Wednesday, June 24, 2026
Blog Dr. Faizal Risdianto: TOTTO CAT FAMILY
Tuesday, June 23, 2026
PegiatJurnal.com: CONTOH HTML DENGAN KODE GAMBAR FLOATING
QS Saba (34): 15–19 & PARADOKS KEMAJUAN SOSIAL
Pendahuluan – Kemajuan sebagai Ujian, Bukan Sekadar Nikmat
Kisah kaum Saba’ dalam QS Saba (34): 15–19 bukan sekadar cerita sejarah tentang suatu bangsa di masa lampau, melainkan sebuah cermin universal bagi setiap peradaban yang mengejar kejayaan. Allah menggambarkan negeri Saba’ sebagai wilayah yang istimewa: subur, makmur, aman, dan teratur. Dua kebun besar di kanan dan kiri lembah menjadi simbol keseimbangan ekologis dan ekonomi yang sempurna. Namun, di balik gambaran indah itu tersimpan ujian besar—apakah mereka akan mensyukuri nikmat dengan taat, atau justru terjebak dalam kesombongan. Dengan demikian, ayat ini membuka pemahaman bahwa kemajuan material bukanlah tujuan akhir, melainkan wahana untuk menguji kualitas iman dan tanggung jawab sosial.
Suburnya Negeri Saba’ sebagai Simbol Peradaban Maju
Dalam ayat 15, Allah menyebut negeri Saba’ sebagai “negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun.” Frase ini menunjukkan bahwa kemakmuran mereka bukanlah kebetulan, melainkan akibat dari sistem sosial yang tertata dan lingkungan yang mendukung. Dua kebun yang diapit oleh pemukiman memberikan pasokan pangan yang stabil, sementara jalan-jalan yang aman memudahkan mobilitas penduduk dan perdagangan. Keamanan yang mereka nikmati memungkinkan perjalanan jauh tanpa rasa takut—sebuah indikator kemajuan yang hanya dicapai oleh masyarakat yang memiliki tata kelola pemerintahan dan infrastruktur yang baik. Pada tahap ini, Saba’ berada pada puncak kejayaan yang layak menjadi teladan bagi bangsa mana pun.
Syukur yang Tidak Konsisten – Akar Kerapuhan Moral
Namun, kemajuan itu tidak dibarengi dengan kesyukuran yang hakiki. Ayat 16 mencatat bahwa mereka “berpaling” dan tidak bersyukur dengan sungguh-sungguh. Makna syukur di sini bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan ketaatan dalam bentuk pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan harus digunakan sesuai petunjuk-Nya. Kaum Saba’ justru menikmati karunia dengan gaya hidup hedonistik dan menganggap keberhasilan mereka sebagai hasil kecerdasan dan kerja keras semata. Mereka melupakan peran nilai-nilai ketuhanan dalam membangun keadilan dan kepedulian sosial. Sikap inilah yang menjadi pangkal kerapuhan moral, karena ketika manusia merasa cukup dengan dirinya sendiri, ia mulai buta terhadap batas-batas etika
Bendungan Ma’rib yang Runtuh – Bencana Fisik dari Krisis Spiritual
Akibat dari sikap ingkar itu, Allah mengirimkan banjir besar yang menghancurkan bendungan Ma’rib—sistem irigasi canggih yang menjadi tulang punggung pertanian mereka. Dalam tafsir klasik, banjir ini bukan sekadar peristiwa alam, tetapi konsekuensi logis dari kelalaian mereka dalam memelihara infrastruktur dan menjaga keseimbangan lingkungan. Bendungan yang megah hancur, dua kebun yang subur berubah menjadi lahan tandus yang hanya menghasilkan pohon-pohon berduri dan buah yang pahit. Ini mengajarkan bahwa kehancuran fisik sering kali diawali oleh kerusakan spiritual. Ketika nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan ditinggalkan, maka sistem yang tampak kokoh pun dapat ambruk dalam sekejap.
Perubahan Ekonomi dan Sosial yang Drastis
Pasca-banjir, struktur sosial kaum Saba’ berubah total. Kemakmuran yang dulu merata berganti menjadi kesulitan ekonomi, kelangkaan pangan, dan kemiskinan yang meluas. Mata pencaharian yang bergantung pada pertanian dan perdagangan hancur karena jalur transportasi putus dan lahan tidak lagi produktif. Masyarakat yang dulu hidup dalam harmoni kini terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang saling curiga. Ketimpangan sosial muncul, dan solidaritas yang pernah menjadi perekat komunitas lenyap digantikan oleh individualisme. Ini menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi tanpa fondasi moral tidak akan bertahan lama; ia hanya bertahan selama kondisi eksternal mendukung, tetapi runtuh saat ujian datang.
