Monday, February 16, 2026

Ekosistem Publikasi Berkelanjutan: Membangun Budaya Menulis, Sitasi, dan Knowledge Impact di PTKI

 A. Pendahuluan: Visi Besar PTKI

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) memiliki posisi strategis tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat peradaban dan pencerahan (center of excellence and enlightenment). Publikasi ilmiah adalah jembatan antara tradisi keilmuan klasik Islam (yang kaya akan manuskrip dan kajian sanad) dengan tuntutan akademik modern yang mengutamakan inovasi, keterbukaan, dan dampak global.

Tantangan utama PTKI:

  1. Rendahnya Kultur Menulis: Masih adanya anggapan bahwa menulis adalah tugas akhir (skripsi/tesis) semata, bukan gaya hidup akademik.

  2. Gap Sitasi: Karya dosen dan mahasiswa PTKI seringkali tidak tersitasi karena kurangnya visibilitas dan belum terbiasanya merujuk karya ilmiah terkini.

  3. Dampak Terbatas: Penelitian hanya menjadi "penghuni rak perpustakaan" dan tidak menjawab problem riil umat atau berkontribusi pada kebijakan publik.


B. Pilar Utama Ekosistem Publikasi Berkelanjutan

1. Budaya Menulis: Dari Beban Menjadi Kebutuhan

Budaya menulis tidak bisa instan; ia harus ditanamkan melalui pendekatan sistemik dan humanis.

  • Literasi Terintegrasi: Memasukkan pelatihan menulis artikel jurnal, opini, dan policy brief ke dalam kurikulum, bukan hanya di mata kuliah Bahasa Indonesia.

  • Riset Kolaboratif: Mendorong riset berbasis klaster (dosen senior, dosen yunior, dan mahasiswa) dengan luaran publikasi yang jelas.

  • Menulis untuk Publik: Selain jurnal akademik, dorong publikasi populer di media massa atau platform digital tentang isu-isu keagamaan kontemporer. Ini membangun kepercayaan diri penulis.

  • Rutinitas Menulis: Program seperti "One Day One Paragraph" atau writing retreat berkala.

2. Budaya Sitasi: Etika dan Rekam Jejak Ilmiah

Sitasi adalah napas dari keberlanjutan ilmu pengetahuan. Di PTKI, budaya sitasi seringkali terkendala oleh keterbatasan akses dan kebiasaan merujuk kitab kuning tanpa konteks akademik modern.

  • Penguatan Manajemen Referensi: Pelatihan penggunaan aplikasi seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote secara masif dan berkelanjutan.

  • Menjembatani Klasik dan Kontemporer: Mendorong dosen untuk mengontekstualisasikan pemikiran ulama klasik (turats) ke dalam isu-isu terkini, dan merujuk pada jurnal ilmiah terkait sebagai pembanding.

  • Akuntabilitas Akademik: Menanamkan kesadaran bahwa sitasi adalah bentuk tanggung jawab keilmuan dan penghargaan terhadap karya orang lain, sekaligus menghindari plagiarisme.

  • Membangun Jaringan Sitasi: Mendorong dosen untuk saling mensitasi karya rekan se-PTKI jika relevan, untuk memperkuat basis pengetahuan internal sebelum didialogkan dengan dunia internasional.

3. Knowledge Impact: Dari Publikasi ke Solusi Nyata

Dampak keilmuan (knowledge impact) adalah ukuran seberapa jauh publikasi mampu mengubah cara pandang, kebijakan, atau praktik di masyarakat.

  • Riset Berbasis Masalah (Problem-Focused Research): Penelitian harus diarahkan pada isu-isu strategis seperti moderasi beragama, kerukunan umat, ekonomi syariah, dan kesehatan mental berbasis spiritualitas.

  • Diseminasi Hasil Riset: Publikasi tidak berhenti di jurnal. Hasil riset harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami publik (melalui media sosial, seminar, atau workshop).

  • Kolaborasi dengan Stakeholder: Melibatkan Kementerian Agama, ormas Islam, dan pesantren sejak perencanaan riset hingga implementasi hasil.

  • Indikator Alternatif (Altmetrics): Memantau bagaimana publikasi PTKI didiskusikan, diunduh, dan digunakan di luar dunia akademik (misalnya, di media sosial, dokumen kebijakan, atau modul pelatihan).


C. Strategi Implementasi di PTKI

Fase 1: Penguatan Fondasi Internal (Tahun 1-2)

  1. Revisi Kebijakan: Membuat kebijakan bahwa publikasi di jurnal terakreditasi adalah syarat wajib kenaikan jabatan fungsional dan kelulusan mahasiswa pascasarjana.

  2. Pembentukan Pusat Penulisan (Writing Center): Membantu dosen dan mahasiswa dalam editing, proofreading, dan translate artikel.

  3. Insentif Jelas: Memberikan insentif finansial atau penghargaan non-finansial bagi penulis yang berhasil publikasi di jurnal bereputasi (terindeks Scopus/WoS) atau yang artikelnya banyak diunduh.

Fase 2: Pengembangan Jaringan dan Reputasi (Tahun 2-4)

  1. Membangun Jurnal Berkualitas: Meningkatkan tata kelola jurnal internal PTKI agar terakreditasi Sinta 1/2 dan siap terindeks global.

  2. Kerjasama Lintas PTKI: Membangun konsorsium publikasi antar PTKI untuk menyelenggarakan konferensi internasional bersama dan menerbitkan prosiding atau jurnal kolaboratif.

  3. Visiting Researcher:* Mengirim dosen untuk menjadi peneliti tamu di universitas luar negeri untuk membangun jejaring dan meningkatkan kualitas riset.

Fase 3: Optimalisasi Dampak (Tahun 4-5 ke atas)

  1. Policy Brief Rutin: Setiap fakultas/pascasarjana wajib menghasilkan policy brief dari hasil riset dosennya yang diserahkan ke DPR/DPRD atau Kementerian.

  2. Repositori Institusi Terbuka: Memastikan semua output penelitian (termasuk data mentah) tersimpan dalam repositori yang mudah diakses publik (Open Access).

  3. Penghargaan Berbasis Dampak: Membuat anugerah tahunan untuk publikasi dengan dampak sosial tertinggi, bukan hanya jumlah sitasi terbanyak.


D. Indikator Keberhasilan

  • Input: Meningkatnya jumlah proposal riset kolaboratif.

  • Proses: Meningkatnya partisipasi dalam pelatihan menulis dan penggunaan Mendeley/Zotero.

  • Output: Meningkatnya jumlah publikasi di jurnal terindeks Sinta 2, Scopus, dan Web of Science.

  • Outcome: Meningkatnya jumlah sitasi lintas PTKI dan munculnya nama PTKI dalam pemeringkatan nasional (Webometrics, Sinta).

  • Impact: Dihasilkannya kebijakan publik di bidang keagamaan yang merujuk pada riset PTKI, atau meningkatnya literasi keagamaan moderat di masyarakat.


E. Penutup

Membangun ekosistem publikasi berkelanjutan di PTKI adalah investasi jangka panjang. Ini bukan sekadar mengejar angka akreditasi, melainkan menghidupkan kembali semangat ijtihad dan tradisi intelektual Islam yang pernah berjaya. Dengan budaya menulis yang kokoh, etika sitasi yang kuat, dan fokus pada dampak keilmuan, PTKI akan menjelma menjadi mercusuar peradaban yang tidak hanya menerangi umat, tetapi juga diakui percikannya oleh dunia.

No comments:

Post a Comment