Thursday, June 18, 2026

Perception: proses kognitif awal vs Reflection: proses metacognitif-evaluatif

 Pertanyaan ini menyentuh dua konsep yang sering dipakai seolah-olah sinonim, padahal keduanya berbeda secara psikologis dan pedagogis.

1. Apa itu student’s perception?

Dalam psikologi pendidikan, perception biasanya dimaknai sebagai proses menangkap, mengorganisasi, dan memberi makna pada rangsangan dari lingkungan sehingga menjadi “gambaran” di benak siswa tentang objek, peristiwa, atau hubungan tertentu.[id.scribd]
Dalam konteks pendidikan, student’s perception berarti bagaimana siswa memaknai pengalaman belajarnya: misalnya persepsi tentang guru, mata kuliah, metode, atau lingkungan belajar.[journal2.unusa.ac]

Beberapa ciri utama student’s perception:

  • Terjadi relatif spontan dan online saat siswa mengalami suatu situasi (misalnya selama perkuliahan atau saat menggunakan LMS).[media.neliti]

  • Mengintegrasikan sensasi (apa yang dilihat, didengar, dialami) dengan skema kognitif yang sudah ada, sehingga muncul penilaian seperti “kelas ini menarik”, “dosen ini adil”, “e-learning ini membosankan”.[journal2.unusa.ac]

  • Sering diukur dengan kuesioner atau skala persepsi; fokusnya pada bagaimana siswa memandang sesuatu, bukan bagaimana mereka menganalisis pengalaman itu secara mendalam.[repository.uin-suska.ac]

2. Apa itu student’s reflection?

Reflection dalam pendidikan biasanya dipahami sebagai proses kognitif dan metakognitif yang disengaja, di mana siswa meninjau kembali pengalaman belajarnya, menilai, dan menarik pelajaran untuk perbaikan diri.[ejournal.unsrat.ac]
Dalam konteks psikologi pendidikan dan self-regulated learning, student’s reflection berarti bagaimana siswa merenungkan apa yang sudah mereka lakukan, pikirkan, dan rasakan selama belajar, lalu menggunakan hasil renungan itu untuk mengubah strategi atau perilaku belajar.[fpsi.hangtuah.ac]

Ciri utama student’s reflection:

  • Bersifat deliberate: dilakukan secara sengaja setelah atau di sela pengalaman belajar (misalnya melalui reflective journal, reflective essay, atau self-reflection form).[etd.repository.ugm.ac]

  • Mencakup evaluasi kognitif dan afektif: siswa menilai pemahaman, strategi yang dipakai, emosi yang muncul, dan akibatnya bagi hasil belajar, lalu memikirkan apa yang perlu diubah.[journal.pubmedia]

  • Sangat terkait dengan metakognisi dan regulasi diri: siswa memonitor dan mengatur proses belajarnya berdasarkan refleksi diri.[fpsi.hangtuah.ac]

3. Perbedaan konsep dalam psikologi pendidikan

Secara garis besar, dalam psikologi pendidikan:

  • Perception

    • Lebih dekat dengan proses kognitif awal: bagaimana stimulus ditangkap dan dimaknai pada saat kejadian.[id.scribd]

    • Objeknya bisa: guru, mata kuliah, lingkungan, metode, teknologi, bahkan refleksi itu sendiri (misalnya persepsi terhadap kegiatan reflective journaling).[cibangsa]

    • Lebih menggambarkan “how students see something”.

  • Reflection

    • Lebih dekat dengan proses metakognitif dan evaluatif: bagaimana siswa melihat kembali dan mengevaluasi pengalaman yang sudah dipersepsi, lalu mengintegrasikan dengan tujuan dan strategi belajar.[lmsspada.kemdiktisaintek.go]

    • Objeknya: pengalaman belajar mereka sendiri, hasil belajar, strategi yang dipakai, dan alasan keberhasilan/kegagalan.[ejournal.unsrat.ac]

    • Lebih menggambarkan “how students think about and learn from what they experienced”.

