Thursday, February 12, 2026

pakfay.blogspot.com

You are viewing a feed created with MySitemapGenerator.com

pakfay.blogspot.com


Thu, 12 Feb 2026 22:38:17 +0000

Announcement: Moving to new blog

Mon, 12 Jan 2026 00:00:00 +0100



Dear Readers, Karena satu dan dua hal. Untuk sementara dan selanjutnya Blog Pakfaizal.com yang aslinya http://pakfay.blogspot.com pindah ke alamat baru https://pakfayblog.blogspot.com/ . Jika sudah banyak pengunjung di new blog domain Pakfaizal.com akan di-redirect URL ke alamat blog yang baru. Demikian terima kasih.

Belief Strength and Pedagogical Strategies in Integrating Islamic Values in ELT: A Comparative Study of Secular and Islamic Institutions in Indonesia

Tue, 06 Jan 2026 00:00:00 +0100


Belief Strength and Pedagogical Strategies in Integrating Islamic Values in ELT: A Comparative Study of Secular and Islamic Institutions in Indonesia Nadira Syifa Azzahro1, Faizal Risdianto2 1The English Language Teaching Master's Program (TBI), Postgraduate Program (PPs), Universitas Islam Negeri Salatiga, Jl. Tentara Pelajar No. 2, Mangunsari, Sidomukti District, Salatiga City, Central Java Indonesia, 50721 2The English Education Undergraduate Program (TBI), Gedung K.H. Ahmad Dahlan, Jl. Lkr. Sel. Salatiga No.Km. 2, Pulutan, Kec. Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia, 50716 Email: faizalrisdianto@uinsalatiga.ac.id ABSTRACT This study explores how educators in Islamic and secular institutions in Indonesia differ in their beliefs and strategies for integrating Islamic values into English Language Teaching (ELT). Educators in Islamic schools, pesantren, and Islamic universities show very strong confidence, viewing integration as both a religious duty and a pedagogical requirement. In contrast, teachers in secular schools and universities maintain moderately strong but cautious beliefs due to the demands of neutrality and inclusivity in multireligious classrooms. Implementation practices also diverge sharply. Islamic institutions apply explicit strategies—such as Qur’anic readings, hadith-based vocabulary lessons, ILRP materials, and prayer routines—leading to short-term increases in religious motivation and long-term reinforcement of Islamic identity. Secular institutions use more implicit or universal-value approaches, including honesty-based writing tasks, ethical discussions, and tolerance-related themes, which foster social–moral development and multicultural identity formation. These differences reflect deeper institutional orientations and offer important implications for inclusive ELT curriculum and teacher training. Keywords: Islamic values integration; English Language Teaching; secular vs. Islamic institutions; teacher beliefs; pedagogical strategies SOURCE: Belief Strength and Pedagogical Strategies in Integrating Islamic Values in ELT: A Comparative Study of Secular and Islamic Institutions in Indonesia | Journal of Linguistics, Culture and Communication Azzahro, N. S., & Risdianto, F. (2026). Belief Strength and Pedagogical Strategies in Integrating Islamic Values in ELT: A Comparative Study of Secular and Islamic Institutions in Indonesia . Journal of Linguistics, Culture and Communication, 3(2), 430–446. https://doi.org/10.61320/jolcc.v3i2.430-446

The Jokowi Diploma Drama

Wed, 24 Dec 2025 00:00:00 +0100


This is a short summary of this link URL: https://en.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo_university_diploma_controversy The Jokowi Diploma Drama started very quietly, like a shy cat in 2014 . Jokowi joined the election, and suddenly some people whispered, “Hmm… where is his diploma?” Nobody shouted. Nobody ran. Just whisper, whisper, whisper. It was a small noise, like a mosquito that is annoying but easy to ignore. In 2015, the whisper learned how to talk. A politician said, “Please show the diplomas to the public.” The drama was still polite and calm. No angry faces yet. People said it was to stop fake diplomas, not to start a fight. The stove was on, but the water was not boiling yet. In 2019, things became spicy. One man said Jokowi’s school diplomas were fake. Police quickly said, “ Nope. That is fake news. ” The man was arrested, and the school principal came like a teacher in class and said, “ Yes, Jokowi studied here. Yes, he graduated. End of story .” Drama level: wrong answer, sit down. In 2020 and 2022, the internet took over. Facebook & Social media users became detectives, comparing signatures and fonts like CSI: Diploma Edition. Then in 2022, someone went to court and shouted, “ The diplomas are fake!” The court asked, “ Where is the proof? ” Silence. The case crashed hard. UGM said calmly, “He graduated in 1985. The diploma is real. Please go home.” In 2025, the drama returned for one last episode. A YouTube video talked about fonts, protesters visited campus and Jokowi’s house, and everyone asked the same old question again. Finally, police checked everything carefully and said, “ Relax. The diploma is real. Case closed. ” Mic drop. Curtain down. Same story, many seasons — but the ending stayed the same

Berapa Jumlah bahasa di dunia ini?

