Wednesday, October 28, 2026

Pragmatisme, Kerangka penghubung metode kuantitatif & kualitatif

Dalam penelitian pendidikan—khususnya English Language Teaching (ELT)—teori yang paling sering dipakai sebagai kerangka penghubung metode kuantitatif dan kualitatif adalah pragmatisme sebagai paradigma metodologis, lalu dilengkapi teori substantif ELT seperti sociocultural theory, self-determination theory, social cognitive/self-efficacy theory, dan L2 Motivational Self System. Pragmatisme menjadi “jembatan” karena memilih metode berdasarkan pertanyaan penelitian dan apa yang paling berguna untuk menjawabnya, bukan karena keterikatan pada satu paradigma.[academic.oup][laulima.hawaii][research.usq.edu]

Kerangka metodologis utama

Teori/paradigmaFungsi dalam mixed methodsContoh penerapan ELT
PragmatismeMenyatukan kuantitatif dan kualitatif; fokus pada solusi, konsekuensi, dan “what works”Mengukur efektivitas strategi reading strategy instruction lewat tes, lalu mewawancarai siswa tentang pengalaman belajarnya. [laulima.hawaii][research.usq.edu]
Transformative–emancipatoryMenjadikan keadilan sosial, kekuasaan, dan suara kelompok marginal sebagai lensa penelitianMeneliti akses belajar bahasa Inggris siswa difabel, perempuan, atau siswa dari daerah tertinggal melalui angket dan wawancara mendalam. [journals.sta.uwi][academic.oup][laulima.hawaii]
Konstruktivisme/interpretivismeMenekankan makna, pengalaman, dan interpretasi partisipan; biasanya memperkuat sisi kualitatifMengeksplorasi bagaimana siswa memaknai kecemasan berbicara bahasa Inggris, setelah data kecemasan dikumpulkan secara kuantitatif. [zenodo][link.springer]
PostpositivismeMenekankan pengujian hubungan antarvariabel, instrumen terukur, dan generalisasi terbatasMenguji hubungan self-efficacy dengan kemampuan menulis, lalu menelusuri faktor-faktor yang muncul dari data kualitatif. [link.springer][iier.org]
Critical realismMenghubungkan pola yang terukur dengan mekanisme sosial dan konteks yang menjelaskannyaMelihat skor motivasi rendah, lalu menganalisis kebijakan sekolah, praktik kelas, dan pengalaman siswa yang memengaruhinya. [link.springer][jalt-publications]

Teori substantif yang umum di ELT

Teori-teori berikut biasanya menjadi lensa substantif, sedangkan pragmatisme atau paradigma lain menjadi lensa metodologis yang menyatukan dua jenis data.

  • Sociocultural Theory (Vygotsky): pembelajaran bahasa terjadi melalui interaksi sosial, scaffolding, dan Zone of Proximal Development. Cocok untuk menghubungkan hasil tes kemampuan berbahasa dengan observasi diskusi kelompok, wawancara guru, dan catatan lapangan.[journal.unpas.ac]
  • Self-Determination Theory (Deci & Ryan): motivasi belajar dipengaruhi kebutuhan autonomy, competence, dan relatedness. Sangat sering dipakai untuk menjelaskan motivasi, otonomi, dan keterlibatan siswa EFL.[journals.openedition]
  • Social Cognitive Theory / Self-Efficacy Theory (Bandura): keyakinan siswa atas kemampuan dirinya memengaruhi usaha, ketahanan, dan capaian belajar. Cocok untuk desain explanatory sequential: angket self-efficacy terlebih dahulu, lalu wawancara untuk memahami mengapa skor tinggi atau rendah.[journal2.uad.ac][ualberta]
  • L2 Motivational Self System (Dörnyei) dan Investment (Norton): menjelaskan motivasi belajar bahasa kedua melalui ideal L2 self, pengalaman belajar, serta investasi identitas siswa terhadap bahasa Inggris.[journal2.uad.ac]
  • Communicative Language Teaching / Task-Based Language Teaching: sering menjadi kerangka pedagogis ketika penelitian menilai efektivitas pembelajaran berbasis tugas; data kuantitatif dapat berupa skor keterampilan, sedangkan data kualitatif berupa observasi interaksi dan refleksi siswa.[academia]
  • Grounded Theory: dipakai bila peneliti ingin membangun teori baru dari data lapangan, misalnya teori tentang bagaimana siswa mengembangkan strategi menghadapi kecemasan berbicara; hasilnya kemudian dapat diuji dengan instrumen kuantitatif.[repo.upgrisba.ac]

Pola penggabungan yang lazim

Dalam ELT, teori-teori tersebut biasanya dioperasionalkan melalui desain mixed methods berikut:

  • Sequential explanatory: kuantitatif dulu, kualitatif menjelaskan hasilnya; contoh: skor motivasi rendah, lalu wawancara untuk menemukan penyebabnya.[jurnal.uqgresik.ac]
  • Sequential exploratory: kualitatif dulu untuk membangun instrumen atau hipotesis, lalu kuantitatif mengujinya; contoh: wawancara guru menghasilkan dimensi hambatan pengajaran speaking, lalu angket disusun dan diuji.[jurnal.uqgresik.ac]
  • Concurrent triangulation: data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan bersamaan untuk saling mengonfirmasi, melengkapi, atau menunjukkan kontradiksi.[zenodo][jurnal.uqgresik.ac]
  • Embedded/convergent design: satu jenis data menjadi utama dan data lainnya mendukung; misalnya eksperimen pembelajaran dengan wawancara siswa sebagai data pendukung.[jurnal.uqgresik.ac]

Contoh kerangka yang kuat

Untuk penelitian “pengaruh strategi pembelajaran kolaboratif terhadap kemampuan speaking dan motivasi siswa SMA”, kerangka yang lazim adalah:

  1. Pragmatisme sebagai paradigma mixed methods.[laulima.hawaii][research.usq.edu]
  2. Sociocultural Theory untuk menjelaskan peran interaksi dan scaffolding.[journal.unpas.ac]
  3. Self-Determination Theory untuk menjelaskan motivasi intrinsik dan kebutuhan psikologis siswa.[journals.openedition]
  4. Self-efficacy theory untuk menghubungkan keyakinan diri siswa dengan performa speaking.[journal2.uad.ac][ualberta]

Dengan susunan ini, data kuantitatif—misalnya pretest–posttest speaking dan angket motivasi—dapat diintegrasikan dengan data kualitatif berupa observasi kelas, wawancara siswa, dan refleksi guru untuk menjelaskan tidak hanya apakah intervensi bekerja, tetapi juga mengapa dan bagaimana ia bekerja.[zenodo][jptam]

No comments:

Post a Comment