Thursday, October 22, 2026

 *Sejarah penderitaan panjang Ummat Islam  dan pertanyaan tentang Imam Mahdi*

Sejarah umat Islam bukan hanya kisah kejayaan, tetapi juga lembaran panjang penderitaan: pertumpahan darah, perpecahan, penaklukan, penjajahan, dan hilangnya kekuasaan politik. Dari konflik pada masa sahabat hingga kehancuran pusat peradaban, dari runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah hingga pembantaian warga sipil pada masa kolonial, umat Islam berulang kali menghadapi tragedi. Semua itu memunculkan pertanyaan mendalam: mengapa umat Islam mengalami penderitaan begitu panjang, sementara Imam Mahdi yang dinantikan belum muncul? Pertanyaan ini bukan sekadar soal waktu, tetapi menyangkut cara memahami janji keadilan Allah di tengah ketidakadilan yang berlangsung berabad-abad.

 1. *Luka dari dalam: konflik politik masa sahabat (656 dan 661 M)*

Tragedi awal terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan R.A.  Pada 656 M, sekelompok pemberontak mengepung kediamannya di Madinah dan membunuhnya. Setelah Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi khalifah, pemerintahannya berlangsung di tengah ketegangan: Perang Jamal pada 656 M dan Perang Shiffin pada 657 M, yang kemudian memunculkan kelompok Khawarij. Pada 661 M, Ali diserang oleh seorang anggota kelompok tersebut di Kufah dan meninggal akibat luka-lukanya. Keduanya bagian dari rangkaian konflik yang dikenal sebagai fitnah pertama. Pelajarannya: penderitaan umat Islam tidak selalu datang dari luar, tetapi juga dari perebutan kekuasaan dan kegagalan menyelesaikan konflik secara damai. Secara historis, kita hanya dapat memastikan peristiwa itu terjadi dan Imam Mahdi tidak tampil sebagai tokoh sejarah yang dapat diidentifikasi untuk menghentikannya;

 2. *Luka dari luar: kehancuran Baghdad pada 1258 M*

Pada abad ke-13, Baghdad adalah ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah dan pusat penting ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta perdagangan. Pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan mengepung dan merebut kota itu pada awal 1258 M; Khalifah al-Musta'sim Billah terbunuh, disertai penjarahan, pembunuhan, dan kehancuran berbagai bagian kota. Kisah Sungai Tigris yang menghitam karena tinta buku dan memerah karena darah terkenal dalam tradisi narasi, meskipun jumlah korban pastinya masih diperdebatkan sejarawan. Apa pun angka pastinya, peristiwa ini menjadi pukulan besar bagi tatanan politik dan kebudayaan Abbasiyah. Dalam perspektif sejarah, kehancuran itu dapat dijelaskan melalui ekspansi militer Mongol, kelemahan politik Abbasiyah, dan dinamika kekuasaan regional; tidak ada dasar cukup untuk memastikan setiap bencana besar harus segera diikuti kemunculan Imam Mahdi.

 3.*Penghapusan kekhalifahan Utsmaniyah pada 1924*

Three Context of the use of the word PLEASE

 Please has three main grammatical uses: as a verb meaning “to make someone happy or satisfied”; as an adverb used to make a request polite; and as an interjection expressing a strong request, annoyance, or disbelief.dictionary.cambridge+1

Please as a verb

Use please as a verb when it takes an object and means to give pleasure or satisfaction. It can be transitive or intransitive.dictionary.cambridge+1

  • The gift pleased her. = The gift made her happy.

  • She tried to please her teacher. = She tried to satisfy her teacher.

  • Do as you please. = Do whatever you want.

  • I am pleased with the result. = I am satisfied with the result.

In this use, please changes form normally: please, pleases, pleased, pleasing.

Please as an adverb

Wednesday, October 21, 2026

"Childhood flew by, but the happy memories stay forever."

 



"Back in 1980, a neat-haired little boy from Pecangaan, Jepara, sat holding his favorite toy car with a sweet, playful smile.

Today, he is 51 years old—an English lecturer, a husband, and a loving father of two daughters.

Time flies so fast. In just the blink of an eye, childhood became a beautiful memory."