Thu, 18 Dec 2025 00:00:00 +0100


Jumlah bahasa di dunia Berdasarkan rujukan linguistik internasional yang paling banyak digunakan (misalnya Ethnologue ), saat ini terdapat sekitar 7.100–7.200 bahasa yang masih hidup di dunia. Jumlah ini dinamis , karena: Ada bahasa yang punah setiap tahun, Ada pula bahasa yang diklasifikasikan ulang (dialek menjadi bahasa, atau sebaliknya). TOP 50 Daftar 50 Bahasa Utama Dunia (Urut Alfabet) A Amharic Arabic Azerbaijani B 4. Bengali C 5. Catalan 6. Chinese (Mandarin) D 7. Danish 8. Dutch E 9. English F 10. Filipino 11. Finnish 12. French G 13. German 14. Greek 15. Gujarati H 16. Hausa 17. Hebrew 18. Hindi 19. Hungarian I 20. Indonesian 21. Italian J 22. Japanese 23. Javanese K 24. Kannada 25. Korean L 26. Lao M 27. Malay 28. Malayalam 29. Marathi N 30. Nepali 31. Norwegian O 32. Oromo P 33. Persian (Farsi) 34. Polish 35. Portuguese 36. Punjabi R 37. Romanian 38. Russian S 39. Spanish 40. Swahili 41. Swedish T 42. Tamil 43. Telugu 44. Thai 45. Turkish U 46. Ukrainian 47. Urdu V 48. Vietnamese Y 49. Yoruba Z 50. Zulu

Kisah Perjuangan Nabi Musa A.S. dan Relevansinya dengan Zaman Modern

Thu, 18 Dec 2025 00:00:00 +0100


Kisah Perjuangan Nabi Musa A.S. dan Relevansinya dengan Zaman Modern Nabi Musa A.S. lahir pada masa kekuasaan Fir’aun yang sangat zalim, ketika bayi-bayi laki-laki Bani Israil dibunuh karena ramalan bahwa seorang anak dari kaum tertindas itu akan menjadi sebab runtuhnya kekuasaan Fir’aun. Sebenarnya mimpi buruk itu adalah peringatan dari Allah SWT agar Fir'aun tidak berbuat aniaya. Atas wahyu Allah, ibu Musa A.S menyusui dan merawatnya dengan penuh keimanan, lalu menghanyutkannya ke Sungai Nil atas perintah Allah SWT (QS Al Qashas ayat 7). Hal ini demi keselamatannya. Takdir Allah mengantarkan bayi Musa A.S justru ke istana Fir’aun, musuh terbesar Bani Israil. Fir’aun menyadari ancaman di balik bayi itu, namun ia tidak mampu menolak keteguhan istrinya, Asiyah, yang melarang Musa dibunuh. Sejak awal, Allah telah memperlihatkan bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak mampu melawan rencana-Nya. Nabi Musa A.S tumbuh besar di lingkungan istana, menikmati pendidikan dan perlindungan penguasa yang kelak akan ia lawan. Namun jiwanya tetap berpihak pada kaum tertindas. Pada usia sekitar 18 tahun, sebuah peristiwa menjadi titik balik: Musa melihat pertikaian antara seorang Qibthi (kaum Fir’aun) dan seorang Bani Israil. Musa bermaksud melerai dengan satu pukulan, tetapi pukulan itu menyebabkan orang Qibthi meninggal dunia. Menyadari kesalahannya, Musa segera menyesal dan memohon ampun kepada Allah. Takut akan balasan Fir’aun, Musa meninggalkan Mesir dan melarikan diri, menandai fase hijrah dan tarbiyah dalam hidupnya. Pelarian itu membawa Nabi Musa A.S ke Madyan, tempat ia bertemu Nabi Syuaib A.S. Di sana, Musa hidup sederhana, bekerja menggembala, dan menikah dengan salah satu putri Nabi Syuaib. Masa ini adalah fase pembentukan karakter dan ketahanan jiwa. Nabi Musa A.S menjalani masa pengabdian selama delapan tahun, kemudian menyempurnakannya menjadi sepuluh tahun sebagaimana perjanjian. Dalam sebagian riwayat disebutkan masa tarbiyah ini berlangsung panjang hingga Musa benar-benar matang secara spiritual, moral, dan kepemimpinan. Namun selama masa ini, Bani Israil masih tertindas, dan Fir’aun tetap berkuasa— menunjukkan bahwa kesalehan pribadi dan pendidikan moral saja belum cukup mengubah struktur kezaliman. Perubahan besar baru terjadi ketika Nabi Musa A.S menerima wahyu langsung dari Allah dengan perintah yang tegas: “Idzhab ilā Fir‘aun, innahu taghā”—pergilah kepada Fir’aun, sungguh ia telah melampaui batas . Sejak saat itu, Musa tidak lagi hanya menjadi hamba yang saleh, tetapi juga pembawa risalah perubahan . Allah SWT mengutus Nabi Musa A.S menghadapi Fir’aun dengan dakwah dan mukjizat, serta menurunkan berbagai bencana sebagai peringatan: air menjadi darah, badai, katak, kutu, dan azab-azab lainnya. Para tukang sihir Fir’aun akhirnya beriman, bahkan istri Fir’aun, Asiyah, memilih iman meski harus berhadapan dengan suaminya sendiri. Kekuasaan yang tampak kokoh mulai runtuh dari dalam. Kisah Nabi Musa A.S. bukan sekadar sejarah, melainkan cermin bagi zaman modern. Ia mengajarkan bahwa perubahan umat tidak cukup dengan kesalehan individual, pendidikan personal, atau menjauh dari konflik. Perubahan hakiki menuntut keberanian dakwah, keberpihakan kepada yang tertindas, dan kesiapan menghadapi struktur zalim . Seperti halnya pada masa Musa, di setiap zaman selalu ada “Fir’aun” dan “Qarun” dalam bentuk baru. Karena itu, umat membutuhkan para dai, ulama, dan pemimpin moral yang berani membawa risalah kebenaran, agar bumi kembali ditegakkan di atas keadilan dan kehendak Allah, bukan di bawah tirani kekuasaan dan keserakahan harta.

