Thursday, June 18, 2026
Tablighi Jamaat: Gerakan Kebangkitan Islam dan Masalah Radikalisme vs Radi-Kalem
Judul: Tablighi Jamaat: An Islamic Revivalist Movement and the Issue of Radicalism
Ringkasan Isi
Artikel ini membahas sejarah, ideologi, perkembangan global, dan kontroversi mengenai Jamaah Tabligh sebagai salah satu gerakan Islam transnasional terbesar di dunia. Penulis berusaha menjawab pertanyaan apakah Jamaah Tabligh dapat dikategorikan sebagai gerakan dakwah biasa atau memiliki hubungan dengan radikalisme.
Jamaah Tabligh didirikan oleh Muhammad Ilyas Kandhlawi pada tahun 1920-an di wilayah Mewat, India Utara. Nama "Jamaah Tabligh" sebenarnya bukan nama resmi yang diberikan pendirinya, melainkan sebutan yang muncul karena aktivitas utama gerakan ini adalah tabligh atau dakwah. Kata "tabligh" berarti menyampaikan ajaran agama, sedangkan "jamaah" berarti kelompok atau perkumpulan.
Lahirnya Jamaah Tabligh dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan keagamaan umat Islam India pada masa penjajahan Inggris. Saat itu umat Islam menghadapi tekanan dari gerakan kebangkitan Hindu dan melemahnya identitas Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Muhammad Ilyas memandang bahwa solusi utama bukan melalui politik, melainkan melalui pendidikan dan dakwah untuk memperbaiki akidah serta praktik keagamaan umat Islam.
Gerakan ini memiliki hubungan historis dengan tradisi pendidikan Deoband di India. Madrasah Deoband mengajarkan Al-Qur'an, hadis, fikih Hanafi, dan nilai-nilai tasawuf yang menekankan kesederhanaan hidup. Muhammad Ilyas sendiri merupakan alumni Deoband dan memiliki hubungan dengan beberapa tarekat sufi seperti Naqsyabandiyah dan Qadiriyah. Oleh karena itu, Jamaah Tabligh lebih berorientasi pada pembinaan spiritual daripada perjuangan politik.
Secara ideologis, Jamaah Tabligh berpegang pada rukun Islam dan rukun iman sebagaimana umat Islam pada umumnya. Gerakan ini menekankan enam prinsip utama, yaitu syahadat, shalat, penghormatan kepada sesama Muslim, keikhlasan niat, ilmu dan zikir, serta pengorbanan waktu dan harta untuk dakwah. Keenam prinsip ini menjadi dasar seluruh aktivitas Jamaah Tabligh.
Dalam praktik dakwahnya, Jamaah Tabligh menggunakan beberapa metode utama, yaitu khuruj (keluar berdakwah), ta'lim (belajar agama), jaulah (kunjungan dakwah), dan bayan (ceramah agama). Anggota dianjurkan mengikuti kegiatan dakwah secara berkala, misalnya sehari setiap minggu, tiga hari setiap bulan, empat puluh hari setiap tahun, dan empat bulan sepanjang hidupnya.
Perkembangan Jamaah Tabligh sangat pesat hingga menyebar ke lebih dari 200 negara. Gerakan ini berkembang di Asia, Afrika, Eropa, Australia, dan Amerika. Di Indonesia, Jamaah Tabligh mulai masuk sekitar tahun 1955 melalui mubalig asal India dan kemudian berkembang di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Temboro, Magetan.
Sad but True: A story of Tablighi Jamaat
Artikel adalah ringkasan dan terjemah dari uraian panjang di web ini: 3 Reasons Why Tablighi Jamaat Split & How it was Reunited!
Ringkasan Singkat
Sejak 1995, Tablighi Jamaat dipimpin oleh sebuah Syura (Dewan Dunia) daripada seorang Amir tunggal. Pada tahun 2014, Maulana Saad—seorang anggota Syura—melanggar kesepakatan tersebut dan secara tidak resmi mendeklarasikan dirinya sebagai Amir baru. Pada Ramadhan 2016, ia melakukan pembersihan kekerasan di Markas Nizamuddin, menyebabkan banyak orang dipukul dan dirawat di rumah sakit. Peristiwa ini menghancurkan semua harapan mediasi dan menyebabkan perpecahan.
Upaya nasihat dan mediasi dari berbagai pihak, termasuk sesepuh Makkah/Madinah, semuanya gagal. Akhirnya, Haji Abdul Wahab Sahab (anggota Syura paling senior) menggalang semua sesepuh untuk mengambil sikap tegas. Kini, krisis sebagian besar telah mereda. Pengikut Maulana Saad masih ada namun minoritas, dan pekerjaan Dakwah serta Tabligh telah pulih di seluruh dunia.
Tiga Penyebab Utama Perpecahan
#1 – Maulana Saad Mengubah Manhaj (Doktrin) Tanpa Persetujuan
Doktrin utama Tablighi Jamaat adalah selalu terikat pada Ijma (konsensus) para Ulama dan berpegang teguh pada mufassirin, muhaddisin, dan fuqaha terkemuka.
