Thursday, June 25, 2026

Phatic Communication, Character Language, dan Evolusi Teori (Im)Politeness dalam Perspektif Pragmatik Prof. Jumanto

Kajian mengenai (im)politeness telah mengalami perkembangan yang signifikan selama beberapa dekade terakhir. Perkembangan tersebut menunjukkan pergeseran paradigma dari pendekatan yang berpusat pada strategi individu menuju pendekatan yang menempatkan interaksi sebagai proses sosial yang dibangun bersama oleh para peserta tutur. Dalam perspektif pragmatik Prof. Jumanto, evolusi ini akan lebih mudah dipahami apabila diawali dengan pemahaman mengenai phatic communication sebagai fondasi hubungan sosial dan character language sebagai orientasi penggunaan bahasa. Dengan demikian, kesantunan tidak dipandang sebagai titik awal komunikasi, melainkan sebagai bagian dari proses membangun hubungan sosial (ties of union) yang akhirnya membentuk karakter berbahasa (Jumanto, 2014a, 2014b).

Sebelum membahas teori kesantunan, Prof. Jumanto menempatkan phatic communication sebagai fungsi dasar komunikasi manusia. Berbeda dengan komunikasi referensial yang berorientasi pada penyampaian informasi, komunikasi fatis bertujuan membangun, memulai, memelihara, dan mempererat hubungan sosial antarpartisipan. Salam, sapaan, basa-basi, ucapan terima kasih, pujian, maupun ungkapan perhatian tidak selalu dimaksudkan untuk memberikan informasi baru, tetapi berfungsi menciptakan rasa nyaman dan memperkuat ikatan sosial (ties of union). Oleh karena itu, komunikasi fatis menjadi prasyarat terciptanya hubungan interpersonal yang harmonis sebelum proses pertukaran informasi berlangsung (Jumanto, 2014a).

Dalam perspektif tersebut, keberhasilan komunikasi tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan menyampaikan pesan, melainkan juga oleh kemampuan membangun hubungan sosial. Melalui komunikasi fatis, penutur mulai mengenali apakah hubungan yang sedang dibangun lebih dipengaruhi oleh dimensi power atau solidarity. Ketika hubungan sosial telah terbentuk secara positif, strategi kesantunan menjadi lebih mudah diterapkan karena penutur telah memahami posisi sosial, tingkat kedekatan, dan harapan interaksional mitra tuturnya. Dengan demikian, komunikasi fatis berfungsi sebagai landasan pragmatik bagi pengelolaan hubungan sosial dalam komunikasi (Jumanto, 2014a).

Pengembangan gagasan tersebut kemudian diperluas melalui konsep Towards a Character Language: A Probability in Language Use. Dalam konsep ini, Prof. Jumanto menjelaskan bahwa penggunaan bahasa tidak hanya berkaitan dengan pemilihan bentuk yang sopan atau tidak sopan, tetapi merupakan proses memilih bentuk bahasa yang paling mungkin (probable) sesuai dengan konteks sosial, tujuan komunikasi, dan hubungan antarpartisipan. Kompetensi pragmatik tidak hanya diukur dari ketepatan gramatikal, tetapi juga dari kemampuan memilih bentuk bahasa yang paling sesuai dengan kondisi sosial yang dihadapi (Jumanto, 2014b).

Konsep character language dibangun melalui empat pasangan strategi pragmatik, yaitu meaning–form strategies, distant–close language strategies, politeness–camaraderie strategies, serta object language–metalanguage strategies. Keempat strategi tersebut menunjukkan bahwa karakter berbahasa merupakan hasil kemampuan penutur menyesuaikan pilihan bahasa dengan hubungan sosial yang sedang berlangsung. Seorang penutur yang kompeten mampu menentukan kapan menggunakan bahasa formal atau informal, langsung atau tidak langsung, literal atau nonliteral, sesuai dengan konteks komunikasi sehingga hubungan interpersonal tetap terpelihara (Jumanto, 2014b).

Dalam kerangka Power and Solidarity, konsep character language memperlihatkan bahwa kedua dimensi tersebut tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Power diwujudkan melalui penggunaan distant language, yaitu bahasa yang formal, tidak langsung, dan cenderung nonliteral untuk menunjukkan penghormatan terhadap hierarki sosial. Sebaliknya, solidarity diwujudkan melalui close language, yaitu bahasa yang lebih informal, langsung, dan literal untuk membangun kedekatan interpersonal. Kompetensi pragmatik yang ideal terletak pada kemampuan memilih orientasi bahasa secara tepat sehingga komunikasi menghasilkan penghormatan sekaligus keakraban (Jumanto, 2014b).

Wednesday, June 24, 2026

Blog Dr. Faizal Risdianto: TOTTO CAT FAMILY

Blog Dr. Faizal Risdianto: TOTTO CAT FAMILY:   PAPA-TOTTO PAPA TOTTO SAAT MASIH BOCIL MOM-GREY (LOST IN SPACE-MINGGAT KEMANA) CHILD-KUDO/DOGU-SUDAH BERANAK 4 CHILD-LEMU CHILD-GEYAL-GEYO...



Tuesday, June 23, 2026

PegiatJurnal.com: CONTOH HTML DENGAN KODE GAMBAR FLOATING

PegiatJurnal.com: CONTOH HTML DENGAN KODE GAMBAR FLOATING:   REGISTER JOURNAL ,  1979-8903  (PRINT)-  2503-040X  (ONLINE),  The  Journal of English for Islamic Educational Institutions and Moslem Com...

