti menjadikan diri, pengalaman, kesalahan, kekurangan, kebodohan, atau kegagalan pribadi sebagai bahan humor, bukan selalu menertawakan orang lain.
Contoh sederhana
“Saya ini sebenarnya orang yang sangat disiplin. Setiap pagi saya bangun jam 5... untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi.”
Di sini komedian menertawakan dirinya sendiri karena mengakui kebiasaan malas dengan cara yang lucu.
Contoh lain:
“Saya sudah belajar bahasa Inggris selama 20 tahun. Sampai sekarang kalau orang bilang How are you?, saya masih menjawab, ‘Yes.’”
Ia menggunakan kekurangannya sendiri sebagai sumber humor.
Mengapa teknik ini efektif?
Ada beberapa fungsi penting:
Membuat komedian terlihat rendah hati
Ia tidak selalu memosisikan dirinya sebagai orang yang lebih pintar daripada penonton.Menciptakan kedekatan dengan penonton
Penonton sering berpikir, “Wah, saya juga pernah begitu.”Mengurangi risiko menyinggung orang lain
Daripada menjadikan orang lain sebagai sasaran lelucon, komedian menjadikan dirinya sendiri sebagai “target”.Mengubah pengalaman negatif menjadi sesuatu yang menghibur
Kegagalan, rasa malu, kesalahan, atau pengalaman canggung dapat diolah menjadi humor.Membangun persona komedian
Misalnya seseorang membangun karakter sebagai “orang yang kikuk”, “pelupa”, “terlalu serius”, atau “tidak pandai dalam urusan cinta”.
Tetapi “mentertawakan diri sendiri” bukan berarti merendahkan diri terus-menerus
Ini perbedaan yang penting. Self-deprecating humor yang sehat biasanya memiliki pesan:
“Saya tahu kekurangan saya, dan saya bisa melihat sisi lucu dari kekurangan itu.”
Bukan:
“Saya memang tidak berharga dan pantas dihina.”
Jadi, dalam komedi, mentertawakan diri sendiri adalah kemampuan melihat absurditas atau kelucuan dalam diri dan pengalaman pribadi, kemudian mengubahnya menjadi humor.
Dalam konteks teori humor dan pragmatik, teknik ini juga menarik karena dapat berfungsi sebagai strategi menurunkan jarak sosial, membangun rapport, menunjukkan humility, dan mengelola face. Ini bahkan bisa dikaitkan dengan konsep face menurut Goffman/Brown & Levinson dan Rapport Management Spencer-Oatey.
Wednesday, September 9, 2026
100 Bahasa Gaul Gen Alpha
100 Bahasa Gaul Gen Alpha
Flex - Pamer kekayaan atau skill yang bikin orang melirik.Lit - Super seru, bikin suasana meledak.
Bet - Bentuk persetujuan kayak "oke gas!".
Vibe Check - Ngecek mood atau aura seseorang.
FOMO - Takut ketinggalan momen asik yang lagi rame.
Sus - Kelihatan mencurigakan dan bikin ragu.
Clout - Popularitas atau pengaruh gede di medsos.
No Cap - Beneran serius, gak bohong.
Simp - Orang yang terlalu ngefans sama seseorang sampai bucin.
Drip - Outfit keren dan stylish abis.
Bussin' - Makanan yang enaknya keterlaluan.
Slay - Ngadepin sesuatu dengan hasil maksimal.
Ohio - Code buat hal yang cupu atau aneh.
Glow Up - Upgrade penampilan jadi makin kece.
Red flag - Tanda bahaya soal sifat buruk seseorang.
Tea - Info juicy atau gosip panas.
Lowkey - Diam-diam aja, gak mau ribut.
Highkey - Kebalikannya, jelas banget dan terbuka.
Green flag - Pertanda hubungan yang sehat dan bikin happy.
THE GOLDEN CUCUMBER GIRL
https://drive.google.com/file/d/1t7jBdZ8a_dfPT5_qkwCmsoxgtm5eiJut/view?usp=sharing
Assalamu'alaikum wrwb.
To honorable judges, teachers, and my dear friends.
In front of you all, let me to intoduce myself. My name Humaira ... from SMP N 1 Tasikmadu. Today, I am very excited to share a wonderful story entitled “The Golden Cucumber Girl. “
THE GOLDEN CUCUMBER GIRL
Once upon a time, in a peaceful village in Central Java, Indonesia, there lived a kind and lonely widow named Mbok Sirni.
She lived alone in a small wooden house near a green forest. Every day, she worked hard in her garden. She grew vegetables, took care of her plants, and sold them in the village.
Although she was a kind woman, she often felt lonely because she had no child.
One evening, while she was sitting in front of her house, she looked at the sky and said, “I wish I had a daughter. I would love her and take care of her with all my heart.”
Suddenly, she heard a strange voice from behind the trees. “Mbok Sirni, I can give you a child.”
She was surprised and looked around. An enormous green giant named Buto Ijo appeared from the forest.
Mbok Sirni was frightened, but she was also very happy when she heard that she could have a child.
Buto Ijo gave her some cucumber seeds and said,
“Plant these seeds. You will have a beautiful daughter. But when she is seventeen years old, you must give her to me.”
Mbok Sirni was shocked. However, because she desperately wanted a child, she agreed to his condition.
She planted the seeds in her garden and took care of them every day.
A few months later, one cucumber grew bigger and brighter than all the others. It was shining like gold.
Mbok Sirni quickly picked the golden cucumber. When she opened it, she was amazed. Inside the cucumber was a beautiful baby girl.
Mbok Sirni was extremely happy. She named her Timun Mas, which means Golden Cucumber.
She raised Timun Mas with love. Timun Mas grew into a beautiful, brave, and kind-hearted girl.
Years passed quickly.
When Timun Mas was seventeen years old, Mbok Sirni remembered her promise to Buto Ijo. She became worried and told Timun Mas about the agreement.
She said,
“My dear daughter, I have something important to tell you. When you were a baby, I promised Buto Ijo that I would give you to him when you became seventeen.”
Timun Mas was shocked.
“Mother, what should we do?” she asked.
Mbok Sirni did not want to lose her daughter. She went to a wise hermit and asked him for help.
The hermit gave her four magical objects: cucumber seeds, needles, salt, and shrimp paste. He told Mbok Sirni,
“Give these to Timun Mas. When Buto Ijo comes, she must run as fast as she can and throw these objects behind her one by one.”






.jpg)



.webp)

.png)