Journal of Pragmatics Research (JoPR)

Tue, 16 Dec 2025 00:00:00 +0100


Journal of Pragmatics Research (JoPR), E-ISSN: 2656-8020 Journal of Pragmatics Research (JoPR), E-ISSN: 2656-8020 , is published by Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga , Indonesia. It is a forum published every April and October and aimed at developing all aspects of scholarly theories and research on pragmatics, Pragma-linguistics, Discourse Analysis, Sociolinguistics, and socio-pragmatics within the Indonesian context of political and socio-cultural elements. Authors may send the manuscript of these topics in English or Bahasa Indonesia. This Journal has been accredited by the Indonesian Ministry of Research, Technology, and Higher Education of the Republic of Indonesia in SINTA 3 since 2024. The recognition was published in the Director Decree (SK No. 177/E/KPT/2024) , effective until 2028. Intending to improve the journal's quality since 28th October 2022, this journal has officially cooperated with INaPrA ( Indonesian Pragmatics Association) . See The MoU Manuscript . IMPORTANT NOTE: 1. The Editor makes no PDF of LoA (Letter of Acceptance). LoA is issued solely as an accepted paper notification via the official E-mail of the Journal of Pragmatics Research: jopr@uinsalatiga.ac.id. 2. The Editor has the right to ask the contributors to omit, reformulate, or reword their manuscripts or any part thereof in a manner that conforms to the publication policy. 3. THERE IS NO affiliation, Association, or endorsement between Elsevier's Journal of Pragmatics and UIN Salatiga 's Journal of Pragmatics Research (JoPR). Click for More...

Papers authored by Teisar Arkida, S.Hum., M.Li.

