
Friday, October 9, 2026
Lawan Krisis Etika Digital Remaja, Akademisi Gagas Pembelajaran Bahasa Berbasis Nilai Moral

Risdianto, Faizal, Scopus ID: 57213518975
Article • Open access
Discovering the Communicative Functions of Cybertextual Contexts in Digital Media Environments: A Sociosemiotic Multimodal Perspective
Rahardi, R. Kunjana, Risdianto, Faizal, Purnomo, Budi, ... Rianita, Dian, Jumanto, JumantoStudies in English Language and EducationOpen source preview, 2026, 13(2), pp. 1051–1068
Show abstract
Full text
0
Citations
Article • Open access
Breaking through the Ivory Tower of High-Indexed Journals: Insights from EFL Academics in Private Universities, East Java, Indonesia
Ahmad Tajuddin, Azza Jauhar, Fadhilawati, Dian, Risdianto, Faizal, ... Supriyono, , Saifudin, AhmadDirasat: Human and Social SciencesOpen source preview, 2026, 53(3), 8603
Show abstract
Full text
0
Citations
Article
How Spatial and Temporal References Construct Cultural Identity and Ecological Awareness: The Case of Little Forest Movie
Hamidah, Idah, Lusiana, Y., Sunarni, Nani, Risdianto, FaizalInternational Journal of Society, Culture and LanguageOpen source preview, 2025, 13(2), pp. 157–168
Show abstract
Full text
0
Citations
Don’t miss out on new publications by this author!Set document alertSet document alert
Article
Appraisal and Ideology Realization in Indonesia State Capital Relocation News Texts
Risdianto, Faizal, Sumarlam, Sumarlam, Djatmika, , Wiratno, TriInternational Journal of Society, Culture and LanguageOpen source preview, 2024, 12(2), pp. 74–88
Show abstract
Full text
1
Citations
Article • Open access
Unlocking Potential: A Closer Look at Research Engagement and Productivity Among EFL Academics in East Java, Indonesia
Fadhilawati, Dian, Ahmad Tajuddin, Azza Jauhar, Romly, Raihana, ... Risdianto, Faizal, Saifudin, AhmadArab World English JournalOpen source preview, 2024, 15(3), pp. 255–269
Show abstract
Full text
1
Citations
Article
Women’s language features: Identifying language and gender in a talk show from a sociolinguistics the perspective
Purba, Ridwin, Fatmawati, Endang, Herman, Herman, ... Fatmahwati, A., Saputra, NandaResearch Journal in Advanced HumanitiesOpen source preview, 2023, 4(4), pp. 33–44
Show abstract
Full text
3
Citations
Article
Intercultural Linguistic Borders, Stereotypes and Representations in Americanah by Chimamanda Adichie Ngozie Adichie: A Sociolinguistics perspective
Sutrisno, D., Rafiek, Muhammad, Rintaningrum, Ratna, ... Saputra, Nanda, Herman, HermanISVS e-journalOpen source preview, 2023, 10(11), pp. 421–436
Show abstract
Full text
12
Citations
Article • Open access
“The Sum of All Fears” from Novel to Film: Shifting the Discourse of Terrorism
Rahayu, Mundi, Sahiruddin, , Risdianto, Faizal, ... Rabiah, S., Taufiqurrochman, R.World Journal of English LanguageOpen source preview, 2023, 13(7), pp. 186–193
Show abstract
Full text
1
Citations
Article • Open access
Sociolinguistic analysis of language and gender identity in talk shows
Purba, Ridwin, Fatmawati, Endang, Herman, Herman, ... Fatmahwati, A., Saputra, NandaResearch Journal in Advanced HumanitiesOpen source preview, 2023, 4(1), pp. 33–43
Show abstract
Full text
12
Citations
Conference Paper • Open access
Video as Educational Multimedia to Teach English Speaking
Fajar Masyitoh, Novia, Malihah, Noor, Risdianto, Faizal, Guritno, AgungJournal of Physics: Conference SeriesOpen source preview, 2019, 1339(1), 012118
Show abstract
Full text
3
Citations
PAK FAIZAL'S INTRODUCTION TO LINGUISTICS UTS ASSIGNMENT
PAK FAIZAL'S INTRODUCTION TO LINGUISTICS UTS ASSIGNMENT
Dear Students,
This is your UTS assignment for this semester.