Tuesday, October 20, 2026

MATA NE IN JAPANESE VS MATANE IN JAVANESE

https://youtube.com/shorts/_aFutjXq_9Q?si=fjpalwbYlUiLHq4H

Kedua bentuk itu mirip secara bunyi tetapi sangat berbeda makna dan fungsi: mata ne dalam bahasa Jepang berarti “sampai jumpa lagi”, sedangkan matane dalam bahasa Jawa berarti “matamu” (mata milikmu).[journal.unnes.ac][journal.unram.ac]

Bahasa Jepang: mata ne

  • mata = “lagi”, “sekali lagi”, atau “nanti lagi”.
  • ne = partikel akhir yang berfungsi mencari persetujuan, melembutkan ucapan, atau menegaskan keakraban.
  • Gabungan mata ne lazim dipakai sebagai salam perpisahan informal: “Sampai jumpa lagi, ya.”[journal.unnes.ac][liputan6]
  • Contoh: Ja, mata ne! = “Ya, sampai jumpa lagi, ya!” Ucapan ini cocok untuk teman, tetapi kurang tepat untuk situasi sangat formal.[journal.unnes.ac][liputan6]

Bahasa Jawa: matane

  • mata = organ penglihatan, sama dengan “mata” dalam bahasa Indonesia.
  • -ne adalah klitika kepemilikan orang kedua dalam sejumlah ragam bahasa Jawa, setara dengan -mu: matane = matamu = “matamu”.[journal.unram.ac][eprints.undip.ac]
  • Dalam ragam baku/umum, bentuk yang lebih dikenal adalah matamu; matane lebih khas pada dialek tertentu, misalnya bahasa Jawa Banyumasan/Tegalan.[journal.unram.ac]
  • Contoh: Matane abang getihen = “Matamu abang berdarah.”
  • Dalam konteks umpatan atau ekspresi kasar, matamu/matane dapat dipakai untuk menyatakan bahwa lawan tutur “tidak bisa melihat” atau tidak peka.[eprints.undip.ac]

Blog Dr. Faizal Risdianto: 6 best free online paraphrasing tools

Blog Dr. Faizal Risdianto: 6 best free online paraphrasing tools: 6 best free online paraphrasing tools  best free online paraphrasing tools 1.  https://www.onlineparaphraser.com/ 2. https://quillbot.com/...



Monday, October 19, 2026

Dakwah Ilallah dan Keutamaannya

 


Dakwah Ilallah dan Keutamaannya

 Ayat-ayat Al Qur’an.Allah ta’ala berfirman:

 1. “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (Q.s. Yunus: 25).

 Keterangan: Allah menyeru manusia kepada surga yang dijanjikan-Nya di akherat, dan di jalan yang bermartabat dan terhormat dalam kehidupan di dunia ini.

 2. “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah (sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.s. Al-Jumu’ah: 2).

 Keterangan: Membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka. Makna membacakan di sini ialah memberi mereka peringatan dengan ayat-ayat tersebut, mengajak mereka mengamalkannya, dan mendorong mereka untuk beriman kepadanya. (Tafsir Al-Kabir).  

 Mensucikan mereka adalah memperbaiki mereka, yakni mengajak mereka untuk mengikuti apa yang akan menjadikan mereka orang-orang yang cerdas dan bertaqwa.  Al-hikmah adalah makna-makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. (Tafsir Kabir).

 3. “Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (Rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengannya dengan jihad yang besar.” (Q.s. Al-Furqaan: 51-52).

Thursday, October 15, 2026

China’s Mass Internment, Torture, and Persecution of Uygur Muslims in Xinjiang

 China: “Like We Were Enemies in a War”: China’s Mass Internment, Torture, and Persecution of Muslims in Xinjiang




Since 2017, the government of China has carried out massive and systematic abuses against Muslims living in the Xinjiang Uyghur Autonomous Region (Xinjiang). The human suffering has been immense. On 10 June Amnesty published a report based on new first-hand testimonies gathered from former detainees of the internment camps and other people who were present in Xinjiang after 2017, as well as from an analysis of satellite imagery and data. The evidence Amnesty International has gathered provides a factual basis for the conclusion that the Chinese government has committed at least the following crimes against humanity: imprisonment, torture, and persecution.