Perubahan terbesar Maulana Saad adalah menyimpangkan gerakan dari Ahlus Sunnah Wal Jama'ah melalui ideologi dan pemahaman baru tentang Islam.
Banyak fatwa telah dikeluarkan terhadapnya, termasuk dari Darul Uloom Deoband.
Ia juga memperkenalkan buku Muntakhab Ahaadith sebagai buku resmi tanpa persetujuan, serta berbagai perubahan lain yang menyebabkan kebingungan di seluruh dunia.
#2 – Maulana Saad Melanggar Kesepakatan 1995
Pada 1995, Syura (termasuk Maulana Saad) menandatangani kesepakatan bahwa tanggung jawab tidak berada pada satu individu, melainkan Syura Dunia.
Pada 2014, Maulana Saad secara khianat melanggar kesepakatan dengan mengklaim diri sebagai Amir baru, menolak Syura, dan mulai mengambil Bai'ah (janji setia) tanpa persetujuan (Mashwara).
Melanggar perjanjian adalah dosa, apalagi memecah belah gerakan Islam terbesar dengan sekitar 100 juta pengikut.
#3 – Banyak Fatwa Dikeluarkan Terhadap Ideologi Maulana Saad
Tablighi Jamaat selalu terikat oleh Ijma para Ulama yang dijaga oleh lembaga-lembaga Islam terkemuka.
Keluhan telah tercatat sejak 2001. Ideologi Maulana Saad dinilai semakin menyimpang.
Darul Uloom Deoband mengeluarkan fatwa pertama pada 28 November 2016, dan menolak rujoo (pencabutan pernyataan)-nya pada 31 Januari 2018.
Pada 2023, Deoband mengeluarkan fatwa tegas bahwa Maulana Saad tidak boleh diikuti.
Lebih dari 60 fatwa telah dikumpulkan dari berbagai institusi di seluruh dunia.
Dr. Faizal Risdianto Bekali 80 Mahasiswa KPI UIN Surakarta Strategi Tembus Jurnal Bereputasi

Internal and External Factors Affecting Students’ Lack of Verbal Participation
Internal and External Factors Affecting Students’ Lack of Verbal Participation and the Role of Classroom Activities in Speaking Engagement
Verbal participation is a crucial component of successful language learning, particularly in English as a Foreign Language (EFL) classrooms. Active participation enables students to practice communication skills, express ideas, and engage meaningfully with learning materials. However, many students remain reluctant to participate verbally during classroom interactions. Researchers have identified numerous internal and external factors that contribute to students’ low verbal participation. Understanding these factors is essential for teachers who aim to create supportive learning environments and encourage students to engage actively in speaking activities (Brown, 2004; Krashen, 1985).
One of the most influential internal factors affecting verbal participation is anxiety. Language anxiety often occurs when students feel nervous, worried, or uncomfortable about speaking in front of others. Such feelings may arise from concerns about pronunciation, grammar, or being unable to express ideas effectively. Students experiencing high levels of anxiety frequently avoid speaking opportunities and prefer to remain silent during classroom discussions. Consequently, anxiety can significantly hinder students’ willingness to communicate and participate verbally in language learning activities (Krashen, 1985; Tahang et al., 2025).
Another important internal factor is low self-confidence. Students who doubt their language abilities often hesitate to speak because they are uncertain whether their responses are correct or meaningful. A lack of confidence can discourage students from taking risks in communication, even when they possess sufficient knowledge to contribute to classroom discussions. As a result, students may choose silence over participation, limiting their opportunities to improve speaking skills and language proficiency (Wang, 2019).
Reflection in Learning: A Comprehensive Analysis of Theory and Practice
Introduction to Reflective Practice
Reflection constitutes a fundamental component of the learning process, serving as a bridge between experiential engagement and meaningful knowledge construction. The capacity to think critically about one's experiences and acquired knowledge enables students to transcend surface-level understanding and develop deeper cognitive connections (Dewey, 1933). This reflective capacity transforms passive reception of information into active intellectual engagement, allowing learners to analyse their actions, comprehend their learning trajectories, and generate profound insights that extend beyond the immediate educational context. The significance of reflection in educational settings has been increasingly recognised by contemporary scholars and practitioners, who view it as an indispensable element of effective pedagogy and holistic student development.
Theoretical Foundations of Reflective Learning
The theoretical underpinnings of reflective learning draw substantially from the seminal work of Donald Schön (1983), who revolutionised understanding of professional practice and learning through his conceptualisation of reflection-in-action and reflection-on-action. Dewey's (1933) earlier philosophical contributions established reflection as a disciplined inquiry into experience, positing that genuine learning occurs when individuals engage in systematic thought about their actions and their consequences. These foundational theories have been extended and refined by subsequent researchers who have demonstrated the transformative potential of reflective practice across diverse educational contexts (Moon, 2004). The integration of reflection into educational frameworks represents a pedagogical commitment to developing thoughtful, self-aware learners capable of navigating complex cognitive and moral landscapes.