Mobilitas yang Terhambat dan Fragmentasi Wilayah
Ayat 18–19 menggambarkan bagaimana perjalanan antar kota yang dulu mudah dan aman menjadi sulit dan berbahaya. Permukiman yang dulu saling berdekatan kini berjauhan, dan penduduk terpencar ke berbagai penjuru. Mereka yang dulu bisa bepergian dengan tenang kini harus melewati jalur yang terjal dan penuh risiko. Fragmentasi ini bukan hanya masalah geografis, tetapi juga cerminan dari hancurnya kohesi sosial. Ketika kepercayaan antarwarga dan terhadap pemimpin hilang, maka jaringan sosial yang memudahkan mobilitas dan pertukaran budaya pun runtuh. Masyarakat yang terfragmentasi kehilangan daya saing dan ketahanan kolektif.
Monday, June 22, 2026
Blog Dr. Faizal Risdianto: TEXTLESS PICS FOR ENGLISH DRAMA 1 & 2
Friday, June 19, 2026
Blog Dr. Faizal Risdianto: Politeness and Impoliteness Strategies in Lecturer...
Blog Dr. Faizal Risdianto: What is cyberpragmatics?
Thursday, June 18, 2026
Tablighi Jamaat: Gerakan Kebangkitan Islam dan Masalah Radikalisme vs Radi-Kalem
Judul: Tablighi Jamaat: An Islamic Revivalist Movement and the Issue of Radicalism
Ringkasan Isi
Artikel ini membahas sejarah, ideologi, perkembangan global, dan kontroversi mengenai Jamaah Tabligh sebagai salah satu gerakan Islam transnasional terbesar di dunia. Penulis berusaha menjawab pertanyaan apakah Jamaah Tabligh dapat dikategorikan sebagai gerakan dakwah biasa atau memiliki hubungan dengan radikalisme.
Jamaah Tabligh didirikan oleh Muhammad Ilyas Kandhlawi pada tahun 1920-an di wilayah Mewat, India Utara. Nama "Jamaah Tabligh" sebenarnya bukan nama resmi yang diberikan pendirinya, melainkan sebutan yang muncul karena aktivitas utama gerakan ini adalah tabligh atau dakwah. Kata "tabligh" berarti menyampaikan ajaran agama, sedangkan "jamaah" berarti kelompok atau perkumpulan.
Lahirnya Jamaah Tabligh dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan keagamaan umat Islam India pada masa penjajahan Inggris. Saat itu umat Islam menghadapi tekanan dari gerakan kebangkitan Hindu dan melemahnya identitas Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Muhammad Ilyas memandang bahwa solusi utama bukan melalui politik, melainkan melalui pendidikan dan dakwah untuk memperbaiki akidah serta praktik keagamaan umat Islam.
Gerakan ini memiliki hubungan historis dengan tradisi pendidikan Deoband di India. Madrasah Deoband mengajarkan Al-Qur'an, hadis, fikih Hanafi, dan nilai-nilai tasawuf yang menekankan kesederhanaan hidup. Muhammad Ilyas sendiri merupakan alumni Deoband dan memiliki hubungan dengan beberapa tarekat sufi seperti Naqsyabandiyah dan Qadiriyah. Oleh karena itu, Jamaah Tabligh lebih berorientasi pada pembinaan spiritual daripada perjuangan politik.
Secara ideologis, Jamaah Tabligh berpegang pada rukun Islam dan rukun iman sebagaimana umat Islam pada umumnya. Gerakan ini menekankan enam prinsip utama, yaitu syahadat, shalat, penghormatan kepada sesama Muslim, keikhlasan niat, ilmu dan zikir, serta pengorbanan waktu dan harta untuk dakwah. Keenam prinsip ini menjadi dasar seluruh aktivitas Jamaah Tabligh.
Dalam praktik dakwahnya, Jamaah Tabligh menggunakan beberapa metode utama, yaitu khuruj (keluar berdakwah), ta'lim (belajar agama), jaulah (kunjungan dakwah), dan bayan (ceramah agama). Anggota dianjurkan mengikuti kegiatan dakwah secara berkala, misalnya sehari setiap minggu, tiga hari setiap bulan, empat puluh hari setiap tahun, dan empat bulan sepanjang hidupnya.