Tue, 16 Dec 2025 00:00:00 +0100


Berikut daftar artikel jurnal/prosiding karya Teisar Arkida, S.Hum., M.Li. yang mencakup judul artikel, nama jurnal/proceeding, dan tautan URL yang dapat diklik langsung oleh pembaca. Informasi ini berdasarkan hasil pencarian publikasi akademik terkait evaluasi bahasa, framing media, dan analisis wacana berita politik/klasik Covid-19 yang melibatkan penulis tersebut: 1. Appraisal: Framing on Covid-19 Pandemic Handling News in Indonesia Penulis: Teisar Arkida, Djatmika Djatmika, Riyadi Santosa Jurnal: International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding Tahun: 2022 Link: Klik di sini: https://ijmmu.com/index.php/ijmmu/article/view/4187 IJMMU+1 Keterangan: Artikel ini menganalisis penggunaan bahasa evaluatif dalam pemberitaan tentang penanganan pandemi Covid-19 dan bagaimana framing tersebut membentuk citra politis calon presiden 2024. IJMMU 2 . ATTITUDES: Manifestasi Tahun Politik 2024 di Balik Laporan Covid-19 Penulis: Teisar Arkida, Djatmika Djatmika, Riyadi Santosa Prosiding: Prosiding Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMANTIKS) Tahun: 2022 Link: Klik di sini: https://jurnal.uns.ac.id/prosidingsemantiks/article/view/65377 Jurnal Universitas Sebelas Maret Keterangan: Paper ini mengeksplorasi bagaimana bahasa evaluatif pada berita Covid-19 memuat agenda politik tersembunyi di balik framing media menjelang Pemilu 2024. Jurnal Universitas Sebelas Maret 3. Framinguistics: How is Evaluative Language Used to Manipulate Social Depictions of the 2024 Indonesian Presidential Candidates in Political News Texts? Penulis: Teisar Arkida, Riyadi Santosa, Tri Wiratno Prosiding: Proceedings of the Third International Conference on Communication, Language, Literature, and Culture (ICCoLliC 2024) (Atlantis Press) Tahun: 2024 Link: Klik di sini: https://www.atlantis-press.com/proceedings/iccollic-24/126006843 Atlantis Press Keterangan: Prosiding ini membahas strategi framing evaluatif terhadap kandidat presiden di media Kompas, TVOne News, dan Metro TV News dalam konteks pemilu 2024. Atlantis Press 4. Linguistic Reflections of Cultural Ethics: Social Assistance Discourse in Surakarta Penulis: Teisar Arkida, Fitri Anekawati, Wakit Abdullah Rais Jurnal: Journal of Pragmatics Research Tahun: 2025 Link: Klik di sini: https://ejournal.uinsalatiga.ac.id/index.php/jopr/article/view/3692 eJournal UIN Salatiga Keterangan: Artikel ini merupakan kajian etnolinguistik yang memadukan diskursus bantuan sosial dan etika budaya di Surakarta; relevan dalam memperlihatkan spektrum penelitian linguistik yang lebih luas dari penulis. eJournal UIN Salatiga

Pentingnya Pesantren Mutajawilah: Minal Masjid ilal Masjid: Khurudj Fi Sabilillah

