Saturday, February 7, 2026

Asal-Usul Sistem Pendidikan Modern

 VIDEO SUMMARY FROM: (1) RAHASIA ROCKEFELLER — Bagaimana Sekolah Didesain untuk Membentuk Pekerja, Bukan Pemikir - YouTube

Asal-Usul Sistem Pendidikan Modern

Setiap pagi, jutaan anak di seluruh dunia menjalani rutinitas yang hampir sama: mengenakan seragam, datang ke sekolah tepat waktu, duduk di ruang kelas dengan jadwal yang kaku, serta mengikuti aturan dan kebiasaan yang seragam. Pola ini tampak alami dan seolah sudah menjadi kodrat pendidikan. Namun, sesungguhnya sistem tersebut bukanlah sesuatu yang lahir secara alamiah, melainkan hasil dari sebuah rekayasa sosial yang dirancang secara sadar lebih dari satu abad lalu—dan ironisnya, bukan oleh para pendidik, melainkan oleh para industrialis.

Pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat, revolusi industri menciptakan kebutuhan besar akan tenaga kerja yang disiplin waktu, patuh terhadap perintah, dan tidak banyak bertanya. Pabrik-pabrik membutuhkan manusia yang dapat bekerja layaknya bagian dari mesin: efisien, konsisten, dan dapat dikendalikan. Dalam konteks inilah John D. Rockefeller, seorang raksasa industri minyak, melihat peluang besar untuk membentuk pendidikan sebagai alat produksi sosial. Melalui yayasan filantropinya, ia membantu membangun sistem pendidikan modern yang menyerupai pabrik, dengan tujuan utama bukan mencetak pemikir merdeka, melainkan pekerja yang patuh dan siap pakai.


Visi Rockefeller dan Pengaruh Industri terhadap Pendidikan

Rockefeller dikenal luas sebagai pengusaha minyak, tetapi warisan terbesarnya justru terletak pada pola pikir manusia modern yang ia bantu bentuk melalui sistem pendidikan. Revolusi industri menuntut tenaga kerja yang mampu mengoperasikan mesin, mengikuti instruksi, dan mematuhi jadwal yang ketat. Sementara itu, pendidikan sebelum era industri cenderung bersifat lokal, beragam, dan menumbuhkan diskusi, imajinasi, serta pemikiran kritis—semua kualitas yang dianggap tidak efisien bagi kepentingan industri.

Rockefeller berambisi membentuk generasi yang berpikir seragam, sehingga pengendalian sosial dapat dilakukan tanpa kekerasan. Pendidikan menjadi sarana paling efektif untuk tujuan ini, karena ia bekerja sejak usia dini dan membentuk kebiasaan, nilai, serta cara berpikir manusia secara perlahan namun mendalam.


Pendidikan sebagai Mesin Sosial: Logika Produksi Massal

Melalui Rockefeller Foundation, yang secara formal mengusung misi pendidikan dan kesehatan publik, pendidikan diubah menjadi alat produksi sosial. Rockefeller bekerja sama dengan Frederick Taylor—pelopor manajemen ilmiah—dan Andrew Carnegie, taipan baja, untuk mendirikan General Education Board pada tahun 1903. Lembaga ini tidak sekadar menyalurkan dana, tetapi merancang sistem pendidikan yang seragam.

Kurikulum distandardisasi, jadwal sekolah dibuat menyerupai jam kerja pabrik (dengan bel sebagai penanda mulai, istirahat, dan selesai), serta ketaatan lebih dihargai daripada rasa ingin tahu. Guru diposisikan layaknya mandor, mengawasi produktivitas siswa, sementara kepatuhan dan keseragaman dinilai lebih penting daripada eksplorasi intelektual. Pernyataan Rockefeller yang terkenal—“I do not want a nation of thinkers, I want a nation of workers”—menjadi cetak biru lahirnya sebuah peradaban baru yang berorientasi pada kontrol sosial.


Kurikulum Terstandar dan Pengendalian Pengetahuan

Dalam sistem ini, kebijaksanaan digantikan oleh kepatuhan struktural. Tugas rumah, ujian, dan laporan bukan sekadar alat evaluasi, tetapi mekanisme penyeragaman. Setelah dianggap berhasil di Amerika Serikat, model pendidikan ini menyebar ke Eropa, Jepang, dan wilayah kolonial, termasuk Hindia Belanda (Indonesia).

Sekolah berubah menjadi “pabrik manusia” yang membentuk generasi agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Meski tampak ideal secara administratif, sistem ini menanamkan sebuah mesin sosial yang menekan daya kritis dan kemampuan bertanya, dan hingga hari ini masih terus beroperasi.