Perkembangan Jamaah Tabligh sangat pesat hingga menyebar ke lebih dari 200 negara. Gerakan ini berkembang di Asia, Afrika, Eropa, Australia, dan Amerika. Di Indonesia, Jamaah Tabligh mulai masuk sekitar tahun 1955 melalui mubalig asal India dan kemudian berkembang di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Temboro, Magetan.
Sad but True: A story of Tablighi Jamaat
Artikel adalah ringkasan dan terjemah dari uraian panjang di web ini: 3 Reasons Why Tablighi Jamaat Split & How it was Reunited!
Ringkasan Singkat
Sejak 1995, Tablighi Jamaat dipimpin oleh sebuah Syura (Dewan Dunia) daripada seorang Amir tunggal. Pada tahun 2014, Maulana Saad—seorang anggota Syura—melanggar kesepakatan tersebut dan secara tidak resmi mendeklarasikan dirinya sebagai Amir baru. Pada Ramadhan 2016, ia melakukan pembersihan kekerasan di Markas Nizamuddin, menyebabkan banyak orang dipukul dan dirawat di rumah sakit. Peristiwa ini menghancurkan semua harapan mediasi dan menyebabkan perpecahan.
Upaya nasihat dan mediasi dari berbagai pihak, termasuk sesepuh Makkah/Madinah, semuanya gagal. Akhirnya, Haji Abdul Wahab Sahab (anggota Syura paling senior) menggalang semua sesepuh untuk mengambil sikap tegas. Kini, krisis sebagian besar telah mereda. Pengikut Maulana Saad masih ada namun minoritas, dan pekerjaan Dakwah serta Tabligh telah pulih di seluruh dunia.
Tiga Penyebab Utama Perpecahan
#1 – Maulana Saad Mengubah Manhaj (Doktrin) Tanpa Persetujuan
Doktrin utama Tablighi Jamaat adalah selalu terikat pada Ijma (konsensus) para Ulama dan berpegang teguh pada mufassirin, muhaddisin, dan fuqaha terkemuka.
Perubahan terbesar Maulana Saad adalah menyimpangkan gerakan dari Ahlus Sunnah Wal Jama'ah melalui ideologi dan pemahaman baru tentang Islam.
Banyak fatwa telah dikeluarkan terhadapnya, termasuk dari Darul Uloom Deoband.
Ia juga memperkenalkan buku Muntakhab Ahaadith sebagai buku resmi tanpa persetujuan, serta berbagai perubahan lain yang menyebabkan kebingungan di seluruh dunia.
#2 – Maulana Saad Melanggar Kesepakatan 1995
Pada 1995, Syura (termasuk Maulana Saad) menandatangani kesepakatan bahwa tanggung jawab tidak berada pada satu individu, melainkan Syura Dunia.
Pada 2014, Maulana Saad secara khianat melanggar kesepakatan dengan mengklaim diri sebagai Amir baru, menolak Syura, dan mulai mengambil Bai'ah (janji setia) tanpa persetujuan (Mashwara).
Melanggar perjanjian adalah dosa, apalagi memecah belah gerakan Islam terbesar dengan sekitar 100 juta pengikut.
#3 – Banyak Fatwa Dikeluarkan Terhadap Ideologi Maulana Saad
Tablighi Jamaat selalu terikat oleh Ijma para Ulama yang dijaga oleh lembaga-lembaga Islam terkemuka.
Keluhan telah tercatat sejak 2001. Ideologi Maulana Saad dinilai semakin menyimpang.
Darul Uloom Deoband mengeluarkan fatwa pertama pada 28 November 2016, dan menolak rujoo (pencabutan pernyataan)-nya pada 31 Januari 2018.
Pada 2023, Deoband mengeluarkan fatwa tegas bahwa Maulana Saad tidak boleh diikuti.
Lebih dari 60 fatwa telah dikumpulkan dari berbagai institusi di seluruh dunia.