QS Saba (34): 15–19 & PARADOKS KEMAJUAN SOSIAL

 


Pendahuluan – Kemajuan sebagai Ujian, Bukan Sekadar Nikmat

Kisah kaum Saba’ dalam QS Saba (34): 15–19 bukan sekadar cerita sejarah tentang suatu bangsa di masa lampau, melainkan sebuah cermin universal bagi setiap peradaban yang mengejar kejayaan. Allah menggambarkan negeri Saba’ sebagai wilayah yang istimewa: subur, makmur, aman, dan teratur. Dua kebun besar di kanan dan kiri lembah menjadi simbol keseimbangan ekologis dan ekonomi yang sempurna. Namun, di balik gambaran indah itu tersimpan ujian besar—apakah mereka akan mensyukuri nikmat dengan taat, atau justru terjebak dalam kesombongan. Dengan demikian, ayat ini membuka pemahaman bahwa kemajuan material bukanlah tujuan akhir, melainkan wahana untuk menguji kualitas iman dan tanggung jawab sosial.  

Suburnya Negeri Saba’ sebagai Simbol Peradaban Maju

Dalam ayat 15, Allah menyebut negeri Saba’ sebagai “negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun.” Frase ini menunjukkan bahwa kemakmuran mereka bukanlah kebetulan, melainkan akibat dari sistem sosial yang tertata dan lingkungan yang mendukung. Dua kebun yang diapit oleh pemukiman memberikan pasokan pangan yang stabil, sementara jalan-jalan yang aman memudahkan mobilitas penduduk dan perdagangan. Keamanan yang mereka nikmati memungkinkan perjalanan jauh tanpa rasa takut—sebuah indikator kemajuan yang hanya dicapai oleh masyarakat yang memiliki tata kelola pemerintahan dan infrastruktur yang baik. Pada tahap ini, Saba’ berada pada puncak kejayaan yang layak menjadi teladan bagi bangsa mana pun.  

Syukur yang Tidak Konsisten – Akar Kerapuhan Moral

Namun, kemajuan itu tidak dibarengi dengan kesyukuran yang hakiki. Ayat 16 mencatat bahwa mereka “berpaling” dan tidak bersyukur dengan sungguh-sungguh. Makna syukur di sini bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan ketaatan dalam bentuk pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan harus digunakan sesuai petunjuk-Nya. Kaum Saba’ justru menikmati karunia dengan gaya hidup hedonistik dan menganggap keberhasilan mereka sebagai hasil kecerdasan dan kerja keras semata. Mereka melupakan peran nilai-nilai ketuhanan dalam membangun keadilan dan kepedulian sosial. Sikap inilah yang menjadi pangkal kerapuhan moral, karena ketika manusia merasa cukup dengan dirinya sendiri, ia mulai buta terhadap batas-batas etika

Bendungan Ma’rib yang Runtuh – Bencana Fisik dari Krisis Spiritual

Akibat dari sikap ingkar itu, Allah mengirimkan banjir besar yang menghancurkan bendungan Ma’rib—sistem irigasi canggih yang menjadi tulang punggung pertanian mereka. Dalam tafsir klasik, banjir ini bukan sekadar peristiwa alam, tetapi konsekuensi logis dari kelalaian mereka dalam memelihara infrastruktur dan menjaga keseimbangan lingkungan. Bendungan yang megah hancur, dua kebun yang subur berubah menjadi lahan tandus yang hanya menghasilkan pohon-pohon berduri dan buah yang pahit. Ini mengajarkan bahwa kehancuran fisik sering kali diawali oleh kerusakan spiritual. Ketika nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan ditinggalkan, maka sistem yang tampak kokoh pun dapat ambruk dalam sekejap.  

Perubahan Ekonomi dan Sosial yang Drastis

Pasca-banjir, struktur sosial kaum Saba’ berubah total. Kemakmuran yang dulu merata berganti menjadi kesulitan ekonomi, kelangkaan pangan, dan kemiskinan yang meluas. Mata pencaharian yang bergantung pada pertanian dan perdagangan hancur karena jalur transportasi putus dan lahan tidak lagi produktif. Masyarakat yang dulu hidup dalam harmoni kini terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang saling curiga. Ketimpangan sosial muncul, dan solidaritas yang pernah menjadi perekat komunitas lenyap digantikan oleh individualisme. Ini menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi tanpa fondasi moral tidak akan bertahan lama; ia hanya bertahan selama kondisi eksternal mendukung, tetapi runtuh saat ujian datang.  

Mobilitas yang Terhambat dan Fragmentasi Wilayah

Ayat 18–19 menggambarkan bagaimana perjalanan antar kota yang dulu mudah dan aman menjadi sulit dan berbahaya. Permukiman yang dulu saling berdekatan kini berjauhan, dan penduduk terpencar ke berbagai penjuru. Mereka yang dulu bisa bepergian dengan tenang kini harus melewati jalur yang terjal dan penuh risiko. Fragmentasi ini bukan hanya masalah geografis, tetapi juga cerminan dari hancurnya kohesi sosial. Ketika kepercayaan antarwarga dan terhadap pemimpin hilang, maka jaringan sosial yang memudahkan mobilitas dan pertukaran budaya pun runtuh. Masyarakat yang terfragmentasi kehilangan daya saing dan ketahanan kolektif.  

Monday, June 22, 2026

Blog Dr. Faizal Risdianto: TEXTLESS PICS FOR ENGLISH DRAMA 1 & 2

Blog Dr. Faizal Risdianto: TEXTLESS PICS FOR ENGLISH DRAMA 1 & 2:   TEXTLESS PICS FOR ENGLISH DRAMA 1  TEXTLESS PICS FOR ENGLISH DRAMA 2 FILE DOWNLOAD:  CLICK HERE YESSS   The examples of the drama in a f...