Friday, February 6, 2026

Timeline Peristiwa Penting dalam Kehidupan Rasulullah SAW


Kondisi Masyarakat Arab Saat Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Ketika Nabi Muhammad SAW dilahirkan, masyarakat Arab berada dalam masa yang dikenal sebagai zaman jahiliyah, yaitu masa kegelapan moral, akidah, dan sosial. Salah satu praktik yang sangat keji pada masa itu adalah mengubur bayi perempuan hidup-hidup, karena mereka menganggap kelahiran anak perempuan sebagai aib dan kehinaan bagi keluarga. Al-Qur’an mengabadikan kondisi ini dalam Surah An-Nahl ayat 58–59:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar tentang (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan atau membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah, alangkah buruknya keputusan yang mereka tetapkan itu.”
(QS. An-Nahl [16]: 58–59, Terjemahan Kemenag RI)

Selain itu, masyarakat Arab sangat mudah tersulut konflik dan peperangan. Perselisihan sepele, seperti seekor unta yang minum di mata air milik kabilah lain, dapat memicu perang antarsuku yang berlangsung puluhan tahun. Bahkan diceritakan, seekor unta yang dipanah hingga susunya bercampur darah menjadi pemicu perang besar yang berlangsung hingga 40 tahun.

Dari sisi moral, perzinahan merajalela, hingga dalam banyak kasus seseorang tidak yakin apakah anak yang dilahirkan benar-benar anak kandungnya sendiri. Praktik poligami dilakukan tanpa batas, termasuk menikahi dua perempuan yang bersaudara atau bahkan menikahi janda ayahnya sendiri—sesuatu yang kelak diharamkan secara tegas dalam Islam.

Nilai-Nilai Positif dalam Masyarakat Arab

Meski demikian, masyarakat Arab juga memiliki sejumlah sifat positif yang kelak menjadi modal penting bagi penyebaran Islam. Mereka dikenal dermawan dalam menjamu tamu dan menolong sesama, meskipun kedermawanan itu sering disalahgunakan untuk hal negatif seperti minum khamr dan berjudi. Uniknya, hasil perjudian terkadang digunakan untuk membantu fakir miskin, menunjukkan adanya naluri sosial meskipun belum terarah dengan benar.

Mereka juga sangat menjunjung tinggi janji dan kehormatan, tidak suka mengingkari kesepakatan. Masyarakat Arab memiliki karakter berani, pantang mundur, dan tidak mau hidup dalam kehinaan. Mereka lebih memilih mati demi mempertahankan kemuliaan dan kehormatan. Kehidupan sederhana ala Badui yang keras dan mandiri ini menjadi pra-syarat mental bagi lahirnya para pengemban risalah Islam yang kelak menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia.


Peristiwa Penting dalam Kehidupan Nabi Muhammad SAW

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah sebagai bayi bernama Muhammad bin Abdullah. Pada malam kelahirannya, terjadi berbagai peristiwa luar biasa sebagai tanda kelahiran seorang nabi akhir zaman. Di antaranya, runtuhnya 14 balkon Istana Kisra di Persia, padamnya api abadi yang disembah kaum Majusi, serta runtuhnya beberapa bangunan ibadah di wilayah Buhairah. Peristiwa-peristiwa ini dipahami oleh para ulama sebagai simbol runtuhnya kekuasaan dan kepercayaan batil.

Masa Penyusuan (0–4 Tahun)

Sejak bayi hingga usia sekitar empat tahun, Nabi Muhammad SAW disusukan oleh Halimah binti Abi Dzu’aib As-Sa’diyyah. Tradisi ini lazim di kalangan Arab agar anak tumbuh di lingkungan pedesaan dengan udara bersih dan karakter yang masih murni. Awalnya, tidak ada wanita yang mau menyusui Nabi karena beliau yatim. Namun, setelah Halimah mengambil beliau, terjadi banyak keberkahan: air susunya menjadi melimpah, unta tuanya yang sebelumnya kering mendadak menghasilkan susu, domba-dombanya pun subur, dan keledai yang ditungganginya menjadi kuat. Sejak saat itu, kehidupan keluarga Halimah dipenuhi keberkahan.