1. Prepare a PPT of 5-7 slides and create a short video recording showing your PPT and on-camera display describing one of your favorite analyses of INTRODUCTION OF LINGUISTICS. you may choose and describe any linguistics phenomenon in any language (English, Arabic, Indonesian, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, etc.). The theories can be phonetics, morphology, syntax, semantics, or pragmatics.
Thursday, October 8, 2026
Kebenaran pada dasarnya bersifat lurus, jelas, dan tidak membutuhkan banyak rekayasa
Dalam perspektif Islam, kebenaran pada dasarnya bersifat lurus, jelas, dan tidak membutuhkan banyak rekayasa, sedangkan kebohongan cenderung menjadi rumit karena harus ditopang oleh kebohongan-kebohongan lain. Al-Qur’an menggambarkan pentingnya perkataan yang benar melalui firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadīdan)” (QS. Al-Ahzab [33]: 70). Kebenaran tidak memerlukan banyak versi cerita untuk mempertahankan konsistensinya karena ia berangkat dari kenyataan. Sebaliknya, ketika seseorang berbohong, ia harus mengingat apa yang telah dikatakannya, menyesuaikan cerita dengan keadaan, dan terkadang menciptakan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Karena itu, kebohongan sering digambarkan sebagai sesuatu yang “berkelok-kelok”, sementara kebenaran memiliki jalan yang lebih lurus dan sederhana.
Hal ini sangat kuat dalam ajaran Nabi Muhammad ﷺ tentang kejujuran (ṣidq). Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kejujuran membawa kepada kebajikan (al-birr), dan kebajikan membawa ke surga; seseorang yang senantiasa berkata benar akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (ṣiddīq). Sebaliknya, beliau memperingatkan bahwa kebohongan membawa kepada kejahatan (al-fujūr), dan kejahatan membawa ke neraka, hingga seseorang yang terus-menerus berdusta dicatat sebagai pendusta. Hadis ini menunjukkan bahwa kejujuran bukan sekadar persoalan berkata sesuai fakta, tetapi merupakan jalan moral yang membentuk karakter dan mengarahkan manusia kepada kebaikan. Sekali seseorang memilih kebohongan, ia dapat terdorong untuk mempertahankan kebohongan tersebut dengan kebohongan berikutnya, sehingga persoalan yang semula sederhana menjadi semakin kompleks.
Dengan demikian, “kebenaran itu lurus, sedangkan kebohongan itu berkelok-kelok” dapat dipahami sebagai gambaran moral dan psikologis yang sangat relevan dengan prinsip Islam. Allah juga memerintahkan orang beriman untuk menjadi orang-orang yang teguh dalam menegakkan kebenaran dan keadilan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri...” (QS. An-Nisa’ [4]: 135). Kebenaran mungkin terkadang terasa sulit untuk diucapkan karena dapat menuntut keberanian dan kejujuran terhadap diri sendiri, tetapi setelah diucapkan, ia tidak membutuhkan banyak penjelasan yang dibuat-buat. Kebohongan mungkin tampak sebagai jalan yang mudah pada awalnya, tetapi semakin jauh seseorang berjalan di dalamnya, semakin banyak “jalan kecil” yang harus dibuat untuk mempertahankan cerita yang tidak benar. Karena itu, Islam menempatkan ṣidq sebagai salah satu fondasi utama akhlak seorang Muslim: berkata benar, menepati kenyataan, dan berani mempertahankan kebenaran sekalipun tidak selalu menguntungkan diri sendiri.
Major Topics in English Semantics
Major Topics in English Semantics
http://bit.ly/ebookSEMANTICS
CLICK HERE FOR FULL DOWNLOAD http://bit.ly/semanticsmania
INTRODUCTION TO SEMANTICS- a summary of Kreidler’s Introduction to semantics
Semantics is the linguistic study of meaning: how English words, phrases, and sentences convey meanings. It is usually divided into lexical semantics (word meaning) and sentence/formal semantics (how meanings combine and how truth relations work).studylib+1
Word Meaning
Sense and reference
Sense is the concept expressed by a word; reference is the actual entity it points to in a context or world.
