Monday, March 16, 2026

Chaos reported in Tel Aviv as crowds demand the government’s resignation

 🇮🇱 Chaos reported in Tel Aviv as crowds demand the government’s resignation.

Protests are growing as shortages and instability increase. When Israel claims to act in the name of Jews while leading people toward crisis, the world must remember: Israel does not represent Judaism.


Thursday, March 12, 2026

Blog Dr. Faizal Risdianto: Free eBOOK Understanding Pragmatics & Semantics

Blog Dr. Faizal Risdianto: Free eBOOK Understanding Pragmatics & Semantics: link for Download: https://drive.google.com/file/d/1SennozAbvg13HoSUUzKWCW2MeHMfYxSE/view INTRODUCTION TO SEMANTICS http://bit.ly/ebookSEM...


Free eBOOK Understanding Pragmatics & Semantics



link for Download:
https://drive.google.com/file/d/1SennozAbvg13HoSUUzKWCW2MeHMfYxSE/view

INTRODUCTION TO SEMANTICS



http://bit.ly/ebookSEMANTICS

CLICK HERE FOR FULL DOWNLOAD http://bit.ly/semanticsmania

INTRODUCTION TO SEMANTICS- a summary of Kreidler’s Introduction to semantics

Wednesday, March 11, 2026

Sisi Gelap ChatGPT: Waspadalah! Waspadalah!

Sebuah laporan riset di jurnal publisher Elsevier--Social Sciences & Humanity Open menyebutkan bahwa penggunaan ChatGPT untuk menulis atau brainstorming dalam enam bulan terakhir dapat berdampak pada kemampuan kreativitas seseorang. Dalam sebuah eksperimen terkontrol yang melibatkan 61 orang peserta dengan total 3.302 ide kreatif yang dianalisis selama 30 hari, para peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok: satu kelompok menggunakan ChatGPT untuk tugas kreatif, sementara kelompok lain bekerja tanpa bantuan AI. Selama lima hari pertama, kelompok yang menggunakan ChatGPT menunjukkan hasil lebih baik dalam hampir semua aspek, seperti menghasilkan lebih banyak ide, skor kreativitas yang lebih tinggi, dan kualitas output yang dinilai lebih baik.

Namun, pada hari ke-7 ketika ChatGPT tidak lagi digunakan, peningkatan kreativitas tersebut langsung hilang dan kembali ke tingkat awal. Peneliti juga menemukan fenomena “homogenisasi”, yaitu ide-ide dari pengguna ChatGPT menjadi semakin mirip satu sama lain, baik dari segi isi, struktur, maupun cara penyampaian. Meskipun peningkatan kreativitas menghilang ketika AI dihentikan, pola keseragaman ide tersebut tetap bertahan hingga 30 hari kemudian, yang menunjukkan bahwa rentang kreativitas peserta menjadi lebih sempit.

Uji coba lain dengan 120 mahasiswa selama 45 hari juga menemukan hasil serupa: kelompok yang menggunakan ChatGPT memperoleh nilai 57,5%, sedangkan kelompok yang belajar secara tradisional memperoleh 68,5%. Peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan AI dapat mengurangi usaha kognitif, sehingga proses pembentukan pemahaman dan bahan mentah untuk kreativitas menjadi lebih lemah.

Kesimpulan:

Pak Fay New Blog: Blog Dr. Faizal Risdianto: Link SIAKAD atau LINK A...

Pak Fay New Blog: Blog Dr. Faizal Risdianto: Link SIAKAD atau LINK A...: Blog Dr. Faizal Risdianto: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga :  Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga https://si...

Tuesday, March 10, 2026

Tragedi 14 Desember 2012 di Sandy Hook: Potret Kelam Kekerasan dan Krisis Mental di Amerika

Blog Dr. Faizal Risdianto: Dunia yang kosong spiritualitas: Dunia yang Hampa Spiritualitas Masyarakat Amerika pernah diguncangkan oleh pembunuhan massal dan brutal yang dilakukan oleh Adam Lanza...

Tragedi Sandy Hook: Potret Kelam Kekerasan dan Krisis Mental di Amerika

Newtown, Connecticut – 14 Desember 2012.
Masyarakat Amerika diguncang oleh tragedi berdarah ketika seorang pemuda berusia 20 tahun, Adam Lanza, melakukan penembakan massal di Sandy Hook Elementary School di kota Newtown, negara bagian Connecticut. Dalam aksi brutal tersebut, pelaku menembak mati 26 orang, terdiri dari 20 anak-anak berusia sekitar 6–7 tahun dan enam orang staf sekolah, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian. Tragedi ini kemudian dikenal dunia sebagai Sandy Hook Elementary School shooting, salah satu penembakan sekolah paling tragis dalam sejarah Amerika Serikat.

