Monday, February 2, 2026

Politeness vs. Impoliteness menurut Ahlli Pragmatics & Linguistics

 

1. Definisi Politeness menurut Pakar Pragmatics dan Linguistics

Dalam kajian pragmatik, politeness berkaitan erat dengan bagaimana penutur mengelola hubungan sosial dan menjaga keharmonisan interaksi melalui bahasa.

a. Brown & Levinson (1987)

Brown dan Levinson mendefinisikan politeness sebagai:

a system of strategies used by speakers to mitigate Face Threatening Acts (FTAs) in interaction.

Artinya, politeness adalah strategi linguistik untuk mengurangi ancaman terhadap “face” (harga diri sosial) mitra tutur, baik positive face (keinginan dihargai) maupun negative face (keinginan untuk bebas dari paksaan) (Brown & Levinson, 1987).

📌 Contoh:

“Could you possibly open the window?”
→ permintaan dibuat tidak langsung untuk menjaga negative face.


b. Leech (1983; 2014)

Leech memandang politeness sebagai:

a form of communicative altruism that minimizes cost and maximizes benefit to others.

Ia mengemukakan Politeness Principle yang terdiri dari beberapa maksim, seperti Tact Maxim, Generosity Maxim, Approbation Maxim, dan lain-lain (Leech, 1983; 2014).

📌 Contoh:

“Your presentation was very clear, just a small suggestion for improvement.”
→ memaksimalkan pujian, meminimalkan kritik.


c. Watts (2003)

Watts menekankan bahwa politeness bersifat evaluatif dan kontekstual, bukan sekadar formula linguistik:

politeness is not inherent in expressions but emerges from social judgments.

Dengan kata lain, suatu ujaran dianggap sopan atau tidak tergantung pada norma sosial, budaya, dan konteks interaksi (Watts, 2003).


2. Definisi Impoliteness menurut Pakar Pragmatics dan Linguistics

Impoliteness merupakan konsep yang berkembang lebih belakangan sebagai bukan sekadar ketiadaan kesopanan, tetapi sebagai strategi komunikatif yang disengaja.

a. Culpeper (1996; 2011)

Culpeper mendefinisikan impoliteness sebagai:

communicative strategies designed to attack face and cause social disharmony.

Impoliteness adalah penggunaan bahasa yang secara sengaja menyerang face mitra tutur, baik melalui hinaan, perintah kasar, sarkasme, atau pengabaian (Culpeper, 2011).

📌 Contoh:

“Are you stupid or just pretending?”


b. Bousfield (2008)

Menurut Bousfield, impoliteness terjadi ketika:

face-threatening acts are performed without mitigation or with deliberate aggravation.

Artinya, ancaman terhadap face tidak diredam, bahkan sering diperkuat (Bousfield, 2008).


c. Locher & Watts (2005)

Mereka menegaskan bahwa impoliteness juga bersifat relasional:

impoliteness arises when behavior is perceived as inappropriate within a given social practice.

Dengan demikian, impoliteness tidak selalu eksplisit kasar, tetapi bisa berupa pelanggaran norma ekspektasi sosial.


3. Perbedaan Prinsip Politeness dan Impoliteness

AspekPolitenessImpoliteness
TujuanMenjaga keharmonisan sosialMenciptakan konflik atau dominasi
Orientasi FaceMelindungi positive dan negative faceMenyerang atau merusak face
StrategiMitigasi, indirektif, hedgingAggravasi, directness ekstrem
Efek InteraksiSolidaritas, kerja samaKetegangan, konflik
KesengajaanBiasanya kooperatifSering disengaja

(Brown & Levinson, 1987; Culpeper, 2011)


4. Contoh Prinsip Politeness

a. Politeness (Bahasa Inggris)

“I’m sorry to bother you, but could you help me for a moment?”
negative politeness melalui permintaan maaf dan mitigasi.

b. Politeness (Bahasa Indonesia)

“Mohon izin, mungkin Bapak bisa sedikit menjelaskan bagian ini?”
→ penggunaan honorifics dan kata mitigasi (mungkin, mohon).


5. Contoh Prinsip Impoliteness

a. Impoliteness (Bahasa Inggris)

“Just shut up and listen.”
bald-on-record impoliteness tanpa mitigasi.

b. Impoliteness (Bahasa Indonesia)

“Kamu itu nggak paham-paham dari tadi!”
→ serangan langsung terhadap positive face.


6. Kesimpulan Singkat

Dalam kajian pragmatik dan linguistik, politeness dan impoliteness bukanlah konsep biner sederhana, melainkan strategi komunikatif yang sangat bergantung pada konteks sosial, relasi kekuasaan, dan norma budaya. Politeness berorientasi pada mitigasi dan keharmonisan, sedangkan impoliteness berfungsi sebagai alat dominasi, konflik, atau ekspresi emosi negatif (Leech, 2014; Culpeper, 2011).


References (APA 7th Edition)

Bousfield, D. (2008). Impoliteness in interaction. John Benjamins.

Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: Some universals in language usage. Cambridge University Press.

Culpeper, J. (1996). Towards an anatomy of impoliteness. Journal of Pragmatics, 25(3), 349–367.

Culpeper, J. (2011). Impoliteness: Using language to cause offence. Cambridge University Press.

Leech, G. N. (1983). Principles of pragmatics. Longman.

Leech, G. N. (2014). The pragmatics of politeness. Oxford University Press.

Locher, M. A., & Watts, R. J. (2005). Politeness theory and relational work. Journal of Politeness Research, 1(1), 9–33.

Watts, R. J. (2003). Politeness. Cambridge University Press.

No comments:

Post a Comment