Kerangka teori prinsip politeness dan impoliteness dalam cyberpragmatics mengadaptasi teori klasik pragmatics ke komunikasi digital, di mana fitur platform seperti anonimitas dan multimodalitas memengaruhi interpretasi makna.
Kerangka Teori Utama
Cyberpragmatics, yang dikembangkan oleh Francisco Yus, merupakan cabang pragmatics yang mempelajari pembentukan makna dalam komunikasi berbasis internet dengan lensa teori relevansi Sperber & Wilson. Teori politeness Brown & Levinson (1987) menjadi fondasi, di mana politeness melibatkan strategi mitigasi face-threatening acts (FTA) melalui positive politeness (solidaritas) dan negative politeness (otonomi), sementara impoliteness ala Culpeper (1996, 2011) melibatkan serangan langsung atau sarkasme terhadap face lawan bicara. Leech's politeness maxims (tact, generosity, approbation, modesty, agreement, sympathy) juga diadaptasi untuk menganalisis pelanggaran norma kesopanan di media sosial.
Landasan Teori dalam Cyberpragmatics
Dalam cyberpragmatics, politeness menjadi relational work yang dinegosiasikan melalui affordances digital seperti emoji, GIF, dan like button untuk mengkompensasi kurangnya isyarat nonverbal, sehingga mengurangi FTA. Impoliteness sering meningkat karena anonimitas dan jarak emosional, menghasilkan strategi seperti bald-on-record insults, sarcasm, atau dogpiling di komentar Instagram, sebagaimana terlihat pada studi netizen Indonesia. Landasan ini menekankan konteks platform-spesifik, di mana norma netiquette dan multimodalitas menentukan apakah ujaran dianggap sopan atau kasar.
Prinsip Politeness
Positive politeness: Dibangun melalui pujian, emoji 😊, atau inclusive pronouns untuk solidaritas di chat informal.
Negative politeness: Menggunakan hedges ("mungkin"), indirect requests, atau disclaimers untuk menghormati otonomi, umum di email mahasiswa-dosen.
Prinsip Impoliteness
Bald on-record: Kritik langsung tanpa mitigasi, seperti sarkasme di komentar politik.
Positive/negative impoliteness: Mengabaikan atau mengejek face melalui mockery, ghosting, atau emoji sarkastik 🙄.
References
Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: Some Universals in Language Usage. Cambridge University Press.
Culpeper, J. (1996). Towards an anatomy of impoliteness. Journal of Pragmatics, 25(3), 349–367.
Culpeper, J. (2011). Impoliteness: Using Language to Cause Offence. Cambridge University Press.
Yus, F. (2011). CyberPragmatics: Internet-Mediated Communication in Context. John Benjamins.
Yusuf, A. B. (2025). Cyberpragmatics of politeness in netizens’ comments on the Indonesian President’s Instagram posts. Lingue: Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra, 7(1), 144–156. https://doi.org/10.33477/lingue.v7i1.9455
Pakfaizal. (2025). What is cyberpragmatics? https://www.pakfaizal.com/2025/12/cyberpragmatics-is-branch-of-pragmatics.html
Kerangka teori (theoretical framework) prinsip politeness dan impoliteness dalam kajian cyberpragmatics pada dasarnya mengintegrasikan teori kesantunan klasik (mis. Brown & Levinson) dengan perkembangan teori (im)politeness gelombang kedua (Culpeper, Sifianou, dsb.) ke dalam konteks interaksi bermediasi komputer (CMC) seperti chat, media sosial, dan email. Dalam cyberpragmatics, fokus utama adalah bagaimana penutur mengelola face, (im)politeness, dan norma sosial melalui fitur khas “online” seperti emotikon, delay respons, anonimity, dan multimodalitas pesan.
Kerangka teori (im)politeness dalam cyberpragmatics
Secara umum, kerangka teori yang lazim dipakai dalam penelitian cyberpragmatics (im)politeness meliputi:
Teori kesantunan klasik Brown & Levinson (1987): konsep positive face (kebutuhan untuk diterima, dihargai) dan negative face (kebutuhan untuk bebas dari paksaan) yang memunculkan strategi bald on record, positive politeness, negative politeness, dan off record. Dalam konteks daring, strategi ini diwujudkan misalnya lewat sapaan hormat, penggunaan honorifik, hedging, permintaan maaf, emoji yang “softening”, atau penggunaan bahasa formal dalam email dan chat.
