Saturday, May 30, 2026

Poin-poin terpenting dalam Kajian Cyberpragmatics

**Siberpragmatik dan Dinamika Kesantunan dalam Komunikasi Digital**

Bidang **siberpragmatik (cyberpragmatics)** berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang mengubah cara manusia berinteraksi dalam ruang digital. Dalam konteks ini, komunikasi tidak lagi bergantung semata-mata pada bahasa verbal, tetapi juga melibatkan berbagai sumber semiotik seperti emoji, stiker, meme, GIF, gambar, dan video yang membentuk makna secara multimodal. Menurut Yus (2011), siberpragmatik mempelajari bagaimana pengguna bahasa menginterpretasikan dan menegosiasikan makna dalam lingkungan digital yang memiliki karakteristik berbeda dari komunikasi tatap muka. Lingkungan daring yang bersifat asinkron, anonim, dan berbasis teknologi telah menciptakan dinamika baru dalam praktik kesantunan (*politeness*) dan ketidaksantunan (*impoliteness*) dalam komunikasi sehari-hari.

Salah satu karakteristik utama komunikasi digital adalah **multimodalitas**, yaitu penggunaan berbagai mode komunikasi secara simultan untuk menyampaikan pesan. Dalam aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, stiker sering digunakan untuk mengekspresikan emosi seperti kemarahan, kesedihan, atau kelelahan secara humoris sehingga dapat mengurangi potensi ancaman terhadap muka (*face-threatening acts*) dan memperhalus pesan yang berpotensi menimbulkan konflik. Demikian pula, emoji dalam platform media sosial seperti TikTok berfungsi sebagai pengganti ekspresi wajah dan intonasi yang tidak tersedia dalam komunikasi berbasis teks. Penggunaan unsur-unsur visual tersebut membantu pengguna membangun identitas digital sekaligus memperkaya makna pragmatik yang terkandung dalam pesan (Herring, 2013; Yus, 2014).

Fenomena lain yang banyak ditemukan dalam komunikasi daring adalah **resiprositas ketidaksantunan (*impoliteness reciprocity*)**, yaitu kecenderungan seseorang untuk membalas ujaran yang tidak santun dengan respons yang sama atau bahkan lebih agresif. Ketika pengguna menerima komentar yang menyerang, mereka sering kali merespons dengan strategi verbal yang juga mengancam muka lawan tutur. Kondisi ini diperkuat oleh anonimitas dan jarak sosial dalam ruang siber yang mengurangi rasa tanggung jawab sosial pengguna terhadap konsekuensi dari ujaran mereka. Akibatnya, perilaku seperti ujaran kebencian, *cyberbullying*, dan konflik verbal menjadi lebih mudah berkembang dibandingkan dalam interaksi tatap muka (Culpeper, 2011; Lorenzo-Dus et al., 2020).

Perkembangan komunikasi digital juga mendorong perubahan dalam pemahaman tentang konsep **“muka” (*face*)** yang diperkenalkan oleh Brown dan Levinson (1987). Dalam media sosial, identitas pengguna sering kali bersifat fleksibel, anonim, atau bahkan pseudonim sehingga konsep muka tidak lagi hanya berkaitan dengan citra diri individu, tetapi juga mencakup identitas kolektif, komunitas daring, dan reputasi digital. Oleh karena itu, sejumlah peneliti menganggap bahwa teori kesantunan klasik belum sepenuhnya mampu menjelaskan kompleksitas interaksi di ruang siber dan mengusulkan pendekatan *post-politeness* yang lebih menekankan pada praktik sosial, konteks budaya, dan dinamika komunitas digital (Locher & Watts, 2005; Kádár & Haugh, 2013).

