Problematika utama penerjemahan sosial-budaya terletak pada istilah atau unsur budaya spesifik (culture-specific items) yang tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa sasaran, sehingga “kehilangan budaya” sulit dihindari. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) menunjukkan dua sisi yang sangat jelas: di satu sisi, large language models (LLM) menunjukkan kemampuan yang melampaui penerjemahan mesin saraf tradisional dalam mengidentifikasi unsur budaya spesifik dan memberikan informasi kontekstual; bahkan ChatGPT 4.0 dalam penerjemahan istilah budaya tertentu dapat mendekati tingkat kemampuan manusia. Di sisi lain, AI masih cenderung mengandalkan strategi penerjemahan harfiah dan transliterasi, memiliki keterbatasan sistematis dalam memahami makna budaya yang mendalam, serta belum mampu menilai tingkat keberterimaan suatu terjemahan dalam budaya sasaran. Oleh karena itu, jalur yang paling rasional saat ini bukanlah menggantikan penerjemah manusia dengan AI, melainkan menempatkan AI sebagai “alat bantu penerjemahan budaya”—AI melakukan identifikasi awal dan menghasilkan draf, sedangkan penerjemah manusia melakukan kalibrasi budaya dan mengambil keputusan strategis.
I. Problematika Penerjemahan Sosial-Budaya: Ketika Kata Mengandung Makna yang Tidak Dapat Dipindahkan Begitu Saja
1.1 Hakikat Permasalahan Unsur Budaya Spesifik
Unsur budaya spesifik (culture-specific items) merujuk pada kata atau frasa yang memiliki makna khusus dalam konteks budaya tertentu. Unsur tersebut membawa kepercayaan dan nilai-nilai suatu budaya, tetapi sering kali tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa lain. “Kekosongan leksikal” ini bukan sekadar persoalan kemampuan berbahasa, melainkan mencerminkan perbedaan mendasar dalam cara berbagai budaya mengklasifikasikan dunia dan membangun kerangka kognitifnya.
Sebagai contoh, dalam penerjemahan antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia, istilah “كرم الضيافة” (karam al-diyafah) yang dapat diterjemahkan sebagai “keramahan” atau “kemurahan hati dalam menjamu tamu” tidak hanya mengandung makna harfiah hospitality, tetapi juga mencerminkan seperangkat nilai budaya yang berkaitan dengan kehormatan, kewajiban sosial, dan hubungan antarmanusia. Jika hanya diterjemahkan secara harfiah, konsep tersebut berpotensi kehilangan bobot sosial dan nuansa emosionalnya ketika ditempatkan dalam konteks budaya Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa unsur budaya spesifik yang berkaitan dengan ekologi, struktur sosial, adat istiadat, dan istilah keagamaan merupakan salah satu hambatan utama dalam penerjemahan budaya.
1.2 Ketegangan Abadi antara Domestikasi dan Forenisasi
Dalam teori penerjemahan, pertentangan klasik antara domestikasi (domestication) dan forenisasi (foreignization) menjadi semakin nyata dalam praktik penerjemahan budaya. Strategi domestikasi mengubah unsur budaya bahasa sumber menjadi bentuk yang lebih familiar bagi pembaca sasaran. Strategi ini meningkatkan keterbacaan, tetapi berpotensi mengorbankan keunikan budaya sumber. Sebaliknya, strategi forenisasi mempertahankan karakteristik budaya bahasa sumber sehingga keaslian budaya lebih terjaga, tetapi dapat menimbulkan hambatan bagi pembaca.
Sebuah penelitian mengenai penerjemahan istilah budaya Indonesia ke dalam bahasa Inggris menunjukkan bahwa strategi penerjemahan tidak didominasi oleh satu ideologi tertentu, melainkan memperlihatkan karakter “adaptasi pragmatis”: forenisasi dan domestikasi masing-masing digunakan sekitar 40%, sementara 20% lainnya menggunakan strategi campuran. Secara khusus, peminjaman (borrowing) merupakan strategi yang paling sering digunakan, misalnya dengan mempertahankan istilah yeye dan menambahkan penjelasan deskriptif “the skipping rope game”. Strategi tersebut memungkinkan identitas budaya tetap dipertahankan sekaligus membantu pembaca sasaran memahami maknanya. Fleksibilitas strategi ini menunjukkan bahwa tantangan utama penerjemah adalah menyeimbangkan kesetiaan budaya dengan kejelasan komunikasi.
1.3 Ketakterbalikan Kehilangan Budaya
Bahkan ketika kombinasi strategi penerjemahan yang sangat cermat digunakan, kehilangan informasi dalam penerjemahan budaya tetap sulit dihindari. Analisis terhadap penerjemahan bahasa Inggris serial Netflix Indonesia Gadis Kretek menunjukkan bahwa sejumlah istilah budaya mengalami “penyempitan makna” (semantic reduction) selama proses penerjemahan. Misalnya, tubruk—sebuah cara menyeduh kopi—diterjemahkan menjadi plain brewed; buta—tokoh dalam suatu tarian—disederhanakan menjadi monster; sedangkan bude—sebutan untuk perempuan yang lebih tua—digeneralisasi menjadi aunt.
Meskipun terjemahan tersebut dapat berfungsi secara komunikatif, berbagai unsur yang melekat pada istilah aslinya menjadi hilang, termasuk konteks sosial tertentu, latar belakang sejarah, tingkat tutur bahasa, serta asosiasi ekonomi.
Akar persoalannya adalah bahwa “makna” sebuah unsur budaya spesifik tidak pernah hanya berupa fungsi referensialnya. Makna tersebut juga merupakan bagian dari jaringan makna dalam suatu budaya. Ketika sebuah kata dikeluarkan dari jaringan tersebut melalui proses penerjemahan, ketebalan maknanya hampir pasti menjadi lebih tipis, apa pun strategi yang digunakan.