Kisah Sahabat Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi R.A: Keteguhan Iman yang Tak Tergoyahkan oleh Siksaan dan Godaan Dunia



Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Sahabat Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu anggota pasukan Muslim yang berperang melawan Romawi. Ketika tertawan, ia dibawa menghadap Kaisar Romawi yang ingin menguji keteguhan imannya. Sang kaisar menawarkan kebebasan, kekayaan, jabatan, bahkan sebagian kerajaannya dengan syarat Sahabat Abdullah meninggalkan Islam dan memeluk agama Nasrani. Namun, Sahabat Abdullah menolak seluruh tawaran tersebut dengan tegas karena baginya, keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya jauh lebih berharga daripada segala kemewahan dunia. Sikap ini sejalan dengan firman Allah SWT: QS. Fussilat [41]: 30: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian tetap istiqamah, akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”

Karena penolakannya, Sahabat Abdullah mengalami berbagai bentuk penyiksaan. Ia disalib dan diperintahkan untuk dipanah di dekat tangan serta kakinya. Ketika siksaan itu tidak berhasil menggoyahkan imannya, Kaisar Romawi memerintahkan agar seorang tawanan Muslim dimasukkan ke dalam minyak mendidih. Sahabat Abdullah tetap teguh meskipun dirinya menghadapi ancaman yang sama. Ketika akhirnya ia menangis menjelang hukuman tersebut, tangisannya bukan karena takut menghadapi kematian, melainkan karena berharap memiliki banyak nyawa agar dapat terus berkorban di jalan Allah. Sikap ini menunjukkan betapa kuat keyakinannya terhadap agama yang dianutnya.

Melihat keteguhan Sahabat Abdullah, Kaisar Romawi akhirnya menawarkan pembebasan dengan syarat Sahabat Abdullah mencium kepalanya. Abdullah menyetujui tawaran tersebut setelah memastikan bahwa seluruh tawanan Muslim lainnya juga akan dibebaskan. Ia rela melakukan hal itu demi menyelamatkan saudara-saudaranya seiman. Keputusan tersebut mencerminkan nilai itsar, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi. Setelah kembali ke Madinah, Sahabat Abdullah mendapat penghormatan dari Khalifah Umar bin Khattab atas keberanian dan pengorbanannya dalam menyelamatkan para tawanan Muslim. Sikap mengutamakan kepentingan sesama ini sejalan dengan firman Allah SWT: QS. Al-Hasyr [59]: 9: “Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan.”

Kisah Sahabat Abdullah bin Hudzafah mengajarkan bahwa iman tidak boleh ditukar dengan harta, jabatan, kekuasaan, ataupun keselamatan pribadi. Keteguhan tersebut selaras dengan pesan QS. Fussilat ayat 30 tentang orang-orang yang beriman dan istiqamah, serta ajaran Islam mengenai persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama. Keberanian sejati bukan sekadar kesanggupan menghadapi bahaya, melainkan juga kemampuan mempertahankan prinsip kebenaran dan mengutamakan keselamatan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, keteladanan Abdullah mengajak umat Islam untuk menjaga keimanan, bersabar menghadapi ujian, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan.

Selain keteguhan iman, kisah ini juga mengingatkan bahwa kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan materi, melainkan oleh pertolongan Allah yang disertai keimanan, kesabaran, dan ikhtiar. Pesan tersebut tercermin dalam QS. Al-Baqarah ayat 249: Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Allah bersama orang-orang yang sabar.” Ayat ini bercerita tentang pasukan Thalut (pasukan Muslim berjumlah kecil) yang menang menghadapi Jalut yang jumlah pasukan lebih besar. QS. At-Taubah ayat 25 yang mengingatkan bahwa jumlah pasukan yang besar tidak selalu menjamin kemenangan. QS 9:25 “Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu di medan peperangan yang banyak dan pada hari (Perang) Hunain ketika banyaknya jumlahmu menakjubkanmu, sehingga jumlahmu yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun.”