Selain faktor pengguna, perkembangan teknologi juga menghadirkan dimensi baru melalui peran **algoritma platform dan kecerdasan buatan (AI)**. Algoritma media sosial sering kali memprioritaskan konten yang kontroversial atau memicu emosi tinggi karena dianggap mampu meningkatkan keterlibatan pengguna (*engagement*). Akibatnya, interaksi yang mengandung konflik dan ketidaksantunan berpotensi memperoleh visibilitas yang lebih besar dibandingkan komunikasi yang netral. Di sisi lain, penggunaan chatbot dan sistem AI generatif menimbulkan pertanyaan etis mengenai bagaimana teknologi tersebut memahami, merespons, atau bahkan mereproduksi pola kesantunan dan ketidaksantunan manusia dalam percakapan digital (Gillespie, 2018; Yus, 2024).

Dalam konteks pendidikan tinggi, pemahaman mengenai siberpragmatik menjadi semakin penting karena banyak mahasiswa berpartisipasi aktif dalam berbagai platform komunikasi digital untuk keperluan akademik maupun sosial. Kurangnya kesadaran terhadap norma pragmatik digital sering menyebabkan munculnya ujaran yang dianggap tidak santun meskipun tidak dimaksudkan demikian oleh penutur. Oleh karena itu, integrasi kajian siberpragmatik ke dalam pembelajaran bahasa dan komunikasi dapat membantu mahasiswa mengembangkan kompetensi komunikasi digital yang lebih kritis, etis, dan efektif dalam masyarakat yang semakin terhubung secara global (Tagg, 2015; Yus, 2011).

Secara keseluruhan, siberpragmatik menunjukkan bahwa pemahaman terhadap komunikasi modern tidak dapat dilepaskan dari interaksi antara bahasa, teknologi, visualitas, dan konteks sosial budaya. Kajian ini menegaskan perlunya pengembangan teori pragmatik yang mampu mengakomodasi karakteristik komunikasi digital kontemporer sehingga dapat berkontribusi pada terciptanya ruang publik digital yang lebih sehat, inklusif, dan demokratis.


This blog post explores the emerging field of cyberpragmatics, which examines how digital environments reshape human communication, social relationships, and the negotiation of meaning. The text highlights how features like anonymity and multimodality influence online behavior, leading to complex dynamics of both politeness and hostility across platforms like WhatsApp, social media, and gaming communities. Researchers discuss specific phenomena such as impoliteness reciprocity, the evolution of cultural "face" in digital spaces, and the strategic use of toxic language in competitive contexts. Additionally, the source addresses contemporary academic debates regarding the role of algorithmic influence and the integration of artificial intelligence in interpersonal discourse. Ultimately, the author emphasizes that traditional linguistic theories must adapt to include visual and technological dimensions to fully understand modern interaction. Such insights provide a critical framework for navigating the complexities of digital democracy and academic communication in an increasingly connected world.

References

Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: Some universals in language usage. Cambridge University Press.

Culpeper, J. (2011). Impoliteness: Using language to cause offence. Cambridge University Press.

Gillespie, T. (2018). Custodians of the internet: Platforms, content moderation, and the hidden decisions that shape social media. Yale University Press.

Herring, S. C. (2013). Discourse in Web 2.0: Familiar, reconfigured, and emergent. In D. Tannen & A. M. Trester (Eds.), Discourse 2.0: Language and new media (pp. 1–25). Georgetown University Press.

Kádár, D. Z., & Haugh, M. (2013). Understanding politeness. Cambridge University Press.

Locher, M. A., & Watts, R. J. (2005). Politeness theory and relational work. Journal of Politeness Research, 1(1), 9–33. https://doi.org/10.1515/jplr.2005.1.1.9

Lorenzo-Dus, N., Blitvich, P. G.-C., & Bou-Franch, P. (2020). Online aggression and impoliteness. In M. A. Locher & S. Graham (Eds.), Interpersonal pragmatics (pp. 311–333). De Gruyter.

Tagg, C. (2015). Exploring digital communication: Language in action. Routledge.

Yus, F. (2011). Cyberpragmatics: Internet-mediated communication in context. John Benjamins.

Yus, F. (2014). Not all emoticons are created equal. Linguistic and cultural aspects of computer-mediated communication. Textus, 27(1), 75–96.

Yus, F. (2024). Cyberpragmatics and digital communication: Emerging trends in online interaction. Routledge.

No comments:

Post a Comment