Prinsip dan strategi impoliteness Culpeper (1996, 2011): impoliteness dipahami sebagai penggunaan bahasa untuk menyerang face atau melanggar ekspektasi sosial, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, dengan strategi seperti bald on record impoliteness, positive impoliteness, negative impoliteness, sarcasm/mock politeness, dan withhold politeness. Dalam interaksi online, impoliteness tampak pada flame, trolling, hinaan langsung, sarkasme, atau pengabaian norma salam dan sapaan dalam pesan yang dianggap “kurang ajar”.
Pendekatan diskursif (im)politeness (second wave): im/politeness dipandang sebagai konstruksi sosial yang ditafsirkan secara situasional oleh peserta tutur, sehingga penilaian sopan/tidak sopan sangat bergantung pada konteks, ideologi, dan relasi kekuasaan. Dalam cyberpragmatics, ini tampak pada cara komunitas online tertentu membingkai ujaran sebagai “candaan”, “body shaming”, atau “hate speech” yang bisa berbeda dari komunitas lain.
Cyberpragmatics (Yus dan penerusnya, diadaptasi dalam studi-studi lokal): melihat bagaimana prinsip-prinsip pragmatik klasik (tindak tutur, kesantunan, implikatur) dioperasikan dalam lingkungan digital dengan mempertimbangkan medium (WhatsApp, email, Instagram, X/Twitter), kecepatan, asinkronitas, serta affordances seperti tombol like, share, dan mention.
Dengan demikian, kerangka teori cyberpragmatics (im)politeness adalah gabungan antara model facework dan strategi kesantunan/ketidaksantunan dengan pendekatan diskursif yang sensitif terhadap konteks digital dan praktik komunitas daring.
Landasan teori prinsip politeness
Landasan teori untuk prinsip kesantunan dalam cyberpragmatics umumnya bertumpu pada beberapa pilar berikut:
Face dan facework (Goffman; Brown & Levinson)
- Konsep face sebagai citra diri sosial yang ingin dipertahankan menjadi fondasi untuk menjelaskan mengapa penutur memilih strategi sopan tertentu dalam interaksi online.
Dalam CMC, facework tampak pada praktik penggunaan salam, terima kasih, permintaan maaf, serta formula religius (mis. salam Islami) yang memperkuat kesantunan dan solidaritas dalam chat dosen–mahasiswa atau netizen.
Teori Politeness Brown & Levinson (1987)
Strategi positive politeness (mis. pujian, humor, in-group markers) digunakan untuk membangun kedekatan dan keakraban dalam grup WA atau komentar media sosial.
Strategi negative politeness (mis. hedging, permintaan maaf, bentuk tidak langsung) tampak dalam email formal kepada dosen/guru atau pihak berwenang di ranah akademik dan profesional.
Strategi off record (implikatur, sindiran) banyak muncul pada kritik netizen yang “halus” terhadap kebijakan pemerintah atau lembaga, demi mengurangi ancaman langsung terhadap face.
Prinsip kesantunan lintas budaya dan globalisasi (Sifianou)
Sifianou menekankan bahwa konsep kesantunan berubah di tengah globalisasi sehingga praktik kesantunan lokal bernegosiasi dengan norma global (mis. gaya langsung khas media sosial).
Dalam konteks online, pengguna sering memadukan norma kesantunan bahasa lokal (mis. bahasa Indonesia/Jawa yang bertingkat) dengan gaya ringkas dan informal khas platform digital.
Politeness dalam praktik CMC
Studi cyberpragmatics menunjukkan bahwa mahasiswa dan netizen masih menganggap prinsip kesantunan sebagai aspek penting dalam tindakan komunikatif di WhatsApp, email, dan media sosial, misalnya dengan penggunaan salam, ucapan terima kasih, dan sapaan sopan.
