Ilmu Pragmatics dan Systemic Functional Linguistics (SFL) merupakan dua cabang linguistik yang sama-sama menempatkan konteks dan fungsi bahasa sebagai pusat analisis makna. Berbeda dari pendekatan linguistik formal seperti Transformational-Generative Grammar yang menitikberatkan pada struktur internal bahasa dan pembentukan aturan gramatikal, kedua pendekatan ini melihat bahasa sebagai praktik sosial yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam interaksi manusia (Halliday & Hasan, 1989; Levinson, 1983). Dengan demikian, makna tidak dipahami semata-mata sebagai properti linguistik, tetapi sebagai hasil interaksi antara bentuk bahasa, konteks situasi, dan konteks budaya.
Kesamaan utama antara pragmatics dan SFL terletak pada fokus keduanya terhadap makna dalam penggunaan (meaning-in-use). Pragmatics menelaah bagaimana makna ditafsirkan oleh penutur dan pendengar melalui konteks, termasuk implikatur, presuposisi, dan tindak tutur (speech acts) (Yule, 1996; Levinson, 1983). Sementara itu, SFL mengkaji bagaimana makna direalisasikan melalui pilihan-pilihan linguistik dalam sistem bahasa, khususnya melalui tiga metafungsi utama: ideational, interpersonal, dan textual (Halliday & Matthiessen, 2014). Walaupun menggunakan terminologi dan kerangka berbeda, keduanya sepakat bahwa bahasa berfungsi sebagai alat interaksi sosial dan bahwa konteks memainkan peran krusial dalam menentukan makna ujaran.
Namun demikian, terdapat perbedaan mendasar dalam orientasi teoretis dan fokus analisis kedua bidang ini. Pragmatics cenderung berakar pada filsafat bahasa dan psikologi kognitif, dengan perhatian besar pada niat pembicara (speaker’s intention), inferensi pendengar, serta prinsip-prinsip kerja sama seperti Grice’s Cooperative Principle dan maksim-maksim percakapan (Grice, 1975). Analisis pragmatics sering bersifat mikro dan kontekstual, menyoroti bagaimana makna implisit muncul dan bahkan dapat dibatalkan (cancellable). Sebaliknya, SFL berakar kuat pada sosiologi bahasa dan memandang bahasa sebagai social semiotic system, yaitu sistem tanda yang berfungsi dalam struktur sosial tertentu (Halliday, 1978). Fokus SFL lebih makro dan sistemik, mencakup analisis teks, kohesi leksikal dan gramatikal, serta hubungan antara bahasa dan konteks melalui konsep field, tenor, dan mode.
Perbedaan ini tidak menjadikan pragmatics dan SFL sebagai pendekatan yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Titik temu keduanya terletak pada upaya memahami bagaimana bahasa digunakan untuk membangun makna dalam konteks sosial. Konsep implikatur dalam pragmatics, misalnya, dapat memperkaya analisis SFL terhadap makna interpersonal dalam teks, sementara kerangka gramatikal dan metafungsional SFL menyediakan landasan struktural yang lebih sistematis bagi analisis pragmatics (Eggins, 2004). Dalam analisis wacana atau teks kompleks—seperti teks akademik, politik, atau pedagogik—pendekatan gabungan pragmatics dan SFL memungkinkan peneliti untuk menjelaskan baik bagaimana makna dikonstruksi secara gramatikal maupun bagaimana makna tersebut ditafsirkan secara inferensial oleh partisipan. Dengan demikian, titik temu utama kedua disiplin ini adalah interpretasi bahasa sebagai praktik sosial yang selalu terikat pada konteks, tujuan komunikasi, dan relasi antarpelaku bahasa.