Sun, 14 Dec 2025 00:00:00 +0100


1. Tarbiyah Imaniyyah sebagai Fondasi Hakikat Kemanusiaan Allah menetapkan manusia sebagai asyrāful makhlūqāt (makhluk paling mulia), sebagaimana firman-Nya: Laqad karramnā banī Ādam — “Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” Kemuliaan ini bukan otomatis, tetapi bersyarat: ia bergantung pada iman, ketaatan, dan pengelolaan hawa nafsu. Di sinilah tarbiyah imaniyyah menjadi kebutuhan primer. Malaikat taat secara total, tetapi tidak memiliki hawa nafsu. Manusia diberi akal dan nafsu; ketika ia taat, derajatnya melampaui malaikat. Namun ketika iman ditinggalkan, manusia bisa jatuh lebih rendah dari binatang, karena binatang tidak diberi akal dan tanggung jawab syariat. Tarbiyah iman berfungsi menjaga manusia tetap berada pada jalur kemuliaannya, agar potensi akal dan nafsu tidak saling menghancurkan, tetapi saling dikendalikan dalam ketaatan kepada Allah. 2. Analogi Tanah: Hakikat Jiwa Manusia dan Kebutuhan Tarbiyah Manusia diciptakan dari tanah; karena itu jiwa manusia bersifat reaktif dan mudah dipengaruhi: Tanah terkena panas terus → keras Tanah terkena air terus → lembek Tanah dibiarkan → tumbuh liar Demikian pula hati manusia: Tanpa tarbiyah iman, hati akan keras oleh dunia, lembek oleh syahwat, atau liar oleh hawa nafsu. Tarbiyah imaniyyah berfungsi seperti petani yang mengolah tanah: membajak, menyirami, membersihkan gulma, dan menanam tanaman yang bermanfaat. Tanpa tarbiyah: Tumbuh rumput → sifat hewan ternak (egois, tidak peduli penderitaan orang lain). Tumbuh ilalang → sifat buas (menyakiti demi kepentingan). Tumbuh pohon liar dan lembab → muncul sifat ular dan kalajengking (merusak demi kesenangan). Ini selaras dengan QS Al-A‘raf: 179, bahwa manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinga untuk iman lebih sesat daripada binatang ternak. 3. Tarbiyah Iman sebagai Jalan Keluar dari Egoisme Sosial Fenomena “yang penting urusan saya” adalah gejala ketiadaan tarbiyah iman. Binatang ternak tetap makan meski saudaranya disembelih—tidak ada empati. Ketika manusia hidup dengan prinsip serupa, ia telah kehilangan fungsi sosial dan risalah kemanusiaannya. Tarbiyah iman: Menumbuhkan kepekaan sosial. Menghidupkan rasa tanggung jawab kolektif. Mengubah orientasi hidup dari self-centered menjadi Allah-centered. Inilah pintu masuk kewajiban amar ma‘ruf nahi mungkar. 4. Dua Pilihan Eksistensial Manusia: Ahsani Taqwīm atau Asfala Sāfilīn Allah menegaskan bahwa manusia berada pada persimpangan eksistensial: Ahsani Taqwīm (kemuliaan tertinggi). Asfala Sāfilīn (kehinaan terdalam) Ahsani Taqwīm memiliki tiga manifestasi tarbiyah: a. Sifat Malaikah Dorongan kuat untuk ibadah Cinta kepada masjid, Al-Qur’an, dzikir, dan ketaatan Ini adalah hasil tarbiyah iman yang konsisten b. Sifat Khalifah Berakhlak dengan akhlak Allah (takhallaqū bi akhlāqillāh): Rahman-Rahim → kasih sayang kepada seluruh makhluk Al-Ghafūr → memaafkan As-Sattār → menutup aib Ar-Razzāq → infaq, zakat, sedekah Sifat ini tidak lahir spontan, tetapi melalui tarbiyah iman yang berorientasi amal sosial. c. Sifat Nubuwwah Kita bukan nabi, tetapi mewarisi tugas kenabian, yakni: Menyampaikan agama Menyeru kepada Allah Membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya 5. Amar Ma‘ruf Nahi Mungkar sebagai Buah Tarbiyah Iman QS Ali ‘Imran: 110 menegaskan bahwa kualitas umat terbaik bukan pada identitas, tetapi pada fungsi dakwah: Menyuruh yang makruf, mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Urutannya penting: Iman yang hidup Makruf yang diperjuangkan Mungkar yang dicegah Tanpa tarbiyah iman: Dakwah menjadi reaktif, kasar, atau politis Amar ma‘ruf kehilangan hikmah Nahi mungkar kehilangan kasih sayang QS Yusuf: 108 menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan bashirah (kesadaran, ilmu, dan keyakinan)—semua ini adalah produk tarbiyah iman. 6. Tarbiyah Iman dalam Sejarah Sahabat: Iman Melahirkan Keberanian dan Kepemimpinan satu benang merah: Iman ditanam sejak muda. Tanggung jawab diberikan sejak dini. Dakwah dan jihad menjadi sarana tarbiyah lanjutan Usamah bin Zaid menjadi panglima di usia belasan tahun bukan karena politik, tetapi karena tarbiyah iman Rasulullah ﷺ. Mus‘ab bin ‘Umair meninggalkan kemewahan bukan karena tekanan, tetapi karena iman yang matang. Artinya: Dakwah bukan beban tambahan, tetapi instrumen pembentuk kepribadian mukmin sejati. 7. Kesimpulan Integratif Tarbiyah imaniyyah adalah kebutuhan eksistensial manusia, bukan sekadar kegiatan keagamaan. Tanpa tarbiyah iman, manusia mudah jatuh pada sifat kebinatangan dan kebuasan. Amar ma‘ruf nahi mungkar adalah buah alami iman yang hidup, bukan sekadar kewajiban formal. Dakwah adalah sarana: Menjaga iman pribadi, Menyelamatkan masyarakat, Menunaikan amanah kenabian Seorang Muslim yang tidak berdakwah berarti membiarkan tanah jiwanya dan jiwa umatnya ditumbuhi gulma dan ilalang.