Di sisi yang lain asbab dzohir boleh digunakan seperti di QS. Al-Anfal ayat 60 yang menegaskan pentingnya mempersiapkan kekuatan yang diperlukan. QS. 8:60: “Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan.”. Asbab dzhohir boleh digunakan asal keyakinan tetap kepada pertolongan Allah SWT.

Semoga Allah SWT selalu memberi kita hidayah dan Taufiq untuk  meneladani pengorbanan Abdullah bin Hudzafah dalam membela iman dan menyelamatkan sesama.

 

Monday, October 12, 2026

Uyghur genocide committed by China. Did anybody care?

Uyghur genocide committed by China. Did anybody care?

Do you know how big the Chinese-occupied East Turkistan is? 1/6 of China's territories, 3 sizes of France, 4 sizes of Germany. 

How many Uyghurs have been affected? 25 million. According to a Chinese government report in 2018, more than 8 million Uyghurs and other Turkic people were put in concentration camps. 

Do you know how Chinese have tortured and killed Uyghurs? Organ harvesting, mass rape, and gang rape: many Uyghurs dropped dead after eating in concentration camps. Uyghurs were used for testing and developing biological and chemical weapons, including covid-19. 

Have you ever cared like you care for Palestinian cases? No.



Saturday, October 10, 2026

TAFSIR QS. Al Anfaal 24 dan QS Qs al an'am 122


 QS. Al-Anfal ayat 24 menegaskan pentingnya menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagai jalan menuju kehidupan iman yang sejati. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” (QS. Al-Anfal [8]: 24). Ayat ini mengajarkan bahwa pembinaan iman harus dimulai dari kesediaan hati untuk menerima kebenaran, menaati petunjuk Allah, dan mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan kekuatan batin yang menumbuhkan keikhlasan, ketakwaan, akhlak mulia, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.

Sejalan dengan itu, QS. Al-An'am ayat 122 menggambarkan perubahan manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah. Allah berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An'am [6]: 122). 

Ayat ini menegaskan bahwa iman menghidupkan hati dan memberikan cahaya petunjuk untuk membedakan kebenaran dari kebatilan serta kebaikan dari keburukan. Cahaya iman tersebut harus tercermin dalam kehidupan nyata melalui ibadah, kejujuran, keadilan, kepedulian sosial, dan amal saleh. Dengan demikian, pembinaan iman dan hati tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi berkembang menjadi kesalehan sosial yang membawa manfaat bagi sesama.

Hubungan kedua ayat tersebut menunjukkan pola pembinaan yang utuh: menjawab panggilan Allah, menghidupkan hati dengan iman, memperoleh cahaya hidayah, memperkuat ketakwaan, dan mewujudkannya dalam amal saleh serta perjuangan dakwah. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri sekaligus mengajak sesama kepada kebaikan dengan hikmah, kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang. Perjuangan mendakwahkan iman dan amal saleh hendaknya berorientasi pada terwujudnya kehidupan yang adil, damai, bermartabat, dan penuh kepedulian, sejalan dengan misi Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya' [21]: 107). Oleh karena itu, iman yang kuat seharusnya melahirkan ketakwaan yang nyata, amal saleh yang berkelanjutan, serta dakwah yang menghadirkan rahmat dan kemaslahatan bagi seluruh alam.



NEW BOOK 2026: UNDERSTANDING APPRAISAL & IDEOLOGY

 

https://drive.google.com/file/d/1HNTqik1LhJhZN1bAfjyddLomQ4RvCdEA/view?usp=sharing

PegiatJurnal.com: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga

PegiatJurnal.com: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga https://siakad.uinsalatiga.ac.id/dosen/ at January 04, 2024 Email This BlogThis! Share ...

Friday, October 9, 2026

Lawan Krisis Etika Digital Remaja, Akademisi Gagas Pembelajaran Bahasa Berbasis Nilai Moral

SALATIGA (Saiaaayya akan lawanddddd :)-Perkembangan media sosial yang masif di kalangan pemuda membawa dampak serius terhadap pelanggaran etika digital, penyebaran hoaks, hingga perundungan siber (cyberbullying). Menanggapi krisis tersebut, 2026 Annual International Interdiciplinary Conference and Research Expo (AIICARE) UIN Salatiga menghadirkan kolaborasi pemikiran multidisiplin yang menyoroti akar masalah sekaligus solusi pedagogis konkret di ruang kelas.