Example: the morning star and the evening star have different senses, but both can refer to Venus.courses.washington+1Denotation and connotation
Denotation is the central, dictionary-like meaning. Connotation is the emotional or cultural association.
Example: home denotes a place where someone lives, but it may connote warmth, safety, and family.Semantic features / componential analysis
Words can be analyzed through smaller meaning components.
Example: woman may be described as [+human], [+adult], and [+female], while girl differs mainly in [−adult].Polysemy and homonymy
Polysemy means one word has related meanings; homonymy means identical forms have unrelated meanings.
Example: head in “head of a person” and “head of a department” is polysemous. Bank meaning “financial institution” and bank meaning “side of a river” are homonyms.Ambiguity
An expression is ambiguous if it permits more than one interpretation.
Example: “Visiting relatives can be annoying” can mean that relatives who visit are annoying, or that the activity of visiting relatives is annoying.uaic
Lexical Relations
Synonymy
Words are synonymous when their meanings are very similar, though rarely perfectly identical.
Example: begin and start.Antonymy / opposition
Opposites occur in several forms:
Friday, October 2, 2026
EXAMPLE OF DISCUSSION GENRE TEXT: TWO-SIDED ESSAY
Should Students Use AI in English Writing?
Artificial Intelligence (AI) tools are becoming
very popular in education today. Many students now use AI programs to assist
them with their schoolwork, especially in language classes. However, teachers
and researchers have different opinions about using these digital tools for
writing tasks. This leads to an important question: should students use AI in
English writing?
On the positive side, supporters argue that AI
helps students generate new ideas during the writing process. When students
feel stuck or face writer's block, AI tools can suggest outlines, topics, and
creative angles to help them start writing. Generative AI acts like a digital
brainstorm partner that guides learners through the initial planning stage of
an essay (Li et al., 2024).
Additionally, AI tools help students improve their
grammar and vocabulary in real time. These tools can quickly highlight spelling
errors, fix incorrect sentence structures, and suggest better word choices as students’
type (Waziana et al., 2024). This instant feedback allows learners to notice
their language mistakes immediately and make quick revisions to their work.
On the other hand, critics worry that relying too
much on AI may reduce students' independent thinking skills. If students let
computers organize their thoughts and write sentences for them, they may lose
the ability to analyze information critically on their own (Liu, 2024). Over
time, learners might become passive and struggle to produce original thoughts
without digital help.
Furthermore, another major concern is that AI can
encourage academic dishonesty and plagiarism. Some students might copy
AI-generated essays directly and submit them as their own work instead of
practicing their own writing (Shi & Aryadoust, 2024). Because AI can
generate full paragraphs in seconds, it makes cheating easier if there are no
clear rules in place.
In conclusion, AI in English writing brings both
helpful benefits and serious risks. While it offers useful support for
brainstorming and grammar, it can also harm independent thinking and lead to
plagiarism if misused. Therefore, AI can be a useful learning tool only when
students use it responsibly alongside clear guidance from their teachers
(Fleckenstein et al., 2024).
References
Fleckenstein, J., Liebenow, L.
W., & Meyer, J. (2024). Using LLMs to bring evidence-based feedback into
the classroom: AI-generated feedback increases secondary students’ text
revision, motivation, and positive emotions. Computers and Education:
Artificial Intelligence, 6, Article 100199. https://doi.org/10.1016/j.caeai.2023.100199
Li, M., Han, J., &
colleagues. (2024). Exploring ChatGPT-supported teacher feedback in the EFL
context. System, 126, Article 103502. https://doi.org/10.1016/j.system.2024.103502
Liu, W. (2024). A systematic
review of automated writing evaluation feedback: Validity, effects and
students’ engagement. Language Teaching Research Quarterly, 45,
86–105. https://doi.org/10.32038/ltrq.2024.45.05
Shi, H., & Aryadoust, V.