Fitur digital seperti emoji dan sticker berfungsi sebagai strategi paralinguistik yang dapat memperkuat atau melunakkan kesantunan, seperti penambahan emotikon tersenyum untuk melembutkan kritik.
Contoh singkat
- Chat mahasiswa ke dosen: “Assalamu’alaikum, maaf mengganggu waktunya, Pak. Saya ingin menanyakan terkait tugas minggu lalu…” menunjukkan kombinasi salam religius, permintaan maaf, dan formula kehormatan sebagai strategi negative dan positive politeness dalam media digital.
Landasan teori prinsip impoliteness
Landasan teori impoliteness dalam cyberpragmatics terutama mengacu pada pengembangan teori oleh Culpeper dan kajian diskursif tentang ketidaksantunan dan incivility:
Model impoliteness Culpeper (1996, 2011)
Impoliteness didefinisikan sebagai perilaku linguistik yang bertentangan dengan harapan sosial, keinginan, dan keyakinan mitra tutur mengenai bagaimana orang seharusnya berperilaku, sehingga menimbulkan kerugian face atau pelanggaran norma.
Impoliteness tidak selalu harus disengaja; perilaku yang tidak dimaksudkan untuk menyinggung pun dapat dipersepsi sebagai impolite jika melanggar ekspektasi komunitas.
Strategi impoliteness mencakup:
Bald on record impoliteness: serangan langsung (umpatan, penghinaan terang-terangan).
Positive impoliteness: mengabaikan kebutuhan akan solidaritas (menghina identitas, mengecualikan).
Negative impoliteness: mengancam kebebasan, memerintah keras tanpa mitigasi.
Sarcasm/mock politeness: kesantunan pura‑pura yang sebenarnya melecehkan.
Withhold politeness: tidak memberi respons yang dianggap wajib (tidak menjawab salam/permintaan).
Impoliteness sebagai pelanggaran ekspektasi sosial
Dalam interaksi online, impoliteness muncul ketika seseorang bertindak bertentangan dengan norma komunitas, misalnya menggunakan kata-kata kasar di thread diskusi akademik atau melecehkan lawan debat di kolom komentar.
Culpeper menekankan bahwa intensionalitas memperkuat persepsi ofensif, tetapi bahkan ketidaksantunan yang tidak disengaja tetap dapat memicu reaksi emosional kuat karena penafsirannya oleh partisipan.
Impoliteness, incivility, dan identitas (Sifianou, Garcés-Conejos Blitvich)
Sifianou dan kolega membahas hubungan antara (im)politeness dengan incivility (ketidaksantunan publik) dan identitas sosial, menunjukkan bahwa ujaran online sering sekaligus menegosiasikan identitas kelompok (mis. “kami netizen”, “fans”, “haters”).
Dalam media sosial, serangan terhadap face sering digunakan untuk meneguhkan posisi ideologis atau keanggotaan komunitas tertentu (mis. komentar agresif pro/kontra isu politik atau kasus kebocoran data).
Impoliteness dalam praktik cyberpragmatics
Studi tentang komentar netizen menunjukkan pola impoliteness seperti hinaan, sarkasme, dan serangan ad hominem dalam tanggapan terhadap isu publik (mis. kasus kebocoran data, kebijakan pemerintah).
Impoliteness sering diperkuat oleh affordances digital: anonimitas, penyebaran cepat, dan dukungan “like” atau “share” yang melegitimasi ujaran menyinggung.
Contoh singkat
Komentar netizen: “Dasar bodoh, ngurus negara aja gak becus!” pada akun pejabat publik menunjukkan bald on record impoliteness yang menyerang positive face (kompetensi, kehormatan) secara langsung.
Integrasi (im)politeness dan cyberpragmatics
Dalam kerangka cyberpragmatics, (im)politeness tidak hanya dilihat sebagai strategi linguistik, tetapi juga sebagai praktik sosial yang dipengaruhi oleh:
Platform dan mode: WhatsApp, email, X/Twitter, Instagram memiliki konvensi kesantunan yang berbeda (mis. email lebih formal, DM IG lebih informal).
