Konsep Inscribed vs. Invoked dalam Appraisal (SFL)
Dalam kerangka Appraisal milik Martin & White (2005) dan Martin & Rose (2003/2007), pembedaan inscribed (tertulis/eksplisit) dan invoked (terundang/implisit) adalah cara sistemik untuk membedakan seberapa langsung sikap evaluatif (Attitude) diwujudkan dalam teks.libstore.ugent+2
1. Posisi dalam Sistem Appraisal
Appraisal adalah subsistem dari interpersonal meaning dalam SFL yang memodelkan sumber daya bahasa untuk mengekspresikan:
Attitude (sikap: Affect, Judgement, Appreciation)
Graduation (penguatan/pelemahan: Force, Focus)
Engagement (posisi terhadap suara/orientasi lain: expand, contract)
Dalam subsistem Attitude, setiap penilaian (positif/negatif) dapat diwujudkan sebagai:
Inscribed attitude: evaluasi yang langsung dan leksikal
Invoked attitude: evaluasi yang tidak langsung, muncul lewat implikasi, asosiasi, atau “fakta” yang tampak netrallibstore.ugent+2
2. Inscribed Attitude: Evaluasi Eksplisit
Inscribed attitude adalah penilaian yang diekspresikan melalui leksikon yang secara inheren bermuatan evaluatif dan relatif stabil nilainya di berbagai konteks.libstore.ugent+2
Ciri-ciri utama:
Menggunakan kata sifat, kata kerja, atau adverbia evaluatif seperti:
bahagia, sedih, marah (Affect)
jujur, korup, berani, pengecut (Judgement)
indah, memukau, buruk, merugikan (Appreciation)
Nilai evaluatifnya tidak terlalu bergantung pada konteks; kata itu sendiri sudah “membawa” penilaian positif/negatif.libstore.ugent+1
Sulit diabaikan atau “dibaca lain” karena evaluasinya terbuka dan langsung.omu.repo.nii.ac
Contoh:
“Kebijakan itu merugikan rakyat kecil.” → merugikan adalah inscribed appreciation negatif.
“Ia bertindak jujur dan bertanggung jawab.” → jujur, bertanggung jawab adalah inscribed judgement positif.libstore.ugent+1
3. Invoked Attitude: Evaluasi Implisit
Invoked attitude adalah penilaian yang tidak diucapkan langsung, tetapi dibangkitkan pada pembaca melalui:
Penyajian “fakta”, detail peristiwa, atau narasi yang tampak netral
Pemilihan kata denotatif yang dalam budaya tertentu memicu asosiasi evaluatif
Metafora, ironi, kontras, atau pengulangan yang mengarahkan interpretasilibstore.ugent+2
Ciri-ciri utama:
Tidak ada (atau sedikit) leksikon evaluatif eksplisit.
Evaluasi muncul lewat implikasi dan asosiasi, bukan lewat makna leksikal yang stabil.libstore.ugent+1
Lebih bergantung pada posisi sosial-budaya-ideologis pembaca; bisa lebih ambigu atau multitafsir.functionallinguistics.springeropen+1
Martin & White membedakan dua mekanisme utama invoked attitude:
Provoked (dipicu):
Melalui metafora leksikal, idiom, atau ungkapan figuratif yang secara kultural bermuatan evaluatif.
Contoh: “Ia adalah serigala berbulu domba” → tidak memakai kata berbahaya atau menipu, tetapi metafora memicu judgement negatif.functionallinguistics.springeropen+1
Invited (diundang):
Melalui penyajian fakta, urutan peristiwa, atau detail naratif yang “mengundang” pembaca menyimpulkan sikap.
Contoh: “Di tengah antrian panjang untuk beras subsidi, ia membeli mobil seharga 5 miliar.” → tidak ada kata korup atau tidak peduli, tetapi fakta mengundang judgement negatif.functionallinguistics.springeropen+1
4. Contoh Kontras: Inscribed vs. Invoked
Teks tentang pejabat
Inscribed:
“Pejabat itu sangat korup dan tidak bertanggung jawab.”
