Saturday, May 30, 2026

Poin-poin terpenting dalam Kajian Cyberpragmatics

**Siberpragmatik dan Dinamika Kesantunan dalam Komunikasi Digital**

Bidang **siberpragmatik (cyberpragmatics)** berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang mengubah cara manusia berinteraksi dalam ruang digital. Dalam konteks ini, komunikasi tidak lagi bergantung semata-mata pada bahasa verbal, tetapi juga melibatkan berbagai sumber semiotik seperti emoji, stiker, meme, GIF, gambar, dan video yang membentuk makna secara multimodal. Menurut Yus (2011), siberpragmatik mempelajari bagaimana pengguna bahasa menginterpretasikan dan menegosiasikan makna dalam lingkungan digital yang memiliki karakteristik berbeda dari komunikasi tatap muka. Lingkungan daring yang bersifat asinkron, anonim, dan berbasis teknologi telah menciptakan dinamika baru dalam praktik kesantunan (*politeness*) dan ketidaksantunan (*impoliteness*) dalam komunikasi sehari-hari.

Salah satu karakteristik utama komunikasi digital adalah **multimodalitas**, yaitu penggunaan berbagai mode komunikasi secara simultan untuk menyampaikan pesan. Dalam aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, stiker sering digunakan untuk mengekspresikan emosi seperti kemarahan, kesedihan, atau kelelahan secara humoris sehingga dapat mengurangi potensi ancaman terhadap muka (*face-threatening acts*) dan memperhalus pesan yang berpotensi menimbulkan konflik. Demikian pula, emoji dalam platform media sosial seperti TikTok berfungsi sebagai pengganti ekspresi wajah dan intonasi yang tidak tersedia dalam komunikasi berbasis teks. Penggunaan unsur-unsur visual tersebut membantu pengguna membangun identitas digital sekaligus memperkaya makna pragmatik yang terkandung dalam pesan (Herring, 2013; Yus, 2014).

Friday, May 29, 2026

Cyberpragmatics: Politeness and Impoliteness in Digital Communication

Cyberpragmatics: Politeness and Impoliteness in Digital Communication

Imagine you are chatting with a friend on WhatsApp. You send a message, but your friend replies with a single "k." Is that rude? Maybe it is, maybe it isn’t — but how do you know? Now imagine you’re in an online game, and another player calls you a name. Would you say the same thing to their face? Probably not. The reason these questions are tricky is that digital communication has changed the way we negotiate meaning, politeness, and social relationships. This is exactly what cyberpragmatics — the study of language use in digital environments — tries to understand.

Cyberpragmatics has become a vital field in contemporary linguistics because digital communication has transformed how people negotiate meaning, politeness, and social relationships online. The rise of social media, online gaming, WhatsApp interactions, and AI-based communication has created new forms of language behaviour that are quite different from traditional face-to-face conversation.

What Makes Digital Communication Different?

To understand cyberpragmatics, you first need to see what is unique about online interaction. Graham and Hardaker (2017) explain that technology-mediated communication changes interaction dynamics in three important ways:

  • Asynchronicity: Messages do not have to be exchanged in real time. You can send a text and wait hours for a reply. This changes the rhythm of conversation and can make politeness strategies more complicated (for instance, a delayed reply might be seen as ignoring someone).
  • Anonymity: Users can hide their real identities behind usernames and avatars. This can make people feel less accountable for what they say, leading to more aggressive or uninhibited language.
  • Multimodality: Communication is not just about words. Emojis, stickers, memes, GIFs, images, and videos all carry meaning. A single 😂 can soften a criticism, or a meme can deliver an insult without a word being said.

These features mean that politeness and impoliteness are constantly being renegotiated in digital spaces. Users rely not only on words but also on visual and symbolic cues to express interpersonal meaning. Traditional theories of politeness, developed for face-to-face conversation, often struggle to account for these new dynamics.