Dengan kata lain, perception bisa menjadi bahan baku bagi reflection: siswa terlebih dahulu memiliki persepsi tentang kelas, guru, dan pengalaman belajar; kemudian melalui refleksi mereka menilai persepsi itu, mempertanyakan, mengafirmasi, atau merevisinya untuk mengarahkan tindakan selanjutnya.[etd.repository.ugm.ac]

Thursday, June 11, 2026

Saturday, June 6, 2026

The SEO Value of the domain of Pakfaizal.com

 


Pakfaizal.com is an academic and educational blog owned by Dr. Faizal Risdianto of UIN Salatiga. Established in December 2012, the website has been active for more than thirteen years and publishes content in both Indonesian and English. Its primary focus includes linguistics, English Language Teaching (ELT), pragmatics, scholarly publishing, Scopus and SINTA indexing, and higher education. The site mainly serves lecturers, students, researchers, journal managers, and other academic professionals.

From an SEO and advertising perspective, Pakfaizal.com offers several strategic advantages. Its long domain history, strong personal academic branding, and substantial collection of unique scholarly content contribute to its credibility and authority within the academic niche. Many articles function as evergreen reference materials with long-term relevance, making the website attractive to advertisers seeking visibility among Indonesia’s academic community. However, as a specialized academic platform, its traffic volume is likely smaller than that of mainstream technology blogs or news websites.

Based on publicly observable indicators such as domain age, content volume, and publication frequency, Pakfaizal.com may generate an estimated 5,000–30,000 monthly organic visitors and 10,000–60,000 monthly pageviews. Its estimated authority metrics could range from an Ahrefs Domain Rating (DR) of 20–40 and a Moz Domain Authority (DA) of 25–45, with approximately 100–500 referring domains. In terms of commercial collaboration, a reasonable market rate would be around US$100–300 for a sponsored guest post and US$50–150 for a link insertion, depending on content relevance, traffic performance, and the specific requirements of the advertiser.

Relational Face and Rapport Management in Lecturer–Student WhatsApp Interactions


 Risdianto, F., Machfudz, M., Sagimin, E. M., Hanafi, H., & Jumanto, J. (2023). Politeness and Impoliteness Strategies in Lecturer-Student Communication Within Cyberpragmatic Chats. Journal of Pragmatics Research, 5(1), 107–134. https://doi.org/10.18326/jopr.v5i1.107-134

Relational Face and Rapport Management in Lecturer–Student WhatsApp Interactions

Analisis terhadap interaksi WhatsApp antara mahasiswa dan dosen di Universitas Islam Negeri Salatiga menunjukkan bahwa kesantunan dan ketidaksantunan dalam komunikasi digital tidak dapat dijelaskan secara memadai hanya melalui perspektif klasik seperti teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) atau Prinsip Kesantunan Leech (1983). Data penelitian memperlihatkan bahwa makna kesantunan dibentuk melalui proses negosiasi relasional yang berlangsung secara dinamis di dalam interaksi. Oleh karena itu, temuan penelitian ini dianalisis menggunakan Teori Pembentukan Muka (Face Constituting Theory) dari Arundale (2010) dan Teori Manajemen Rapor (Rapport Management Theory) dari Spencer-Oatey (2008) untuk memahami bagaimana hubungan interpersonal dikonstruksi, dipelihara, dan dinegosiasikan dalam komunikasi berbasis teks.

