Kondisi Masyarakat Arab Saat Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Ketika
Nabi Muhammad SAW dilahirkan, masyarakat Arab berada dalam masa yang dikenal
sebagai zaman jahiliyah, yaitu masa kegelapan moral, akidah, dan sosial.
Salah satu praktik yang sangat keji pada masa itu adalah mengubur bayi
perempuan hidup-hidup, karena mereka menganggap kelahiran anak perempuan
sebagai aib dan kehinaan bagi keluarga. Al-Qur’an mengabadikan kondisi ini
dalam Surah An-Nahl ayat 58–59:
“Dan
apabila seseorang dari mereka diberi kabar tentang (kelahiran) anak perempuan,
wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan
dirinya dari orang banyak karena kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah
dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan atau membenamkannya ke dalam
tanah (hidup-hidup)? Ingatlah, alangkah buruknya keputusan yang mereka tetapkan
itu.”
(QS. An-Nahl [16]: 58–59, Terjemahan Kemenag RI)
Selain
itu, masyarakat Arab sangat mudah tersulut konflik dan peperangan.
Perselisihan sepele, seperti seekor unta yang minum di mata air milik kabilah
lain, dapat memicu perang antarsuku yang berlangsung puluhan tahun. Bahkan
diceritakan, seekor unta yang dipanah hingga susunya bercampur darah menjadi
pemicu perang besar yang berlangsung hingga 40 tahun.
Dari sisi
moral, perzinahan merajalela, hingga dalam banyak kasus seseorang tidak
yakin apakah anak yang dilahirkan benar-benar anak kandungnya sendiri. Praktik poligami
dilakukan tanpa batas, termasuk menikahi dua perempuan yang bersaudara atau
bahkan menikahi janda ayahnya sendiri—sesuatu yang kelak diharamkan secara
tegas dalam Islam.
Nilai-Nilai
Positif dalam Masyarakat Arab
Meski
demikian, masyarakat Arab juga memiliki sejumlah sifat positif yang
kelak menjadi modal penting bagi penyebaran Islam. Mereka dikenal dermawan
dalam menjamu tamu dan menolong sesama, meskipun kedermawanan itu sering
disalahgunakan untuk hal negatif seperti minum khamr dan berjudi. Uniknya,
hasil perjudian terkadang digunakan untuk membantu fakir miskin, menunjukkan
adanya naluri sosial meskipun belum terarah dengan benar.
Mereka
juga sangat menjunjung tinggi janji dan kehormatan, tidak suka
mengingkari kesepakatan. Masyarakat Arab memiliki karakter berani, pantang
mundur, dan tidak mau hidup dalam kehinaan. Mereka lebih memilih mati demi
mempertahankan kemuliaan dan kehormatan. Kehidupan sederhana ala Badui yang
keras dan mandiri ini menjadi pra-syarat mental bagi lahirnya para
pengemban risalah Islam yang kelak menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia.
Peristiwa Penting dalam Kehidupan Nabi Muhammad SAW
Kelahiran
Nabi Muhammad SAW
Nabi
Muhammad SAW lahir di Makkah sebagai bayi bernama Muhammad bin Abdullah.
Pada malam kelahirannya, terjadi berbagai peristiwa luar biasa sebagai tanda
kelahiran seorang nabi akhir zaman. Di antaranya, runtuhnya 14 balkon Istana
Kisra di Persia, padamnya api abadi yang disembah kaum Majusi, serta
runtuhnya beberapa bangunan ibadah di wilayah Buhairah.
Peristiwa-peristiwa ini dipahami oleh para ulama sebagai simbol runtuhnya
kekuasaan dan kepercayaan batil.
Masa
Penyusuan (0–4 Tahun)
Sejak
bayi hingga usia sekitar empat tahun, Nabi Muhammad SAW disusukan oleh Halimah
binti Abi Dzu’aib As-Sa’diyyah. Tradisi ini lazim di kalangan Arab agar
anak tumbuh di lingkungan pedesaan dengan udara bersih dan karakter yang masih
murni. Awalnya, tidak ada wanita yang mau menyusui Nabi karena beliau yatim.
Namun, setelah Halimah mengambil beliau, terjadi banyak keberkahan: air susunya
menjadi melimpah, unta tuanya yang sebelumnya kering mendadak menghasilkan
susu, domba-dombanya pun subur, dan keledai yang ditungganginya menjadi kuat.