OPO KUI CYBERPRAGMATICS


 Cyberpragmatics telah menjadi bidang penting dalam kajian linguistik kontemporer karena komunikasi digital telah mengubah cara manusia menegosiasikan makna, kesantunan, dan hubungan sosial dalam interaksi daring. Kemunculan media sosial, permainan daring, komunikasi WhatsApp, dan interaksi berbasis kecerdasan buatan telah menciptakan bentuk-bentuk perilaku bahasa baru yang berbeda dari komunikasi tatap muka tradisional. Graham dan Hardaker (2017) menjelaskan bahwa komunikasi yang dimediasi teknologi mengubah dinamika interaksi karena pengguna berkomunikasi melalui lingkungan yang asinkron, anonim, dan multimodal yang sering kali melemahkan batasan sosial konvensional. Akibatnya, kesantunan (politeness) dan ketidaksantunan (impoliteness) terus dinegosiasikan kembali dalam ruang digital, di mana pengguna tidak hanya mengandalkan kata-kata, tetapi juga emoji, stiker, meme, dan simbol visual untuk menyampaikan makna interpersonal.

Isu ketidaksantunan dalam komunikasi daring telah menjadi salah satu topik yang paling banyak diperdebatkan dalam cyberpragmatics. Culpeper dan rekan-rekannya (2025) berpendapat bahwa ketidaksantunan daring sering bersifat timbal balik karena komentar yang bermusuhan cenderung memicu respons yang sama agresifnya. Fenomena ini dikenal sebagai “impoliteness reciprocity,” yaitu ketika interaksi digital berkembang menjadi konflik verbal melalui sarkasme, kesantunan palsu (mock politeness), hinaan, dan balasan emosional. Berbeda dengan komunikasi tatap muka, lingkungan daring memungkinkan pengguna mengekspresikan agresi secara lebih terbuka karena tidak adanya kehadiran fisik dan konsekuensi sosial langsung. Oleh sebab itu, para peneliti cyberpragmatics semakin banyak meneliti bagaimana wacana daring berkontribusi terhadap ujaran kebencian (hate speech), perundungan siber (cyberbullying), budaya pembatalan (cancel culture), dan praktik komunikasi toksik.

Diskusi penting lainnya berkaitan dengan strategi kesantunan dalam komunikasi pendidikan. Risdianto dkk. (2023) menemukan bahwa mahasiswa sering menggunakan strategi kesantunan ketika berkomunikasi dengan dosen melalui WhatsApp dan email. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa kerap memakai salam, permintaan maaf, ungkapan terima kasih, dan ekspresi religius untuk menjaga hubungan akademik yang hormat. Namun, beberapa mahasiswa tanpa sengaja menghasilkan ujaran yang tidak santun karena kurangnya kesadaran terhadap norma pragmatik digital. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi daring membutuhkan kompetensi pragmatik khusus karena interaksi digital tertulis tidak selalu mampu menyampaikan nada, emosi, atau maksud secara jelas. Oleh karena itu, kompetensi cyberpragmatics menjadi semakin penting dalam komunikasi akademik.

Penelitian tentang layanan jejaring sosial di Korea semakin menunjukkan bahwa norma kesantunan berbeda-beda antarbudaya dan platform digital. Rhee (2023) menjelaskan bahwa konsep “muka” (face) dalam budaya digital Asia telah berkembang akibat interaksi daring dan identitas anonim. Teori kesantunan tradisional yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson sering kali dipertanyakan karena komunikasi media sosial bersifat lebih dinamis, publik, dan multimodal. Pengguna dapat secara sengaja menggabungkan strategi kesantunan dan ketidaksantunan untuk menciptakan humor, ironi, atau dominasi sosial. Perubahan ini mendorong para sarjana untuk beralih dari pragmatik tradisional menuju pragmatik digital dan teori post-politeness yang lebih mampu menjelaskan interaksi dalam komunitas daring.

Komunikasi politik di media sosial juga memberikan wawasan penting mengenai praktik ketidaksantunan. Groshek dan Cutino (2016) menemukan bahwa platform komunikasi seluler seperti Twitter memperkuat interaksi bermusuhan karena fitur seperti mention, retweet, dan respons cepat mempermudah eskalasi wacana. Diskusi politik daring sering menjadi emosional dan terpolarisasi karena pengguna dapat langsung bereaksi terhadap isu kontroversial. Para akademisi terus memperdebatkan apakah ketidaksantunan terutama disebabkan oleh perilaku pengguna itu sendiri atau oleh algoritma platform digital yang mendorong keterlibatan melalui konten kontroversial. Perdebatan ini sangat relevan dalam diskusi kontemporer tentang demokrasi daring, polarisasi politik, dan komunikasi algoritmik.

