Thursday, March 26, 2026

Manusia, Fitrah, dan Ujian Kehidupan: Meniti Jalan Takwa di Tengah Godaan Dunia

 


Ustadz Dr. Joko Ali Wasono menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat sifat-sifat kebaikan yang merupakan pantulan dari Asmaul Husna, meskipun hanya sebagai “percikan” kecil dari sifat Allah. Qs 32:9, Qs 15:29, Qs 38:71-72. Percikan ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi luhur untuk mencerminkan nilai-nilai ketuhanan dalam skala terbatas. Kesadaran akan hal ini mendorong manusia untuk terus mengasah sifat-sifat mulia seperti sifat kasih sayang dan kebijaksanaan. QS Al-Hadid [57]: 4 menegaskan bahwa Allah bersama manusia di mana pun berada, sehingga setiap getaran kebaikan dalam diri sejatinya adalah pancaran dari kedekatan-Nya. Dengan memahami bahwa sifat-sifat ini adalah titipan ilahi, manusia tidak akan sombong, melainkan justru semakin bersyukur dan mendekatkan diri kepada-Nya. Manusia pada hakikatnya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, sehingga seluruh kehidupan adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah. Allah juga tidak jauh, melainkan sangat dekat dengan manusia, bahkan selalu bersama di mana pun manusia berada. Kedekatan ini sebagaimana diabadikan dalam QS Qaf [50]: 16, bahwa Allah lebih dekat dari urat leher manusia sendiri, menegaskan bahwa tidak ada sekat yang memisahkan Sang Pencipta dengan hamba-Nya. Namun, kedekatan ini sering tidak disadari karena kurangnya kesadaran spiritual dalam diri manusia. 

Referensi ayat: QS Ar-Rum [30]: 30, QS Al-Hadid [57]: 4, QS Qaf [50]: 16.

Manusia diciptakan dengan fitrah yang suci, bersih, dan cenderung kepada kebaikan. Kesucian ini merupakan modal dasar yang memungkinkan manusia untuk mengenali Tuhan dan kebenaran, sebagaimana diisyaratkan dalam QS Al-A’raf [7]: 172 : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengambil kesaksian dari anak cucu Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.’”

Wednesday, March 25, 2026

Dalam diri manusia terdapat sifat-sifat kebaikan yang merupakan pantulan dari Asmaul Husna

 https://drive.google.com/file/d/16AhAMJYBlVnaSz5gdnPdO__6O6X_gjZv/view rekaman targhib Ustadz Joko


Ustadz Dr. Joko Ali Wasono  menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat sifat-sifat kebaikan yang merupakan pantulan dari Asmaul Husna, meskipun hanya sebagai “percikan” kecil dari sifat Allah. Manusia pada hakikatnya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, sehingga seluruh kehidupan adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah. Allah juga tidak jauh, melainkan sangat dekat dengan manusia, bahkan selalu bersama di mana pun manusia berada. Namun, kedekatan ini sering tidak disadari karena kurangnya kesadaran spiritual dalam diri manusia.

Manusia diciptakan dengan fitrah yang suci, bersih, dan cenderung kepada kebaikan. Akan tetapi, dalam kehidupan terdapat dua potensi yang ditanamkan dalam jiwa, yaitu jalan kebaikan (taqwa) dan keburukan (fujur). Kehidupan menjadi arena pilihan antara mengikuti hawa nafsu atau mengikuti petunjuk Allah. Ibadah seperti puasa di bulan Ramadan berfungsi untuk melatih manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan lebih memilih jalan takwa, sehingga mencapai tujuan hidup yang benar.

Namun, fitrah manusia sering tertutupi oleh berbagai “belenggu” seperti ego, keinginan duniawi, emosi, dan pengaruh lingkungan. Hal-hal ini dapat menghalangi cahaya fitrah sehingga manusia menjauh dari kebenaran. Oleh karena itu, diperlukan proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) untuk membersihkan diri dari keterikatan selain kepada Allah. Konsep tauhid mengajarkan agar manusia melepaskan segala ketergantungan dan hanya bergantung sepenuhnya kepada Allah.

​Koreksi Fakta Historis & Naked Truth kelicikan Zionis Israel

 Fenomena ini dikenal sebagai Hebraisasi (Givrut), yaitu kebijakan sistematis untuk mengganti "Nama-Nama Keluarga" DIASPORA (Eropa, Arab, dll.) menjadi nama Ibrani modern.

​Koreksi Fakta Historis:

🔹​David Ben-Gurion (Nama Asli : David Grün): BENAR. Ia adalah pelopor utama gerakan ini. Ia bahkan mewajibkan para diplomat dan perwira militer Israel untuk menggebraisasi nama mereka agar terlihat sebagai "Yahudi Baru" yang tangguh, bukan Yahudi Eropa yang (menurut pandangan zionis saat itu) "lemah."

🔹​Keluarga Netanyahu (Nama Asli : Mileikowsky): BENAR. Nathan Mileikowsky (kakek Benjamin) adalah rabi asal Lithuania yang mulai menggunakan nama "Netanyahu" sebagai nama pena sebelum keluarganya meresmikannya.

🔹​Shimon Peres (Nama Asli : Szymon Perski): BENAR. Lahir di Wiszniew, Polandia (sekarang Belarus).

🔹​Golda Meir (Nama Asli : Golda Mabovitch): BENAR. Ia mengganti nama "Meyerson" menjadi "Meir" atas desakan Ben-Gurion agar ia memiliki nama Ibrani saat mewakili negara di kancah internasional.

Kesimpulan:

"Bagaimana mungkin kalian mengaku sebagai pemilik asli rumah yang sudah dihuni orang lain selama 400 tahun, jika nama belakang (Nama Keluarga) kalian saja harus diganti agar tidak terdengar seperti tetangga di Warsawa? 

Ini bukan kepulangan, ini adalah Rebranding Korporat yang menggunakan agama sebagai departemen pemasarannya.  https://x.com/WeKa_Ronin/status/2036400903482134670?s=20

😎

Saturday, March 21, 2026

Free AI Image Generator, Editor & Design Online – VisualGPT

 

Free AI Image Generator, Editor & Design Online – VisualGPT

Happy Eid al-Fitr 1447 H.

 



Peace be upon you, and the mercy of Allah and His blessings.

With sincere heart, we would like to extend:

“Happy Eid al-Fitr 1447 H.”

We humbly ask for your forgiveness, both physically and spiritually.

May Allah accept (good deeds) from us and from you. O Most Generous, accept (them).

May we be among those who return (to purity) and attain victory.

Wishing you well every year. Ameen.

And peace be upon you, and the mercy of Allah and His blessings.


Faizal Risdianto and Family 🙏