Sejak saat itu, kehidupan keluarga Halimah dipenuhi keberkahan.
Peristiwa
Pembelahan Dada (Usia 4 Tahun)
Pada usia
sekitar empat tahun, terjadi peristiwa agung yaitu pembelahan dada Nabi
Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril AS. Hati beliau dibersihkan dengan air
Zamzam menggunakan bejana emas. Anak-anak yang melihat peristiwa ini mengira
Muhammad telah dibunuh dan berlari ketakutan. Namun, setelah ditemui kembali,
beliau dalam keadaan sehat, wajahnya berseri, dan peristiwa ini menjadi tanda
penyucian hati seorang nabi.
Wafatnya
Ibunda dan Kakek (Usia 6–8 Tahun)
Pada usia
enam tahun, Nabi Muhammad SAW ikut ibundanya, Siti Aminah, ke Madinah.
Dalam perjalanan pulang, ibunda beliau wafat, sehingga Nabi menjadi yatim
piatu. Selanjutnya, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, hingga
usia delapan tahun. Namun tak lama kemudian, kakeknya pun wafat, dan tanggung
jawab pengasuhan berpindah kepada pamannya, Abu Thalib.
Masa
Bersama Abu Thalib (Usia 8–12 Tahun)
Nabi
Muhammad SAW hidup bersama Abu Thalib dalam kondisi sederhana. Pada usia
sekitar sepuluh tahun, Makkah dilanda kekeringan hebat. Abu Thalib membawa
Muhammad kecil ke dekat Ka’bah, menyandarkan punggung beliau ke dinding Ka’bah
dan memohon hujan melalui perantaraan beliau. Tak lama kemudian, hujan turun
deras dan menghidupkan kembali lembah serta ladang yang gersang.
Perjalanan
ke Syam dan Pertemuan dengan Bahira (Usia 12 Tahun)
Pada usia
dua belas tahun, Nabi Muhammad SAW ikut Abu Thalib berdagang ke Syam. Di
perjalanan, mereka bertemu seorang rahib bernama Bahira, yang mengenali
tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad, seperti pohon dan batu yang seakan
tunduk kepadanya serta adanya stempel kenabian di bawah tulang bahunya.
Bahira memperingatkan Abu Thalib agar menjaga Muhammad dari ancaman pihak
Romawi.
Pernikahan
dengan Siti Khadijah (Usia 25 Tahun)
Ketika
berusia 25 tahun, Nabi Muhammad SAW dipercaya membawa dagangan milik saudagar
kaya dan terhormat, Siti Khadijah. Kejujuran, amanah, dan akhlak mulia
beliau membuat Siti Khadijah terkesan dan akhirnya melamar Nabi melalui
perantara keluarganya. Pernikahan ini menjadi fondasi rumah tangga yang penuh
ketenangan dan dukungan dakwah.
Renovasi
Ka’bah dan Hajar Aswad (Usia 35 Tahun)
Pada usia
35 tahun, Makkah dilanda banjir besar yang merusak Ka’bah. Saat renovasi,
terjadi perselisihan sengit antar kabilah tentang siapa yang berhak
mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya. Konflik hampir berujung perang.
Namun, dengan kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW, beliau mengusulkan solusi damai:
Hajar Aswad diletakkan di atas sorban, dan setiap pemimpin kabilah memegang
ujungnya, sementara Nabi sendiri yang meletakkannya di tempat semula. Solusi
ini diterima semua pihak.
Diangkat
Menjadi Rasul (Usia 40 Tahun) dan Sifat-Sifat Beliau
Pada usia
40 tahun, Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul Allah. Sejak sebelum
kenabian, beliau telah dikenal sebagai Al-Amin, orang yang paling jujur
dan terpercaya. Beliau sangat membenci syirik dan khurafat, serta tidak pernah
bersumpah atas nama berhala seperti Latta dan Uzza. Nabi juga menjauhi hiburan
yang melalaikan. Bahkan ketika suatu hari beliau tanpa sengaja menghadiri acara
hiburan, Allah menidurkan beliau hingga pagi hari sebagai bentuk penjagaan
Ilahi.
.webp)
No comments:
Post a Comment