Thursday, October 15, 2026

China’s Mass Internment, Torture, and Persecution of Uygur Muslims in Xinjiang

 China: “Like We Were Enemies in a War”: China’s Mass Internment, Torture, and Persecution of Muslims in Xinjiang




Since 2017, the government of China has carried out massive and systematic abuses against Muslims living in the Xinjiang Uyghur Autonomous Region (Xinjiang). The human suffering has been immense. On 10 June Amnesty published a report based on new first-hand testimonies gathered from former detainees of the internment camps and other people who were present in Xinjiang after 2017, as well as from an analysis of satellite imagery and data. The evidence Amnesty International has gathered provides a factual basis for the conclusion that the Chinese government has committed at least the following crimes against humanity: imprisonment, torture, and persecution.

Kisah Sahabat Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi R.A: Keteguhan Iman yang Tak Tergoyahkan oleh Siksaan dan Godaan Dunia



Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Sahabat Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi radhiyallahu ‘anhu menjadi salah satu anggota pasukan Muslim yang berperang melawan Romawi. Ketika tertawan, ia dibawa menghadap Kaisar Romawi yang ingin menguji keteguhan imannya. Sang kaisar menawarkan kebebasan, kekayaan, jabatan, bahkan sebagian kerajaannya dengan syarat Sahabat Abdullah meninggalkan Islam dan memeluk agama Nasrani. Namun, Sahabat Abdullah menolak seluruh tawaran tersebut dengan tegas karena baginya, keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya jauh lebih berharga daripada segala kemewahan dunia. Sikap ini sejalan dengan firman Allah SWT: QS. Fussilat [41]: 30: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian tetap istiqamah, akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”

Karena penolakannya, Sahabat Abdullah mengalami berbagai bentuk penyiksaan. Ia disalib dan diperintahkan untuk dipanah di dekat tangan serta kakinya. Ketika siksaan itu tidak berhasil menggoyahkan imannya, Kaisar Romawi memerintahkan agar seorang tawanan Muslim dimasukkan ke dalam minyak mendidih. Sahabat Abdullah tetap teguh meskipun dirinya menghadapi ancaman yang sama. Ketika akhirnya ia menangis menjelang hukuman tersebut, tangisannya bukan karena takut menghadapi kematian, melainkan karena berharap memiliki banyak nyawa agar dapat terus berkorban di jalan Allah. Sikap ini menunjukkan betapa kuat keyakinannya terhadap agama yang dianutnya.

Melihat keteguhan Sahabat Abdullah, Kaisar Romawi akhirnya menawarkan pembebasan dengan syarat Sahabat Abdullah mencium kepalanya. Abdullah menyetujui tawaran tersebut setelah memastikan bahwa seluruh tawanan Muslim lainnya juga akan dibebaskan. Ia rela melakukan hal itu demi menyelamatkan saudara-saudaranya seiman. Keputusan tersebut mencerminkan nilai itsar, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi. Setelah kembali ke Madinah, Sahabat Abdullah mendapat penghormatan dari Khalifah Umar bin Khattab atas keberanian dan pengorbanannya dalam menyelamatkan para tawanan Muslim. Sikap mengutamakan kepentingan sesama ini sejalan dengan firman Allah SWT: QS. Al-Hasyr [59]: 9: “Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan.”

Kisah Sahabat Abdullah bin Hudzafah mengajarkan bahwa iman tidak boleh ditukar dengan harta, jabatan, kekuasaan, ataupun keselamatan pribadi. Keteguhan tersebut selaras dengan pesan QS. Fussilat ayat 30 tentang orang-orang yang beriman dan istiqamah, serta ajaran Islam mengenai persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama. Keberanian sejati bukan sekadar kesanggupan menghadapi bahaya, melainkan juga kemampuan mempertahankan prinsip kebenaran dan mengutamakan keselamatan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, keteladanan Abdullah mengajak umat Islam untuk menjaga keimanan, bersabar menghadapi ujian, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan.