Perkembangan komunitas permainan daring telah memperkenalkan bentuk-bentuk baru interaksi cyberpragmatics. Penelitian Nensilanti dkk. (2025) menunjukkan bahwa ketidaksantunan dalam percakapan game daring bukan sekadar agresi emosional, tetapi juga alat strategis untuk membangun dominasi, memprovokasi lawan, dan memperkuat solidaritas kelompok. Dalam lingkungan permainan yang kompetitif, ujaran toksik dapat berfungsi sebagai humor, pembentukan identitas, atau ikatan sosial antar pemain. Oleh karena itu, para peneliti memperdebatkan apakah ketidaksantunan harus selalu dipandang negatif atau justru dapat memiliki fungsi sosial positif dalam komunitas tertentu. Isu ini menjadi sangat penting dalam kajian wacana dan penelitian maskulinitas digital.

Topik lain yang mulai berkembang adalah kesantunan multimodal dalam komunikasi digital. Interaksi permainan waktu nyata, percakapan suara, emoji, meme, dan stiker telah mengubah cara pengguna mengekspresikan kesantunan dan sikap emosional. Penelitian pragmatik digital dalam interaksi permainan menunjukkan bahwa tawa, penekanan vokal, keheningan, dan simbol visual berfungsi sebagai penanda pragmatik yang serupa dengan ekspresi wajah dalam komunikasi luring. Perkembangan ini memunculkan pertanyaan teoretis penting mengenai apakah teori kesantunan klasik masih memadai untuk menjelaskan interaksi digital yang multimodal. Banyak sarjana kini berpendapat bahwa cyberpragmatics membutuhkan kerangka teori baru yang mengintegrasikan dimensi linguistik, visual, dan teknologi dalam komunikasi.

Tuesday, May 26, 2026

Understanding Clauses

 Understanding Clauses

A clause is a group of words that contains a verb and gives information about an action or situation. The verb usually shows time, such as present or past tense, and it also tells us who is doing the action. For example, in the sentence “Wickham ran away with Lydia,” the verb “ran” shows a past action. Clauses can express different meanings, such as statements, questions, or commands. A short sentence may have only one clause, but longer sentences often contain two or more clauses connected together.

For example:

· Jane smiled. → one clause

· Jane smiled because she was happy. → two clauses

In the second example, the first clause gives the main idea, while the second clause explains the reason. Understanding clauses is important because they help us build clear and meaningful sentences in English.


Main Clauses and Subordinate Clauses

There are two main kinds of clauses: main clauses and subordinate clauses. A main clause can stand alone as a complete sentence because it already has a full meaning. For example, “Elizabeth was sad” is complete and understandable by itself. In contrast, a subordinate clause cannot stand alone because its meaning is incomplete. It depends on the main clause.

FINITE VS NON FINITE VERBS

Finite Verbs

A finite verb is a verb that shows:

  • tense (past, present, future),
  • person (I, you, he, they),
  • and number (singular or plural).

A finite verb can work as the main verb of a sentence because it gives complete grammatical information.

Examples of Finite Verbs

  • She writes every day.
  • They played football yesterday.
  • I am studying now.

In these examples:

  • writes = present tense, singular subject (she)
  • played = past tense
  • am studying = present continuous tense

Analysis

Finite verbs change form depending on time and subject:

  • He runs.
  • They run.

The verb changes from runs to run because the subject changes.


Non-Finite Verbs

A non-finite verb does not show tense or agreement with the subject directly. Non-finite verbs cannot usually stand alone as the main verb in a sentence.

There are three common types of non-finite verbs:

  1. Infinitivesto eat, to study
  2. Gerundseating, studying
  3. Participleseaten, running

Examples of Non-Finite Verbs

  • She wants to travel.
  • Swimming is good exercise.
  • Broken windows were everywhere.

13 AI Tools Wajib untuk Menembus Publikasi Jurnal Internasional: Cara Cepat Menemukan Research Gap dan Novelty di Era AI

 


Di era kecerdasan buatan, proses mencari referensi, menemukan research gap, menulis artikel ilmiah, hingga memilih jurnal target kini dapat dilakukan lebih cepat dan sistematis. Berikut kumpulan platform AI dan tools akademik terbaik yang sangat membantu mahasiswa, dosen, peneliti, maupun penulis jurnal internasional.


