In Memoriam Kebaikan Almarhum Bapak Jayadi

 "Teman yang baik adalah teman yang mengingatkan ketika salah, mendukung ketika benar, dan tetap ada saat kita terpuruk maupun berjaya."

Ungkapan di atas selalu saya ingat karena definisi teman yang baik itu bukan teman yang selalu mendukung kita  dalam keadaan apapun entah benar atau salah tetapi di dalam Islam kalo benar didukung dan dibantu sedangkan kalo salah diingatkan. 

Kemudian kenapa ada nama "Bapak Jayadi"? Almarhum Bapak Jayadi adalah tetangga saya sesama jamaah masjid. Beliau adalah jamaah aktif dan anggota MTA (Majelis Tafsir Al-Qur'an). Majelis yang didirikan oleh Almarhum Ustadz Abdullah Thufail ini dikenal dengan pegangan prinsip Qur'an dan Sunnah yang kuat. termasuk diantaranya mengingatkan saudaranya jika ada yang salah. Kebetulan saya beberapa kali menjadi Imam sholat Isya dan dengan sikap sopan tapi tegas Bapak Jayadi mengingatkan saya untuk rokaat pertama dan kedua karena sifatnya bacaan  yang keras sudah bagus bacaan saya tapi kalo sudah masuk rokaat ketiga dan keempat yang bersifat sirr (bacaan senyap) saya kurang thuma'ninah atau terlalu cepat bacaannya sehingga kurang sempurna bacaan Alfatihah makmum. Sikap sopan tapi tegas ini sangat saya hargai dan jadi reminder seumur hidup. Andai Beliau tidak mengingatkan kesalahan yang sama akan terus berulang sedangkan kita sama-sama memahami salah satu pola komunikasi orang jawa itu "luwih apik meneng tinimbang rame" (Lebih baik diam daripada ribut/rame (dengan tetangga/teman/saudara). Allahumaghfirlahu warhamhu waafihi wa'fu anhu. 

Semoga Bapak Jayadi mendapatkan Pahala jariyah atau pahala yang mengalir karena sempat mengingatkan saya ketika saya salah atau lupa. 

5 exemplary research titles in ELT and linguistics

 5 exemplary research titles in ELT (English Language Teaching) and linguistics, along with descriptions of research gaps, novelty, and theoretical contributions

Here are 5 exemplary research titles in ELT (English Language Teaching) and linguistics, along with descriptions of research gaps, novelty, and theoretical contributions suitable for current scholarly work:

  1. "The Effectiveness of Flipped Classroom Model in Improving Speaking Skills of EFL Learners"

    • Gap: Limited empirical studies on flipped classroom specifically targeting speaking skills in EFL contexts.

    • Novelty: Application of flipped classroom pedagogical design with interactive digital tools to a local EFL classroom setting.

    • Theoretical Contribution: Expands understanding of learner autonomy and constructivist learning theories in technology-enhanced environments.

  2. "Investigating Code-Switching Strategies Among Bilingual English and Indonesian Speakers in Classroom Discourse"

    • Gap: Few studies analyze pragmatic functions of code-switching in bilingual classrooms in Indonesia.

    • Novelty: Focus on sociolinguistic and discourse analytic perspectives in naturalistic educational settings.

    • Theoretical Contribution: Enriches pragmatics and bilingual education theories by highlighting communicative functions in multilingual classrooms.

  3. "The Role of Culture in Enhancing Pragmatic Competence of Indonesian EFL Learners"

    • Gap: Scarce research linking cultural awareness explicitly to pragmatic competence development in Indonesian contexts.

    • Novelty: Experimental integration of cultural modules into ELT curriculum with measured impact on speech act performance.

    • Theoretical Contribution: Strengthens intercultural communicative competence models within second language acquisition theory.

  4. "A Corpus-Based Study of Error Patterns in Academic Writing by Indonesian University Students"

    • Gap: Lack of large-scale corpus studies detailing specific grammatical and lexical errors by Indonesian EFL academic writers.

