Friday, June 19, 2026
Blog Dr. Faizal Risdianto: Politeness and Impoliteness Strategies in Lecturer...
Blog Dr. Faizal Risdianto: What is cyberpragmatics?
Thursday, June 18, 2026
Tablighi Jamaat: Gerakan Kebangkitan Islam dan Masalah Radikalisme vs Radi-Kalem
Judul: Tablighi Jamaat: An Islamic Revivalist Movement and the Issue of Radicalism
Ringkasan Isi
Artikel ini membahas sejarah, ideologi, perkembangan global, dan kontroversi mengenai Jamaah Tabligh sebagai salah satu gerakan Islam transnasional terbesar di dunia. Penulis berusaha menjawab pertanyaan apakah Jamaah Tabligh dapat dikategorikan sebagai gerakan dakwah biasa atau memiliki hubungan dengan radikalisme.
Jamaah Tabligh didirikan oleh Muhammad Ilyas Kandhlawi pada tahun 1920-an di wilayah Mewat, India Utara. Nama "Jamaah Tabligh" sebenarnya bukan nama resmi yang diberikan pendirinya, melainkan sebutan yang muncul karena aktivitas utama gerakan ini adalah tabligh atau dakwah. Kata "tabligh" berarti menyampaikan ajaran agama, sedangkan "jamaah" berarti kelompok atau perkumpulan.
Lahirnya Jamaah Tabligh dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan keagamaan umat Islam India pada masa penjajahan Inggris. Saat itu umat Islam menghadapi tekanan dari gerakan kebangkitan Hindu dan melemahnya identitas Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Muhammad Ilyas memandang bahwa solusi utama bukan melalui politik, melainkan melalui pendidikan dan dakwah untuk memperbaiki akidah serta praktik keagamaan umat Islam.
Gerakan ini memiliki hubungan historis dengan tradisi pendidikan Deoband di India. Madrasah Deoband mengajarkan Al-Qur'an, hadis, fikih Hanafi, dan nilai-nilai tasawuf yang menekankan kesederhanaan hidup. Muhammad Ilyas sendiri merupakan alumni Deoband dan memiliki hubungan dengan beberapa tarekat sufi seperti Naqsyabandiyah dan Qadiriyah. Oleh karena itu, Jamaah Tabligh lebih berorientasi pada pembinaan spiritual daripada perjuangan politik.
Secara ideologis, Jamaah Tabligh berpegang pada rukun Islam dan rukun iman sebagaimana umat Islam pada umumnya. Gerakan ini menekankan enam prinsip utama, yaitu syahadat, shalat, penghormatan kepada sesama Muslim, keikhlasan niat, ilmu dan zikir, serta pengorbanan waktu dan harta untuk dakwah. Keenam prinsip ini menjadi dasar seluruh aktivitas Jamaah Tabligh.
Dalam praktik dakwahnya, Jamaah Tabligh menggunakan beberapa metode utama, yaitu khuruj (keluar berdakwah), ta'lim (belajar agama), jaulah (kunjungan dakwah), dan bayan (ceramah agama). Anggota dianjurkan mengikuti kegiatan dakwah secara berkala, misalnya sehari setiap minggu, tiga hari setiap bulan, empat puluh hari setiap tahun, dan empat bulan sepanjang hidupnya.
Perkembangan Jamaah Tabligh sangat pesat hingga menyebar ke lebih dari 200 negara. Gerakan ini berkembang di Asia, Afrika, Eropa, Australia, dan Amerika. Di Indonesia, Jamaah Tabligh mulai masuk sekitar tahun 1955 melalui mubalig asal India dan kemudian berkembang di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Temboro, Magetan.

.jpeg)


.webp)