Reflection-in-Action: Real-Time Cognitive Adaptation
Naturalistic Inquiry menurut Lincoln dan Guba
Naturalistic Inquiry merupakan paradigma penelitian yang diperkenalkan oleh Yvonna S. Lincoln dan Egon G. Guba sebagai respons terhadap dominasi paradigma positivistik dalam ilmu sosial. Pendekatan ini berkembang dari keyakinan bahwa realitas sosial tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui pengukuran kuantitatif dan eksperimen terkontrol. Sebaliknya, realitas dipandang sebagai sesuatu yang kompleks, dinamis, dan dibentuk melalui interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian harus dilakukan dalam lingkungan alami tempat fenomena tersebut berlangsung.
Paradigma ini muncul karena Lincoln dan Guba menilai bahwa pendekatan positivistik sering kali gagal menangkap makna yang diberikan individu terhadap pengalaman mereka. Dalam penelitian naturalistik, fokus utama bukanlah menguji hipotesis atau menemukan hukum universal, melainkan memahami bagaimana manusia membangun dan menafsirkan realitas sosial mereka. Dengan demikian, peneliti berupaya memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai perspektif, nilai, keyakinan, dan pengalaman partisipan.
Salah satu perbedaan mendasar antara pendekatan rasionalistik (positivistik) dan naturalistik terletak pada pandangan tentang realitas. Paradigma positivistik menganggap bahwa terdapat satu realitas objektif yang dapat diamati dan diukur secara independen dari peneliti. Sebaliknya, naturalistic inquiry berasumsi bahwa realitas bersifat jamak (multiple realities), dibentuk secara sosial, dan dapat berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Oleh karena itu, tidak ada satu kebenaran tunggal yang berlaku bagi semua situasi.
Dalam paradigma naturalistik, hubungan antara peneliti dan partisipan juga berbeda secara signifikan. Jika dalam penelitian positivistik peneliti berusaha menjaga jarak dan bersikap netral terhadap objek penelitian, maka dalam naturalistic inquiry peneliti justru menjadi instrumen utama penelitian yang berinteraksi secara langsung dengan partisipan. Interaksi tersebut memungkinkan peneliti memahami konteks, pengalaman, dan makna yang tidak dapat diungkap melalui instrumen standar seperti kuesioner tertutup.
Naturalistic inquiry juga menolak pandangan kausalitas yang bersifat linier dan deterministik. Dalam paradigma ini, fenomena sosial dipahami sebagai hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain secara kompleks. Sebuah peristiwa tidak dapat dijelaskan hanya melalui hubungan sebab-akibat yang sederhana, melainkan harus dipahami dalam konteks sosial, budaya, historis, dan lingkungan tempat peristiwa tersebut terjadi.
Perception: proses kognitif awal vs Reflection: proses metacognitif-evaluatif
Pertanyaan ini menyentuh dua konsep yang sering dipakai seolah-olah sinonim, padahal keduanya berbeda secara psikologis dan pedagogis.
1. Apa itu student’s perception?
Dalam psikologi pendidikan, perception biasanya dimaknai sebagai proses menangkap, mengorganisasi, dan memberi makna pada rangsangan dari lingkungan sehingga menjadi “gambaran” di benak siswa tentang objek, peristiwa, atau hubungan tertentu.[id.scribd]
Dalam konteks pendidikan, student’s perception berarti bagaimana siswa memaknai pengalaman belajarnya: misalnya persepsi tentang guru, mata kuliah, metode, atau lingkungan belajar.[journal2.unusa.ac]
Beberapa ciri utama student’s perception:
Terjadi relatif spontan dan online saat siswa mengalami suatu situasi (misalnya selama perkuliahan atau saat menggunakan LMS).[media.neliti]
Mengintegrasikan sensasi (apa yang dilihat, didengar, dialami) dengan skema kognitif yang sudah ada, sehingga muncul penilaian seperti “kelas ini menarik”, “dosen ini adil”, “e-learning ini membosankan”.[journal2.unusa.ac]
Sering diukur dengan kuesioner atau skala persepsi; fokusnya pada bagaimana siswa memandang sesuatu, bukan bagaimana mereka menganalisis pengalaman itu secara mendalam.[repository.uin-suska.ac]