Selain keteguhan iman, kisah ini juga mengingatkan bahwa kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan materi, melainkan oleh pertolongan Allah yang disertai keimanan, kesabaran, dan ikhtiar. Pesan tersebut tercermin dalam QS. Al-Baqarah ayat 249: Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Allah bersama orang-orang yang sabar.” Ayat ini bercerita tentang pasukan Thalut (pasukan Muslim berjumlah kecil) yang menang menghadapi Jalut yang jumlah pasukan lebih besar. QS. At-Taubah ayat 25 yang mengingatkan bahwa jumlah pasukan yang besar tidak selalu menjamin kemenangan. QS 9:25 “Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu di medan peperangan yang banyak dan pada hari (Perang) Hunain ketika banyaknya jumlahmu menakjubkanmu, sehingga jumlahmu yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun.”

Di sisi yang lain asbab dzohir boleh digunakan seperti di QS. Al-Anfal ayat 60 yang menegaskan pentingnya mempersiapkan kekuatan yang diperlukan. QS. 8:60: “Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan.”. Asbab dzhohir boleh digunakan asal keyakinan tetap kepada pertolongan Allah SWT.

Semoga Allah SWT selalu memberi kita hidayah dan Taufiq untuk  meneladani pengorbanan Abdullah bin Hudzafah dalam membela iman dan menyelamatkan sesama.

 

Monday, October 12, 2026

Uyghur genocide committed by China. Did anybody care?

Uyghur genocide committed by China. Did anybody care?

Do you know how big the Chinese-occupied East Turkistan is? 1/6 of China's territories, 3 sizes of France, 4 sizes of Germany. 

How many Uyghurs have been affected? 25 million. According to a Chinese government report in 2018, more than 8 million Uyghurs and other Turkic people were put in concentration camps. 

Do you know how Chinese have tortured and killed Uyghurs? Organ harvesting, mass rape, and gang rape: many Uyghurs dropped dead after eating in concentration camps. Uyghurs were used for testing and developing biological and chemical weapons, including covid-19. 

Have you ever cared like you care for Palestinian cases? No.



Saturday, October 10, 2026

TAFSIR QS. Al Anfaal 24 dan QS Qs al an'am 122


 QS. Al-Anfal ayat 24 menegaskan pentingnya menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagai jalan menuju kehidupan iman yang sejati. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” (QS. Al-Anfal [8]: 24). Ayat ini mengajarkan bahwa pembinaan iman harus dimulai dari kesediaan hati untuk menerima kebenaran, menaati petunjuk Allah, dan mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan kekuatan batin yang menumbuhkan keikhlasan, ketakwaan, akhlak mulia, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.

Sejalan dengan itu, QS. Al-An'am ayat 122 menggambarkan perubahan manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah. Allah berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An'am [6]: 122). 

Ayat ini menegaskan bahwa iman menghidupkan hati dan memberikan cahaya petunjuk untuk membedakan kebenaran dari kebatilan serta kebaikan dari keburukan. Cahaya iman tersebut harus tercermin dalam kehidupan nyata melalui ibadah, kejujuran, keadilan, kepedulian sosial, dan amal saleh. Dengan demikian, pembinaan iman dan hati tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi berkembang menjadi kesalehan sosial yang membawa manfaat bagi sesama.

Hubungan kedua ayat tersebut menunjukkan pola pembinaan yang utuh: menjawab panggilan Allah, menghidupkan hati dengan iman, memperoleh cahaya hidayah, memperkuat ketakwaan, dan mewujudkannya dalam amal saleh serta perjuangan dakwah. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri sekaligus mengajak sesama kepada kebaikan dengan hikmah, kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang. Perjuangan mendakwahkan iman dan amal saleh hendaknya berorientasi pada terwujudnya kehidupan yang adil, damai, bermartabat, dan penuh kepedulian, sejalan dengan misi Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya' [21]: 107). Oleh karena itu, iman yang kuat seharusnya melahirkan ketakwaan yang nyata, amal saleh yang berkelanjutan, serta dakwah yang menghadirkan rahmat dan kemaslahatan bagi seluruh alam.