(2024). A systematic review of AI-based automated written feedback research. ReCALL,
36(2), 145–162. https://doi.org/10.1017/S0958344023000265
Waziana, W., Andewi, W.,
Hastomo, T., & Hasbi, M. (2024). Students’ perceptions about the impact of
AI chatbots on their vocabulary and grammar in EFL writing. Register Journal,
17(2), 352–382. https://doi.org/10.18326/register.v17i2.352-382
EXAMPLE OF EXPOSITION:ONE-SIDED OPINION
Students should use AI in English writing
Artificial Intelligence (AI) is
changing how students learn to write. In traditional classes, students usually
write an essay, hand it in, and wait for the teacher to grade it. Today, AI
digital tools give students instant help as they write. Research shows that AI
helps teachers by giving students extra, immediate feedback on their drafts
(Guo & Wang, 2024; Shi & Aryadoust, 2024). Instead of replacing real
teachers, AI works best as a helpful assistant while teachers guide the
learning process (Li et al., 2024). Therefore, AI should be used in English
writing classes as a powerful tool to help students become independent writers.
First, AI helps students get
started and build basic language skills. Many new writers struggle with
writer's block or finding the right words. AI tools can suggest topic ideas,
outline essay structures, and offer new vocabulary. They also catch grammar mistakes
as students’ type (Waziana et al., 2024). However, students must learn to check
AI suggestions carefully because these tools can sometimes make mistakes or
give confusing advice (Shi & Aryadoust, 2024).
Second, AI gives instant
feedback so students can fix their mistakes right away. In large classrooms,
teachers often need days or weeks to grade papers. By the time students get
their papers back, they may have forgotten what they wrote. AI gives immediate
notes on sentences, word choice, and organization (Li et al., 2024). This fast
feedback keeps students motivated and makes revising fun and effective
(Fleckenstein et al., 2024). Still, AI should support teacher grading, not
replace it, because human feedback is often more accurate and meaningful
(Steiss et al., 2024).
Third, using AI teaches students
how to check and improve their own writing. Simply fixing errors because a
computer told you to does not help you learn. To become better writers,
students must figure out why a correction is needed. AI points out
passive sentences, confusing ideas, or repeated words, acting like a mirror for
student writing. Over time, this helps students build self-editing skills so
they can fix their own mistakes independently.
In conclusion, AI is a valuable
addition to modern English classes. It helps students brainstorm ideas, learn
new words, fix grammar errors, and revise faster. When combined with a
teacher's guidance, AI helps students think critically about their work and
build strong, independent writing habits (Fleckenstein et al., 2024; Li et al.,
2024). Ultimately, AI serves as a helpful companion to traditional writing
instruction.
References
Fleckenstein, J., Liebenow, L.
W., & Meyer, J. (2024). Using LLMs to bring evidence-based feedback into
the classroom: AI-generated feedback increases secondary students’ text
revision, motivation, and positive emotions. Computers and Education:
Artificial Intelligence, 6, Article 100199. https://doi.org/10.1016/j.caeai.2023.100199
Guo, K., & Wang, D. (2024).
To resist it or to embrace it? Examining ChatGPT’s potential to support teacher
feedback in EFL writing. Education and Information Technologies, 29(7),
8435–8463. https://doi.org/10.1007/s10639-023-12146-0
Li, M., Han, J., &
colleagues. (2024). Exploring ChatGPT-supported teacher feedback in the EFL
context. System, 126, Article 103502. https://doi.org/10.1016/j.system.2024.103502
Shi, H., & Aryadoust, V.
(2024). A systematic review of AI-based automated written feedback research. ReCALL,
36(2), 145–162. https://doi.org/10.1017/S0958344023000265
Steiss, J., Tate, T., Graham,
S., Cruz, J., Hebert, M., Wang, J., Moon, Y., Tseng, W., & Olson, C. B.
(2024). Comparing the quality of human and ChatGPT feedback of students’
writing. Learning and Instruction, 91, Article 101894. https://doi.org/10.1016/j.learninstruc.2024.101894
Waziana, W., Andewi, W.,
Hastomo, T., & Hasbi, M. (2024). Students’ perceptions about the impact of
AI chatbots on their vocabulary and grammar in EFL writing. Register Journal,
17(2), 352–382. https://doi.org/10.18326/register.v17i2.352-382
Thursday, October 1, 2026
5 Wilayah Muslimin around the Globe yang terdampak Genosida, Konflik dan Kekerasan
Lima tragedi besar yang menimpa umat Islam saat ini adalah genosida dan persekusi di Palestina, Xinjiang (Uyghur), Myanmar (Rohingya), India, dan Sudan. Semua kasus ini telah didokumentasikan oleh PBB, Amnesty International, Human Rights Watch, dan lembaga internasional lain sebagai pelanggaran berat HAM, banyak di antaranya memenuhi kriteria genosida.