Dari perspektif Teori Pembentukan Muka, muka (face) dipahami bukan sebagai atribut individual, melainkan sebagai pencapaian interaksional yang dibangun bersama (conjointly co-constituted) oleh para partisipan dalam suatu hubungan sosial (Arundale, 2010, p. 2078). Dengan demikian, fokus analisis tidak terletak pada tindakan individu semata, tetapi pada bagaimana hubungan antara dosen dan mahasiswa diwujudkan melalui rangkaian giliran bertutur (chat turns). Pada Eksper 1 (bald-on-record) dan Eksper 2 (negative politeness), respons mahasiswa yang sangat singkat seperti “Ya Pak” atau “Waalaikumsalam, baik Pak” tidak sekadar mencerminkan kepatuhan terhadap otoritas dosen. Sebaliknya, respons tersebut secara kolaboratif membangun dan mempertahankan jarak relasional (relational separation) yang menjadi ciri hubungan institusional antara dosen dan mahasiswa. Dalam konteks ini, muka yang terbentuk bukanlah citra diri individu, melainkan hubungan formal yang menegaskan perbedaan status sosial dan akademik antara kedua pihak.

Proses pembentukan muka tersebut juga terlihat pada penggunaan strategi lindung nilai (hedging) dalam Eksper 4 dan Eksper 5. Ungkapan seperti “Maaf mengganggu waktu Bapak” menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menyampaikan maksud komunikatif, tetapi juga secara aktif mengantisipasi bagaimana pesan mereka akan ditafsirkan oleh dosen. Fenomena ini sejalan dengan konsep reflexive face interpreting yang dikemukakan Arundale (2010), yaitu proses ketika seseorang menafsirkan bagaimana dirinya dipersepsikan oleh lawan tutur. Dalam lingkungan komunikasi digital yang minim petunjuk nonverbal, mahasiswa tampak berupaya mengurangi potensi ancaman terhadap hubungan interpersonal dengan merancang pesan yang aman secara relasional. Strategi tersebut menunjukkan adanya kesadaran pragmatik bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada bagaimana hubungan sosial dipertahankan melalui pilihan bahasa yang tepat.

Thursday, June 4, 2026

Tantura, Film tentang Kebinatangan Zionis Israel


 Tantura, film dengan subtitle bahasa Prancis.

Pada tahun 1948, beberapa bulan setelah pendirian Israel, tentara Yahudi Israel melakukan pembantaian di desa pesisir kecil yang damai ini. Brigade Alexandroni, sebuah unit dari organisasi teroris Haganah, menyerang. Para tentara mengumpulkan para pria, wanita, dan anak-anak. Mereka memperkosa para wanita. Mereka mengeksekusi. Setidaknya 250 tewas, menurut para saksi. Anak-anak berusia 13 tahun, ditembak di bagian belakang leher, di pantai. Baru saja keluar dari kengerian Nazi, sebagian dari mereka mengulangi kejahatan yang sama terhadap warga sipil yang tidak bersalah. Kemudian, mereka menguburkan mayat-mayat dalam kuburan massal untuk menyembunyikan kengerian itu.

Peneliti Israel Teddy Katz mendokumentasikan fakta-fakta dan mengumpulkan pengakuan dari para tentara. Salah satu dari mereka tertawa: "Saya tidak ingat berapa banyak orang Arab yang saya bunuh." Yang lain menangis, tetapi sudah terlambat. Katz diseret ke pengadilan, kehilangan gelarnya, dan menandatangani pencabutan pernyataan yang sangat ia sesali. Namun, bukti tidak bisa dicabut: kuburan massal itu masih ada. Salah satunya, di bawah sebuah tempat parkir, telah didokumentasikan oleh Forensic Architecture. Para veteran mengaku di depan kamera, dalam film Tantura.

Ini bukan mitos, bukan legenda. Ini adalah Nakba. Ini adalah bukti kebintangan Zionis Israel.

Dalam film ini, Anda melihat penyangkalan di mana mereka terbenam. Mereka tidak akan pernah mengakui telah membunuh 250 orang di Tantura. Lalu, bagaimana mungkin mereka mengakui telah membunuh puluhan ribu anak di Gaza? Penyangkalan telah menyertai mereka sejak dulu. Itu adalah baju zirah mereka. Dan kutukan mereka.

Film ini memiliki subtitle bahasa Prancis. Tontonlah. Dan jangan lupakan.