Sci-Hub Diblokir di India

 


Sci-Hub Diblokir di India

Akses ke Sci-Hub di India kini menjadi semakin sulit setelah tiga perusahaan raksasa penerbit akademik (Elsevier, Wiley, dan American Chemical Society) meminta pengadilan New Delhi memblokir Sci-Hub dan proyek baru Sci-Net. Pengadilan mengabulkan permintaan tersebut, dan dalam tiga hari situs-situs tersebut harus diblokir oleh penyedia layanan internet India. Akibatnya, mahasiswa dan peneliti hanya bisa mengakses situs ini dengan alat bypass sensor (VPN, TOR).

Awal Permasalahan
Upaya ini sudah dimulai sejak 2020 ketika penerbit menggugat Sci-Hub dan Library Genesis. Kasus ini menimbulkan protes dari peneliti India, dan sekitar 2.000 tanda tangan terkumpul mendukung akses terbuka. Akibatnya, akun Twitter Sci-Hub diblokir pada awal 2021, dan Sci-Hub harus menghentikan rilis makalah baru sesuai perintah pengadilan. Namun, sidang berkali-kali ditunda tanpa keputusan akhir.

Mengapa Sci-Hub Berhenti
Selain perintah pengadilan, pada 2022 sebagian besar universitas menggunakan otentikasi dua faktor sehingga Sci-Hub tak lagi bisa mengakses perpustakaan secara otomatis. Meskipun begitu, masalah ini dianggap kecil karena banyak jurnal sudah open access. Namun, harapan transisi penuh ke open access tidak terwujud.

Sci-Net Diluncurkan 2025
Karena banyak pertanyaan soal ketersediaan makalah baru, pada April 2025 Sci-Net diluncurkan, proyek berbasis komunitas dengan insentif berbasis blockchain untuk berbagi makalah. Penerbit menggugat Sci-Net, mengklaim melanggar perintah 2021 dan menuntut pemblokiran makalah dari Elsevier, Wiley, dan ACS. Penulis menilai ini tidak logis dan ilegal karena Sci-Net adalah proyek berbeda.

LIFE BEGINS AT 40

 Dalam tradisi Islam, usia 40 tahun sering dianggap sebagai batas penting antara “masa muda” dan “masa kedewasaan penuh” (tua secara spiritual).

📜 Dasar dalam Al-Qur’an:
Dalam QS. Al-Ahqaf ayat 15, Allah berfirman:

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً
“Sehingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur empat puluh tahun…”

Ayat ini dijadikan dasar oleh banyak ulama bahwa usia 40 tahun adalah puncak kematangan akal, jiwa, dan tanggung jawab.

Kelayakan PAR dalam 35 Hari Riset Pengabdian Masyarakat for University Students

 ⏳ 35 hari (±1 bulan) memang waktu yang sangat singkat untuk menerapkan PAR (Participatory Action Research) secara ideal, karena PAR biasanya mencakup siklus berulang: perencanaan → aksi → refleksi → revisi → aksi lagi → refleksi lagi.

Mari kita bahas dengan lebih terstruktur:


🔎 1. Kelayakan PAR dalam 35 Hari

  • Bisa diterapkan, tetapi terbatas.
    Kamu mungkin hanya sempat menjalankan satu siklus PAR (plan–act–observe–reflect) tanpa sempat mengulang siklus berikutnya.

  • Fokusnya harus sangat sempit.
    Misalnya hanya satu masalah spesifik yang bisa diintervensi cepat (contoh: membuat jadwal pengelolaan sampah, membuat kelas literasi sederhana, atau mendampingi posyandu).

  • Tantangannya:

    • Waktu refleksi dan evaluasi kurang panjang → dampak jangka panjang sulit diukur.

    • Tidak semua partisipan bisa aktif berkolaborasi penuh dalam waktu sesingkat itu.