Kata korup dan tidak bertanggung jawab adalah inscribed judgement negatif.libstore.ugent+1
Invoked:
“Selama masa jabatannya, tiga proyek infrastruktur mangkrak, sementara ia membeli rumah kedua dan mobil mewah.”
Tidak ada kata evaluatif eksplisit, tetapi detail fakta mengundang pembaca menilai: tidak kompeten, mungkin korup, tidak peduli publik.functionallinguistics.springeropen+1
Teks tentang tokoh publik
Inscribed:
“Ia adalah pemimpin yang visioner dan berani.”
Invoked:
“Ia mengambil keputusan yang tidak populer, tetapi lima tahun kemudian angka kemiskinan turun drastis dan lapangan kerja meningkat.”
Pembaca diundang menyimpulkan: visioner dan berani, tanpa kata itu muncul.functionallinguistics.springeropen+1
5. Mengapa Pembedaan Ini Penting?
Analisis wacana kritis
Teks yang banyak menggunakan invoked attitude sering terlihat “objektif” atau “hanya menyajikan fakta”, padahal sangat evaluatif secara tersembunyi.functionallinguistics.springeropen+1
Dominasi invoked attitude bisa menjadi strategi untuk menyembunyikan bias atau menghindari tanggung jawab atas penilaian.omu.repo.nii.ac+1
Retorika dan persuasi
Invoked attitude sering lebih persuasif karena pembaca merasa “menemukan sendiri” kesimpulan, bukan “dipaksa” oleh kata evaluatif.functionallinguistics.springeropen
Inscribed attitude lebih cocok untuk posisi yang ingin terbuka dan jelas tentang nilai yang dipegang (mis. manifesto, pidato normatif).omu.repo.nii.ac
Variasi interpretasi lintas budaya
Karena invoked attitude bergantung pada asosiasi kultural, penilaian yang “jelas” dalam satu komunitas bisa tidak terbaca sama sekali dalam komunitas lain.functionallinguistics.springeropen+1
Inscribed attitude lebih stabil lintas konteks, meski tetap bisa “dibalik” oleh ko-teks (mis. ironi).omu.repo.nii.ac+1
6. Nuansa Teoretis: Spektrum, bukan Dikotomi Kaku
Beberapa pengembang Appraisal (mis. Thomson, White, dan lain-lain) menekankan bahwa:
Inscribed vs. invoked sebaiknya dipahami sebagai spektrum keeksplisitan, bukan dikotomi hitam-putih.functionallinguistics.springeropen+1
Ada kata yang secara leksikal tampak netral, tetapi dalam konteks budaya tertentu sudah berfungsi hampir seperti inscribed (mis. “ia selalu datang tepat waktu” → hampir otomatis dibaca sebagai disiplin/terpuji).functionallinguistics.springeropen+1
Bahkan inscribed attitude pun bisa “dibalik” nilainya oleh konteks (mis. ironi: “Benar-benar pemimpin yang hebat” saat menggambarkan kegagalan besar).omu.repo.nii.ac+1
7. Ringkasnya
Inscribed attitude: Evaluasi langsung, lewat leksikon evaluatif stabil.
Mudah dikenali, lebih terbuka, lebih sulit “ditolak” sebagai sekadar opini karena memang dinyatakan sebagai penilaian.libstore.ugent+2
Invoked attitude: Evaluasi tidak langsung, lewat fakta, narasi, metafora, ironi, dan detail provokatif.
Teks tampak lebih “netral”, tetapi sebenarnya sangat evaluatif; menuntut pembaca aktif menyimpulkan sikap penulis.libstore.ugent+2
Dalam analisis teks, pertanyaan kuncinya adalah: Apakah penulis menyatakan sikapnya (inscribed), atau menuntun pembaca untuk menyimpulkan sikap itu sendiri (invoked)? Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting untuk memahami strategi retorik, ideologi, dan bias dalam wacana.
No comments:
Post a Comment