Sunday, February 15, 2026

Gengsi Dunia, Kemerdekaan Hati, dan Harga Sebuah Hidayah

 Kehidupan dunia sering kali menipu manusia dengan kilau dan ukurannya yang tampak besar, padahal hakikatnya sangat kecil. Rasulullah ﷺ menggambarkan perbandingan dunia dan akhirat seperti seseorang yang mencelupkan tangannya ke laut; air yang menempel di tangannya itulah dunia, sedangkan seluruh lautan adalah akhirat. Dunia bukan sesuatu yang najis atau terlarang, melainkan ladang untuk menanam amal. Namun ia menjadi berbahaya ketika berubah menjadi tujuan, bukan sarana. Ketika hati dipenuhi kebesaran dunia—harta, status, dan pujian manusia—perlahan hati itu mengeras dan sulit menerima kebenaran. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi kebesaran Allah, ia menjadi lembut, mudah tunduk, dan jernih dalam melihat makna hidup.

Kemerdekaan sejati tidak diukur dari status sosial, melainkan dari siapa yang menguasai hati. Bilal bin Rabah adalah seorang budak yang secara lahiriah tidak memiliki kebebasan. Ia disiksa, dijemur di padang pasir, dan ditindih batu besar karena mempertahankan keimanannya. Namun hatinya merdeka, tidak tunduk kepada tuannya, melainkan hanya kepada Allah. Di sisi lain, banyak manusia yang tampak merdeka secara fisik, tetapi diperbudak oleh gengsi, jabatan, dan ketakutan kehilangan kedudukan. Mus’ab bin Umair pun memberi pelajaran serupa. Ia pemuda bangsawan Makkah yang hidup dalam kemewahan, tetapi ketika hidayah datang, ia memilih iman meski harus kehilangan segalanya. Ia wafat dengan kain kafan yang bahkan tidak cukup menutup seluruh tubuhnya. Kenikmatan dunia yang ia tinggalkan ternyata sangat singkat dibanding kenikmatan akhirat yang abadi.

Sejarah juga menunjukkan bahwa mengetahui kebenaran tidak selalu berarti berani menerimanya. Abu Jahl memahami dakwah Nabi, Heraklius hampir menyatakan keimanannya, namun keduanya terhalang oleh gengsi dan ketakutan kehilangan kekuasaan. Inilah harga sebuah hidayah—ia mahal, dan tidak semua orang sanggup membayarnya. Musuh iman bukan hanya kebodohan, tetapi juga kesombongan, syahwat, dunia, dan tipu daya setan. Bahkan Nabi Adam ‘alaihis salam yang berbicara langsung dengan Allah tetap diuji. Namun beliau mengajarkan kepada kita doa penyesalan, “Rabbana zhalamna anfusana…”. Tangisan taubat adalah tanda bahwa jiwa itu masih hidup dan merdeka, tidak tenggelam dalam keangkuhan.

Karena itu, jangan sampai manusia yang diciptakan merdeka justru menjadi budak dunia. Budak harta, budak jabatan, budak penilaian manusia, dan budak gengsi. Allah memberi perumpamaan tentang budak dan orang merdeka, tentang yang bisu dan yang mampu berbicara—apakah mereka sama? Kemerdekaan iman harus dibangun sejak dalam keluarga. Orang tua tidak boleh tenggelam dalam kesibukan dunia hingga melupakan pendidikan ruhani anak. Hidupkan suasana agama di rumah, tanamkan keadilan, dan latih anak mencintai Allah. Setiap hari kita perlu bertanya: untuk apa kita bangun pagi, ke mana langkah ini menuju, dan apa sebenarnya yang sedang dikejar oleh hati?

Pada akhirnya, surga yang luasnya seluas langit dan bumi telah disiapkan bagi orang-orang bertakwa. Bandingkan bumi dengan matahari, matahari dengan galaksi—betapa kecil dunia yang sering kita banggakan ini. Di hari kiamat, yang paling jujur adalah lisan dan anggota badan kita sendiri. Tidak ada kesempatan kedua setelah itu. Maka keputusan iman tidak bisa ditunda. Yang menentukan bukan siapa yang paling kaya, paling berkuasa, atau paling dihormati, melainkan siapa yang paling merdeka hatinya di hadapan Allah. Karena kemerdekaan sejati bukan tentang lepas dari rantai dunia, tetapi tentang hati yang hanya terikat kepada-Nya.

No comments:

Post a Comment