🔄 2. Metode Lain yang Lebih Tepat untuk Waktu Singkat

Jika waktunya terbatas, kamu bisa mempertimbangkan metode penelitian pengabdian masyarakat yang lebih ringan dan cepat, misalnya:

MetodeKelebihanKesesuaian dengan 35 Hari
Community-based Project (Proyek berbasis komunitas)Fokus pada hasil nyata (produk, pelatihan, layanan), tidak perlu siklus penelitian berulang.✅ Sangat cocok – cukup lakukan baseline survey singkat → laksanakan proyek → evaluasi.
Service-LearningMahasiswa belajar sambil mengabdi, dengan laporan refleksi.✅ Cocok, karena refleksi bisa dilakukan mingguan, tanpa perlu siklus PAR penuh.
Rapid Rural Appraisal (RRA)Metode cepat untuk menggali masalah & potensi desa (wawancara, FGD, observasi cepat).✅ Cocok di awal KKN untuk identifikasi masalah & membuat intervensi singkat.
Descriptive Case StudyMenggambarkan situasi atau intervensi tertentu secara detail.✅ Cocok jika tujuannya lebih pada dokumentasi hasil dan bukan siklus aksi berulang.

💡 Saran Praktis

Jika hanya 35 hari, sebaiknya:

  1. Gunakan kombinasi RRA + Community Project

    • Minggu 1: identifikasi masalah (RRA, wawancara, FGD).

    • Minggu 2–4: laksanakan proyek intervensi (pelatihan, penyuluhan, perbaikan fasilitas).

    • Akhir: lakukan evaluasi sederhana (kuesioner kepuasan, wawancara dampak).

  2. Dokumentasikan perubahan → bisa jadi bahan laporan atau publikasi.

  3. Jika tetap ingin PAR, jelaskan dalam laporan bahwa hanya dilakukan satu siklus karena keterbatasan waktu (ini wajar dalam penelitian lapangan berbasis KKN).

10 contoh penelitian pengabdian dengan model KKN Inovatif-Transformatif

 📌 Inti dari model KKN-penelitian pengabdian yang transformatif adalah:

Ada baseline (kondisi awal masyarakat).

Ada intervensi nyata (program yang dilakukan mahasiswa).

Ada outcome terukur (perubahan signifikan yang bisa dibuktikan dengan data, bukan hanya cerita kegiatan).

Berikut saya sebutkan 10 contoh penelitian pengabdian dengan model KKN (Kuliah Kerja Nyata) mahasiswa yang tidak hanya bersifat activity report, tetapi benar-benar membawa perubahan signifikan dalam masyarakat (the real community service):

🔟 Contoh Penelitian Pengabdian Model KKN

Pemberdayaan UMKM Lokal dengan Digital Marketing

Mahasiswa melatih pemilik warung dan pengusaha kecil menggunakan media sosial, marketplace, dan aplikasi kasir digital → hasilnya omzet naik 30–50% dalam 3 bulan.

KKN Pertanian Organik Berkelanjutan

Masyarakat desa dilatih membuat pupuk kompos, pestisida nabati, dan teknik tanam organik → produksi pertanian meningkat signifikan, biaya pupuk kimia berkurang drastis.

Program Literasi Digital & Anti-Hoaks di Desa

Pelatihan literasi media bagi remaja dan perangkat desa → setelah program, 70% masyarakat mampu membedakan informasi palsu dan lebih bijak dalam bermedia sosial.

Asbāb ẓāhir dan Sunnatullah

 

1. Asbāb ẓāhir (sebab-sebab lahiriah) dalam Islam

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia menghadapi hukum sebab-akibat. Misalnya, orang lapar harus makan agar kenyang, orang sakit minum obat agar sembuh, petani menanam agar panen. Semua itu disebut asbāb ẓāhir (sebab-sebab yang dapat diindera).

Islam membolehkan bahkan menganjurkan menggunakan asbāb ẓāhir, selama tidak bertentangan dengan syariat. Namun, seorang Muslim meyakini bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah, bukan semata-mata karena sebab itu sendiri.

🔹 Contoh:

  • Nabi ﷺ pernah bersabda: “Berobatlah, wahai hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

  • Saat hijrah, Nabi ﷺ tetap bersembunyi di gua Tsur dan membuat strategi, walau beliau yakin Allah-lah yang menjaga keselamatan.

👉 Jadi, hukum menggunakan sebab-sebab lahiriah mubah bahkan bisa wajib (misalnya makan untuk menjaga hidup, belajar untuk mencari ilmu), dengan syarat hati tetap bergantung pada Allah.