Dr. Faizal Risdianto Bekali 80 Mahasiswa KPI UIN Surakarta Strategi Tembus Jurnal Bereputasi

Internal and External Factors Affecting Students’ Lack of Verbal Participation
Internal and External Factors Affecting Students’ Lack of Verbal Participation and the Role of Classroom Activities in Speaking Engagement
Verbal participation is a crucial component of successful language learning, particularly in English as a Foreign Language (EFL) classrooms. Active participation enables students to practice communication skills, express ideas, and engage meaningfully with learning materials. However, many students remain reluctant to participate verbally during classroom interactions. Researchers have identified numerous internal and external factors that contribute to students’ low verbal participation. Understanding these factors is essential for teachers who aim to create supportive learning environments and encourage students to engage actively in speaking activities (Brown, 2004; Krashen, 1985).
One of the most influential internal factors affecting verbal participation is anxiety. Language anxiety often occurs when students feel nervous, worried, or uncomfortable about speaking in front of others. Such feelings may arise from concerns about pronunciation, grammar, or being unable to express ideas effectively. Students experiencing high levels of anxiety frequently avoid speaking opportunities and prefer to remain silent during classroom discussions. Consequently, anxiety can significantly hinder students’ willingness to communicate and participate verbally in language learning activities (Krashen, 1985; Tahang et al., 2025).
Another important internal factor is low self-confidence. Students who doubt their language abilities often hesitate to speak because they are uncertain whether their responses are correct or meaningful. A lack of confidence can discourage students from taking risks in communication, even when they possess sufficient knowledge to contribute to classroom discussions. As a result, students may choose silence over participation, limiting their opportunities to improve speaking skills and language proficiency (Wang, 2019).
Reflection in Learning: A Comprehensive Analysis of Theory and Practice
Introduction to Reflective Practice
Reflection constitutes a fundamental component of the learning process, serving as a bridge between experiential engagement and meaningful knowledge construction. The capacity to think critically about one's experiences and acquired knowledge enables students to transcend surface-level understanding and develop deeper cognitive connections (Dewey, 1933). This reflective capacity transforms passive reception of information into active intellectual engagement, allowing learners to analyse their actions, comprehend their learning trajectories, and generate profound insights that extend beyond the immediate educational context. The significance of reflection in educational settings has been increasingly recognised by contemporary scholars and practitioners, who view it as an indispensable element of effective pedagogy and holistic student development.
Theoretical Foundations of Reflective Learning
The theoretical underpinnings of reflective learning draw substantially from the seminal work of Donald Schön (1983), who revolutionised understanding of professional practice and learning through his conceptualisation of reflection-in-action and reflection-on-action. Dewey's (1933) earlier philosophical contributions established reflection as a disciplined inquiry into experience, positing that genuine learning occurs when individuals engage in systematic thought about their actions and their consequences. These foundational theories have been extended and refined by subsequent researchers who have demonstrated the transformative potential of reflective practice across diverse educational contexts (Moon, 2004). The integration of reflection into educational frameworks represents a pedagogical commitment to developing thoughtful, self-aware learners capable of navigating complex cognitive and moral landscapes.
Reflection-in-Action: Real-Time Cognitive Adaptation
Naturalistic Inquiry menurut Lincoln dan Guba
Naturalistic Inquiry merupakan paradigma penelitian yang diperkenalkan oleh Yvonna S. Lincoln dan Egon G. Guba sebagai respons terhadap dominasi paradigma positivistik dalam ilmu sosial. Pendekatan ini berkembang dari keyakinan bahwa realitas sosial tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui pengukuran kuantitatif dan eksperimen terkontrol. Sebaliknya, realitas dipandang sebagai sesuatu yang kompleks, dinamis, dan dibentuk melalui interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian harus dilakukan dalam lingkungan alami tempat fenomena tersebut berlangsung.
Paradigma ini muncul karena Lincoln dan Guba menilai bahwa pendekatan positivistik sering kali gagal menangkap makna yang diberikan individu terhadap pengalaman mereka. Dalam penelitian naturalistik, fokus utama bukanlah menguji hipotesis atau menemukan hukum universal, melainkan memahami bagaimana manusia membangun dan menafsirkan realitas sosial mereka. Dengan demikian, peneliti berupaya memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai perspektif, nilai, keyakinan, dan pengalaman partisipan.
Salah satu perbedaan mendasar antara pendekatan rasionalistik (positivistik) dan naturalistik terletak pada pandangan tentang realitas. Paradigma positivistik menganggap bahwa terdapat satu realitas objektif yang dapat diamati dan diukur secara independen dari peneliti. Sebaliknya, naturalistic inquiry berasumsi bahwa realitas bersifat jamak (multiple realities), dibentuk secara sosial, dan dapat berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Oleh karena itu, tidak ada satu kebenaran tunggal yang berlaku bagi semua situasi.
