Saturday, June 6, 2026

Relational Face and Rapport Management in Lecturer–Student WhatsApp Interactions


 Risdianto, F., Machfudz, M., Sagimin, E. M., Hanafi, H., & Jumanto, J. (2023). Politeness and Impoliteness Strategies in Lecturer-Student Communication Within Cyberpragmatic Chats. Journal of Pragmatics Research, 5(1), 107–134. https://doi.org/10.18326/jopr.v5i1.107-134

Relational Face and Rapport Management in Lecturer–Student WhatsApp Interactions

Analisis terhadap interaksi WhatsApp antara mahasiswa dan dosen di Universitas Islam Negeri Salatiga menunjukkan bahwa kesantunan dan ketidaksantunan dalam komunikasi digital tidak dapat dijelaskan secara memadai hanya melalui perspektif klasik seperti teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) atau Prinsip Kesantunan Leech (1983). Data penelitian memperlihatkan bahwa makna kesantunan dibentuk melalui proses negosiasi relasional yang berlangsung secara dinamis di dalam interaksi. Oleh karena itu, temuan penelitian ini dianalisis menggunakan Teori Pembentukan Muka (Face Constituting Theory) dari Arundale (2010) dan Teori Manajemen Rapor (Rapport Management Theory) dari Spencer-Oatey (2008) untuk memahami bagaimana hubungan interpersonal dikonstruksi, dipelihara, dan dinegosiasikan dalam komunikasi berbasis teks.

Dari perspektif Teori Pembentukan Muka, muka (face) dipahami bukan sebagai atribut individual, melainkan sebagai pencapaian interaksional yang dibangun bersama (conjointly co-constituted) oleh para partisipan dalam suatu hubungan sosial (Arundale, 2010, p. 2078). Dengan demikian, fokus analisis tidak terletak pada tindakan individu semata, tetapi pada bagaimana hubungan antara dosen dan mahasiswa diwujudkan melalui rangkaian giliran bertutur (chat turns). Pada Eksper 1 (bald-on-record) dan Eksper 2 (negative politeness), respons mahasiswa yang sangat singkat seperti “Ya Pak” atau “Waalaikumsalam, baik Pak” tidak sekadar mencerminkan kepatuhan terhadap otoritas dosen. Sebaliknya, respons tersebut secara kolaboratif membangun dan mempertahankan jarak relasional (relational separation) yang menjadi ciri hubungan institusional antara dosen dan mahasiswa. Dalam konteks ini, muka yang terbentuk bukanlah citra diri individu, melainkan hubungan formal yang menegaskan perbedaan status sosial dan akademik antara kedua pihak.

Proses pembentukan muka tersebut juga terlihat pada penggunaan strategi lindung nilai (hedging) dalam Eksper 4 dan Eksper 5. Ungkapan seperti “Maaf mengganggu waktu Bapak” menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menyampaikan maksud komunikatif, tetapi juga secara aktif mengantisipasi bagaimana pesan mereka akan ditafsirkan oleh dosen. Fenomena ini sejalan dengan konsep reflexive face interpreting yang dikemukakan Arundale (2010), yaitu proses ketika seseorang menafsirkan bagaimana dirinya dipersepsikan oleh lawan tutur. Dalam lingkungan komunikasi digital yang minim petunjuk nonverbal, mahasiswa tampak berupaya mengurangi potensi ancaman terhadap hubungan interpersonal dengan merancang pesan yang aman secara relasional. Strategi tersebut menunjukkan adanya kesadaran pragmatik bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada bagaimana hubungan sosial dipertahankan melalui pilihan bahasa yang tepat.

Thursday, June 4, 2026

Tantura, Film tentang Kebinatangan Zionis Israel


 Tantura, film dengan subtitle bahasa Prancis.

Pada tahun 1948, beberapa bulan setelah pendirian Israel, tentara Yahudi Israel melakukan pembantaian di desa pesisir kecil yang damai ini. Brigade Alexandroni, sebuah unit dari organisasi teroris Haganah, menyerang. Para tentara mengumpulkan para pria, wanita, dan anak-anak. Mereka memperkosa para wanita. Mereka mengeksekusi. Setidaknya 250 tewas, menurut para saksi. Anak-anak berusia 13 tahun, ditembak di bagian belakang leher, di pantai. Baru saja keluar dari kengerian Nazi, sebagian dari mereka mengulangi kejahatan yang sama terhadap warga sipil yang tidak bersalah. Kemudian, mereka menguburkan mayat-mayat dalam kuburan massal untuk menyembunyikan kengerian itu.