Ironi Ibu Negeri, Ribuan Bumil Positif HIV

Fri, 12 Dec 2025 00:00:00 +0100


# Rubrik Muslimah Seri 394 Ironi Ibu Negeri, Ribuan Bumil Positif HIV Oleh: Kholda Najiyah Founder Salehah Institute Sumber tulisan: Ironi Ibu Negeri, Ribuan Bumil Positif HIV - Muslimah Times Perempuan menjadi korban kebobrokan sistem pergaulan bebas *** Perilaku gaya hidup bebas, menghancurkan moral masyarakat dengan cepat. Menghembuskan penyakit mematikan dengan kencang, termasuk menimpa kaum perempuan. Bahkan, ibu-ibu dan janin, harus menanggung kebobrokan sistem pergaulan liberal yang bercokol semakin mencengkeram di negeri Muslim ini. Sungguh sebuah ironi! Seperti diungkap oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang merilis tren tes dan pengobatan HIV pada ibu hamil. Dari 2.482.837 ibu hamil yang melakukan tes HIV sepanjang Januari-September 2025, ada 2.264 di antaranya positif HIV (tirto.id). Kemenkes memastikan, terdapat kenaikan tes HIV pada ibu hamil yang dibarengi dengan kenaikan jumlah ibu hamil pengidap HIV yang menjalani pengobatan. Artinya, semakin banyak ibu hamil yang dites, semakin tinggi juga temuan pengidap HIV. Ini artinya fenomena gunung es, karena jutaan ibu hamil lainnya banyak yang tidak tes HIV, dan bisa berpotensi positif. Lalu apa tindakan untuk mereka? Ketua Tim Kerja HIV PIMS Kemenkes, Tiersa Vera Junita, mengungkap pula dari total kasus yang ditemukan tahun 2025, sebanyak 1.536 bumil telah menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV). Untuk mengurangi penularan HIV dari ibu hamil kepada anaknya, para ibu hamil diwajibkan untuk melakukan skrining HIV, Sifilis, dan Hepatitis B, imbuh Tiersa dalam acara temu media sebagai rangkaian peringatan Hari AIDS Sedunia 2025, di Gama Tower, Jakarta Selatan, Selasa (25/11/2025). Bukan Berkurang Malah Menggunung Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional mencatat perjalanan penyakit ini yang mencengangkan. Tahun 1987 jumlah penderita AIDS di Indonesia masih 5 kasus. Dalam rentang waktu 10 tahun, hanya bertambah menjadi 44 kasus. Tetapi sejak 2007, kasus AIDS tiba-tiba meledak menjadi 2.947 kasus. Lalu Juni 2009 meningkat hingga 8X lipat, menjadi 17.699 kasus. Pada 2025, diperkirakan ada sekitar 564.000 orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia, di mana sekitar 356.638 kasus telah ditemukan hingga Maret 2025. Inilah fenomena gunung es. Indonesia menempati peringkat ke-14 secara global dalam jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk kasus infeksi baru HIV (detikHealth). Maraknya Zina Muda HIV tidak bisa dilepaskan dari merebaknya pergaulan bebas dan penyimpangan seksual. Baik yang dilakukan lajang maupun pasangan yang sudah menikah. Semua itu menjadi bom waktu yang menghancurkan kehidupan sosial. Di kalangan lajang, pacaran dinormalisasi. Bahkan hubungan badan sebelum menikah dibungkus dengan istilah yang menipu, yaitu sex before married atau seks pranikah. Bukan diistilahkan zina ghairu muhson, sesuai terminologi Islam, sehingga statusnya jelas bahwa itu haram dan dosa. Entahlah, belum ada informasi lebih mendalam, apakah sebagian dari ibu hamil pembawa HIV itu adalah mereka yang dulunya melakukan pergaulan bebas saat lajang. Jika bukan, melainkan perempuan baik-baik, yang ternyata menikah dengan laki-laki yang tak baik, sungguh suatu kemalangan baginya. Namun, tanpa bermaksud menuduh dan memojokkan, patut dicurigai, ini ada kaitannya dengan maraknya pergaulan bebas di usia muda. Perhatikan data dari BKKBN, di mana hubungan seksual di luar pernikahan pada usia muda terus meningkat."Menikahnya rata-rata 22 tahun, tetapi hubungan seksnya 15-19 tahun. Jadi perzinahan kita meningkat. Ini pekerjaan rumah untuk kita semua," kata Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, seperti dimuat di jatimtimes. Tak hanya laki-laki, yang berzina itu juga remaja perempuan tentunya. Data BKKBN menunjukkan, 59% remaja perempuan dan 74% remaja laki-laki pernah melakukan hubungan seksual di usia 15-19 tahun. Tidak mengejutkan ketika menikah, malah terbawa bibit HIV. Na’udzubillah. Pernikahan Tak Sehat Pernikahan yang dimulai dengan perzinaan, adalah pernikahan yang tidak sehat. Baik sehat dalam makna harfiah, di mana risiko HIV terjadi baik pada suami maupun istri. Maupun tidak sehat dalam makna majas. Dalam makna harfiah, jelas, banyaknya penderita HIV pada ibu hamil adalah petunjuk bahwa ada pembawa yang menularkan. Laki-lakinya tidak bersih, atau bisa juga perempuannya yang tidak bersih. Belakangan ini marak isu perselingkuhan, ini pastinya berkontribusi pada ibu-ibu hamil yang terkena HIV. Kalau suami atau istri sudah menikah tapi masih selingkuh, bisa jadi itu kelakuan sejak masa lajang yang dibawa-bawa. Tidak pernah puas, lalu gonta-ganti pasangan. Betapa rusaknya pernikahan seperti ini. Pernikahan menjadi tidak sehat dalam makna majas, yaitu hubungan menjadi toxic. Serba tidak percaya pada pasangan, karena khawatir selingkuh. Serba curiga, tidak terbuka dan menyembunyikan pengkhianatan. Inilah pemicu tingginya angka perceraian, yaitu salah satu pasangan tidak setia. Terlebih lagi, mereka yang berzina tidak dihukum. Kalaupun diberi sanksi, hanya ringan dan bersifat sanksi sosial. Tidak membuat efek jera, bahkan menjadi kecanduan melakukannya. Di sisi lain, para istri kebanyakan tidak berkutik pada situasi ini. Jika memilih cerai, bingung dengan kehidupan