1. Palestina
Korban: Lebih dari 42.000 warga Palestina tewas sejak Oktober 2023, termasuk 13.300 anak-anak.
Metode: Serangan udara, penghancuran kota, blokade makanan dan obat, serta penahanan massal.
Status hukum: Amnesty International dan laporan PBB menyatakan tindakan Israel memenuhi unsur genosida menurut Konvensi Genosida 1948.
2. Uyghur di China
Korban: Lebih dari 1 juta Uyghur ditahan sejak 2017 di kamp “re-edukasi”.
Metode: Penahanan massal, kerja paksa, steriliasi paksa, pemisahan keluarga, penghapusan budaya dan agama.
Status hukum: AS dan beberapa negara menyebutnya genosida; laporan PBB menyatakan bisa dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
3. Rohingya di Myanmar
Korban: Sejak 2017, lebih dari 700.000 Rohingya melarikan diri ke Bangladesh; ribuan tewas akibat operasi militer.
Metode: Pembunuhan massal, pemerkosaan, pembakaran desa, pengusiran sistematis.
Status hukum: ICJ sedang mengadili Myanmar atas dugaan pelanggaran Konvensi Genosida; laporan PBB menyebut kejahatan ini sebagai “gravest crimes under international law.”
4. Persekusi Muslim di India
Korban: Puluhan Muslim tewas tiap tahun akibat lynching, serangan massa, dan kebijakan diskriminatif.
Metode: Kekerasan vigilante (cow vigilantes), pembakaran rumah, pembatasan hak pilih, pembongkaran masjid, ujaran kebencian.
Status hukum: USCIRF merekomendasikan India sebagai “Country of Particular Concern” sejak 2019; pola kekerasan disebut sebagai apartheid dan persiapan pembersihan etnis.
5. Sudan (Darfur)
Korban: Ribuan tewas dalam serangan RSF di El Fasher (Oktober 2025), termasuk lebih dari 6.000 orang dalam tiga hari.
Metode: Pembunuhan etnis, pemerkosaan massal, penyiksaan, pengepungan 18 bulan yang menyebabkan kelaparan.
Status hukum: PBB menyatakan tindakan RSF memiliki “hallmarks of genocide” terhadap komunitas Zaghawa dan Fur.
Wednesday, September 30, 2026
Save Uygur Muslim
SOURCE: (3) UYGUR GENOCIDE - Pencarian / X & (3) Uyghur women - Pencarian / X
Situasi umat Muslim Uyghur di Xinjiang, Tiongkok, telah menjadi perhatian internasional yang luas, khususnya sejak kampanye penahanan berskala besar yang semakin intensif sekitar tahun 2017. Laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amnesty International, Human Rights Watch, dan berbagai organisasi lainnya telah mendokumentasikan atau melaporkan dugaan penahanan sewenang-wenang, penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya, kerja paksa, pengawasan massal, pembatasan praktik keagamaan dan budaya, pemisahan keluarga, serta pelanggaran hak-hak reproduksi. Amnesty International melaporkan bahwa mungkin satu juta orang atau lebih, yang sebagian besar berasal dari kelompok etnis minoritas Muslim, telah ditahan di Xinjiang sejak 2017. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), setelah memeriksa berbagai dokumen dan melakukan wawancara dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan langsung mengenai situasi tersebut, menyimpulkan pada 2022 bahwa tingkat penahanan sewenang-wenang dan diskriminatif serta berbagai pelanggaran terkait lainnya dapat merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun, pemerintah Tiongkok menolak tuduhan tersebut dan menjelaskan bahwa kebijakan mereka di Xinjiang ditujukan untuk memerangi terorisme, ekstremisme, dan kemiskinan.
