Saturday, January 24, 2026

8 sifat pengelola jurnal yang ideal

 8 sifat pengelola jurnal yang ideal

Tulisan ini merangkum pandangan pribadi saya, ditambah hasil obrolan santai dengan teman-teman di media sosial, tentang delapan sifat pengelola jurnal yang ideal demi keberlanjutan jurnal ilmiah.

1. Ikhlas sebagai relawan

Mengelola jurnal itu identik dengan pekerjaan yang padat, tanggung jawab besar, tapi honor yang relatif kecil—terutama untuk jurnal yang diterbitkan kampus atau universitas. Karena itu, keikhlasan dan semangat berbagi menjadi kunci utama. Jika orientasinya semata-mata uang, besar kemungkinan seseorang tidak akan bertahan lama di dunia jurnal. Tentu ceritanya berbeda dengan publisher besar seperti Elsevier, Taylor & Francis, SAGE, atau Emerald yang berbasis profit dan punya sumber daya besar. Bandingkan dengan jurnal kampus yang dikelola lebih sebagai pengabdian akademik.

2. Fokus dan tekun

Prestasi tidak akan datang tanpa fokus dan ketekunan. Banyak jurnal bagus akhirnya terbengkalai karena pengelolanya studi lanjut ke luar negeri, sibuk jabatan, atau tidak ada regenerasi. Akibatnya, jurnal yang sudah terakreditasi bisa turun peringkat. Seperti kata Prof. Zaki (IJIMS, Scopus indexed), pengelola jurnal tidak perlu banyak—cukup 4–5 orang yang benar-benar fokus dan konsisten, insyaAllah jurnal bisa maju dan berprestasi.

3. Mudah dihubungi dan responsif

Komunikasi adalah nyawa pengelolaan jurnal. Tidak jarang penulis melakukan double submission karena naskah mereka berbulan-bulan tidak direspons di OJS. Bisa jadi bukan niat buruk, tapi kepanikan karena deadline studi S2 atau S3. Jika editor sulit dihubungi dan lambat merespons, penulis akan mencari jurnal lain yang lebih sigap. Intinya, komunikasi yang sehat antara author, editor, dan reviewer itu mutlak.

4. Menjaga dari konflik kepentingan

Di jurnal terakreditasi, apalagi yang sudah Scopus atau WoS, isu conflict of interest sering muncul—entah karena relasi atasan, teman, atau keluarga. Itulah mengapa double blind peer review penting. Bahkan ada “aturan tak tertulis” di DOAJ bahwa editor dan reviewer tidak mendominasi publikasi di jurnalnya sendiri. Prinsipnya tegas: artikel bagus tetap diterbitkan meski dari “lawan”, dan artikel buruk harus ditolak meski dari teman dekat. Satu artikel jelek saja bisa berdampak pada reputasi jurnal.

5. Membangun suasana yang humanis

Jurnal kampus idealnya dikelola dengan pendekatan manusiawi. Respons cepat, komunikasi sopan, dan penghargaan kecil seperti e-sertifikat untuk editor dan reviewer sangat berarti. Jika jurnal sudah menerapkan APC, bukan hal berlebihan jika ada honor sederhana atau merchandise sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka.

6. Sabar menghadapi berbagai karakter penulis

Menghadapi penulis dari berbagai negara butuh kesabaran ekstra. Ada yang mundur begitu tahu jurnal belum terakreditasi meski gratis APC. Sebaliknya, ketika jurnal sudah Sinta 2 atau terindeks Scopus, penulis “garis keras” bisa datang bertubi-tubi—bahkan menelepon siang malam, minta fast track tanpa peduli kualitas artikel. Di sinilah kesabaran pengelola diuji 😅.

7. Memiliki jejaring yang luas

Jurnal tidak bisa hidup sendiri. Jejaring sangat penting untuk menarik penulis, editor, dan reviewer, baik dari dalam maupun luar negeri. Konferensi, seminar, dan media sosial adalah sarana efektif untuk promosi call for papers maupun call for editors and reviewers. Semakin luas jaringan, semakin besar peluang jurnal berkembang.

