Ilmu
insaniyah adalah pengetahuan yang dikembangkan melalui akal, pengalaman,
penelitian, eksperimen, dan kreativitas manusia. Sementara itu, ilmu ilahiyah
adalah pengetahuan yang berkaitan dengan Allah Swt., wahyu, ajaran agama, serta
kehidupan akhirat. ilmu tidak hanya perlu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan
duniawi, tetapi juga untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan di akhirat.
Ilmu
insaniyah memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban manusia, seperti
dalam bidang kedokteran, fisika, arsitektur, teknologi, dan perdagangan.
Pemikiran John Dalton mengenai atom, karya kedokteran Ibnu Sina, serta prinsip
arsitektur Vitruvius menjadi contoh kontribusi pengetahuan manusia. Namun,
pengetahuan ilmiah dapat berkembang dan mengalami perubahan seiring
ditemukannya bukti-bukti baru. Oleh karena itu, ilmu insaniyah membutuhkan
penelitian yang berkelanjutan, keterbukaan terhadap koreksi, serta landasan
moral agar kemajuan ilmu dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.
Para nabi diutus untuk menyampaikan wahyu dan
membimbing manusia menuju keimanan serta penghambaan kepada Allah SWT. Ajaran
para nabi tidak berorientasi pada pengumpulan kekayaan semata, melainkan pada
pembentukan manusia yang taat, bertakwa, dan berakhlak mulia. Hadis tentang
tujuan kenabian digunakan untuk mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak
seharusnya hanya dihabiskan untuk mengejar harta dan kedudukan. Dengan
demikian, ilmu agama memiliki fungsi penting dalam memberikan arah spiritual
dan moral bagi kehidupan manusia.
Salah satu
pesan utama yang penting adalah bahaya menguasai ilmu duniawi tanpa disertai
pemahaman agama dan pembentukan akhlak. Pengetahuan, kekayaan, dan kecerdasan
yang tidak diimbangi kerendahan hati dapat mendorong kesombongan, ketamakan,
dan penyalahgunaan kemampuan. Kisah Qarun dalam Surah Al-Qasas ayat 76–81
menjadi contoh tentang seseorang yang membanggakan kekayaan dan menganggap
keberhasilannya semata-mata sebagai hasil pengetahuannya sendiri. Kisah
tersebut mengajarkan bahwa kekayaan dan kemampuan manusia bukanlah alasan untuk
berlaku sombong, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Surah Al-Qasas ayat 77 memberikan pedoman penting dalam menjalani kehidupan, yaitu mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian manusia di dunia, berbuat baik kepada sesama, dan tidak melakukan kerusakan. Ayat ini menunjukkan bahwa orientasi akhirat tidak harus berarti meninggalkan kehidupan dunia. Sebaliknya, manusia perlu memanfaatkan ilmu, harta, jabatan, dan keterampilannya untuk menghasilkan kebaikan. Dengan demikian, keberhasilan duniawi seharusnya menjadi sarana untuk beribadah, membantu orang lain, dan mewujudkan kemaslahatan bersama.
Terdapat hadis
“Antum a‘lamu bi umuri dunyakum”, yang berarti bahwa manusia lebih mengetahui
urusan dunianya. Hadis tersebut, dalam konteks penyerbukan pohon kurma,
menunjukkan pentingnya keahlian, pengalaman, dan penelitian manusia dalam
urusan teknis duniawi. Sementara itu, Al-Qur'an mengingatkan agar manusia tidak
hanya memahami aspek lahiriah kehidupan dunia, tetapi juga memperhatikan
kehidupan akhirat. Pesan yang dapat diambil adalah perlunya menempatkan
keahlian ilmiah dan petunjuk agama secara tepat sesuai dengan ranah dan
fungsinya.
Pada
akhirnya, tulisan ini mengajak manusia untuk mengintegrasikan pengetahuan
duniawi dengan keimanan, ketakwaan, dan amal saleh. Ilmu dan keterampilan
manusia tetap diperlukan untuk membangun peradaban, meningkatkan kesejahteraan,
serta memecahkan berbagai persoalan kehidupan. Namun, semuanya perlu disertai
kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual kepada
Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Anfal ayat 2–4, orang beriman
memiliki ciri berupa ketakwaan, tawakal, pelaksanaan salat, dan kepedulian
sosial melalui infak. Dengan demikian, ilmu yang ideal bukan sekadar ilmu yang
menghasilkan kecerdasan dan keberhasilan duniawi, melainkan ilmu yang
mengantarkan manusia kepada kebijaksanaan, kemanfaatan, akhlak mulia, dan
kebahagiaan dunia serta akhirat.
No comments:
Post a Comment