Sunday, February 1, 2026

Misi Kenabian Jilid 1 & 2

 


MISI KENABIAN JILID 1 & 2 - Google Drive


Timeline Kehidupan Nabi Muhammad SAW (0–40 Tahun)

 1. Kelahiran Nabi Muhammad SAW (Tahun Gajah, 571 M)

Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Makkah pada Tahun Gajah, tahun yang sama dengan peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan Abrahah dengan gajah-gajahnya. Allah SWT menggagalkan serangan tersebut melalui burung Ababil sebagaimana diabadikan dalam Surah al-Fil. Peristiwa ini menjadi isyarat awal bahwa kelahiran Muhammad membawa misi besar bagi penjagaan tauhid dan kemuliaan Ka’bah.

Beliau lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat ketika Nabi masih dalam kandungan. Sejak awal kehidupan, Allah SWT telah menyiapkan Nabi Muhammad SAW melalui ujian kehilangan figur ayah, yang kelak membentuk kepekaan sosial, empati, dan keteguhan batin dalam memimpin umat.


2. Masa Balita: Disusui di Pedalaman Bani Sa‘ad

Sesuai tradisi bangsa Arab, Nabi Muhammad SAW diasuh dan disusui oleh Halimah as-Sa‘diyyah di perkampungan Bani Sa‘ad. Tujuannya adalah agar anak tumbuh di lingkungan yang bersih, sehat, dan menggunakan bahasa Arab yang fasih. Selama bersama Halimah, keluarga tersebut merasakan banyak keberkahan, seperti rezeki yang melimpah dan ternak yang subur.

Pengasuhan di pedalaman membentuk karakter Nabi yang kuat, sederhana, dan dekat dengan alam. Lingkungan tersebut juga mengasah ketahanan fisik, kejelasan artikulasi bahasa, serta kecerdasan emosional—modal penting bagi seorang pemimpin dan komunikator risalah ilahi.


3. Usia 4 Tahun: Peristiwa Pembelahan Dada

Pada usia sekitar empat tahun, Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa pembelahan dada (shaqq al-shadr) oleh Malaikat Jibril. Hati beliau dibersihkan dari segala potensi keburukan dan dipenuhi dengan iman, hikmah, dan cahaya. Peristiwa ini disaksikan oleh anak-anak lain dan membuat Halimah khawatir sehingga mengembalikan Nabi kepada ibunya.

Peristiwa pembelahan dada merupakan bentuk penyucian spiritual langsung dari Allah SWT sebagai persiapan bagi tugas kenabian di masa depan. Hal ini menegaskan bahwa kepribadian Nabi Muhammad SAW dibentuk melalui bimbingan ilahi, bukan semata pengalaman sosial biasa.

Saturday, January 31, 2026

Kerangka teori prinsip politeness dan impoliteness dalam kajian cyberpragmatics

 Kerangka teori prinsip politeness dan impoliteness dalam cyberpragmatics mengadaptasi teori klasik pragmatics ke komunikasi digital, di mana fitur platform seperti anonimitas dan multimodalitas memengaruhi interpretasi makna.

Kerangka Teori Utama

Cyberpragmatics, yang dikembangkan oleh Francisco Yus, merupakan cabang pragmatics yang mempelajari pembentukan makna dalam komunikasi berbasis internet dengan lensa teori relevansi Sperber & Wilson. Teori politeness Brown & Levinson (1987) menjadi fondasi, di mana politeness melibatkan strategi mitigasi face-threatening acts (FTA) melalui positive politeness (solidaritas) dan negative politeness (otonomi), sementara impoliteness ala Culpeper (1996, 2011) melibatkan serangan langsung atau sarkasme terhadap face lawan bicara. Leech's politeness maxims (tact, generosity, approbation, modesty, agreement, sympathy) juga diadaptasi untuk menganalisis pelanggaran norma kesopanan di media sosial.

Landasan Teori dalam Cyberpragmatics

LOGO RUMAH JURNAL UIN SALATIGA




 

Linguistic Strategies in Print Media Coverage

 This study is anchored in Critical Linguistics (CL) and Critical Discourse Analysis (CDA), particularly drawing on Roger Fowler’s foundational work on language, power, and ideology in media discourse. Fowler et al. (1979) argue that language is not a neutral medium for reporting reality but a socially constructed system that reflects and reinforces power relations. From this perspective, journalistic texts—especially crime reports—are ideological artifacts shaped by institutional constraints, political pressures, and sociocultural hierarchies.

Central to this framework is Fowler’s theory of transitivity, which examines how grammatical choices assign agency, responsibility, and blame (Fowler, 1991). In crime reporting, transitivity patterns determine whether actors are foregrounded as active agents or backgrounded through passive constructions and nominalizations. Such choices are particularly consequential when reporting murders involving prominent personalities, as they influence how perpetrators, victims, and institutions are represented and morally evaluated.

The framework also incorporates the concept of nominalization, a linguistic strategy that transforms actions and processes into abstract nouns, often obscuring agency and mitigating responsibility (Fairclough, 1995). Nominal references to suspects, such as titles or institutional affiliations, function as discursive resources that either legitimize or delegitimize individuals based on their social status. These strategies intersect with power asymmetries, allowing journalists to navigate legal risks, personal safety concerns, and political pressures while still fulfilling their reporting roles.

Additionally, the study is informed by media framing theory, which explains how journalists select, emphasize, and structure information to guide audience interpretation (Entman, 1993). Linguistic framing in headlines and leads plays a crucial role in shaping public perceptions of justice, guilt, and innocence. By integrating Critical Linguistics with framing theory, this framework enables a nuanced analysis of how linguistic choices in crime reporting both reflect and reproduce social inequalities and power relations within the Kenyan sociopolitical context.