Pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (English as a Foreign Language atau EFL) pada hakikatnya merupakan proses yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan kompetensi linguistik, tetapi juga melibatkan dinamika sosial dan psikologis yang kompleks. Ruang kelas menjadi arena interaksi tempat guru dan siswa secara terus-menerus membangun, menafsirkan, dan menegosiasikan makna melalui komunikasi. Dalam perspektif pemerolehan bahasa kedua, keberhasilan belajar tidak dapat dipisahkan dari kualitas hubungan interpersonal yang berkembang selama proses pembelajaran. Saville-Troike dan Barto (2017) menegaskan bahwa bahasa dipelajari melalui interaksi sosial sehingga setiap percakapan di kelas bukan sekadar media penyampaian informasi, melainkan juga sarana pembentukan identitas sosial, rasa percaya diri, dan keanggotaan dalam komunitas belajar. Oleh karena itu, kualitas hubungan antara guru dan siswa menjadi salah satu faktor penentu efektivitas pembelajaran bahasa.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui Teori Rapport Management yang dikemukakan oleh Spencer-Oatey (2008). Teori ini menjelaskan bahwa keberhasilan komunikasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan partisipan dalam mengelola hubungan interpersonal melalui tiga komponen utama, yaitu face sensitivities (sensitivitas terhadap citra diri), sociality rights and obligations (hak dan kewajiban sosial), serta interactional goals (tujuan interaksi). Dalam konteks kelas EFL, guru tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi, tetapi juga menjaga keseimbangan hubungan sosial dengan menghormati harga diri siswa, memenuhi harapan mereka untuk diperlakukan secara adil, dan menciptakan suasana yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Ketika ketiga aspek tersebut dikelola secara efektif, interaksi kelas menjadi lebih harmonis sehingga siswa merasa nyaman untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan berbicara maupun diskusi.
Selain itu, dinamika hubungan guru dan siswa juga dapat dijelaskan melalui konsep Relational Work yang dikembangkan oleh Locher dan Watts (2005, 2008). Berbeda dengan teori kesopanan tradisional yang cenderung memandang kesantunan sebagai seperangkat strategi tetap, teori Relational Work menekankan bahwa setiap tindakan komunikasi merupakan proses negosiasi hubungan yang terus berlangsung. Kesantunan, ketidaksantunan, maupun perilaku yang dianggap netral ditentukan oleh penilaian partisipan berdasarkan norma sosial yang berlaku dalam komunitas tertentu. Dalam kelas EFL, misalnya, cara guru memberikan koreksi terhadap kesalahan siswa dapat dipersepsikan sebagai bentuk dukungan apabila disampaikan secara empatik, tetapi dapat pula dianggap mengancam apabila dilakukan secara keras atau mempermalukan siswa di depan teman-temannya. Dengan demikian, keberhasilan komunikasi pedagogis bergantung pada kemampuan guru menyesuaikan strategi tutur dengan ekspektasi relasional yang berkembang di dalam kelas.