Peristiwa Pembelahan Dada (Usia 4 Tahun)

Pada usia sekitar empat tahun, terjadi peristiwa agung yaitu pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril AS. Hati beliau dibersihkan dengan air Zamzam menggunakan bejana emas. Anak-anak yang melihat peristiwa ini mengira Muhammad telah dibunuh dan berlari ketakutan. Namun, setelah ditemui kembali, beliau dalam keadaan sehat, wajahnya berseri, dan peristiwa ini menjadi tanda penyucian hati seorang nabi.

Wafatnya Ibunda dan Kakek (Usia 6–8 Tahun)

Pada usia enam tahun, Nabi Muhammad SAW ikut ibundanya, Siti Aminah, ke Madinah. Dalam perjalanan pulang, ibunda beliau wafat, sehingga Nabi menjadi yatim piatu. Selanjutnya, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, hingga usia delapan tahun. Namun tak lama kemudian, kakeknya pun wafat, dan tanggung jawab pengasuhan berpindah kepada pamannya, Abu Thalib.

Masa Bersama Abu Thalib (Usia 8–12 Tahun)

Nabi Muhammad SAW hidup bersama Abu Thalib dalam kondisi sederhana. Pada usia sekitar sepuluh tahun, Makkah dilanda kekeringan hebat. Abu Thalib membawa Muhammad kecil ke dekat Ka’bah, menyandarkan punggung beliau ke dinding Ka’bah dan memohon hujan melalui perantaraan beliau. Tak lama kemudian, hujan turun deras dan menghidupkan kembali lembah serta ladang yang gersang.

Perjalanan ke Syam dan Pertemuan dengan Bahira (Usia 12 Tahun)

Pada usia dua belas tahun, Nabi Muhammad SAW ikut Abu Thalib berdagang ke Syam. Di perjalanan, mereka bertemu seorang rahib bernama Bahira, yang mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad, seperti pohon dan batu yang seakan tunduk kepadanya serta adanya stempel kenabian di bawah tulang bahunya. Bahira memperingatkan Abu Thalib agar menjaga Muhammad dari ancaman pihak Romawi.

Pernikahan dengan Siti Khadijah (Usia 25 Tahun)

Ketika berusia 25 tahun, Nabi Muhammad SAW dipercaya membawa dagangan milik saudagar kaya dan terhormat, Siti Khadijah. Kejujuran, amanah, dan akhlak mulia beliau membuat Siti Khadijah terkesan dan akhirnya melamar Nabi melalui perantara keluarganya. Pernikahan ini menjadi fondasi rumah tangga yang penuh ketenangan dan dukungan dakwah.

Renovasi Ka’bah dan Hajar Aswad (Usia 35 Tahun)

Pada usia 35 tahun, Makkah dilanda banjir besar yang merusak Ka’bah. Saat renovasi, terjadi perselisihan sengit antar kabilah tentang siapa yang berhak mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya. Konflik hampir berujung perang. Namun, dengan kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW, beliau mengusulkan solusi damai: Hajar Aswad diletakkan di atas sorban, dan setiap pemimpin kabilah memegang ujungnya, sementara Nabi sendiri yang meletakkannya di tempat semula. Solusi ini diterima semua pihak.

Diangkat Menjadi Rasul (Usia 40 Tahun) dan Sifat-Sifat Beliau

Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul Allah. Sejak sebelum kenabian, beliau telah dikenal sebagai Al-Amin, orang yang paling jujur dan terpercaya. Beliau sangat membenci syirik dan khurafat, serta tidak pernah bersumpah atas nama berhala seperti Latta dan Uzza. Nabi juga menjauhi hiburan yang melalaikan. Bahkan ketika suatu hari beliau tanpa sengaja menghadiri acara hiburan, Allah menidurkan beliau hingga pagi hari sebagai bentuk penjagaan Ilahi.

No comments:

Post a Comment