ekonominya kelak dan juga nasib anak-anak. Akhirnya memilih bertahan dengan anggapan bahwa laki-laki nakal di luar itu lumrah. Na’udzubillah. Akibat Sistem Liberal Zina pada remaja dan orang yang sudah menikah, terkadang dilakukan melalui manipulasi laki-laki bejat. Mereka meminta hubungan seksual pada perempuan dengan landasan suka maupun pemaksaan. Ketika pacaran, merayu pasangannya agar mau menyerahkan kehormatan atas dasar cinta. Dibuai dengan janji akan dinikahi. Tanggung jawab yang diumbar di bibir. Lalu perempuan takluk tanpa bisa mengelak. Sementara itu, di kalangan para suami yang tak setia, mereka memikat perempuan dengan pesona kemapanan akan hartanya. Padahal modalnya nafsu. Perempuan yang lemah iman atau memang dasarnya nafsu, termanipulasi menyerahkan diri. Alasan lain, desakan gaya hidup dan eksistensi diri. Oleh karena itu, sangat penting bagi perempuan untuk menjaga kehormatan dan sangat penting bagi laki-laki untuk mengendalikan syahwat. Dan, semua itu tidak bisa ditegakkan di sistem hidup liberal yang melahirkan gaya hidup bebas. Sistem yang menormalisasi pacaran, seks sebelum nikah dan tidak menghukum pelaku zina. Sistem liberal yang diterapkan saat ini, tidak punya batasan tegas tentang sistem sosial. Sebab, aturannya memang berbasis hak asasi manusia, yang memberikan kebebasan penuh pada perilaku manusia. Termasuk kebebasan dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, yaitu tidak harus melalui pernikahan. Asalkan suma sama suka, silakan saja. Inilah akar maraknya zina dan gaul bebas. Juga akar penularan HIV. Belum lagi sistem ini membolehkan perilaku penyimpangan seksual. Masih ingat bukan, pintu awal munculnya HIV adalah karena hubungan sesama jenis. Ibu-ibu hamil yang terkena HIV, kemungkinan besar ditularkan oleh pasangannya yang tentunya pernah berhubungan dengan sesama jenis. Sungguh mengerikan. Ironisnya, terhadap para pelaku maksiat ini, masyarakat diminta bersimpati, merangkul dan jangan menghakimi. Padahal sudah jelas, dalam pandangan Islam, penyimpangan seksual tidak diizinkan. Haram dan dosa yang harus dihukum keras. Islam Sistem Pergaulan Terbaik Bumil terkena HIV adalah korban tidak adanya sistem sosial yang tegas. Beda dengan Islam, yang punya sistem ini secara komprehensif. Pergaulan laki-laki dan perempuan ini, bukanlah ranah individu. Tidak bisa kalau hanya diserahkan pada hak asasi masing-masing. Justru, ini sangat urgent. Harus diurus negara. Jadi, seharusnya, negara menerapkan sistem sosial yang tegas tentang pengaturan interaksi laki-laki dan perempuan, guna mencegah efek negatifnya. Juga, demi mewujudkan lingkungan sosial pergaulan yang sehat dan membawa maslahat. Tentu saja, aturan terbaik berasal dari Allah Swt, yaitu sistem pergaulan Islam. Dalam kitab Tata Pergaulan Islam (Nidham Ijtimai), Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan dengan gamblang, bagaimana mengatur interaksi laki-laki dan perempuan. Sebuah konsep yang sangat penting dalam Islam. Prinsip-prinsip sistem sosial itu antara lain: pertama, pemisahan pria dan wanita dalam interaksi khusus. Islam mewajibkan pemisahan antara pria dan wanita dalam kehidupan sehari-hari, kecuali dalam keadaan yang sangat diperlukan. Ada jamaah laki-laki, ada jamaah perempuan. Kedua, menutup aurat dengan pakaian takwa. Wanita Muslimah diwajibkan menutup auratnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Sementara laki-laki juga diwajibkan menutup aurat, sampai lutut. Pakaian ini bukan hanya tren atau budaya, tapi benar-benar untuk menutupi hal-hal yang bisa merangsang syahwat. Minimal tanpa mengumbar bagian tubuh tertentu, siapapun bisa selamat dari rangsangan. Baik dirinya maupun yang memandang. Bahwa tetap ada yang terangsang padahal sudah menutup aurat, itu terkait dengan kewajiban lain yaitu perintah ghadul bashar atau menundukkan pandangan dari syahwat. Ketiga, tidak berdua-duaan atau khalwat tanpa mahram. Pria dan wanita tidak diperbolehkan berdua-duaan, kecuali dengan mahram. Pacaran, zina, hamil di luar nikah adalah bentuk paling umum dari pelanggaran atas aturan ini. Itulah bencana sosial akibat tidak taat pada Allah Swt. Keempat, tidak boleh campur baur atau ikhtilat. Laki-laki dan perempuan bertemu tanpa batasan, bercengkerama, bersendagurau atau pesta bersama tanpa batasan, lebih banyak membawa mudharat. Karena itu Islam melarangnya. Tujuan utama dari tata pergaulan Islam seperti itu adalah untuk menjaga kesucian dan kehormatan individu, serta menciptakan masyarakat yang seimbang dan harmonis. Mencegah terjadinya zina dan penyimpangan seksual. Mencegah kehamilan di luar nikah. Mencegah aborsi, dan bahkan mencegah penyakit menular seksual termasuk HIV. Tak kalah penting, sistem sosial yang sehat tanpa zina dan penyakit kelamin, tentu dapat meningkatkan kualitas hidup individu dan masyarakat. Jangan sampai masyarakat pikirannya hanya syahwat dan syahwat saja, mengingat rangsangan ada di mana-mana akibat penerapan sistem liberal. Dari sini, kaum perempuan pun akan terjaga kehormatannya. Tidak akan mudah menyerahkan kehormatannya kecuali setelah menikah. Lalu menikahi laki-laki yang baik. Menjadi ibu dengan kehamilan yang sehat tanpa penyakit mematikan dan bisa melahirkan generasi penerus yang unggul, bukan generasi lemah.(*) #mediaumat, #kholdanajiyah, #muslimahkaffah Sumber tulisan: Ironi Ibu Negeri, Ribuan Bumil Positif HIV - Muslimah Times

