Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, marilah terlebih dahulu kita menasihati diri kita sendiri sebelum menasihati orang lain. Karena sesungguhnya hati ini sangat mudah berubah. Hari ini kita merasa semangat beribadah, besok bisa saja hati menjadi lalai. Hari ini mata mudah menangis ketika mendengar ayat Allah, tetapi beberapa waktu kemudian hati bisa terasa keras dan sulit tersentuh. Oleh sebab itu Allah mengingatkan dalam QS. Al-Anfal ayat 24 agar kita memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, karena seruan itu membawa kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang dimaksud bukan hanya hidup secara jasad, tetapi hidupnya hati, hidupnya iman, hidupnya ketenangan. Banyak orang yang tubuhnya sehat, hartanya banyak, pekerjaannya bagus, tetapi hatinya kosong, gelisah, mudah marah, dan jauh dari Allah. Sebaliknya ada orang sederhana, tetapi hidupnya tenang karena hatinya hidup bersama Allah.
Jamaah yang dimuliakan Allah, Rasulullah ﷺ sendiri sering berdoa, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Padahal beliau adalah manusia terbaik. Ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang aman dari perubahan hati. Kadang kita melihat seseorang dahulu rajin ke masjid, sekarang mulai sibuk dengan urusan dunia. Ada yang dahulu semangat mengaji, tetapi kemudian tenggelam dalam media sosial, hiburan, atau urusan pekerjaan sampai lalai dari salat. Bahkan mungkin itu terjadi pada diri kita sendiri. Ketika azan berkumandang, hati terasa berat melangkah ke masjid. Ketika Al-Qur’an ada di depan mata, tangan lebih cepat membuka telepon genggam daripada membuka mushaf. Inilah tanda bahwa hati perlu dijaga dan dihidupkan kembali.