Dalam paradigma naturalistik, hubungan antara peneliti dan partisipan juga berbeda secara signifikan. Jika dalam penelitian positivistik peneliti berusaha menjaga jarak dan bersikap netral terhadap objek penelitian, maka dalam naturalistic inquiry peneliti justru menjadi instrumen utama penelitian yang berinteraksi secara langsung dengan partisipan. Interaksi tersebut memungkinkan peneliti memahami konteks, pengalaman, dan makna yang tidak dapat diungkap melalui instrumen standar seperti kuesioner tertutup.
Naturalistic inquiry juga menolak pandangan kausalitas yang bersifat linier dan deterministik. Dalam paradigma ini, fenomena sosial dipahami sebagai hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain secara kompleks. Sebuah peristiwa tidak dapat dijelaskan hanya melalui hubungan sebab-akibat yang sederhana, melainkan harus dipahami dalam konteks sosial, budaya, historis, dan lingkungan tempat peristiwa tersebut terjadi.
Perception: proses kognitif awal vs Reflection: proses metacognitif-evaluatif
Pertanyaan ini menyentuh dua konsep yang sering dipakai seolah-olah sinonim, padahal keduanya berbeda secara psikologis dan pedagogis.
1. Apa itu student’s perception?
Dalam psikologi pendidikan, perception biasanya dimaknai sebagai proses menangkap, mengorganisasi, dan memberi makna pada rangsangan dari lingkungan sehingga menjadi “gambaran” di benak siswa tentang objek, peristiwa, atau hubungan tertentu.[id.scribd]
Dalam konteks pendidikan, student’s perception berarti bagaimana siswa memaknai pengalaman belajarnya: misalnya persepsi tentang guru, mata kuliah, metode, atau lingkungan belajar.[journal2.unusa.ac]
Beberapa ciri utama student’s perception:
Terjadi relatif spontan dan online saat siswa mengalami suatu situasi (misalnya selama perkuliahan atau saat menggunakan LMS).[media.neliti]
Mengintegrasikan sensasi (apa yang dilihat, didengar, dialami) dengan skema kognitif yang sudah ada, sehingga muncul penilaian seperti “kelas ini menarik”, “dosen ini adil”, “e-learning ini membosankan”.[journal2.unusa.ac]
Sering diukur dengan kuesioner atau skala persepsi; fokusnya pada bagaimana siswa memandang sesuatu, bukan bagaimana mereka menganalisis pengalaman itu secara mendalam.[repository.uin-suska.ac]
2. Apa itu student’s reflection?
Reflection dalam pendidikan biasanya dipahami sebagai proses kognitif dan metakognitif yang disengaja, di mana siswa meninjau kembali pengalaman belajarnya, menilai, dan menarik pelajaran untuk perbaikan diri.[ejournal.unsrat.ac]
Dalam konteks psikologi pendidikan dan self-regulated learning, student’s reflection berarti bagaimana siswa merenungkan apa yang sudah mereka lakukan, pikirkan, dan rasakan selama belajar, lalu menggunakan hasil renungan itu untuk mengubah strategi atau perilaku belajar.[fpsi.hangtuah.ac]
Ciri utama student’s reflection:
Bersifat deliberate: dilakukan secara sengaja setelah atau di sela pengalaman belajar (misalnya melalui reflective journal, reflective essay, atau self-reflection form).[etd.repository.ugm.ac]
Mencakup evaluasi kognitif dan afektif: siswa menilai pemahaman, strategi yang dipakai, emosi yang muncul, dan akibatnya bagi hasil belajar, lalu memikirkan apa yang perlu diubah.[journal.pubmedia]
Sangat terkait dengan metakognisi dan regulasi diri: siswa memonitor dan mengatur proses belajarnya berdasarkan refleksi diri.[fpsi.hangtuah.ac]
3. Perbedaan konsep dalam psikologi pendidikan
Secara garis besar, dalam psikologi pendidikan:
Perception
Lebih dekat dengan proses kognitif awal: bagaimana stimulus ditangkap dan dimaknai pada saat kejadian.[id.scribd]
Objeknya bisa: guru, mata kuliah, lingkungan, metode, teknologi, bahkan refleksi itu sendiri (misalnya persepsi terhadap kegiatan reflective journaling).[cibangsa]
Lebih menggambarkan “how students see something”.