Kurikulum sebagai Alat Pengkondisian Sosial

Pengendalian isi kurikulum menjadi langkah paling halus sekaligus paling berbahaya. Bagi para industrialis, kurikulum bukan sarana pencerahan, melainkan alat pembatasan cara berpikir. Mata pelajaran seperti filsafat, seni, dan sejarah kritis disingkirkan atau dipinggirkan, digantikan oleh aritmetika, keterampilan administratif, dan pelajaran teknis.

Siswa dilatih mengikuti prosedur tanpa mempertanyakan maknanya. Ketaatan dikemas sebagai disiplin, dan kepatuhan dibungkus sebagai moralitas. Pendidikan agama lebih menekankan kepatuhan formal daripada pembebasan spiritual, sementara sejarah diajarkan sebagai narasi tunggal yang menghapus konteks dan suara alternatif. Dengan demikian, kurikulum menjadi alat politik paling efektif, karena siapa pun yang menguasainya, menentukan masa depan sebuah bangsa.


Warisan Sistem Ini dalam Pendidikan Indonesia Pasca-Kemerdekaan

Indonesia mewarisi sistem pendidikan kolonial yang sejak awal dirancang untuk mencetak pegawai rendahan dan juru tulis, bukan pemimpin atau pemikir merdeka. Setelah kemerdekaan, perubahan yang terjadi sebagian besar bersifat simbolik—nama sekolah dan gelar diubah, tetapi struktur dasarnya tetap sama.

Sistem pendidikan masih menekankan hafalan, keseragaman, dan kepatuhan. Pendidikan agama cenderung kaku, sejarah sarat propaganda, dan pendidikan kewarganegaraan menyajikan kebenaran tunggal dari atas ke bawah. Melalui ujian, peringkat, dan penilaian, tumbuh budaya takut salah dan takut berbeda. Siswa diajari menjawab, bukan bertanya; meniru, bukan mencipta.


Dari Sekolah ke Dunia Kerja: Pengkondisian Seumur Hidup

Ritme sekolah meniru jalur produksi pabrik: bel seperti sirene, bangku berbaris, guru mengawasi. Pola pikir ini terbawa ke dunia kerja, di mana karyawan dituntut patuh pada hierarki dan jadwal. Mereka yang menyimpang dianggap bermasalah. Ketaatan menjadi sinonim kesuksesan.

Inilah bentuk kolonialisasi mental, di mana sistem tidak lagi membutuhkan penjajah eksternal karena manusia telah menginternalisasi kontrol tersebut. Kepatuhan bahkan dibanggakan, jarang dipertanyakan.


Ironi Pendidikan dan Budaya Kerja Modern

Masyarakat lebih menghargai nilai daripada nalar, ijazah daripada gagasan, dan kepatuhan daripada keberanian berpikir. Lulusan berharap kebebasan, tetapi justru masuk ke dunia kerja yang memperkuat pola lama: lembur dianggap loyalitas, kelelahan dipuja sebagai prestasi, dan kritik dipandang sebagai ancaman.

Bahkan wirausaha sering kali mereplikasi hierarki kaku yang sama, menyebutnya profesionalisme—padahal itu bentuk lain dari kontrol.


Era Digital: Kelas Baru, Kurikulum Baru

Di era digital, pendidikan tidak lagi terbatas pada sekolah. Media sosial menjadi ruang kelas baru, algoritma menggantikan guru, dan nilai digantikan oleh jumlah pengikut serta tingkat keterlibatan. Manusia berlomba bukan untuk memahami, tetapi untuk tidak tertinggal dalam ujian digital yang tak pernah berakhir.

Ini adalah versi baru dari mesin Rockefeller: tanpa hukuman fisik, tetapi dengan ganjaran virtual yang memperkuat kepatuhan dan kecanduan.


Kesimpulan

Sistem pendidikan modern sejak awal dirancang untuk menciptakan manusia yang efisien, produktif, dan mudah dikendalikan, bukan pemikir yang bebas dan kritis. Sistem ini menyebar secara global, tertanam kuat dalam pendidikan nasional—termasuk Indonesia—dan berlanjut hingga dunia kerja serta ruang digital.

Kemajuan yang ditawarkan sering kali hanyalah rantai modern yang dibungkus teknologi dan kenyamanan. Menyadari desain ini adalah langkah pertama untuk mempertanyakannya. Dan mempertanyakan sistem adalah awal dari kemungkinan transformasi pendidikan menuju pembebasan, bukan sekadar kepatuhan.

No comments:

Post a Comment