Risdianto, F., Machfudz, M., Sagimin, E. M., Hanafi, H., & Jumanto, J. (2023). Politeness and Impoliteness Strategies in Lecturer-Student Communication Within Cyberpragmatic Chats. Journal of Pragmatics Research, 5(1), 107–134. https://doi.org/10.18326/jopr.v5i1.107-134
Relational Face and Rapport Management in Lecturer–Student WhatsApp Interactions
Analisis terhadap interaksi WhatsApp antara
mahasiswa dan dosen di Universitas Islam Negeri Salatiga menunjukkan bahwa
kesantunan dan ketidaksantunan dalam komunikasi digital tidak dapat dijelaskan
secara memadai hanya melalui perspektif klasik seperti teori kesantunan Brown
dan Levinson (1987) atau Prinsip Kesantunan Leech (1983). Data penelitian
memperlihatkan bahwa makna kesantunan dibentuk melalui proses negosiasi
relasional yang berlangsung secara dinamis di dalam interaksi. Oleh karena itu,
temuan penelitian ini dianalisis menggunakan Teori Pembentukan Muka (Face
Constituting Theory) dari Arundale (2010) dan Teori Manajemen Rapor (Rapport
Management Theory) dari Spencer-Oatey (2008) untuk memahami bagaimana
hubungan interpersonal dikonstruksi, dipelihara, dan dinegosiasikan dalam
komunikasi berbasis teks.
Dari perspektif Teori Pembentukan Muka, muka (face)
dipahami bukan sebagai atribut individual, melainkan sebagai pencapaian
interaksional yang dibangun bersama (conjointly co-constituted) oleh
para partisipan dalam suatu hubungan sosial (Arundale, 2010, p. 2078). Dengan
demikian, fokus analisis tidak terletak pada tindakan individu semata, tetapi
pada bagaimana hubungan antara dosen dan mahasiswa diwujudkan melalui rangkaian
giliran bertutur (chat turns). Pada Eksper 1 (bald-on-record) dan
Eksper 2 (negative politeness), respons mahasiswa yang sangat singkat
seperti “Ya Pak” atau “Waalaikumsalam, baik Pak” tidak sekadar mencerminkan
kepatuhan terhadap otoritas dosen. Sebaliknya, respons tersebut secara
kolaboratif membangun dan mempertahankan jarak relasional (relational
separation) yang menjadi ciri hubungan institusional antara dosen dan
mahasiswa. Dalam konteks ini, muka yang terbentuk bukanlah citra diri individu,
melainkan hubungan formal yang menegaskan perbedaan status sosial dan akademik
antara kedua pihak.
Proses pembentukan muka tersebut juga terlihat pada penggunaan strategi lindung nilai (hedging) dalam Eksper 4 dan Eksper 5. Ungkapan seperti “Maaf mengganggu waktu Bapak” menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menyampaikan maksud komunikatif, tetapi juga secara aktif mengantisipasi bagaimana pesan mereka akan ditafsirkan oleh dosen. Fenomena ini sejalan dengan konsep reflexive face interpreting yang dikemukakan Arundale (2010), yaitu proses ketika seseorang menafsirkan bagaimana dirinya dipersepsikan oleh lawan tutur. Dalam lingkungan komunikasi digital yang minim petunjuk nonverbal, mahasiswa tampak berupaya mengurangi potensi ancaman terhadap hubungan interpersonal dengan merancang pesan yang aman secara relasional. Strategi tersebut menunjukkan adanya kesadaran pragmatik bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada bagaimana hubungan sosial dipertahankan melalui pilihan bahasa yang tepat.




.jpg)