Reflection
Lebih dekat dengan proses metakognitif dan evaluatif: bagaimana siswa melihat kembali dan mengevaluasi pengalaman yang sudah dipersepsi, lalu mengintegrasikan dengan tujuan dan strategi belajar.[lmsspada.kemdiktisaintek.go]
Objeknya: pengalaman belajar mereka sendiri, hasil belajar, strategi yang dipakai, dan alasan keberhasilan/kegagalan.[ejournal.unsrat.ac]
Lebih menggambarkan “how students think about and learn from what they experienced”.
Dengan kata lain, perception bisa menjadi bahan baku bagi reflection: siswa terlebih dahulu memiliki persepsi tentang kelas, guru, dan pengalaman belajar; kemudian melalui refleksi mereka menilai persepsi itu, mempertanyakan, mengafirmasi, atau merevisinya untuk mengarahkan tindakan selanjutnya.[etd.repository.ugm.ac]
Thursday, June 11, 2026
Blog Dr. Faizal Risdianto: Metodologi Pengabdian Masyarakat
Saturday, June 6, 2026
The SEO Value of the domain of Pakfaizal.com
Pakfaizal.com is an academic and educational blog owned by Dr. Faizal Risdianto of UIN Salatiga. Established in December 2012, the website has been active for more than thirteen years and publishes content in both Indonesian and English. Its primary focus includes linguistics, English Language Teaching (ELT), pragmatics, scholarly publishing, Scopus and SINTA indexing, and higher education. The site mainly serves lecturers, students, researchers, journal managers, and other academic professionals.
From an SEO and advertising perspective, Pakfaizal.com offers several strategic advantages. Its long domain history, strong personal academic branding, and substantial collection of unique scholarly content contribute to its credibility and authority within the academic niche. Many articles function as evergreen reference materials with long-term relevance, making the website attractive to advertisers seeking visibility among Indonesia’s academic community. However, as a specialized academic platform, its traffic volume is likely smaller than that of mainstream technology blogs or news websites.
Based on publicly observable indicators such as domain age, content volume, and publication frequency, Pakfaizal.com may generate an estimated 5,000–30,000 monthly organic visitors and 10,000–60,000 monthly pageviews. Its estimated authority metrics could range from an Ahrefs Domain Rating (DR) of 20–40 and a Moz Domain Authority (DA) of 25–45, with approximately 100–500 referring domains. In terms of commercial collaboration, a reasonable market rate would be around US$100–300 for a sponsored guest post and US$50–150 for a link insertion, depending on content relevance, traffic performance, and the specific requirements of the advertiser.
Relational Face and Rapport Management in Lecturer–Student WhatsApp Interactions
Risdianto, F., Machfudz, M., Sagimin, E. M., Hanafi, H., & Jumanto, J. (2023). Politeness and Impoliteness Strategies in Lecturer-Student Communication Within Cyberpragmatic Chats. Journal of Pragmatics Research, 5(1), 107–134. https://doi.org/10.18326/jopr.v5i1.107-134
Relational Face and Rapport Management in Lecturer–Student WhatsApp Interactions
Analisis terhadap interaksi WhatsApp antara
mahasiswa dan dosen di Universitas Islam Negeri Salatiga menunjukkan bahwa
kesantunan dan ketidaksantunan dalam komunikasi digital tidak dapat dijelaskan
secara memadai hanya melalui perspektif klasik seperti teori kesantunan Brown
dan Levinson (1987) atau Prinsip Kesantunan Leech (1983). Data penelitian
memperlihatkan bahwa makna kesantunan dibentuk melalui proses negosiasi
relasional yang berlangsung secara dinamis di dalam interaksi. Oleh karena itu,
temuan penelitian ini dianalisis menggunakan Teori Pembentukan Muka (Face
Constituting Theory) dari Arundale (2010) dan Teori Manajemen Rapor (Rapport
Management Theory) dari Spencer-Oatey (2008) untuk memahami bagaimana
hubungan interpersonal dikonstruksi, dipelihara, dan dinegosiasikan dalam
komunikasi berbasis teks.