Peristiwa ini bukanlah kasus tunggal. Amerika sebelumnya telah mengalami beberapa tragedi serupa, seperti penembakan sekolah Columbine di Littleton pada 1999 yang menewaskan 13 orang, tragedi Virginia Tech pada 2007 yang menewaskan 32 mahasiswa, serta penembakan di bioskop Colorado pada Juli 2012 saat pemutaran perdana film The Dark Knight Rises yang menewaskan 12 orang dan melukai puluhan lainnya. Rangkaian kejadian ini menunjukkan pola kekerasan bersenjata yang berulang di masyarakat Amerika.

Dari berbagai laporan media internasional, terdapat sejumlah faktor yang diduga memengaruhi tragedi tersebut. Secara pribadi, Adam Lanza dikenal sebagai sosok pendiam, tertutup, canggung secara sosial, dan cenderung mengisolasi diri. Beberapa sumber menyebut ia diduga memiliki gejala sindrom Asperger, yang sering membuat penderitanya mengalami kesulitan berinteraksi sosial. Ia juga dikenal menghabiskan banyak waktu sendirian di kamar, bermain game bertema pertempuran, dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Dari sisi keluarga, kehidupan Lanza juga diwarnai tekanan emosional. Ia hidup dalam keluarga kaya, namun mengalami perceraian orang tua pada 2008 yang diduga memperparah kondisi psikologisnya. Ibunya, Nancy Lanza, diketahui memiliki banyak senjata api di rumah dan bahkan mengajarkan anak-anaknya cara menembak sejak kecil. Senjata-senjata tersebut kemudian digunakan Adam dalam aksi tragisnya, termasuk ketika ia menembak ibunya sebelum melakukan serangan ke sekolah.

Secara lebih luas, sejumlah peneliti menilai bahwa tragedi semacam ini juga berkaitan dengan tingginya tingkat stres dan tekanan sosial di Amerika. Penelitian dari Carnegie Mellon University menunjukkan bahwa tingkat stres masyarakat Amerika meningkat hingga 10–30 persen dalam tiga dekade terakhir. Tekanan untuk mencapai kesuksesan, kompetisi sosial, serta perasaan terasing di tengah masyarakat modern sering kali membuat sebagian individu mengalami depresi, frustrasi, dan kehilangan makna hidup.

Para ahli juga menilai fenomena ini mencerminkan krisis sosial dan psikologis dalam masyarakat modern, di mana keberhasilan sering diukur dari pencapaian materi dan status ekonomi. Ketika harapan besar tersebut tidak terpenuhi, sebagian orang dapat mengalami tekanan mental yang berat. Dalam kondisi ekstrem, tekanan tersebut bisa berubah menjadi kemarahan, keputusasaan, dan tindakan kekerasan yang sulit diterima oleh akal sehat maupun nilai kemanusiaan.

Tragedi Sandy Hook akhirnya menjadi pengingat bagi dunia bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi tidak selalu menjamin kesehatan mental masyarakat. Kasus ini juga memicu perdebatan luas di Amerika tentang kontrol senjata, kesehatan mental, serta pentingnya dukungan sosial dan spiritual dalam kehidupan manusia.




Toilet Umum Dibangun di Bekas Lokasi Masjid yang Dihancurkan di Xinjiang

 


Xinjiang, Tiongkok – Mimin sedih banget tahu berita ini. Sebuah toilet umum dilaporkan dibangun di lokasi bekas Masjid Tokul yang telah dihancurkan di Desa Suntagh, Kota Atush, wilayah Xinjiang Uyghur Autonomous Region (XUAR), Tiongkok barat laut. Informasi ini diungkapkan oleh seorang pejabat lokal kepada Radio Free Asia (RFA) pada Agustus 2020.

Pembangunan toilet tersebut terjadi setelah pemerintah setempat menghancurkan dua dari tiga masjid di desa tersebut sebagai bagian dari kebijakan yang dikenal sebagai “Mosque Rectification” atau penertiban masjid. Program ini dimulai pada akhir 2016 dalam rangkaian kebijakan keras pemerintah Tiongkok terhadap praktik keagamaan di wilayah Xinjiang.

Seorang kepala komite lingkungan Uyghur di Desa Suntagh yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa Masjid Tokul diratakan pada tahun 2018 dan kemudian digantikan dengan bangunan toilet umum yang dibangun oleh petugas dari etnis Han. Menurutnya, toilet tersebut sebenarnya belum dibuka dan keberadaannya dianggap tidak terlalu diperlukan karena warga setempat sudah memiliki toilet di rumah masing-masing.