8. Tidak terlalu berorientasi pada uang

Uang itu penting, tapi bukan segalanya. Esensi pengelolaan jurnal adalah membantu orang lain dalam publikasi ilmiah. Dan sering kali, justru kitalah yang paling diuntungkan—baik secara akademik maupun spiritual. Seperti kata para ulama, menolong orang lain sejatinya adalah cara Allah meninggikan derajat dan melipatgandakan pahala kita.


Demikian delapan sifat pengelola jurnal yang ideal. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita taufik dan hidayah untuk mengamalkannya dalam kehidupan akademik sehari-hari. Aamiin.

Alur Cerita (Plot) Macbeth

 


Alur Cerita (Plot) Macbeth

1. Awal: Nubuat yang Menggoda

Cerita dibuka di Skotlandia, ketika Macbeth, seorang jenderal yang gagah berani, dan sahabatnya Banquo bertemu tiga penyihir. Para penyihir meramalkan bahwa:

  • Macbeth akan menjadi Thane of Cawdor

  • Macbeth akan menjadi Raja Skotlandia

  • Keturunan Banquo akan menjadi raja, meski Banquo sendiri tidak

Tak lama kemudian, nubuat pertama terbukti benar. Benih ambisi pun mulai tumbuh di hati Macbeth.


2. Dorongan Istri dan Pembunuhan Raja

Macbeth menceritakan nubuat itu kepada istrinya, Lady Macbeth, yang sangat ambisius dan haus kekuasaan. Dialah yang mendorong Macbeth untuk membunuh Raja Duncan, raja yang baik dan sah.

Meski ragu dan diliputi rasa bersalah, Macbeth akhirnya membunuh Duncan saat sang raja menginap di istananya. Sejak saat itu, Macbeth naik takhta—tetapi ketenangan hidupnya lenyap.


3. Kejatuhan Moral dan Kekerasan Berantai

Karena takut kehilangan kekuasaan, Macbeth berubah menjadi tiran:

  • Ia menyuruh membunuh Banquo, namun putra Banquo, Fleance, berhasil lolos

  • Macbeth mulai sering dihantui halusinasi dan rasa bersalah, termasuk melihat arwah Banquo

  • Ia kembali menemui para penyihir dan mendapat nubuat baru yang menyesatkannya

Macbeth kini sepenuhnya bergantung pada kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.


4. Keruntuhan Lady Macbeth

Sementara itu, Lady Macbeth yang dulu tampak kuat justru runtuh secara mental:

  • Ia mengalami gangguan tidur

  • Terobsesi mencuci tangannya dari “noda darah” imajiner

  • Akhirnya, ia bunuh diri karena rasa bersalah yang tak tertahankan

Ini menunjukkan bahwa kejahatan membawa beban psikologis yang tak bisa dihindari.


5. Akhir: Kebenaran dan Keadilan

Pasukan pemberontak yang dipimpin Macduff dan Malcolm menyerang Macbeth. Nubuat penyihir ternyata bermakna ganda:

  • “Hutan Birnam bergerak” ternyata pasukan yang menyamarkan diri dengan dahan

  • Macbeth dibunuh oleh Macduff, yang “tidak dilahirkan secara alami” (lahir melalui operasi caesar)

Macbeth tewas, dan tatanan moral dipulihkan dengan naiknya Malcolm sebagai raja.


Kejadian-Kejadian Terpenting

16 poin penting kriteria sebuah jurnal bisa terindeks di DOAJ (Directory of Open Access Journals)

 Risdianto, F. (2026, January 23). 16 poin penting kriteria sebuah jurnal bisa terindeks di DOAJ (Directory of Open Access Journals). Zenodo. https://doi.org/10.5281/zenodo.18351992

PegiatJurnal.com: List Jurnal Terindeks SCOPUS Bidang Linguistics, E...

PegiatJurnal.com: List Jurnal Terindeks SCOPUS Bidang Linguistics, E...: Yang pernah S3 di Indonesia atau yang sekarang sedang S3 di Indonesia sedikit banyak terkena kewajiban ini. Dorongan yang masif dan terkesan...

PegiatJurnal.com: Pernyataan Etika Publikasi dan Praktik Terbaik Jurnal

PegiatJurnal.com: Pernyataan Etika Publikasi dan Praktik Terbaik Jurnal: Jurnal ini berkomitmen untuk menjunjung tinggi standar tertinggi etika publikasi dan transparansi sesuai dengan Kode Etik dan Pedoman Prakti...