1. AI Research Assistants: Mesin Pencari dan Asisten Riset Akademik

ChatGPT (OpenAI)

https://www.chatgpt.com

AI multifungsi untuk brainstorming topik penelitian, membuat pertanyaan penelitian, menyusun paragraf akademik, merangkum artikel, menerjemahkan teks ilmiah, hingga membantu coding dan desain web akademik.

Perplexity AI

https://www.perplexity.ai

Berfungsi seperti kombinasi Google Scholar dan AI chatbot. Sangat efektif untuk mencari jawaban berbasis referensi ilmiah lengkap dengan sumber kutipan dari jurnal maupun website akademik terpercaya.

Elicit

https://www.elicit.com

Salah satu AI research assistant terbaik untuk literature review. Dapat mencari artikel berdasarkan kata kunci, problem statement, abstrak, jumlah sitasi, nama penulis, hingga tautan full text.

Consensus

https://www.consensus.app

Mesin pencari akademik berbasis AI yang menelusuri jutaan artikel ilmiah dan menyajikan ringkasan penelitian secara cepat. Cocok untuk mempercepat tinjauan pustaka dan menemukan konsensus ilmiah.

SciSpace

https://www.scispace.com

Platform riset lengkap yang menggabungkan pencarian artikel, pembacaan PDF jurnal, manajemen referensi, dan AI assistant dalam satu tempat.

DeepSeek AI

https://www.deepseek.com

Alternatif AI assistant yang dapat membantu penulisan akademik, pencarian informasi, dan eksplorasi ide penelitian dengan respons cepat.


2. Tools Terbaik untuk Mencari Research Gap dan Novelty

Open Knowledge Maps

https://www.openknowledgemaps.org

Platform visualisasi penelitian berbentuk peta ilmiah. Lingkaran besar menunjukkan topik yang sudah banyak diteliti, sedangkan lingkaran kecil menunjukkan peluang research gap dan topik yang masih jarang dikaji.

Connected Papers

https://www.connectedpapers.com

Language Attitude in Sociolinguistics

 Language attitude is an important concept in sociolinguistics because it influences how individuals perceive, learn, and use language in society. Sociolinguists argue that people’s attitudes toward a language can affect their motivation in language learning and their interaction with speakers of other languages. One of the most influential theories concerning language attitude was developed by Robert C. Gardner and Wallace E. Lambert, who classified language attitudes into integrative and instrumental orientations. These two orientations explain the social and psychological reasons why people choose to learn a second language (Gardner & Lambert, 1972).

Integrative orientation refers to a learner’s desire to communicate with and become part of the target language community. Learners with integrative motivation are usually interested in the culture, traditions, and social life of native speakers. They learn the language not only for academic purposes but also to build social relationships and cultural understanding. According to Gardner and Lambert (1972), learners who possess strong integrative attitudes often achieve higher levels of language proficiency because they have a personal and emotional connection to the language. In multilingual societies, integrative attitudes can also promote tolerance, intercultural communication, and social harmony among different ethnic groups.

On the other hand, instrumental orientation emphasizes the practical benefits of language learning. Individuals with instrumental motivation study a language to gain advantages such as better employment opportunities, higher salaries, academic success, or social mobility. In many countries, English is learned primarily for instrumental reasons because it is considered an international language used in business, education, science, and technology. Ronald Wardhaugh explains that language often functions as a social resource that can improve an individual’s economic and professional status (Wardhaugh & Fuller, 2015). Therefore, instrumental attitudes are closely related to pragmatic and career-oriented goals.

Sunday, May 24, 2026

9 alasan maju dan eksisnya warung madura di seluruh Indonesia

 


9 Alasan utama warung kelontong Madura bisa berkembang pesat dan punya banyak cabang di Indonesia adalah kombinasi antara etos kerja tinggi, jam operasional ekstrem, jaringan keluarga/perantau yang kuat, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat kecil.