Temuan riset internasional yang dipaparkan oleh Farhana Zaman, Ph.D dan Ashek Mahmud, Ph.D (Jagannath University, Dhaka, Bangladesh) mengungkap bahwa 52% pemuda menilai pendidikan etika digital di sekolah masih sangat kurang terstruktur, sementara 48% lainnya menyoroti ketiadaan kebijakan etika digital yang formal. Hal itu mengakibatkan tingginya Composite Challenge Index (47%) dalam penerapan standar etika di media sosial.




Menjawab kesenjangan tersebut, riset terbaru dari Dr. Faizal Risdianto (UIN Salatiga) bersama Nadira Syifa Azzahro dalam Journal of Linguistics, Culture and Communication menawarkan solusi strategis melalui penguatan peran pendidik. Dalam studi terhadap 82 praktisi pendidikan bahasa Inggris (English Language Teaching/ELT) di Indonesia tersebut dipaparkan bahwa pengajaran bahasa tidak boleh dilepaskan dari pembentukan karakter dan etika moral (value integration). “Pengajaran bahasa merupakan media strategis untuk membina kewarganegaraan digital (digital citizenship) yang beretika,” ujar Dr. Faizal Risdianto.

Dalam risetnya, Faizal Risdianto mengungkapkan pendekatan “Dual Mandate” yang adaptif terhadap keberagaman lembaga pendidikan di Indonesia yaitu: pendekatan eksplisit (faith-driven approach) dan pendekatan implisit (universal approach). Inovasi pedagogis tersebut menjadi jawaban atas minimnya pengajaran etika terstruktur yang dikeluhkan oleh mayoritas remaja dalam riset media sosial. Integrasi nilai moral baik secara eksplisit maupun universal akan menjadi benteng etika yang kuat bagi remaja saat berinteraksi di dunia digital. (nhl-UIN Salatiga)

Risdianto, Faizal, Scopus ID: 57213518975

Risdianto, Faizal
Universitas Islam Negeri Salatiga
 Salatiga, Indonesia
Scopus ID: 57213518975
0000-0002-0422-9166
Open connect to ORCID modal

Article • Open access

Discovering the Communicative Functions of Cybertextual Contexts in Digital Media Environments: A Sociosemiotic Multimodal Perspective
Rahardi, R. Kunjana, Risdianto, Faizal, Purnomo, Budi, ... Rianita, Dian, Jumanto, JumantoStudies in English Language and EducationOpen source preview, 2026, 13(2), pp. 1051–1068
Show abstract
Full text

0
Citations
Article • Open access

Breaking through the Ivory Tower of High-Indexed Journals: Insights from EFL Academics in Private Universities, East Java, Indonesia
Ahmad Tajuddin, Azza Jauhar, Fadhilawati, Dian, Risdianto, Faizal, ... Supriyono, , Saifudin, AhmadDirasat: Human and Social SciencesOpen source preview, 2026, 53(3), 8603
Show abstract
Full text

0
Citations
Article

How Spatial and Temporal References Construct Cultural Identity and Ecological Awareness: The Case of Little Forest Movie
Hamidah, Idah, Lusiana, Y., Sunarni, Nani, Risdianto, FaizalInternational Journal of Society, Culture and LanguageOpen source preview, 2025, 13(2), pp. 157–168
Show abstract
Full text

0
Citations
Don’t miss out on new publications by this author!Set document alertSet document alert
Article

Appraisal and Ideology Realization in Indonesia State Capital Relocation News Texts
Risdianto, Faizal, Sumarlam, Sumarlam, Djatmika, , Wiratno, TriInternational Journal of Society, Culture and LanguageOpen source preview, 2024, 12(2), pp. 74–88
Show abstract
Full text