⭐ TIMELINE NABI MUHAMMAD SAW (0–40 TAHUN SEBELUM KENABIAN)

Wed, 10 Dec 2025 00:00:00 +0100


Tahun Gajah (570 M) – Kelahiran Lahir di Makkah pada 12 Rabi‘ul Awwal , tahun terjadinya penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah Abrahah. Ayah beliau, Abdullah, telah wafat sebelum kelahirannya. Usia 0–6 tahun – Masa Pengasuhan Awal Disusui dan diasuh oleh Halimah As-Sa‘diyah di pedalaman selama beberapa tahun. Peristiwa Syarhush Shadr (pembelahan dada) terjadi pada masa kecil beliau. Ibunda beliau, Aminah , wafat saat beliau berusia 6 tahun di Abwa’. Usia 6–8 tahun – Dalam Asuhan Kakek Diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib . Abdul Muththalib wafat ketika Rasul berusia 8 tahun. Usia 8–12 tahun – Dalam Asuhan Abu Thalib Pindah diasuh oleh pamannya, Abu Thalib , sosok yang sangat melindunginya. Beliau mulai bekerja membantu Abu Thalib dalam aktivitas sehari-hari. Usia 12 tahun – Perjalanan ke Syam Ikut dalam kafilah dagang Abu Thalib ke Syam. Bertemu dengan pendeta Buhaira yang melihat tanda-tanda kenabian pada diri beliau. Usia 15 tahun – Perang Fijar Ikut serta dalam Perang Fijar , tetapi hanya membantu memungut anak panah, tidak ikut berperang secara langsung. Usia 20 tahun – Hilful Fudhul Terlibat dalam Perjanjian Hilful Fudhul , perhimpunan pemuda Quraisy untuk membela orang lemah dan menegakkan keadilan. Nabi kemudian berkata: “Jika aku diajak kembali kepada perjanjian itu, aku akan memenuhinya.” Usia 20–25 tahun – Menjadi Pedagang Amanah Mulai menjalankan bisnis secara mandiri. Mendapat gelar Al-Amīn karena kejujuran dan integritasnya. Usia 25 tahun – Menikah dengan Khadijah RA Menikah dengan Khadijah binti Khuwailid , seorang wanita bangsawan dan pengusaha. Khadijah mempercayai Nabi memimpin perniagaannya ke Syam dan Yaman. Usia 35 tahun – Renovasi Ka’bah & Kisah Hajar Aswad Ka’bah diperbaiki oleh Quraisy setelah rusak. Terjadi perselisihan tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad . Nabi menyelesaikan konflik dengan solusi kain terbentang yang diangkat bersama, sementara beliau meletakkan batu itu dengan tangan beliau sendiri. Usia 35–40 tahun – Masa Perenungan Sering berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira’ untuk beribadah dan merenung. Menjauhi penyembahan berhala dan keburukan masyarakat Quraisy. ⭐ Usia 40 tahun (610 M) – Pengangkatan Menjadi Rasul Dalam sebuah khalwat di Gua Hira’, Malaikat Jibril turun membawa wahyu pertama: "Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq…" (QS. Al-‘Alaq 1–5). Nabi Muhammad SAW resmi menjadi Rasul terakhir .
You are viewing a feed created with MySitemapGenerator.com

No comments:

Post a Comment