Ustadz Dr. Joko Ali Wasono menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat sifat-sifat kebaikan yang merupakan pantulan dari Asmaul Husna, meskipun hanya sebagai “percikan” kecil dari sifat Allah. Qs 32:9, Qs 15:29, Qs 38:71-72. Percikan ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi luhur untuk mencerminkan nilai-nilai ketuhanan dalam skala terbatas. Kesadaran akan hal ini mendorong manusia untuk terus mengasah sifat-sifat mulia seperti sifat kasih sayang dan kebijaksanaan. QS Al-Hadid [57]: 4 menegaskan bahwa Allah bersama manusia di mana pun berada, sehingga setiap getaran kebaikan dalam diri sejatinya adalah pancaran dari kedekatan-Nya. Dengan memahami bahwa sifat-sifat ini adalah titipan ilahi, manusia tidak akan sombong, melainkan justru semakin bersyukur dan mendekatkan diri kepada-Nya. Manusia pada hakikatnya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, sehingga seluruh kehidupan adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah. Allah juga tidak jauh, melainkan sangat dekat dengan manusia, bahkan selalu bersama di mana pun manusia berada. Kedekatan ini sebagaimana diabadikan dalam QS Qaf [50]: 16, bahwa Allah lebih dekat dari urat leher manusia sendiri, menegaskan bahwa tidak ada sekat yang memisahkan Sang Pencipta dengan hamba-Nya. Namun, kedekatan ini sering tidak disadari karena kurangnya kesadaran spiritual dalam diri manusia.
Referensi ayat: QS Ar-Rum [30]: 30, QS Al-Hadid [57]: 4, QS Qaf [50]: 16.
Manusia diciptakan dengan fitrah yang suci, bersih, dan cenderung kepada kebaikan. Kesucian ini merupakan modal dasar yang memungkinkan manusia untuk mengenali Tuhan dan kebenaran, sebagaimana diisyaratkan dalam QS Al-A’raf [7]: 172 : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengambil kesaksian dari anak cucu Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.’”
Namun, kehidupan dunia menjadi medan ujian di mana manusia harus mempertahankan kesucian tersebut dari berbagai godaan. Akan tetapi, dalam kehidupan terdapat dua potensi yang ditanamkan dalam jiwa, yaitu jalan kebaikan (taqwa) dan keburukan (fujur). QS Asy-Syams [91]: 7-10 secara gamblang menjelaskan bahwa Allah mengilhamkan kepada jiwa jalan kefasikan dan ketakwaan, sehingga kejayaan jiwa bergantung pada pilihan menyucikannya. Kehidupan menjadi arena pilihan antara mengikuti hawa nafsu atau mengikuti petunjuk Allah. Hawa nafsu jika tidak dikendalikan akan menjerumuskan, sebagaimana QS Al-Jatsiyah [45]: 23 memperingatkan bahaya orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Ibadah seperti puasa di bulan Ramadan berfungsi untuk melatih manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan lebih memilih jalan takwa, sehingga mencapai tujuan hidup yang benar. QS Al-Baqarah [2]: 183 menyatakan bahwa puasa diwajibkan agar manusia bertakwa, menjadikannya alat efektif untuk membangun kekuatan dan daya tahan spiritual dan keimanan. Dengan latihan rutin ini, manusia tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran dan empati, yang semuanya adalah pilar menuju kehidupan yang diridhai Allah.
Referensi ayat: QS Al-A’raf [7]: 172, QS Asy-Syams [91]: 7-10, QS Al-Jatsiyah [45]: 23, QS Al-Baqarah [2]: 183.
Namun, fitrah manusia sering tertutupi oleh berbagai “belenggu” seperti ego, keinginan duniawi, emosi, dan pengaruh lingkungan. Belenggu ini berfungsi sebagai hijab (penghalang) yang menghalangi cahaya fitrah untuk bersinar terang, sehingga manusia sering terjebak dalam kesesatan. Hal-hal ini dapat menghalangi cahaya fitrah sehingga manusia menjauh dari kebenaran. Oleh karena itu, diperlukan proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) untuk membersihkan diri dari keterikatan selain kepada Allah. Proses tazkiyah ini merupakan inti dari risalah kenabian, sebagaimana disebut dalam QS Al-Jumu’ah [62]: 2 bahwa Nabi diutus untuk menyucikan jiwa manusia. Konsep tauhid mengajarkan agar manusia melepaskan segala ketergantungan dan hanya bergantung sepenuhnya kepada Allah. Dengan tauhid yang murni, manusia membebaskan dirinya dari perbudakan kepada materi, status, dan ego, lalu hanya tunduk kepada satu-satunya Dzat yang Mahakuasa,
Selain itu, manusia perlu menyadari posisinya sebagai hamba Allah, bukan pemilik segala sesuatu. Kesadaran ini menjadi fondasi kerendahan hati, karena menyadari bahwa tidak ada satu pun yang benar-benar dimiliki secara mutlak. Segala yang dimiliki hanyalah titipan yang harus dikelola dengan amanah. Sikap sebagai hamba tercermin dalam ketaatan kepada petunjuk Allah serta pengamalan sifat-sifat mulia seperti jujur, amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab. Sebaliknya, perilaku mungkar muncul ketika manusia menyimpang dari fitrah tersebut. Penyimpangan ini terjadi ketika manusia melupakan tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah, sebagaimana diingatkan dalam QS Adz-Dzariyat [51]: 56. Dengan memosisikan diri sebagai hamba, manusia akan menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, karena setiap titipan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan-Nya.
Pada akhirnya, setiap peristiwa dalam hidup merupakan bentuk pendidikan dari Allah agar manusia bertumbuh secara spiritual. Tidak ada kejadian yang sia-sia; semuanya adalah kurikulum ilahi yang dirancang untuk mengasah kesabaran dan meningkatkan derajat ketakwaan. Sikap terbaik adalah menerima segala keadaan dengan iman, bersabar, dan bersungguh-sungguh dalam menjalani proses kehidupan. Dengan cara pandang iman, setiap kejadian akan membawa kebaikan, baik berupa ujian maupun kenikmatan. Sikap ini sejalan dengan sabda Nabi yang diriwayatkan Muslim bahwa urusan seorang mukmin sungguh menakjubkan, karena seluruh keadaannya adalah kebaikan. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk terus memperbaiki diri, menjaga kesadaran, dan menjadikan setiap waktu sebagai amal kebaikan. Dengan kesadaran ini, setiap detik kehidupan akan dipenuhi dengan makna ibadah dan perjalanan ruhani yang terus menanjak menuju ridha Allah.

No comments:
Post a Comment