Kajian mengenai (im)politeness telah mengalami perkembangan yang signifikan selama beberapa dekade terakhir. Perkembangan tersebut menunjukkan pergeseran paradigma dari pendekatan yang berpusat pada strategi individu menuju pendekatan yang menempatkan interaksi sebagai proses sosial yang dibangun bersama oleh para peserta tutur. Dalam perspektif pragmatik Prof. Jumanto, evolusi ini akan lebih mudah dipahami apabila diawali dengan pemahaman mengenai phatic communication sebagai fondasi hubungan sosial dan character language sebagai orientasi penggunaan bahasa. Dengan demikian, kesantunan tidak dipandang sebagai titik awal komunikasi, melainkan sebagai bagian dari proses membangun hubungan sosial (ties of union) yang akhirnya membentuk karakter berbahasa (Jumanto, 2014a, 2014b).
Sebelum membahas teori kesantunan, Prof. Jumanto menempatkan phatic communication sebagai fungsi dasar komunikasi manusia. Berbeda dengan komunikasi referensial yang berorientasi pada penyampaian informasi, komunikasi fatis bertujuan membangun, memulai, memelihara, dan mempererat hubungan sosial antarpartisipan. Salam, sapaan, basa-basi, ucapan terima kasih, pujian, maupun ungkapan perhatian tidak selalu dimaksudkan untuk memberikan informasi baru, tetapi berfungsi menciptakan rasa nyaman dan memperkuat ikatan sosial (ties of union). Oleh karena itu, komunikasi fatis menjadi prasyarat terciptanya hubungan interpersonal yang harmonis sebelum proses pertukaran informasi berlangsung (Jumanto, 2014a).
Dalam perspektif tersebut, keberhasilan komunikasi tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan menyampaikan pesan, melainkan juga oleh kemampuan membangun hubungan sosial. Melalui komunikasi fatis, penutur mulai mengenali apakah hubungan yang sedang dibangun lebih dipengaruhi oleh dimensi power atau solidarity. Ketika hubungan sosial telah terbentuk secara positif, strategi kesantunan menjadi lebih mudah diterapkan karena penutur telah memahami posisi sosial, tingkat kedekatan, dan harapan interaksional mitra tuturnya. Dengan demikian, komunikasi fatis berfungsi sebagai landasan pragmatik bagi pengelolaan hubungan sosial dalam komunikasi (Jumanto, 2014a).
Pengembangan gagasan tersebut kemudian diperluas melalui konsep Towards a Character Language: A Probability in Language Use. Dalam konsep ini, Prof. Jumanto menjelaskan bahwa penggunaan bahasa tidak hanya berkaitan dengan pemilihan bentuk yang sopan atau tidak sopan, tetapi merupakan proses memilih bentuk bahasa yang paling mungkin (probable) sesuai dengan konteks sosial, tujuan komunikasi, dan hubungan antarpartisipan. Kompetensi pragmatik tidak hanya diukur dari ketepatan gramatikal, tetapi juga dari kemampuan memilih bentuk bahasa yang paling sesuai dengan kondisi sosial yang dihadapi (Jumanto, 2014b).
Konsep character language dibangun melalui empat pasangan strategi pragmatik, yaitu meaning–form strategies, distant–close language strategies, politeness–camaraderie strategies, serta object language–metalanguage strategies. Keempat strategi tersebut menunjukkan bahwa karakter berbahasa merupakan hasil kemampuan penutur menyesuaikan pilihan bahasa dengan hubungan sosial yang sedang berlangsung. Seorang penutur yang kompeten mampu menentukan kapan menggunakan bahasa formal atau informal, langsung atau tidak langsung, literal atau nonliteral, sesuai dengan konteks komunikasi sehingga hubungan interpersonal tetap terpelihara (Jumanto, 2014b).
Dalam kerangka Power and Solidarity, konsep character language memperlihatkan bahwa kedua dimensi tersebut tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Power diwujudkan melalui penggunaan distant language, yaitu bahasa yang formal, tidak langsung, dan cenderung nonliteral untuk menunjukkan penghormatan terhadap hierarki sosial. Sebaliknya, solidarity diwujudkan melalui close language, yaitu bahasa yang lebih informal, langsung, dan literal untuk membangun kedekatan interpersonal. Kompetensi pragmatik yang ideal terletak pada kemampuan memilih orientasi bahasa secara tepat sehingga komunikasi menghasilkan penghormatan sekaligus keakraban (Jumanto, 2014b).