1
Citations
Article • Open access

Unlocking Potential: A Closer Look at Research Engagement and Productivity Among EFL Academics in East Java, Indonesia
Fadhilawati, Dian, Ahmad Tajuddin, Azza Jauhar, Romly, Raihana, ... Risdianto, Faizal, Saifudin, AhmadArab World English JournalOpen source preview, 2024, 15(3), pp. 255–269
Show abstract
Full text

1
Citations
Article

Women’s language features: Identifying language and gender in a talk show from a sociolinguistics the perspective
Purba, Ridwin, Fatmawati, Endang, Herman, Herman, ... Fatmahwati, A., Saputra, NandaResearch Journal in Advanced HumanitiesOpen source preview, 2023, 4(4), pp. 33–44
Show abstract
Full text

3
Citations
Article

Intercultural Linguistic Borders, Stereotypes and Representations in Americanah by Chimamanda Adichie Ngozie Adichie: A Sociolinguistics perspective
Sutrisno, D., Rafiek, Muhammad, Rintaningrum, Ratna, ... Saputra, Nanda, Herman, HermanISVS e-journalOpen source preview, 2023, 10(11), pp. 421–436
Show abstract
Full text

12
Citations
Article • Open access

“The Sum of All Fears” from Novel to Film: Shifting the Discourse of Terrorism
Rahayu, Mundi, Sahiruddin, , Risdianto, Faizal, ... Rabiah, S., Taufiqurrochman, R.World Journal of English LanguageOpen source preview, 2023, 13(7), pp. 186–193
Show abstract
Full text

1
Citations
Article • Open access

Sociolinguistic analysis of language and gender identity in talk shows
Purba, Ridwin, Fatmawati, Endang, Herman, Herman, ... Fatmahwati, A., Saputra, NandaResearch Journal in Advanced HumanitiesOpen source preview, 2023, 4(1), pp. 33–43
Show abstract
Full text

12
Citations
Conference Paper • Open access

Video as Educational Multimedia to Teach English Speaking
Fajar Masyitoh, Novia, Malihah, Noor, Risdianto, Faizal, Guritno, AgungJournal of Physics: Conference SeriesOpen source preview, 2019, 1339(1), 012118
Show abstract
Full text

3
Citations

PAK FAIZAL'S INTRODUCTION TO LINGUISTICS UTS ASSIGNMENT

 


PAK FAIZAL'S INTRODUCTION TO LINGUISTICS UTS ASSIGNMENT

Dear Students,

This is your UTS assignment for this semester.
1. Prepare a PPT of 5-7 slides and create a short video recording showing your PPT and on-camera display describing one of your favorite analyses of INTRODUCTION OF LINGUISTICS. you may choose and describe any linguistics phenomenon in any language (English, Arabic, Indonesian, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, etc.). The theories can be phonetics, morphology, syntax, semantics, or pragmatics. 
2. The minimum time recording is 5-7 minutes, and it can be more than that, like this video: https://youtu.be/H_jM-Wy5bxc: I AM HUNGRY & NGEBUT BENJUT PRAGMATICS ANALYSIS
3. The deadline of video submission is Saturday, , 11.59 PM, October 24th, 2026
4. This is the link URL for UTS assignment submission: https://forms.gle/NWUoxYyXhXpZBVqK7

Thursday, October 8, 2026

Kebenaran pada dasarnya bersifat lurus, jelas, dan tidak membutuhkan banyak rekayasa

 


Dalam perspektif Islam, kebenaran pada dasarnya bersifat lurus, jelas, dan tidak membutuhkan banyak rekayasa, sedangkan kebohongan cenderung menjadi rumit karena harus ditopang oleh kebohongan-kebohongan lain. Al-Qur’an menggambarkan pentingnya perkataan yang benar melalui firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadīdan)” (QS. Al-Ahzab [33]: 70). Kebenaran tidak memerlukan banyak versi cerita untuk mempertahankan konsistensinya karena ia berangkat dari kenyataan. Sebaliknya, ketika seseorang berbohong, ia harus mengingat apa yang telah dikatakannya, menyesuaikan cerita dengan keadaan, dan terkadang menciptakan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Karena itu, kebohongan sering digambarkan sebagai sesuatu yang “berkelok-kelok”, sementara kebenaran memiliki jalan yang lebih lurus dan sederhana.