2. Apa itu student’s reflection?
Reflection dalam pendidikan biasanya dipahami sebagai proses kognitif dan metakognitif yang disengaja, di mana siswa meninjau kembali pengalaman belajarnya, menilai, dan menarik pelajaran untuk perbaikan diri.[ejournal.unsrat.ac]
Dalam konteks psikologi pendidikan dan self-regulated learning, student’s reflection berarti bagaimana siswa merenungkan apa yang sudah mereka lakukan, pikirkan, dan rasakan selama belajar, lalu menggunakan hasil renungan itu untuk mengubah strategi atau perilaku belajar.[fpsi.hangtuah.ac]
Ciri utama student’s reflection:
Bersifat deliberate: dilakukan secara sengaja setelah atau di sela pengalaman belajar (misalnya melalui reflective journal, reflective essay, atau self-reflection form).[etd.repository.ugm.ac]
Mencakup evaluasi kognitif dan afektif: siswa menilai pemahaman, strategi yang dipakai, emosi yang muncul, dan akibatnya bagi hasil belajar, lalu memikirkan apa yang perlu diubah.[journal.pubmedia]
Sangat terkait dengan metakognisi dan regulasi diri: siswa memonitor dan mengatur proses belajarnya berdasarkan refleksi diri.[fpsi.hangtuah.ac]
3. Perbedaan konsep dalam psikologi pendidikan
Secara garis besar, dalam psikologi pendidikan:
Perception
Lebih dekat dengan proses kognitif awal: bagaimana stimulus ditangkap dan dimaknai pada saat kejadian.[id.scribd]
Objeknya bisa: guru, mata kuliah, lingkungan, metode, teknologi, bahkan refleksi itu sendiri (misalnya persepsi terhadap kegiatan reflective journaling).[cibangsa]
Lebih menggambarkan “how students see something”.
Reflection
Lebih dekat dengan proses metakognitif dan evaluatif: bagaimana siswa melihat kembali dan mengevaluasi pengalaman yang sudah dipersepsi, lalu mengintegrasikan dengan tujuan dan strategi belajar.[lmsspada.kemdiktisaintek.go]
Objeknya: pengalaman belajar mereka sendiri, hasil belajar, strategi yang dipakai, dan alasan keberhasilan/kegagalan.[ejournal.unsrat.ac]
Lebih menggambarkan “how students think about and learn from what they experienced”.
Dengan kata lain, perception bisa menjadi bahan baku bagi reflection: siswa terlebih dahulu memiliki persepsi tentang kelas, guru, dan pengalaman belajar; kemudian melalui refleksi mereka menilai persepsi itu, mempertanyakan, mengafirmasi, atau merevisinya untuk mengarahkan tindakan selanjutnya.[etd.repository.ugm.ac]
Thursday, June 11, 2026
Blog Dr. Faizal Risdianto: Metodologi Pengabdian Masyarakat
Saturday, June 6, 2026
The SEO Value of the domain of Pakfaizal.com
Pakfaizal.com is an academic and educational blog owned by Dr. Faizal Risdianto of UIN Salatiga. Established in December 2012, the website has been active for more than thirteen years and publishes content in both Indonesian and English. Its primary focus includes linguistics, English Language Teaching (ELT), pragmatics, scholarly publishing, Scopus and SINTA indexing, and higher education. The site mainly serves lecturers, students, researchers, journal managers, and other academic professionals.
From an SEO and advertising perspective, Pakfaizal.com offers several strategic advantages. Its long domain history, strong personal academic branding, and substantial collection of unique scholarly content contribute to its credibility and authority within the academic niche. Many articles function as evergreen reference materials with long-term relevance, making the website attractive to advertisers seeking visibility among Indonesia’s academic community. However, as a specialized academic platform, its traffic volume is likely smaller than that of mainstream technology blogs or news websites.
Based on publicly observable indicators such as domain age, content volume, and publication frequency, Pakfaizal.com may generate an estimated 5,000–30,000 monthly organic visitors and 10,000–60,000 monthly pageviews. Its estimated authority metrics could range from an Ahrefs Domain Rating (DR) of 20–40 and a Moz Domain Authority (DA) of 25–45, with approximately 100–500 referring domains. In terms of commercial collaboration, a reasonable market rate would be around US$100–300 for a sponsored guest post and US$50–150 for a link insertion, depending on content relevance, traffic performance, and the specific requirements of the advertiser.
Relational Face and Rapport Management in Lecturer–Student WhatsApp Interactions
Risdianto, F., Machfudz, M., Sagimin, E. M., Hanafi, H., & Jumanto, J. (2023). Politeness and Impoliteness Strategies in Lecturer-Student Communication Within Cyberpragmatic Chats. Journal of Pragmatics Research, 5(1), 107–134. https://doi.org/10.18326/jopr.v5i1.107-134
Relational Face and Rapport Management in Lecturer–Student WhatsApp Interactions
Analisis terhadap interaksi WhatsApp antara
mahasiswa dan dosen di Universitas Islam Negeri Salatiga menunjukkan bahwa
kesantunan dan ketidaksantunan dalam komunikasi digital tidak dapat dijelaskan
secara memadai hanya melalui perspektif klasik seperti teori kesantunan Brown
dan Levinson (1987) atau Prinsip Kesantunan Leech (1983). Data penelitian
memperlihatkan bahwa makna kesantunan dibentuk melalui proses negosiasi
relasional yang berlangsung secara dinamis di dalam interaksi. Oleh karena itu,
temuan penelitian ini dianalisis menggunakan Teori Pembentukan Muka (Face
Constituting Theory) dari Arundale (2010) dan Teori Manajemen Rapor (Rapport
Management Theory) dari Spencer-Oatey (2008) untuk memahami bagaimana
hubungan interpersonal dikonstruksi, dipelihara, dan dinegosiasikan dalam
komunikasi berbasis teks.