Pejabat tersebut juga menyebutkan bahwa Desa Suntagh terletak sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Atush dan hampir tidak pernah dikunjungi wisatawan. Ia menduga toilet tersebut dibangun untuk menutupi bekas reruntuhan masjid serta melayani kebutuhan rombongan pejabat atau tim inspeksi yang datang ke daerah tersebut.

Selain itu, seorang warga setempat menyatakan bahwa Masjid Azna—salah satu masjid lain yang dihancurkan sekitar tahun 2019—digantikan oleh sebuah toko kelontong yang menjual alkohol dan rokok, dua barang yang tidak dianjurkan dalam ajaran Islam. Sementara itu, Masjid Teres yang masih tersisa di desa tersebut disebut sebagai masjid terkecil dan dalam kondisi paling buruk.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sekitar 70 persen masjid di Xinjiang telah dihancurkan atau diubah fungsinya sejak kebijakan “Mosque Rectification” diterapkan. Selain masjid, sejumlah makam Muslim dan situs keagamaan lain juga dilaporkan diratakan dan diganti dengan taman, tempat parkir, atau bangunan lain.

Laporan dari Uyghur Human Rights Project menyebutkan bahwa antara 10.000 hingga 15.000 masjid, makam suci, dan situs keagamaan di Xinjiang dihancurkan selama periode 2016–2019. Sejumlah peneliti menilai tindakan tersebut sebagai upaya untuk melemahkan identitas dan semangat religius masyarakat Uyghur Muslim.

Antara Gemerlap Peradaban dan Kehampaan Jiwa: Sebuah Perbandingan antara Kemajuan Materi dan Kesejahteraan Spiritual

 
Secara umum, tingkat bunuh diri di berbagai wilayah dunia menunjukkan variasi yang cukup besar. Negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, dan Australia memiliki tingkat bunuh diri yang relatif signifikan, dengan kisaran sekitar 10–15 kasus per 100.000 penduduk. Beberapa negara maju bahkan memiliki angka yang cukup tinggi, seperti Jepang dan Amerika Serikat. Namun demikian, fenomena bunuh diri tidak hanya terjadi di negara maju; beberapa negara berkembang juga ada kasus bunuh diri tapi relatif lebih sedikit jumlahnya. Faktor penyebab bunuh diri tidak semata-mata terkait dengan tingkat kemakmuran ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan tekanan sosial, kondisi kesehatan mental, serta dinamika budaya dan masyarakat. Namun, yang menarik untuk dicermati adalah mengapa di tengah kelimpahan materi, justru keinginan untuk mengakhiri hidup begitu tinggi?
Perbedaan yang lebih jelas terlihat pada tingkat konsumsi alkohol. Negara-negara maju, terutama di kawasan Eropa dan Amerika Utara, memiliki tingkat konsumsi alkohol yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara berkembang di Asia dan Afrika. Rata-rata konsumsi alkohol di negara OECD (developed countries)  mencapai sekitar 8,6 liter per orang per tahun, hampir dua kali lipat rata-rata global. Alkohol, yang seringkali menjadi pelarian dari kehampaan eksistensial atau stres kehidupan modern, dikonsumsi secara massal di negara-negara yang secara materi serba ada. Di banyak negara Asia, termasuk Indonesia dan India, konsumsi alkohol relatif rendah karena pengaruh norma budaya dan agama yang lebih kuat dalam mengatur perilaku sosial masyarakat. Di sini, agama berfungsi sebagai benteng moral sekaligus sumber makna hidup yang kokoh.
Selain itu, tingkat perceraian juga menunjukkan perbedaan yang mencolok antara negara maju dan negara berkembang. Di Amerika Serikat, sekitar 40–45 persen pernikahan berakhir dengan perceraian, sementara di Eropa Barat dan Australia angkanya berkisar antara 30–45 persen. Sebaliknya, di banyak negara Asia Selatan dan Afrika, tingkat perceraian relatif rendah, sering kali di bawah 10–15 persen. Fenomena ini berkaitan dengan perbedaan nilai sosial, struktur keluarga, serta norma budaya yang masih menekankan pentingnya mempertahankan keutuhan keluarga. Di dunia Timur, keluarga bukan sekadar kontrak sosial, melainkan ikatan sakral yang dijaga oleh nilai-nilai agama dan gotong royong. Ketika ikatan ini rapuh di Barat, individu kehilangan jaring pengaman emosional yang paling fundamental, meskipun mereka tinggal di rumah mewah dengan segala kecanggihan teknologi.
Fenomena perjudian juga lebih banyak ditemukan di negara maju. Negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, dan Inggris memiliki industri perjudian yang besar dan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi. Di Australia misalnya, sekitar 70–80 persen orang dewasa pernah terlibat dalam aktivitas perjudian. Judi seringkali menjadi representasi dari hasrat instant gratification dan kekosongan spiritual yang berusaha diisi dengan materi dan sensasi semu. Sebaliknya, di banyak negara Asia Selatan dan Afrika, tingkat partisipasi perjudian jauh lebih rendah, sebagian besar karena regulasi yang ketat serta pengaruh norma agama dan budaya yang melarang tindakan spekulatif yang merusak diri dan keluarga.
Secara keseluruhan, perbandingan ini menunjukkan sebuah ironi mendalam: Barat mungkin maju secara lahiriah, namun rapuh secara batiniah. Negara-negara maju memang memiliki gedung pencakar langit, teknologi canggih, dan jaminan sosial yang mapan. Namun, di balik gemerlap kemakmuran duniawi itu, tersimpan "padang pasir spiritual" yang tandus. Modernitas telah menciptakan manusia-manusia super dalam hal produksi dan konsumsi, tetapi menjadikan mereka kurcaci dalam hal makna hidup. Kemajuan sains dan rasionalitas seringkali berhasil menggeser Tuhan dari ruang publik, namun gagal mengisi kekosongan yang ditinggalkan-Nya. Akibatnya, masyarakat Barat maju secara teknologis tetapi miskin secara eksistensial. Mereka memiliki segalanya untuk hidup, namun kehilangan alasan untuk hidup.
Sebaliknya, banyak negara berkembang—yang secara ekonomi lebih terbatas, bahkan mungkin masih bergelut dengan kemiskinan dan infrastruktur yang minim—justru memiliki ketahanan psikologis dan ruhaniyah yang lebih kuat. Masyarakat Timur mungkin tidak memiliki rumah megah atau mobil mewah, tetapi mereka memiliki "rumah batin" yang kokoh bernama iman. Mereka mungkin tidak memiliki akses ke psikolog ternama, tetapi mereka memiliki komunitas, masjid, gereja, atau pura yang menjadi tempat menambatkan hati. Ikatan keluarga dan komunitas yang kuat menjadi benteng pertahanan utama ketika badai kehidupan menerpa. Mereka miskin secara materi, tetapi kaya secara ruhani.
Dengan demikian, data-data ini menegaskan bahwa kemajuan ekonomi tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan sosial dan psikologis masyarakat. Bahkan, bisa dikatakan bahwa kemajuan materi yang tidak diimbangi dengan kedalaman spiritual justru melahirkan peradaban yang mewah tetapi muram—kaya harta, miskin hati; pintar secara intelektual, namun buta secara moral. Pada akhirnya, manusia tidak bisa hidup dari roti saja. Ketika jiwa kelaparan, sekadar gemerlap dunia takkan pernah mampu mengenyangkannya. Di sinilah letak keistimewaan masyarakat yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai religius dan spiritualitas: mereka memiliki kekayaan yang tak ternilai yang tak pernah tercatat dalam statistik GDP manapun.