Berikut faktor-faktor utamanya:

  1. Buka sangat lama, bahkan 24 jam

    Ini adalah keunggulan paling terkenal. Saat minimarket modern tutup malam hari, warung Madura tetap buka dan melayani kebutuhan mendadak seperti rokok, mi instan, gas, kopi, atau token listrik.

  2. Dekat dengan permukiman warga

    Warung Madura biasanya berada di gang, pinggir kos, kontrakan, atau dekat kampung sehingga lebih praktis dibanding harus pergi ke minimarket besar. Faktor kedekatan fisik membuat pelanggan loyal.

  3. Budaya merantau orang Madura

    Banyak orang Madura merantau ke berbagai kota di Indonesia dan membuka usaha kelontong secara turun-temurun. Mereka saling membantu dalam modal, tempat usaha, hingga distribusi barang.

  4. Etos kerja dan kerja keluarga

    Banyak warung dijaga bergantian oleh anggota keluarga sehingga biaya pegawai lebih rendah dan toko bisa buka terus. Sistem keluarga ini membuat operasional lebih efisien.

  5. Fleksibel terhadap kondisi ekonomi pelanggan

    Warung Madura melayani pembelian eceran atau satuan, bahkan kadang memberi utang kecil kepada pelanggan tetap. Ini membuat masyarakat menengah bawah merasa lebih terbantu dibanding belanja di ritel modern.

  6. Modal usaha relatif kecil tetapi mudah diperbanyak

    Model bisnisnya sederhana: sewa kios kecil, stok kebutuhan harian cepat laku, lalu keuntungan diputar untuk membuka cabang baru atau membantu keluarga lain membuka warung.

Friday, May 22, 2026

The morpho-phonemic processes

The morpho-phonemic processes with simple definitions and examples:

1) Assimilation

A sound becomes more like a neighboring sound in one or more features such as voicing, place, or manner of articulation.
Example: in- + possible → impossible. The /n/ changes to /m/ before the bilabial /p/.

2) Sandhi

A sound change that happens at a word boundary when words are pronounced together. It often involves linking, blending, or adjustment between neighboring words.
Example: in some English varieties, law and order may be pronounced with an extra linking sound, like lawr and order.

3) Dissimilation

One sound becomes less like another nearby sound, usually to avoid repetition or make pronunciation easier.
Example: library is often pronounced like li-bry in casual speech, where one /r/ is reduced or weakened to make the sounds less similar.

4) Haplology

A syllable or sound sequence is lost because two similar syllables occur next to each other.
Example: library is sometimes pronounced as libry. Another common textbook example is interestingly sometimes becoming intrestingly in rapid speech.

5) Metathesis

Two sounds switch position.
Example: ask pronounced as aks in some dialects. The /s/ and /k/ change order.

6) Addition

A sound is inserted into a word or form. This is also called epenthesis when a segment is added.
Example: athlete sometimes pronounced with an extra vowel sound, like ath-e-lete in careful or nonstandard speech.

7) Deletion

A sound is removed from a word. This is also called elision in many contexts.
Example: friendship may be spoken as frenship in fast speech, with /d/ deleted.

Simple comparison

  • Assimilation: sounds become more alike.

  • Dissimilation: sounds become less alike.

  • Haplology: one of two similar syllables is dropped.

  • Metathesis: sounds change order.

  • Addition: a sound is inserted.

  • Deletion: a sound is removed.

  • Sandhi: sound change at word boundaries.

GUESSING WORDS GAMES

 

https://docs.google.com/document/d/1M_BtHojNt2vFq6wIHfaB2HYxWL6HfuP_/edit?usp=sharing&ouid=114000742223423553730&rtpof=true&sd=true

IMAGERY KIA HAI?

 


IMAGERY

In poetry, imagery refers to the use of descriptive language that appeals to the reader’s senses in order to create vivid mental pictures and emotional experiences. Although the word image is often associated with visual pictures, imagery also includes sounds, smells, tastes, and physical sensations. Through imagery, poets are able to make readers not only understand an idea intellectually but also experience it emotionally and sensorially. Effective imagery allows readers to imagine scenes clearly, feel emotions deeply, and connect personally with the poem.

Imagery is one of the most important literary devices because it enriches the meaning of a poem and makes abstract emotions more concrete and memorable. By using imagery, poets can transform ordinary experiences into powerful artistic expressions that stimulate the imagination of the reader.