Dari perspektif Teori Pembentukan Muka, muka (face)
dipahami bukan sebagai atribut individual, melainkan sebagai pencapaian
interaksional yang dibangun bersama (conjointly co-constituted) oleh
para partisipan dalam suatu hubungan sosial (Arundale, 2010, p. 2078). Dengan
demikian, fokus analisis tidak terletak pada tindakan individu semata, tetapi
pada bagaimana hubungan antara dosen dan mahasiswa diwujudkan melalui rangkaian
giliran bertutur (chat turns). Pada Eksper 1 (bald-on-record) dan
Eksper 2 (negative politeness), respons mahasiswa yang sangat singkat
seperti “Ya Pak” atau “Waalaikumsalam, baik Pak” tidak sekadar mencerminkan
kepatuhan terhadap otoritas dosen. Sebaliknya, respons tersebut secara
kolaboratif membangun dan mempertahankan jarak relasional (relational
separation) yang menjadi ciri hubungan institusional antara dosen dan
mahasiswa. Dalam konteks ini, muka yang terbentuk bukanlah citra diri individu,
melainkan hubungan formal yang menegaskan perbedaan status sosial dan akademik
antara kedua pihak.
Proses pembentukan muka tersebut juga terlihat pada penggunaan strategi lindung nilai (hedging) dalam Eksper 4 dan Eksper 5. Ungkapan seperti “Maaf mengganggu waktu Bapak” menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menyampaikan maksud komunikatif, tetapi juga secara aktif mengantisipasi bagaimana pesan mereka akan ditafsirkan oleh dosen. Fenomena ini sejalan dengan konsep reflexive face interpreting yang dikemukakan Arundale (2010), yaitu proses ketika seseorang menafsirkan bagaimana dirinya dipersepsikan oleh lawan tutur. Dalam lingkungan komunikasi digital yang minim petunjuk nonverbal, mahasiswa tampak berupaya mengurangi potensi ancaman terhadap hubungan interpersonal dengan merancang pesan yang aman secara relasional. Strategi tersebut menunjukkan adanya kesadaran pragmatik bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada bagaimana hubungan sosial dipertahankan melalui pilihan bahasa yang tepat.
Thursday, June 4, 2026
Tantura, Film tentang Kebinatangan Zionis Israel
Tantura, film dengan subtitle bahasa Prancis.
Pada tahun 1948, beberapa bulan setelah pendirian Israel, tentara Yahudi Israel melakukan pembantaian di desa pesisir kecil yang damai ini. Brigade Alexandroni, sebuah unit dari organisasi teroris Haganah, menyerang. Para tentara mengumpulkan para pria, wanita, dan anak-anak. Mereka memperkosa para wanita. Mereka mengeksekusi. Setidaknya 250 tewas, menurut para saksi. Anak-anak berusia 13 tahun, ditembak di bagian belakang leher, di pantai. Baru saja keluar dari kengerian Nazi, sebagian dari mereka mengulangi kejahatan yang sama terhadap warga sipil yang tidak bersalah. Kemudian, mereka menguburkan mayat-mayat dalam kuburan massal untuk menyembunyikan kengerian itu.
Peneliti Israel Teddy Katz mendokumentasikan fakta-fakta dan mengumpulkan pengakuan dari para tentara. Salah satu dari mereka tertawa: "Saya tidak ingat berapa banyak orang Arab yang saya bunuh." Yang lain menangis, tetapi sudah terlambat. Katz diseret ke pengadilan, kehilangan gelarnya, dan menandatangani pencabutan pernyataan yang sangat ia sesali. Namun, bukti tidak bisa dicabut: kuburan massal itu masih ada. Salah satunya, di bawah sebuah tempat parkir, telah didokumentasikan oleh Forensic Architecture. Para veteran mengaku di depan kamera, dalam film Tantura.
Ini bukan mitos, bukan legenda. Ini adalah Nakba. Ini adalah bukti kebintangan Zionis Israel.
Dalam film ini, Anda melihat penyangkalan di mana mereka terbenam. Mereka tidak akan pernah mengakui telah membunuh 250 orang di Tantura. Lalu, bagaimana mungkin mereka mengakui telah membunuh puluhan ribu anak di Gaza? Penyangkalan telah menyertai mereka sejak dulu. Itu adalah baju zirah mereka. Dan kutukan mereka.
Film ini memiliki subtitle bahasa Prancis. Tontonlah. Dan jangan lupakan.