Friday, March 6, 2026

Aplikasi PPL bernama simPPLe FTIK UIN Salatiga

 https://simpple.ftik.online



Blog Dr. Faizal Risdianto: Four types of triangulation in qualitative research

Blog Dr. Faizal Risdianto: Four types of triangulation in qualitative research: Denzin (1978) and Patton (1999) identified four types of triangulation: (a) method triangulation, (b) inter-researcher triangulation, (c) th...


Denzin (1978) and Patton (1999) identified four types of triangulation: (a) method triangulation, (b) inter-researcher triangulation, (c) theory triangulation, and (d) data source triangulation. 

Do you remember the discussion about the triangulation of methods for collecting qualitative data in case studies? 


Our discussion at that time was only based on the narrow understanding of triangulation, namely the use of various methods in researching something. In social research, the scope of triangulation is narrower. 


According to Denzin (1970), triangulation integrates various data sources, researchers, theories, and methods to study a particular social phenomenon. Based on this broader understanding, Denzin distinguishes triangulation into four types. 


1. Trianggulasi sumber data, Data Source Triangulation

2. Trianggulasi Peneliti, Researcher Triangulation 

3. Trianggulasi Teori, Theory Triangulation 

4. Trianggulasi Metode, Method Triangulation 


yang bisa dikerjakan di skripsi mahasisw S1 adalah yang no.1 dan no.4

trianggulasi sumber data dan trianggulasi metode. yang no 2 dan 3 belum memungkinkan. karena trianggulasi peneliti itu indentik dengan kelompok peneliti padahal mahasiswa bikin skripsi itu sendirian. trianggulasi teori itu ada di level thesis mahasiswa S2 dan disertasi mahasiswa S3. ingat prinsip ini:

level S1= belajar membaca, (membaca, mengutip dan menulis kadang masih salah-salah gimana mau trianggulasi teori dan menghasilkan new theoretical contribution?)