Relasi sosial: hubungan hierarkis (dosen–mahasiswa, atasan–bawahan) cenderung menuntut strategi kesantunan lebih tinggi, sedangkan forum publik antar netizen sering lebih permisif terhadap impoliteness.
Fitur multimodal: penggunaan emoji, GIF, meme dapat menguatkan atau mengaburkan kesan (im)polite, misalnya sarkasme yang dipertegas oleh meme tertentu.
Ideologi dan budaya: nilai lokal (mis. sopan santun, unggah‑ungguh, religiusitas) berinteraksi dengan gaya komunikasi global di media sosial.
Kerangka teori penelitian biasanya memetakan: (1) konsep face dan strategi (im)politeness, (2) parameter konteks daring (platform, partisipan, tujuan), dan (3) cara peserta menilai ujaran sebagai (im)polite secara diskursif.
Contoh sitasi dalam teks (in‑text citation, APA 7th)
Berikut ilustrasi singkat penulisan in‑text citation untuk kajian (im)politeness dalam cyberpragmatics:
Naratif:
“Dalam konteks interaksi daring, strategi kesantunan Brown dan Levinson tetap relevan untuk menjelaskan cara mahasiswa menjaga face dosen melalui salam, permintaan maaf, dan bentuk bahasa formal (Brown & Levinson, 1987; Yusuf, 2025).”
“Impoliteness pada komentar netizen terhadap isu kebocoran data menunjukkan penggunaan strategi bald on record impoliteness dan sarcasm sebagaimana dirumuskan oleh Culpeper (2011).”
Parentetik:
Anda dapat menyesuaikan penjelasan kerangka teori dalam bab II/landasan teori dengan pola paragraf seperti contoh di atas dan menambahkan konteks lokal (mis. interaksi dosen–mahasiswa, netizen Indonesia).
Daftar pustaka (APA 7th, contoh)
Berikut contoh daftar rujukan yang bisa dijadikan model (silakan sesuaikan judul/edisi final sesuai sumber asli yang Anda pakai):
Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: Some universals in language usage. Cambridge University Press.
- Culpeper, J. (2011). Impoliteness: Using language to cause offence. Cambridge University Press.
- Culpeper, J., Haugh, M., & Kádár, D. Z. (2017). The Palgrave handbook of linguistic (im)politeness. Palgrave Macmillan.
- Garcés-Conejos Blitvich, P., & Sifianou, M. (2019). Im/politeness and discursive pragmatics. Journal of Pragmatics, 145, 91–101.
- Sifianou, M. (2013). The impact of globalisation on politeness and impoliteness. Journal of Pragmatics, 55, 86–102.
- Sifianou, M., & Tzanne, A. (2010). Conceptualizations of politeness and impoliteness in Greek. Intercultural Pragmatics, 7(4), 661–687.
Yus, F. (2011). Cyberpragmatics: Internet-mediated communication in context. John Benjamins.
- Yusuf, A. B. (2025). Cyberpragmatics of politeness in netizens’ criticism of government policy on social media. Lingue: Jurnal Bahasa dan Sastra, 5(1), 1–20.
- Zulkarnain, I., & Nurcholis, A. (2023). Politeness and impoliteness strategies in lecturer–student communication within cyberpragmatic chats. Journal of Pragmatics Research, 5(1), 1–20.
- Putri, N. S. (2022). (Im)politeness: A cyberpragmatic study of social media users’ responses to the Kominfo data breach. International Journal of Social Science and Human Research, 8(4), 1234–1245.
- Rahmawati, D. (2019). Politeness and impoliteness by teachers and students in classroom interaction. Indonesian Journal of Applied Linguistics, 9(2), 335–347.
Jika Anda menyebut karya Yus atau Brown & Levinson yang tidak tersedia online di atas, formatnya tetap mengikuti contoh buku/edited volume pada APA 7th sebagaimana ditulis. Jika Anda perlu, saya bisa bantu menyusun paragraf utuh bab “Kerangka Teori” (2–3 halaman) untuk proposal/skripsi/tesis dengan fokus data (mis. WhatsApp dosen–mahasiswa atau komentar Instagram).
No comments:
Post a Comment