Dari perspektif Teori Pembentukan Muka, muka (face)
dipahami bukan sebagai atribut individual, melainkan sebagai pencapaian
interaksional yang dibangun bersama (conjointly co-constituted) oleh
para partisipan dalam suatu hubungan sosial (Arundale, 2010, p. 2078). Dengan
demikian, fokus analisis tidak terletak pada tindakan individu semata, tetapi
pada bagaimana hubungan antara dosen dan mahasiswa diwujudkan melalui rangkaian
giliran bertutur (chat turns). Pada Eksper 1 (bald-on-record) dan
Eksper 2 (negative politeness), respons mahasiswa yang sangat singkat
seperti “Ya Pak” atau “Waalaikumsalam, baik Pak” tidak sekadar mencerminkan
kepatuhan terhadap otoritas dosen. Sebaliknya, respons tersebut secara
kolaboratif membangun dan mempertahankan jarak relasional (relational
separation) yang menjadi ciri hubungan institusional antara dosen dan
mahasiswa. Dalam konteks ini, muka yang terbentuk bukanlah citra diri individu,
melainkan hubungan formal yang menegaskan perbedaan status sosial dan akademik
antara kedua pihak.
Proses pembentukan muka tersebut juga terlihat pada penggunaan strategi lindung nilai (hedging) dalam Eksper 4 dan Eksper 5. Ungkapan seperti “Maaf mengganggu waktu Bapak” menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menyampaikan maksud komunikatif, tetapi juga secara aktif mengantisipasi bagaimana pesan mereka akan ditafsirkan oleh dosen. Fenomena ini sejalan dengan konsep reflexive face interpreting yang dikemukakan Arundale (2010), yaitu proses ketika seseorang menafsirkan bagaimana dirinya dipersepsikan oleh lawan tutur. Dalam lingkungan komunikasi digital yang minim petunjuk nonverbal, mahasiswa tampak berupaya mengurangi potensi ancaman terhadap hubungan interpersonal dengan merancang pesan yang aman secara relasional. Strategi tersebut menunjukkan adanya kesadaran pragmatik bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada bagaimana hubungan sosial dipertahankan melalui pilihan bahasa yang tepat.
Thursday, June 4, 2026
Tantura, Film tentang Kebinatangan Zionis Israel
Tantura, film dengan subtitle bahasa Prancis.
Pada tahun 1948, beberapa bulan setelah pendirian Israel, tentara Yahudi Israel melakukan pembantaian di desa pesisir kecil yang damai ini. Brigade Alexandroni, sebuah unit dari organisasi teroris Haganah, menyerang. Para tentara mengumpulkan para pria, wanita, dan anak-anak. Mereka memperkosa para wanita. Mereka mengeksekusi. Setidaknya 250 tewas, menurut para saksi. Anak-anak berusia 13 tahun, ditembak di bagian belakang leher, di pantai. Baru saja keluar dari kengerian Nazi, sebagian dari mereka mengulangi kejahatan yang sama terhadap warga sipil yang tidak bersalah. Kemudian, mereka menguburkan mayat-mayat dalam kuburan massal untuk menyembunyikan kengerian itu.
Peneliti Israel Teddy Katz mendokumentasikan fakta-fakta dan mengumpulkan pengakuan dari para tentara. Salah satu dari mereka tertawa: "Saya tidak ingat berapa banyak orang Arab yang saya bunuh." Yang lain menangis, tetapi sudah terlambat. Katz diseret ke pengadilan, kehilangan gelarnya, dan menandatangani pencabutan pernyataan yang sangat ia sesali. Namun, bukti tidak bisa dicabut: kuburan massal itu masih ada. Salah satunya, di bawah sebuah tempat parkir, telah didokumentasikan oleh Forensic Architecture. Para veteran mengaku di depan kamera, dalam film Tantura.
Ini bukan mitos, bukan legenda. Ini adalah Nakba. Ini adalah bukti kebintangan Zionis Israel.
Dalam film ini, Anda melihat penyangkalan di mana mereka terbenam. Mereka tidak akan pernah mengakui telah membunuh 250 orang di Tantura. Lalu, bagaimana mungkin mereka mengakui telah membunuh puluhan ribu anak di Gaza? Penyangkalan telah menyertai mereka sejak dulu. Itu adalah baju zirah mereka. Dan kutukan mereka.
Film ini memiliki subtitle bahasa Prancis. Tontonlah. Dan jangan lupakan.





.jpeg)


.webp)
.webp)