In 2022, Institut Agama Islam Negeri Salatiga Officially Established Following Institutional Transformation


Institut Agama Islam Negeri Salatiga (IAIN) Salatiga has officially changed its status to Universitas Islam Negeri Salatiga (UIN) Salatiga following the issuance of Presidential Regulation of the Republic of Indonesia Number 88 of 2022 on June 8, 2022. The transformation marks a significant milestone in the institution’s development and reflects its long-standing aspiration to become a State Islamic University.

Rector Zakiyuddin Baidhawy stated that the issuance of the regulation represents the fulfillment of a major goal shared by the entire academic community. He emphasized that the transition from an institute to a university is not only a structural change but also a strategic step toward achieving broader academic excellence in science, technology, and the arts. He described the transformation as a blessing and the result of three years of dedicated effort by the university’s stakeholders.

The newly established UIN Salatiga upholds the vision of becoming a “Green Wasathiyah Campus,” aiming to promote environmental sustainability and moderate Islamic values. The university seeks to integrate ecological awareness with the principles of wasathiyah (moderation) to foster a harmonious and inclusive academic environment.

Former STAIN Salatiga Chair (2010–2014), Imam Sutomo, noted that the transformation also carries a social responsibility to maintain solidarity and tolerance in Salatiga, a city recognized for its religious harmony. He highlighted the important role of religious-based higher education institutions in preserving the city’s reputation as one of Indonesia’s most tolerant cities.

Currently, UIN Salatiga offers 24 undergraduate programs across five faculties, including one international class program. The university also provides five master’s (S2) programs and one doctoral (S3) program. A total of 4,846 prospective students applied through the SPAN-PTKIN admission track, while entrance examinations for the UM-PTKIN pathway were scheduled for June 14–15, 2022, with independent admissions open until July 10, 2022.

Thursday, March 5, 2026

LIST 244 DOSEN UIN Salatiga

  

NAMA DOSEN              NIP/NIDT           NIDN   PANGKAT         GOL     JABATAN           KET

Prof. Dr. Budihardjo, M.Ag.    19541002 198403 1 001        2002105401   Pembina Utama IV/e       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Muh. Zuhri, MA.        19530326 197803 1 001        2026035301   Pembina Utama IV/e       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Mansur, M.Ag.           19680613 199403 1 004        2013066802   Pembina Utama IV/e       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Muh. Saerozi, M.Ag.              19660215 199103 1 001        2015026602               Pembina Utama Madya          IV/d       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag.    19720521 200501 1 003        2021057201   Pembina Utama Madya IV/d       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Imam Sutomo, M.Ag.            19580827 198303 1 002        2027085802               Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Winarno, S.Si., M.Pd.            19730526 199903 1 004        2026057302               Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Phil Widiyanto., M.Ag., M.A.             19751122 200003 1 001               2022117503   Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag.        19720531 199803 1 002        2031057202               Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Benny Ridwan, M.Hum.       19730520 199903 1 006        2020057302               Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Dr. Sa`adi, M. Ag.       19630420 199203 1 003        2020046304   Pembina Utama Muda   IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dr. Agus Waluyo, M.Ag.          19750211 200003 1 001        2011027502   Pembina Utama Muda  IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dr. Anton Bawono, S.E., M.Si.             19740320 200312 1 001        2020037401               Pembina Utama Muda            IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dr. Abdul Aziz N.P., S.Ag., M.M.         19701028 200003 1 001        2028107001               Pembina Utama Muda            IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dra. Djami`atul Islamiyah, M.Ag.    19570812 198802 2 001        2012085701               Pembina Utama Muda            IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dr. Fatchurrohman, S.Ag., M.Pd.      19710309 200003 1 001        2009037101               Pembina Utama Muda            IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Prof. Kastolani, M.Ag., Ph.D.               19690612 199403 1 003        2012066902               Pembina Tk.I  IV/b       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Budiyono Saputro, S.Pd., M.Pd.     19740630 200912 1 001               2030067401   Pembina Tk.I  IV/b       Guru Besar      Dosen PNS

Tuesday, March 3, 2026

PegiatJurnal.com: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga

PegiatJurnal.com: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga https://siakad.uinsalatiga.ac.id/dosen/ at January 04, 2024 Email This BlogThis! Share ...