Sunday, May 31, 2026
Saturday, May 30, 2026
Poin-poin terpenting dalam Kajian Cyberpragmatics
**Siberpragmatik dan Dinamika Kesantunan dalam Komunikasi Digital**
Bidang **siberpragmatik (cyberpragmatics)** berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang mengubah cara manusia berinteraksi dalam ruang digital. Dalam konteks ini, komunikasi tidak lagi bergantung semata-mata pada bahasa verbal, tetapi juga melibatkan berbagai sumber semiotik seperti emoji, stiker, meme, GIF, gambar, dan video yang membentuk makna secara multimodal. Menurut Yus (2011), siberpragmatik mempelajari bagaimana pengguna bahasa menginterpretasikan dan menegosiasikan makna dalam lingkungan digital yang memiliki karakteristik berbeda dari komunikasi tatap muka. Lingkungan daring yang bersifat asinkron, anonim, dan berbasis teknologi telah menciptakan dinamika baru dalam praktik kesantunan (*politeness*) dan ketidaksantunan (*impoliteness*) dalam komunikasi sehari-hari.
Salah satu karakteristik utama komunikasi digital adalah **multimodalitas**, yaitu penggunaan berbagai mode komunikasi secara simultan untuk menyampaikan pesan. Dalam aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, stiker sering digunakan untuk mengekspresikan emosi seperti kemarahan, kesedihan, atau kelelahan secara humoris sehingga dapat mengurangi potensi ancaman terhadap muka (*face-threatening acts*) dan memperhalus pesan yang berpotensi menimbulkan konflik. Demikian pula, emoji dalam platform media sosial seperti TikTok berfungsi sebagai pengganti ekspresi wajah dan intonasi yang tidak tersedia dalam komunikasi berbasis teks. Penggunaan unsur-unsur visual tersebut membantu pengguna membangun identitas digital sekaligus memperkaya makna pragmatik yang terkandung dalam pesan (Herring, 2013; Yus, 2014).
Friday, May 29, 2026
Cyberpragmatics: Politeness and Impoliteness in Digital Communication
Cyberpragmatics: Politeness and Impoliteness in Digital Communication
Imagine you are chatting with a friend on WhatsApp. You send a message, but your friend replies with a single "k." Is that rude? Maybe it is, maybe it isn’t — but how do you know? Now imagine you’re in an online game, and another player calls you a name. Would you say the same thing to their face? Probably not. The reason these questions are tricky is that digital communication has changed the way we negotiate meaning, politeness, and social relationships. This is exactly what cyberpragmatics — the study of language use in digital environments — tries to understand.
Cyberpragmatics has become a vital field in contemporary linguistics because digital communication has transformed how people negotiate meaning, politeness, and social relationships online. The rise of social media, online gaming, WhatsApp interactions, and AI-based communication has created new forms of language behaviour that are quite different from traditional face-to-face conversation.
What Makes Digital Communication Different?
To understand cyberpragmatics, you first need to see what is unique about online interaction. Graham and Hardaker (2017) explain that technology-mediated communication changes interaction dynamics in three important ways:
- Asynchronicity: Messages do not have to be exchanged in real time. You can send a text and wait hours for a reply. This changes the rhythm of conversation and can make politeness strategies more complicated (for instance, a delayed reply might be seen as ignoring someone).
- Anonymity: Users can hide their real identities behind usernames and avatars. This can make people feel less accountable for what they say, leading to more aggressive or uninhibited language.
- Multimodality: Communication is not just about words. Emojis, stickers, memes, GIFs, images, and videos all carry meaning. A single 😂 can soften a criticism, or a meme can deliver an insult without a word being said.
These features mean that politeness and impoliteness are constantly being renegotiated in digital spaces. Users rely not only on words but also on visual and symbolic cues to express interpersonal meaning. Traditional theories of politeness, developed for face-to-face conversation, often struggle to account for these new dynamics.
OPO KUI CYBERPRAGMATICS
Cyberpragmatics telah menjadi bidang penting dalam kajian linguistik kontemporer karena komunikasi digital telah mengubah cara manusia menegosiasikan makna, kesantunan, dan hubungan sosial dalam interaksi daring. Kemunculan media sosial, permainan daring, komunikasi WhatsApp, dan interaksi berbasis kecerdasan buatan telah menciptakan bentuk-bentuk perilaku bahasa baru yang berbeda dari komunikasi tatap muka tradisional. Graham dan Hardaker (2017) menjelaskan bahwa komunikasi yang dimediasi teknologi mengubah dinamika interaksi karena pengguna berkomunikasi melalui lingkungan yang asinkron, anonim, dan multimodal yang sering kali melemahkan batasan sosial konvensional. Akibatnya, kesantunan (politeness) dan ketidaksantunan (impoliteness) terus dinegosiasikan kembali dalam ruang digital, di mana pengguna tidak hanya mengandalkan kata-kata, tetapi juga emoji, stiker, meme, dan simbol visual untuk menyampaikan makna interpersonal.