Hal ini sangat kuat dalam ajaran Nabi Muhammad ﷺ tentang kejujuran (ṣidq). Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kejujuran membawa kepada kebajikan (al-birr), dan kebajikan membawa ke surga; seseorang yang senantiasa berkata benar akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (ṣiddīq). Sebaliknya, beliau memperingatkan bahwa kebohongan membawa kepada kejahatan (al-fujūr), dan kejahatan membawa ke neraka, hingga seseorang yang terus-menerus berdusta dicatat sebagai pendusta. Hadis ini menunjukkan bahwa kejujuran bukan sekadar persoalan berkata sesuai fakta, tetapi merupakan jalan moral yang membentuk karakter dan mengarahkan manusia kepada kebaikan. Sekali seseorang memilih kebohongan, ia dapat terdorong untuk mempertahankan kebohongan tersebut dengan kebohongan berikutnya, sehingga persoalan yang semula sederhana menjadi semakin kompleks.

Dengan demikian, “kebenaran itu lurus, sedangkan kebohongan itu berkelok-kelok” dapat dipahami sebagai gambaran moral dan psikologis yang sangat relevan dengan prinsip Islam. Allah juga memerintahkan orang beriman untuk menjadi orang-orang yang teguh dalam menegakkan kebenaran dan keadilan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri...” (QS. An-Nisa’ [4]: 135). Kebenaran mungkin terkadang terasa sulit untuk diucapkan karena dapat menuntut keberanian dan kejujuran terhadap diri sendiri, tetapi setelah diucapkan, ia tidak membutuhkan banyak penjelasan yang dibuat-buat. Kebohongan mungkin tampak sebagai jalan yang mudah pada awalnya, tetapi semakin jauh seseorang berjalan di dalamnya, semakin banyak “jalan kecil” yang harus dibuat untuk mempertahankan cerita yang tidak benar. Karena itu, Islam menempatkan ṣidq sebagai salah satu fondasi utama akhlak seorang Muslim: berkata benar, menepati kenyataan, dan berani mempertahankan kebenaran sekalipun tidak selalu menguntungkan diri sendiri.

Major Topics in English Semantics

 Major Topics in English Semantics


http://bit.ly/ebookSEMANTICS

CLICK HERE FOR FULL DOWNLOAD http://bit.ly/semanticsmania

INTRODUCTION TO SEMANTICS- a summary of Kreidler’s Introduction to semantics

Semantics is the linguistic study of meaning: how English words, phrases, and sentences convey meanings. It is usually divided into lexical semantics (word meaning) and sentence/formal semantics (how meanings combine and how truth relations work).studylib+1

Word Meaning

  • Sense and reference
    Sense is the concept expressed by a word; reference is the actual entity it points to in a context or world.
    Example: the morning star and the evening star have different senses, but both can refer to Venus.courses.washington+1

  • Denotation and connotation
    Denotation is the central, dictionary-like meaning. Connotation is the emotional or cultural association.
    Example: home denotes a place where someone lives, but it may connote warmth, safety, and family.

  • Semantic features / componential analysis
    Words can be analyzed through smaller meaning components.
    Example: woman may be described as [+ℎ𝑢𝑚𝑎𝑛], [+𝑎𝑑𝑢𝑙𝑡], and [+𝑓𝑒𝑚𝑎𝑙𝑒], while girl differs mainly in [−𝑎𝑑𝑢𝑙𝑡].

  • Polysemy and homonymy
    Polysemy means one word has related meanings; homonymy means identical forms have unrelated meanings.
    Example: head in “head of a person” and “head of a department” is polysemous. Bank meaning “financial institution” and bank meaning “side of a river” are homonyms.

  • Ambiguity
    An expression is ambiguous if it permits more than one interpretation.
    Example: “Visiting relatives can be annoying” can mean that relatives who visit are annoying, or that the activity of visiting relatives is annoying.uaic

Lexical Relations

  • Synonymy
    Words are synonymous when their meanings are very similar, though rarely perfectly identical.
    Example: begin and start.

  • Antonymy / opposition
    Opposites occur in several forms: