Tuesday, May 19, 2026

Hati-hati dengan Kekerasan hati dan Jiwa yang kosong

 


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, marilah terlebih dahulu kita menasihati diri kita sendiri sebelum menasihati orang lain. Karena sesungguhnya hati ini sangat mudah berubah. Hari ini kita merasa semangat beribadah, besok bisa saja hati menjadi lalai. Hari ini mata mudah menangis ketika mendengar ayat Allah, tetapi beberapa waktu kemudian hati bisa terasa keras dan sulit tersentuh. Oleh sebab itu Allah mengingatkan dalam QS. Al-Anfal ayat 24 agar kita memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, karena seruan itu membawa kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang dimaksud bukan hanya hidup secara jasad, tetapi hidupnya hati, hidupnya iman, hidupnya ketenangan. Banyak orang yang tubuhnya sehat, hartanya banyak, pekerjaannya bagus, tetapi hatinya kosong, gelisah, mudah marah, dan jauh dari Allah. Sebaliknya ada orang sederhana, tetapi hidupnya tenang karena hatinya hidup bersama Allah.

Jamaah yang dimuliakan Allah, Rasulullah ﷺ sendiri sering berdoa, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Padahal beliau adalah manusia terbaik. Ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang aman dari perubahan hati. Kadang kita melihat seseorang dahulu rajin ke masjid, sekarang mulai sibuk dengan urusan dunia. Ada yang dahulu semangat mengaji, tetapi kemudian tenggelam dalam media sosial, hiburan, atau urusan pekerjaan sampai lalai dari salat. Bahkan mungkin itu terjadi pada diri kita sendiri. Ketika azan berkumandang, hati terasa berat melangkah ke masjid. Ketika Al-Qur’an ada di depan mata, tangan lebih cepat membuka telepon genggam daripada membuka mushaf. Inilah tanda bahwa hati perlu dijaga dan dihidupkan kembali.

Saudara-saudaraku, hati menjadi keras bukan karena dunia itu haram semuanya, tetapi karena dunia terlalu memenuhi hati. Bekerja itu baik, belajar itu baik, mencari nafkah itu ibadah, tetapi ketika semua itu membuat kita lalai dari Allah maka hati mulai tertutup. Contohnya sederhana. Ada orang yang begitu semangat bangun pagi untuk mengejar pekerjaan, tetapi sulit bangun untuk salat Subuh. Ada yang sangat disiplin menghadiri rapat, tetapi sering menunda salat. Ada yang mudah menghabiskan waktu berjam-jam menonton video atau bermain media sosial, tetapi lima menit membaca Al-Qur’an terasa berat. Padahal hati yang jauh dari Al-Qur’an akan mudah gelap. Karena itu kita perlu mujahadah, melawan hawa nafsu sedikit demi sedikit. Biasakan diri membaca Al-Qur’an walaupun satu halaman sehari, biasakan menjaga salat berjamaah, biasakan menghadiri majelis ilmu meskipun hanya sekali dalam seminggu. Jangan tunggu hati baik dulu baru beribadah, tetapi beribadahlah agar hati menjadi baik.

Allah juga menggambarkan dalam QS. Al-An‘am ayat 122 tentang orang yang diberi cahaya iman sehingga ia dapat berjalan di tengah manusia dengan cahaya itu. Cahaya iman terlihat dalam akhlak sehari-hari. Orang yang hatinya hidup akan lebih mudah memaafkan, lebih lembut kepada keluarga, lebih jujur dalam pekerjaan, dan lebih takut berbuat zalim. Ketika marah, ia berusaha menahan lisannya. Ketika diberi rezeki, ia ingat untuk bersedekah. Ketika diuji, ia tetap berusaha sabar. Inilah ciri hamba الرحمن dalam QS. Al-Furqan: berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan menghidupkan malam dengan ibadah. Maka pengamalan sederhana yang bisa kita mulai misalnya membiasakan salat malam walau hanya dua rakaat, membiasakan mengucapkan kata-kata lembut kepada pasangan dan anak-anak, serta belajar menahan diri ketika dihina atau dipancing emosi.

Kemudian kisah dalam QS. Yasin ayat 13–20 mengajarkan kepada kita pentingnya istiqamah dalam dakwah dan mendukung kebaikan. Para utusan Allah ditolak, didustakan, bahkan diancam. Namun mereka tetap menyampaikan kebenaran. Lalu datang seorang laki-laki dari ujung kota yang membela para rasul dan berkata, “Ikutilah para utusan itu.” Ini pelajaran besar bagi kita. Dalam kehidupan sehari-hari, jangan malu mendukung kebaikan walaupun sedikit. Misalnya mengajak keluarga salat berjamaah, mengingatkan teman dengan lembut agar tidak meninggalkan salat, membantu kegiatan masjid, atau menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Bisa jadi amal kecil seperti itu menjadi sebab hidupnya hati kita. Karena sesungguhnya hati yang hidup bukan hanya hati yang banyak ilmu, tetapi hati yang mau tunduk dan bergerak untuk taat kepada Allah.

Akhirnya, marilah kita terus memohon kepada Allah agar hati kita tidak menjadi keras. Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun dunia tetapi lupa membangun iman. Jangan sampai kita tampak hidup di hadapan manusia, tetapi hati kita mati di sisi Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang lembut hatinya, ringan dalam ketaatan, istiqamah dalam ibadah, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

No comments:

Post a Comment