Problem dan Solusi Dosen Perguruan Tinggi di Indonesia

Permasalahan dosen di Indonesia merupakan persoalan sistemik yang kompleks dan saling terkait, membentuk sebuah lingkaran setan yang sulit diputus. Ketiga masalah utama—beban administrasi yang menumpuk, minimnya tingkat kesejahteraan, dan rendahnya produktivitas publikasi ilmiah—saling memengaruhi dan memperburuk satu sama lain. Data menunjukkan bahwa dosen menghabiskan waktu hingga hampir satu minggu hanya untuk urusan birokrasi seperti laporan BKD, sementara rata-rata jam kerja mereka mencapai 69,64 jam per minggu, jauh melampaui batas normal. Ironisnya, di tengah tuntutan kerja yang tinggi tersebut, 42% dosen masih bergaji di bawah Rp3 juta per bulan, sebuah kondisi yang memaksa banyak dari mereka mencari penghasilan tambahan di luar tugas pokoknya. Akar masalah ini diperparah oleh budaya lisan yang kuat dan kebijakan publikasi yang kerap kali lebih mementingkan afiliasi penulis asing daripada substansi ilmiah itu sendiri.

Pemerintah, melalui DPR dan Kemendiktisaintek, memegang peran kunci dalam menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang lebih kondusif. Prioritas utama yang harus segera direalisasikan adalah peningkatan kesejahteraan dosen secara signifikan, misalnya melalui RUU Sisdiknas yang menjamin tunjangan profesi serta percepatan pencairan Tunjangan Kinerja (Tukin) yang tertunda. Selain itu, pemerintah perlu melakukan deregulasi besar-besaran dengan menyederhanakan aturan pelaporan BKD dan menghapus tugas-tugas administratif yang tidak relevan dengan Tri Dharma. Reformasi juga harus menyentuh sistem penilaian publikasi, agar lebih berfokus pada orisinalitas dan metodologi penelitian, serta kebijakan jam kerja yang kaku perlu dievaluasi menjadi sistem berbasis output dan capaian yang lebih adaptif.

Perguruan tinggi sebagai institusi tempat para dosen bernaung juga harus melakukan pembenahan sistemik untuk mendukung produktivitas akademik. Langkah radikal yang diperlukan antara lain adalah mengurangi beban akademik non-inti, seperti jumlah mata kuliah yang diampu per semester yang rata-rata jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dosen di negara maju. Digitalisasi penuh proses administrasi, termasuk pengisian BKD, dapat menghemat waktu dan mengurangi potensi manipulasi data. Lebih dari itu, kampus wajib membangun ekosistem riset yang kuat dengan menyediakan dana, alokasi waktu khusus, akses pelatihan, serta program pendampingan dari peneliti senior untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi dosen.

Konsep Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) sebagai center of excellence and enlightenment

 Konsep Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) sebagai center of excellence and enlightenment (pusat keunggulan dan pencerahan) menegaskan bahwa PTKI tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu, pemikiran, dan solusi bagi persoalan masyarakat. Menurut Arskal Salim, PTKI harus melampaui peran tradisionalnya sebagai tempat produksi pengetahuan akademik. Ia harus menjadi ruang lahirnya gagasan yang mampu menginspirasi umat serta memberikan jawaban nyata terhadap berbagai persoalan sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.

Sebagai pusat keunggulan (center of excellence), PTKI dituntut menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas tinggi, relevan, dan diakui secara nasional maupun internasional. Hal ini berarti penelitian dan publikasi ilmiah di PTKI harus mampu mengintegrasikan warisan intelektual klasik Islam dengan metodologi akademik modern. Dengan cara ini, khazanah keilmuan Islam tidak hanya dipelihara sebagai warisan sejarah, tetapi juga dikembangkan menjadi sumber gagasan baru yang kontekstual dengan perkembangan zaman.

Sementara itu, sebagai pusat pencerahan (center of enlightenment), PTKI memiliki peran moral dan intelektual dalam membimbing masyarakat menuju pemahaman agama yang moderat, rasional, dan mencerahkan. Pencerahan di sini berarti menghadirkan pemikiran Islam yang mampu menumbuhkan sikap kritis, toleran, dan solutif terhadap tantangan kehidupan modern, seperti isu kemiskinan, radikalisme, konflik sosial, perkembangan teknologi, hingga perubahan budaya.

Karena itu, publikasi ilmiah di PTKI tidak boleh hanya menjadi tumpukan artikel yang “menghuni rak perpustakaan” atau sekadar memenuhi tuntutan administratif akademik. Hasil penelitian harus memiliki dampak nyata: menjadi rujukan kebijakan, memberi pencerahan bagi masyarakat, serta menawarkan solusi terhadap problem riil umat. Dengan demikian, karya ilmiah dari PTKI dapat berfungsi sebagai jembatan antara dunia akademik, tradisi keilmuan Islam, dan kebutuhan masyarakat.