Sunday, September 27, 2026
HAKEKAT KEHIDUPAN
Saturday, September 26, 2026
Wacana dan praktik diskriminasi kolonial Belanda dalam Teks:PRIBOEMI DAN ANDJING DILARANG MASUK
Tulisan “Verboden voor Honden en Inlander” secara harfiah berarti “Dilarang untuk anjing dan pribumi.” Jika dibaca dalam konteks kolonial, penyandingan kata honden (anjing) dan inlander (pribumi) memiliki makna yang sangat merendahkan karena menempatkan manusia pribumi dalam satu kategori larangan dengan hewan. Namun, secara akademik perlu hati-hati: papan dengan kalimat persis seperti pada gambar tersebut belum memiliki bukti sejarah yang cukup kuat untuk dinyatakan sebagai papan yang benar-benar digunakan secara luas pada masa Hindia Belanda. Yang lebih jelas terdokumentasi adalah adanya diskriminasi dan segregasi hukum berdasarkan kategori penduduk dalam masyarakat kolonial.
Dalam sistem Hindia Belanda, penduduk secara hukum-administratif secara umum dibedakan menjadi tiga kategori utama, yaitu Europeanen, Vreemde Oosterlingen, dan Inlanders. Europeanen atau orang Eropa menempati posisi dominan dalam struktur kolonial dan memperoleh akses yang lebih besar terhadap pendidikan, pemerintahan, hukum, serta berbagai fasilitas kolonial. Kategori ini tidak selalu hanya mencakup orang yang lahir di Belanda karena dalam keadaan tertentu kelompok non-Eropa dapat memperoleh status yang disamakan dengan orang Eropa (gelijkstelling). Karena itu, pembagian tersebut lebih tepat dipahami sebagai kategori hukum dan rasial kolonial yang kemudian membentuk hierarki sosial.
Kategori kedua adalah Vreemde Oosterlingen, yang berarti “Orang Timur Asing”. Kelompok ini terutama mencakup orang Cina dan Arab, serta kelompok Asia lainnya dalam klasifikasi kolonial. Perlu dicatat bahwa orang Arab secara geografis berasal dari Asia Barat/Timur Tengah, bukan Asia Timur; tetapi dalam sistem klasifikasi kolonial Belanda mereka dapat dimasukkan ke dalam kategori Vreemde Oosterlingen. Posisi hukum dan sosial kelompok ini berada di antara Europeanen dan Inlanders dalam banyak aspek kehidupan kolonial, meskipun kondisi ekonomi dan status sosial di dalam kelompok tersebut sangat beragam.
Kategori ketiga adalah Inlanders, yaitu penduduk pribumi Nusantara seperti Jawa, Sunda, Madura, Bugis, Minangkabau, Bali, Batak, dan kelompok pribumi lainnya. Dalam sistem kolonial, Inlanders memiliki status hukum yang berbeda dari Europeanen dan menghadapi berbagai pembatasan dalam pendidikan, hukum, administrasi, pekerjaan, serta akses terhadap institusi dan fasilitas tertentu. Dengan demikian, istilah inlander bukan hanya berarti “orang asli” secara geografis, tetapi juga menjadi kategori administratif kolonial yang berhubungan dengan posisi seseorang dalam struktur kekuasaan Hindia Belanda.
Karena itu, gambar tersebut dapat dibaca sebagai simbol kuat dari wacana dan praktik diskriminasi kolonial, tetapi bukan sebagai bukti tunggal bahwa masyarakat Hindia Belanda selalu terbagi secara sederhana seperti sistem kasta. Rumusan akademik yang lebih tepat adalah: “Masyarakat Hindia Belanda secara hukum-administratif diklasifikasikan ke dalam Europeanen, Vreemde Oosterlingen, dan Inlanders; klasifikasi tersebut menciptakan perbedaan status hukum, akses, dan posisi sosial yang kemudian membentuk hierarki kolonial.” Dalam perspektif sejarah dan analisis wacana, kata “inlander” pada papan tersebut menjadi penting karena menunjukkan bagaimana bahasa dapat mereproduksi pembedaan, pengelompokan, dan konstruksi ‘yang lain’ dalam masyarakat kolonial.
Friday, September 25, 2026
Blog Dr. Faizal Risdianto: 13 WAYS OF PARAGRAPH DEVELOPMENT
Blog Dr. Faizal Risdianto: Academic Writing: A Handbook for International Stu...