Isu ketidaksantunan dalam komunikasi daring telah menjadi salah satu
topik yang paling banyak diperdebatkan dalam cyberpragmatics. Culpeper dan
rekan-rekannya (2025) berpendapat bahwa ketidaksantunan daring sering bersifat
timbal balik karena komentar yang bermusuhan cenderung memicu respons yang sama
agresifnya. Fenomena ini dikenal sebagai “impoliteness reciprocity,”
yaitu ketika interaksi digital berkembang menjadi konflik verbal melalui
sarkasme, kesantunan palsu (mock politeness), hinaan, dan balasan
emosional. Berbeda dengan komunikasi tatap muka, lingkungan daring memungkinkan
pengguna mengekspresikan agresi secara lebih terbuka karena tidak adanya
kehadiran fisik dan konsekuensi sosial langsung. Oleh sebab itu, para peneliti
cyberpragmatics semakin banyak meneliti bagaimana wacana daring berkontribusi
terhadap ujaran kebencian (hate speech), perundungan siber (cyberbullying),
budaya pembatalan (cancel culture), dan praktik komunikasi toksik.
Diskusi penting lainnya berkaitan dengan strategi kesantunan dalam
komunikasi pendidikan. Risdianto dkk. (2023) menemukan bahwa mahasiswa sering
menggunakan strategi kesantunan ketika berkomunikasi dengan dosen melalui
WhatsApp dan email. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa kerap
memakai salam, permintaan maaf, ungkapan terima kasih, dan ekspresi religius
untuk menjaga hubungan akademik yang hormat. Namun, beberapa mahasiswa tanpa
sengaja menghasilkan ujaran yang tidak santun karena kurangnya kesadaran
terhadap norma pragmatik digital. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi
daring membutuhkan kompetensi pragmatik khusus karena interaksi digital
tertulis tidak selalu mampu menyampaikan nada, emosi, atau maksud secara jelas.
Oleh karena itu, kompetensi cyberpragmatics menjadi semakin penting dalam
komunikasi akademik.
Penelitian tentang layanan jejaring sosial di Korea semakin menunjukkan
bahwa norma kesantunan berbeda-beda antarbudaya dan platform digital. Rhee
(2023) menjelaskan bahwa konsep “muka” (face) dalam budaya digital Asia
telah berkembang akibat interaksi daring dan identitas anonim. Teori kesantunan
tradisional yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson sering kali dipertanyakan
karena komunikasi media sosial bersifat lebih dinamis, publik, dan multimodal.
Pengguna dapat secara sengaja menggabungkan strategi kesantunan dan
ketidaksantunan untuk menciptakan humor, ironi, atau dominasi sosial. Perubahan
ini mendorong para sarjana untuk beralih dari pragmatik tradisional menuju
pragmatik digital dan teori post-politeness yang lebih mampu menjelaskan
interaksi dalam komunitas daring.
Komunikasi politik di media sosial juga memberikan wawasan penting
mengenai praktik ketidaksantunan. Groshek dan Cutino (2016) menemukan bahwa
platform komunikasi seluler seperti Twitter memperkuat interaksi bermusuhan
karena fitur seperti mention, retweet, dan respons cepat
mempermudah eskalasi wacana. Diskusi politik daring sering menjadi emosional
dan terpolarisasi karena pengguna dapat langsung bereaksi terhadap isu
kontroversial. Para akademisi terus memperdebatkan apakah ketidaksantunan
terutama disebabkan oleh perilaku pengguna itu sendiri atau oleh algoritma
platform digital yang mendorong keterlibatan melalui konten kontroversial.
Perdebatan ini sangat relevan dalam diskusi kontemporer tentang demokrasi
daring, polarisasi politik, dan komunikasi algoritmik.
Perkembangan komunitas permainan daring telah memperkenalkan
bentuk-bentuk baru interaksi cyberpragmatics. Penelitian Nensilanti dkk. (2025)
menunjukkan bahwa ketidaksantunan dalam percakapan game daring bukan sekadar
agresi emosional, tetapi juga alat strategis untuk membangun dominasi,
memprovokasi lawan, dan memperkuat solidaritas kelompok. Dalam lingkungan
permainan yang kompetitif, ujaran toksik dapat berfungsi sebagai humor,
pembentukan identitas, atau ikatan sosial antar pemain. Oleh karena itu, para
peneliti memperdebatkan apakah ketidaksantunan harus selalu dipandang negatif
atau justru dapat memiliki fungsi sosial positif dalam komunitas tertentu. Isu
ini menjadi sangat penting dalam kajian wacana dan penelitian maskulinitas
digital.
