1. Kelahiran Nabi Muhammad SAW (Tahun Gajah, 571 M)
Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Makkah pada Tahun Gajah, tahun yang sama dengan peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan Abrahah dengan gajah-gajahnya. Allah SWT menggagalkan serangan tersebut melalui burung Ababil sebagaimana diabadikan dalam Surah al-Fil. Peristiwa ini menjadi isyarat awal bahwa kelahiran Muhammad membawa misi besar bagi penjagaan tauhid dan kemuliaan Ka’bah.
Beliau lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat ketika Nabi masih dalam kandungan. Sejak awal kehidupan, Allah SWT telah menyiapkan Nabi Muhammad SAW melalui ujian kehilangan figur ayah, yang kelak membentuk kepekaan sosial, empati, dan keteguhan batin dalam memimpin umat.
2. Masa Balita: Disusui di Pedalaman Bani Sa‘ad
Sesuai tradisi bangsa Arab, Nabi Muhammad SAW diasuh dan disusui oleh Halimah as-Sa‘diyyah di perkampungan Bani Sa‘ad. Tujuannya adalah agar anak tumbuh di lingkungan yang bersih, sehat, dan menggunakan bahasa Arab yang fasih. Selama bersama Halimah, keluarga tersebut merasakan banyak keberkahan, seperti rezeki yang melimpah dan ternak yang subur.
Pengasuhan di pedalaman membentuk karakter Nabi yang kuat, sederhana, dan dekat dengan alam. Lingkungan tersebut juga mengasah ketahanan fisik, kejelasan artikulasi bahasa, serta kecerdasan emosional—modal penting bagi seorang pemimpin dan komunikator risalah ilahi.
3. Usia 4 Tahun: Peristiwa Pembelahan Dada
Pada usia sekitar empat tahun, Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa pembelahan dada (shaqq al-shadr) oleh Malaikat Jibril. Hati beliau dibersihkan dari segala potensi keburukan dan dipenuhi dengan iman, hikmah, dan cahaya. Peristiwa ini disaksikan oleh anak-anak lain dan membuat Halimah khawatir sehingga mengembalikan Nabi kepada ibunya.
Peristiwa pembelahan dada merupakan bentuk penyucian spiritual langsung dari Allah SWT sebagai persiapan bagi tugas kenabian di masa depan. Hal ini menegaskan bahwa kepribadian Nabi Muhammad SAW dibentuk melalui bimbingan ilahi, bukan semata pengalaman sosial biasa.