Dengan arah tersebut, PTKI diharapkan menjadi sumber inspirasi dan solusi bagi umat, bukan sekadar lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan dan tulisan akademik. PTKI harus mampu memadukan kedalaman tradisi keilmuan Islam, ketajaman analisis ilmiah, dan kepekaan terhadap realitas sosial, sehingga kehadirannya benar-benar memberi kontribusi bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan masyarakat.

Sunday, March 1, 2026

Dunki (2023): Perjalanan Penuh Haru di Jalur Tikus Demi Mimpi ke Inggris

 

Dunki (2023) adalah sebuah drama-komedi mengharukan yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani. Film ini berkisah tentang empat sahabat dari sebuah desa di Punjab yang bermimpi pindah ke Inggris demi kehidupan yang lebih baik. Karena tidak memiliki visa, mereka menempuh jalur "Dunki"—sebuah perjalanan darat yang berbahaya, tidak legal, dan penuh risiko untuk mencapai Inggris, yang dipimpin oleh Hardayal "Hardy" Singh (Shah Rukh Khan).



Mengupas Fenomena "Dunki"
Istilah "Dunki" dalam film ini merujuk pada sebuah rute imigrasi ilegal yang populer dengan sebutan "jalur tikus" atau "backdoor entry". Metode ini melibatkan perjalanan panjang dan berliku melintasi beberapa negara dengan dokumen palsu atau tanpa dokumen, seringkali dengan bersembunyi di kapal kargo atau kendaraan. Rajkumar Hirani dengan cerdas mengangkat isu sosial yang realistis ini, yaitu keputusasaan masyarakat India, khususnya dari wilayah Punjab, untuk mencapai negara asing (dikenal dengan fenomena 'Canada-Punjab') meskipun harus mempertaruhkan nyawa. Film ini tidak hanya menyoroti aspet petualangan, tetapi juga sisi kelam dari perdagangan manusia dan impian yang kandas di tengah jalan.

Perjuangan Emosional dan Ikatan Persahabatan
Di balik tema imigrasi yang berat, "Dunki" tetaplah sebuah film khas Rajkumar Hirani yang mengedepankan drama komedi dan pesan moral yang kuat. Perjalanan para tokoh utama, terutama Hardy (Shah Rukh Khan) yang berperan sebagai pemandu sekaligus pelindung, dipenuhi dengan tawa dan haru. Mereka harus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari sindikat penjahat, penjaga perbatasan, hingga konflik batin karena meninggalkan keluarga. Film ini mengeksplorasi bagaimana persahabatan dan rasa kemanusiaan tetap terjaga di tengah situasi yang paling sulit sekalipun, menunjukkan bahwa mimpi untuk hidup layak adalah hak semua orang, namun jalan untuk meraihnya tidak selalu indah.

Kritik Sosial yang Dibungkus Drama Keluarga
Lebih dari sekadar film perjalanan, "Dunki" adalah sebuah kritik sosial yang tajam terhadap sistem imigrasi global yang kaku dan ketidaksetaraan kesempatan. Hirani menyoroti ironi di mana orang-orang rela mengorbankan segalanya demi secuil harapan di negeri orang, sementara di tanah air mereka sendiri seringkali terabaikan. Shah Rukh Khan, dalam perannya sebagai Hardy, berhasil menampilkan sisi heroik yang berbeda—bukan pahlawan super, melainkan manusia biasa yang berjuang untuk kebahagiaan orang-orang yang dicintainya. Dengan sentuhan komedi khas Hirani dan akting emosional para pemainnya, "Dunki" menjadi sebuah tontonan yang menghibur sekaligus membuka mata tentang arti rumah, pengorbanan, dan harga sebuah mimpi.


Saturday, February 28, 2026

Kenapa film ini judulnya SISU?


 Judul "Sisu" mencerminkan sebuah konsep khas Finlandia yang menggambarkan tekad kuat, ketangguhan, dan keberanian dalam menghadapi kesulitan. Nilai ini menjadi inti dari cerita dalam film tersebut.

Makna “Sisu”

“Sisu” adalah istilah dalam bahasa Finlandia yang tidak memiliki terjemahan langsung dalam bahasa Inggris maupun bahasa lain. Kata ini menggambarkan tingkat kemauan, ketekunan, dan daya juang yang sangat kuat, terutama saat menghadapi situasi sulit. Konsep ini sangat melekat dalam budaya Finlandia dan berkaitan dengan kemampuan untuk terus bertahan, melampaui rintangan, serta tetap teguh meskipun menghadapi peluang yang tampak mustahil.