Topik lain yang mulai berkembang adalah kesantunan multimodal dalam komunikasi digital. Interaksi permainan waktu nyata, percakapan suara, emoji, meme, dan stiker telah mengubah cara pengguna mengekspresikan kesantunan dan sikap emosional. Penelitian pragmatik digital dalam interaksi permainan menunjukkan bahwa tawa, penekanan vokal, keheningan, dan simbol visual berfungsi sebagai penanda pragmatik yang serupa dengan ekspresi wajah dalam komunikasi luring. Perkembangan ini memunculkan pertanyaan teoretis penting mengenai apakah teori kesantunan klasik masih memadai untuk menjelaskan interaksi digital yang multimodal. Banyak sarjana kini berpendapat bahwa cyberpragmatics membutuhkan kerangka teori baru yang mengintegrasikan dimensi linguistik, visual, dan teknologi dalam komunikasi.
Tuesday, May 26, 2026
Understanding Clauses
Understanding Clauses
A clause is a group of words that contains a verb and gives information about an action or situation. The verb usually shows time, such as present or past tense, and it also tells us who is doing the action. For example, in the sentence “Wickham ran away with Lydia,” the verb “ran” shows a past action. Clauses can express different meanings, such as statements, questions, or commands. A short sentence may have only one clause, but longer sentences often contain two or more clauses connected together.
For example:
· Jane smiled. → one clause
· Jane smiled because she was happy. → two clauses
In the second example, the first clause gives the main idea, while the second clause explains the reason. Understanding clauses is important because they help us build clear and meaningful sentences in English.
Main Clauses and Subordinate Clauses
There are two main kinds of clauses: main clauses and subordinate clauses. A main clause can stand alone as a complete sentence because it already has a full meaning. For example, “Elizabeth was sad” is complete and understandable by itself. In contrast, a subordinate clause cannot stand alone because its meaning is incomplete. It depends on the main clause.
FINITE VS NON FINITE VERBS
Finite Verbs
A finite verb is a verb that shows:
- tense (past, present, future),
- person (I, you, he, they),
- and number (singular or plural).
A finite verb can work as the main verb of a sentence because it gives complete grammatical information.
Examples of Finite Verbs
- She writes every day.
- They played football yesterday.
- I am studying now.
In these examples:
- writes = present tense, singular subject (she)
- played = past tense
- am studying = present continuous tense
Analysis
Finite verbs change form depending on time and subject:
- He runs.
- They run.
The verb changes from runs to run because the subject changes.
Non-Finite Verbs
A non-finite verb does not show tense or agreement with the subject directly. Non-finite verbs cannot usually stand alone as the main verb in a sentence.
There are three common types of non-finite verbs:
- Infinitives → to eat, to study
- Gerunds → eating, studying
- Participles → eaten, running
Examples of Non-Finite Verbs
- She wants to travel.
- Swimming is good exercise.
- Broken windows were everywhere.
13 AI Tools Wajib untuk Menembus Publikasi Jurnal Internasional: Cara Cepat Menemukan Research Gap dan Novelty di Era AI
Di era kecerdasan buatan, proses mencari referensi, menemukan research gap, menulis artikel ilmiah, hingga memilih jurnal target kini dapat dilakukan lebih cepat dan sistematis. Berikut kumpulan platform AI dan tools akademik terbaik yang sangat membantu mahasiswa, dosen, peneliti, maupun penulis jurnal internasional.
1. AI Research Assistants: Mesin Pencari dan Asisten Riset Akademik
ChatGPT (OpenAI)
AI multifungsi untuk brainstorming topik penelitian, membuat pertanyaan penelitian, menyusun paragraf akademik, merangkum artikel, menerjemahkan teks ilmiah, hingga membantu coding dan desain web akademik.
Perplexity AI
Berfungsi seperti kombinasi Google Scholar dan AI chatbot. Sangat efektif untuk mencari jawaban berbasis referensi ilmiah lengkap dengan sumber kutipan dari jurnal maupun website akademik terpercaya.
Elicit
Salah satu AI research assistant terbaik untuk literature review. Dapat mencari artikel berdasarkan kata kunci, problem statement, abstrak, jumlah sitasi, nama penulis, hingga tautan full text.
Consensus
Mesin pencari akademik berbasis AI yang menelusuri jutaan artikel ilmiah dan menyajikan ringkasan penelitian secara cepat. Cocok untuk mempercepat tinjauan pustaka dan menemukan konsensus ilmiah.
SciSpace
Platform riset lengkap yang menggabungkan pencarian artikel, pembacaan PDF jurnal, manajemen referensi, dan AI assistant dalam satu tempat.
DeepSeek AI
Alternatif AI assistant yang dapat membantu penulisan akademik, pencarian informasi, dan eksplorasi ide penelitian dengan respons cepat.
2. Tools Terbaik untuk Mencari Research Gap dan Novelty
Open Knowledge Maps
https://www.openknowledgemaps.org
Platform visualisasi penelitian berbentuk peta ilmiah. Lingkaran besar menunjukkan topik yang sudah banyak diteliti, sedangkan lingkaran kecil menunjukkan peluang research gap dan topik yang masih jarang dikaji.
.jpeg)


.webp)
.webp)







.jpg)