Peneliti Israel Teddy Katz mendokumentasikan fakta-fakta dan mengumpulkan pengakuan dari para tentara. Salah satu dari mereka tertawa: "Saya tidak ingat berapa banyak orang Arab yang saya bunuh." Yang lain menangis, tetapi sudah terlambat. Katz diseret ke pengadilan, kehilangan gelarnya, dan menandatangani pencabutan pernyataan yang sangat ia sesali. Namun, bukti tidak bisa dicabut: kuburan massal itu masih ada. Salah satunya, di bawah sebuah tempat parkir, telah didokumentasikan oleh Forensic Architecture. Para veteran mengaku di depan kamera, dalam film Tantura.

Ini bukan mitos, bukan legenda. Ini adalah Nakba. Ini adalah bukti kebintangan Zionis Israel.

Dalam film ini, Anda melihat penyangkalan di mana mereka terbenam. Mereka tidak akan pernah mengakui telah membunuh 250 orang di Tantura. Lalu, bagaimana mungkin mereka mengakui telah membunuh puluhan ribu anak di Gaza? Penyangkalan telah menyertai mereka sejak dulu. Itu adalah baju zirah mereka. Dan kutukan mereka.

Film ini memiliki subtitle bahasa Prancis. Tontonlah. Dan jangan lupakan.

Saturday, May 30, 2026

Poin-poin terpenting dalam Kajian Cyberpragmatics

**Siberpragmatik dan Dinamika Kesantunan dalam Komunikasi Digital**

Bidang **siberpragmatik (cyberpragmatics)** berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang mengubah cara manusia berinteraksi dalam ruang digital. Dalam konteks ini, komunikasi tidak lagi bergantung semata-mata pada bahasa verbal, tetapi juga melibatkan berbagai sumber semiotik seperti emoji, stiker, meme, GIF, gambar, dan video yang membentuk makna secara multimodal. Menurut Yus (2011), siberpragmatik mempelajari bagaimana pengguna bahasa menginterpretasikan dan menegosiasikan makna dalam lingkungan digital yang memiliki karakteristik berbeda dari komunikasi tatap muka. Lingkungan daring yang bersifat asinkron, anonim, dan berbasis teknologi telah menciptakan dinamika baru dalam praktik kesantunan (*politeness*) dan ketidaksantunan (*impoliteness*) dalam komunikasi sehari-hari.

Salah satu karakteristik utama komunikasi digital adalah **multimodalitas**, yaitu penggunaan berbagai mode komunikasi secara simultan untuk menyampaikan pesan. Dalam aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, stiker sering digunakan untuk mengekspresikan emosi seperti kemarahan, kesedihan, atau kelelahan secara humoris sehingga dapat mengurangi potensi ancaman terhadap muka (*face-threatening acts*) dan memperhalus pesan yang berpotensi menimbulkan konflik. Demikian pula, emoji dalam platform media sosial seperti TikTok berfungsi sebagai pengganti ekspresi wajah dan intonasi yang tidak tersedia dalam komunikasi berbasis teks. Penggunaan unsur-unsur visual tersebut membantu pengguna membangun identitas digital sekaligus memperkaya makna pragmatik yang terkandung dalam pesan (Herring, 2013; Yus, 2014).

Friday, May 29, 2026

Cyberpragmatics: Politeness and Impoliteness in Digital Communication

Cyberpragmatics: Politeness and Impoliteness in Digital Communication

Imagine you are chatting with a friend on WhatsApp. You send a message, but your friend replies with a single "k." Is that rude? Maybe it is, maybe it isn’t — but how do you know? Now imagine you’re in an online game, and another player calls you a name. Would you say the same thing to their face? Probably not. The reason these questions are tricky is that digital communication has changed the way we negotiate meaning, politeness, and social relationships. This is exactly what cyberpragmatics — the study of language use in digital environments — tries to understand.

Cyberpragmatics has become a vital field in contemporary linguistics because digital communication has transformed how people negotiate meaning, politeness, and social relationships online. The rise of social media, online gaming, WhatsApp interactions, and AI-based communication has created new forms of language behaviour that are quite different from traditional face-to-face conversation.

What Makes Digital Communication Different?

To understand cyberpragmatics, you first need to see what is unique about online interaction. Graham and Hardaker (2017) explain that technology-mediated communication changes interaction dynamics in three important ways:

  • Asynchronicity: Messages do not have to be exchanged in real time. You can send a text and wait hours for a reply. This changes the rhythm of conversation and can make politeness strategies more complicated (for instance, a delayed reply might be seen as ignoring someone).
  • Anonymity: Users can hide their real identities behind usernames and avatars. This can make people feel less accountable for what they say, leading to more aggressive or uninhibited language.
  • Multimodality: Communication is not just about words. Emojis, stickers, memes, GIFs, images, and videos all carry meaning. A single 😂 can soften a criticism, or a meme can deliver an insult without a word being said.

These features mean that politeness and impoliteness are constantly being renegotiated in digital spaces. Users rely not only on words but also on visual and symbolic cues to express interpersonal meaning. Traditional theories of politeness, developed for face-to-face conversation, often struggle to account for these new dynamics.