Perumpamaan seorang mukmin bagaikan lebah: terdapat 6 sifat yang baik dan mulia



Dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting), namun tidak membuatnya patah dan rusak.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa lebah menjadi perumpamaan bagi seorang mukmin. 

1) Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.
Lebah hanya hinggap di tempat yang bersih dan mengambil yang bersih, berbeda dengan lalat yang mendatangi tempat kotor. Demikian pula seorang mukmin diperintahkan untuk memilih yang halal dan baik dalam hidupnya serta menjauhi segala bentuk keburukan. Dalam menjalankan amanah, ia tidak melakukan korupsi, penipuan, atau penyalahgunaan wewenang karena semua itu termasuk perbuatan yang kotor dan tercela.

2) Mengeluarkan yang bersih.
Selain itu, lebah menghasilkan madu yang bermanfaat bagi manusia. Ini menjadi simbol bahwa seorang mukmin harus produktif dalam kebaikan. Segala yang keluar dari dirinya, baik perkataan, perbuatan, maupun hartanya, hendaknya membawa manfaat bagi orang lain. Kebaikan yang dimaksud bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga kebajikan sosial yang dirasakan oleh sesama manusia dan makhluk lainnya.

3)Tidak pernah merusak
Lebah juga tidak pernah merusak tempat yang ia hinggapi. Begitu pula seorang mukmin tidak membuat kerusakan, baik secara material maupun moral. Ia justru berusaha memperbaiki keadaan, memperbaiki akidah, akhlak, dan ibadah, serta melawan kezaliman dengan cara yang benar. Ia menjadi bagian dari solusi, bukan sumber masalah.

4) Bekerja keras
Karakter lain lebah adalah pekerja keras dan tidak pernah bermalas-malasan. Sejak awal kehidupannya, lebah sudah aktif bekerja untuk kepentingan koloninya. Hal ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus bersungguh-sungguh dalam setiap urusan, termasuk dalam menegakkan keadilan, meskipun hal itu sering kali menuntut pengorbanan dan tidak selalu menguntungkan diri sendiri.

5) Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan
Terakhir, lebah hidup secara berkelompok, bekerja sama, dan taat pada satu pimpinan. Mereka saling membantu ketika menemukan sumber makanan atau menghadapi bahaya. Demikian pula orang beriman dianjurkan untuk bersatu, bekerja secara kolektif, dan tidak mencari permusuhan. 

6) Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Namun, jika diganggu atau diserang, ia siap membela diri dengan keberanian dan keteguhan.

DO‘A JIBRIL ALAIHISSALLAM KEPADA TIGA GOLONGAN MANUSIA

 Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu, beliau berkata.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, ketika beliau naik ke atas tangga, beliau berkata ‘Aamiin,’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat kedua) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat ketiga) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau berkata, ‘Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan dia tidak diampuni, maka Allah akan melaknatnya.’ Lalu aku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: ‘Aamiin.’”

Jibril berkata lagi, ‘Dan siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu dia masuk ke dalam Neraka, maka Allah akan menjauhkannya dari rahmat-Nya.’ Aku katakan, ‘Aamiin.’

Jibril berkata lagi, ‘Siapa saja yang ketika namamu disebutkan, lalu ia tidak bershalawat kepadamu, maka Allah akan melaknatnya, katakanlah aamiin, lalu aku katakan, ‘Aamiin.’[1]

Referensi : https://almanhaj.or.id/3302-doa-jibril-alaihissallam-kepada-tiga-golongan-manusia.html

Friday, February 27, 2026

15 important ways of achieving happiness


1. Determine Your Goal

Happiness begins when we know what we want in life. Determining your goal gives direction and meaning to your actions. Without a clear goal, life can feel confusing and empty. When you set a specific goal, you have something to focus on, work toward, and feel motivated about every day.


2. Create Ideal, Create Yourself

This means shaping yourself into the person you truly want to become. Instead of waiting for the perfect situation, you build your own ideal future through self-improvement. By developing good habits, positive character, and strong values, you create a better version of yourself that leads to lasting happiness.


3. Dare to Dream

Dreaming gives hope and inspiration. When you dare to dream, you allow yourself to imagine a better future without fear. Big dreams encourage creativity, courage, and ambition. Even if not all dreams come true, they push you to grow and achieve more than you thought possible.


4. Accept Challenge

Life is full of difficulties, and happiness does not mean avoiding problems. Accepting challenges helps you become stronger and wiser. Every obstacle is an opportunity to learn something new. When you face challenges bravely, you gain confidence and personal growth.


5. Be Tough, Be Persistent

Success and happiness require mental strength and persistence. Sometimes you will fail, but being tough means you do not give up easily. Persistence helps you continue working toward your goals even when the journey is hard. Strong determination often leads to meaningful achievements.