Beberapa contoh penelitian yang mengintegrasikan pragmatik sebagai mikrolinguistik (fokus pada penggunaan bahasa dalam konteks spesifik) dengan Systemic Functional Linguistics (SFL) sebagai makrolinguistik (fokus pada fungsi bahasa secara keseluruhan dalam konteks sosial) meliputi studi pada pembelajaran bahasa kedua dan analisis wacana.un-pub+1
Contoh Penelitian Utama
-
Ryshina-Pankova (2019): Menunjukkan bagaimana SFL memberikan perspektif baru pada penelitian dan pengajaran pragmatik L2, dengan menganalisis fungsi bahasa dalam konteks sosial melalui kerangka SFL untuk memahami penggunaan pragmatik pembelajar.[un-pub]
-
Llinares (2015): Menggabungkan SFL dengan pendekatan interaksional kelas untuk mengintegrasikan konten dan bahasa dalam pengajaran CLIL, di mana pragmatik menangani inferensi mikro dan SFL menganalisis struktur makro.[un-pub]
-
Lecompte-Van Poucke (2021): Memperkenalkan pendekatan pragma-fungsional yang mengintegrasikan SFL dengan teori argumentasi untuk menganalisis wacana konflik antarbudaya, memanfaatkan pragmatik untuk tindak tutur mikro dan SFL untuk pola makro.[un-pub]
Integrasi Teoritis
Pendekatan ini sering menggunakan SFL untuk metafungsi bahasa (ideational, interpersonal, textual) sebagai lapisan makro, sementara pragmatik menangani elemen mikro seperti implikatur dan tindak tutur dalam konteks. Studi-studi tersebut berguna untuk bidang pendidikan bahasa dan analisis wacana, relevan dengan penelitian linguistik di Indonesia.academia+2
Daftar Pustaka
Eggins, S. (2004). An Introduction to Systemic Functional Linguistics (2nd ed.). London: Continuum.
Grice, H. P. (1975). Logic and conversation. In P. Cole & J. L. Morgan (Eds.), Syntax and Semantics: Vol. 3. Speech Acts (pp. 41–58). New York: Academic Press.
Halliday, M. A. K. (1978). Language as Social Semiotic: The Social Interpretation of Language and Meaning. London: Edward Arnold.
Halliday, M. A. K., & Hasan, R. (1989). Language, Context, and Text: Aspects of Language in a Social-Semiotic Perspective (2nd ed.). Oxford: Oxford University Press.
Halliday, M. A. K., & Matthiessen, C. (2014). Halliday’s Introduction to Functional Grammar (4th ed.). London: Routledge.
Levinson, S. C. (1983). Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.
Yule, G. (1996). Pragmatics. Oxford: Oxford University Press.
### Contoh Penelitian Utama
- *Ryshina-Pankova (2019)*: Menunjukkan bagaimana SFL memberikan perspektif baru pada penelitian dan pengajaran pragmatik L2, dengan menganalisis fungsi bahasa dalam konteks sosial melalui kerangka SFL untuk memahami penggunaan pragmatik pembelajar. [un-pub](https://un-pub.eu/ojs/index.php/GJFLT/article/view/2026)
- *Llinares (2015)*: Menggabungkan SFL dengan pendekatan interaksional kelas untuk mengintegrasikan konten dan bahasa dalam pengajaran CLIL, di mana pragmatik menangani inferensi mikro dan SFL menganalisis struktur makro. [un-pub](https://un-pub.eu/ojs/index.php/GJFLT/article/view/2026)
- *Lecompte-Van Poucke (2021)*: Memperkenalkan pendekatan pragma-fungsional yang mengintegrasikan SFL dengan teori argumentasi untuk menganalisis wacana konflik antarbudaya, memanfaatkan pragmatik untuk tindak tutur mikro dan SFL untuk pola makro. [un-pub](https://un-pub.eu/ojs/index.php/GJFLT/article/view/2026)
### Integrasi Teoritis
Pendekatan ini sering menggunakan SFL untuk metafungsi bahasa (ideational, interpersonal, textual) sebagai lapisan makro, sementara pragmatik menangani elemen mikro seperti implikatur dan tindak tutur dalam konteks. Studi-studi tersebut berguna untuk bidang pendidikan bahasa dan analisis wacana, relevan dengan penelitian linguistik di Indonesia. [pakfaizal](https://www.pakfaizal.com/2024/11/potential-approach-and-model-of.html)
No comments:
Post a Comment