VISUAL IMAGERY

Visual imagery refers to descriptions that appeal to the sense of sight. This type of imagery creates vivid pictures in the reader’s mind, making scenes, objects, or characters appear realistic and alive. Visual imagery is commonly used to describe colors, shapes, movements, landscapes, and appearances in detail.

An example of visual imagery can be found in Elizabeth Bishop’s poem The Fish:

Here and there
His brown skin hung in strips
Like ancient wall-paper,
And its pattern of darker brown
Was like wall-paper:
Shapes like full-blown roses
Strained and lost through age.
He was speckled with barnacles,
Fine rosettes of lime,
And infested
With tiny white sea-lice,
And underneath two or three
Rags of green weed hung down. (9–21)

Thursday, May 21, 2026

Dr. Faizal Risdianto Berbagi Strategi AI dan Penguatan Jurnal Ilmiah di Universitas Bengkulu

 

Kepala Pusat Publikasi dan Rumah Jurnal UIN Salatiga, Dr. Faizal Risdianto, S.S., M.Hum., mendapat kehormatan menjadi narasumber dalam rangkaian kegiatan akademik yang diselenggarakan oleh Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Bengkulu pada 23 April 2026. Kehadiran Dr. Faizal menjadi bagian dari upaya penguatan budaya riset, publikasi ilmiah, dan literasi digital di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris serta pengelola jurnal ilmiah di lingkungan Universitas Bengkulu yang antusias mengikuti setiap sesi diskusi dan pelatihan.

Pada sesi pagi, Dr. Faizal mengisi workshop academic writing bertajuk “The Use of AI to Find Research Gap and Novelty. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bagaimana perkembangan Artificial Intelligence (AI) dapat dimanfaatkan secara strategis dalam dunia penelitian dan publikasi ilmiah. Peserta diberikan wawasan mengenai cara menemukan research gap, membangun novelty penelitian, hingga memanfaatkan teknologi AI untuk memperkuat analisis akademik dan mempercepat proses penulisan artikel ilmiah. Materi yang disampaikan tidak hanya menekankan aspek teoritis, tetapi juga memberikan contoh praktis penggunaan AI dalam penyusunan proposal penelitian dan artikel jurnal bereputasi.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Mahasiswa aktif berdiskusi mengenai tantangan penulisan akademik di era digital, termasuk bagaimana menjaga orisinalitas karya ilmiah di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin pesat. Dr. Faizal juga menekankan pentingnya etika akademik dalam penggunaan AI agar teknologi tersebut menjadi alat bantu yang mendukung kualitas penelitian, bukan menggantikan kemampuan berpikir kritis peneliti. Suasana workshop berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan diskusi yang memperkaya wawasan peserta mengenai academic writing modern.


Wednesday, May 20, 2026

Troubleshoot Mendeley: jika mendeley tidak bisa connect dengan ms word

 Troubleshooting Mendeley

Sering terjadi Mendeley sulit diinstal di ms Word karena  versi Mendeley yang mutakhir, sementara ms Word-nya versi lama seperti Windows 2003 atau 2006.  Solusinya bisa diupgrade ms Word-nya ke versi yang mutakhir atau bisa juga menurunkan versi aplikasi Mendeley nya., dan bisa jadi kendala instalasi Mendeley di ms Word itu  terjadi karena Windows-nya bajakan. :D  d^^b  


Tutorial lengkap Trouble Shooting Mendeley: https://zenodo.org/record/3910341#.YecBBnpBzIU

  • Penyebab Masalah: Ketidakcocokan antara versi Mendeley terbaru dengan versi Microsoft Word yang lama (seperti 2003 atau 2006), atau kendala pada sistem operasi.
  • Solusi Versi: Cara menurunkan (downgrade) versi aplikasi Mendeley melalui situs penyedia versi lama agar kompatibel dengan perangkat Anda.
  • Langkah Instalasi Plugin: Panduan menutup Microsoft Word dan menggunakan menu Tools > Install MS Word Plugin pada Mendeley Desktop.
  • Troubleshooting Add-ins: Langkah manual jika plugin tetap tidak muncul, yaitu melalui menu File > Options > Add-ins di Microsoft Word, lalu mengaktifkan file .dotm Mendeley secara manual