Ketika Logika AI Berhadapan dengan Nilai Kemanusiaan
https://www.youtube.com/watch?v=sOKEIE2puso
Ketika Logika AI Berhadapan dengan Nilai Kemanusiaan
Dalam I, Robot (2004), pengalaman Spooner ketika sebuah robot menyelamatkannya berdasarkan perhitungan probabilitas, sementara Sarah meninggal, membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap robot. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa keputusan yang secara matematis paling optimal belum tentu paling manusiawi, karena AI dapat mengikuti logika dan algoritma tetapi tidak selalu memahami empati, nilai kehidupan, dan pertimbangan moral seperti manusia.
Pesan utamanya: perkembangan AI tidak hanya membutuhkan kecerdasan dan akurasi, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan, etika, empati, dan tanggung jawab moral.
Thursday, September 24, 2026
13 AI Tools Wajib untuk Menembus Publikasi Jurnal Internasional: Cara Cepat Menemukan Research Gap dan Novelty di Era AI
1. Open Knowledge Maps - Your guide to scientific knowledge: mencari gap dan novelty dalam bentuk gambar visual
2. Connected Papers | Find and explore academic papers dan ResearchRabbit: AI Tool for Smarter, Faster Literature Reviews sama seperti www.elicit.com atau www.consensus.app tapi ada gambar visual diagram sitasi. misal tulisan penulis X dikutip oleh penulis A, B, C, D, E dst. berapa jumlah sitasinya. melacak siapa mengutip siapa dalam bentuk diagram.
contoh hasil pencarian: Appraisal and ideology in students’ argumentative texts: a systemic functional linguistics study | Connected Papers
3. Elicit: AI for research & decision-making: cari artikel berdasarkan topik atau problem statement sebagai previous study bisa dicari timeline 5 tahun terakhir atau 10 tahun terakhir. cari judul artikel, summary of abstract, tahun berapa dan sitasinya berapa.
4. Consensus: AI for Research sama seperti www.elicit.com
5. SciSpace | AI for Research; terbaik menurut penggemarnya karena mirip Elicit, consensus tapi lebih lengkap fiturnya karena kita bisa juga mengunggap pdf atau ebook yang sudah kita unduh di laptop/PC. sudah seperti www.mendeley.com atau www.zotero.org sebagai reference manager tools yang gratis.
13 AI Tools Wajib untuk Menembus Publikasi Jurnal Internasional: Cara Cepat Menemukan Research Gap dan Novelty di Era AI
Di era kecerdasan buatan, proses mencari referensi, menemukan research gap, menulis artikel ilmiah, hingga memilih jurnal target kini dapat dilakukan lebih cepat dan sistematis. Berikut kumpulan platform AI dan tools akademik terbaik yang sangat membantu mahasiswa, dosen, peneliti, maupun penulis jurnal internasional.
PegiatJurnal.com: Jasa Pembuatan Web OJS & Pendampingan Indeksasi DO...
Wednesday, September 23, 2026
2026 Annual International Interdisciplinary Conference and Research Expo (AIICARE)
✨ CALL FOR CONTRIBUTIONS ✨
2026 Annual International Interdisciplinary Conference and Research Expo (AIICARE)
Organized by AIICARE LP2M, UIN Salatiga
Theme:
“Integrating Islamic Thought, Education, Science, and Society: Multidisciplinary Approaches to Global Transformation”
📅 Key Dates
* Full-Text Submission & Registration Deadline: September 25, 2026
* Conference: October 5–6, 2026
* Notification of Acceptance: October 26, 2026
* Revision Deadline: November 9, 2026
📍 Venue: *Laras Asri Hotel, Salatiga
Keynote Speaker: Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag. Rector of UIN Salatiga
Invited Speakers
* Dr. Syamsul Azizul Marinsah — Universiti Malaysia Sabah, Malaysia
* Associate Prof. Dr. Abd. Razak Zakaria — University of Malaya, Malaysia
* Associate Prof. Dr. Ashek Mahmud — Jagannath University of Dhaka, Bangladesh
* Prof. Farhana Zaman, PhD — Jagannath University of Dhaka, Bangladesh
* Prof. Dr. Anak Agung Ayu Dian Andriyani, S.S., M.Hum. — Universitas Mahasaraswati Denpasar, Bali, Indonesia
* Dr. Faizal Risdianto, S.S., M.Hum. — Universitas Islam Negeri Salatiga, Indonesia
Conference Topics





.png)





.jpg)
.png)
.webp)



.jpg)


