Friday, February 20, 2026

Ketika ChatGPT write for me Vs. Turnitin AI Detector

 Kecerdasan buatan seperti ChatGPT bekerja menggunakan Large Language Model (LLM) berbasis arsitektur transformer yang dilatih dengan miliaran kata dari berbagai sumber. Model ini tidak menghafal teks atau memiliki pemahaman seperti manusia, melainkan mempelajari pola statistik antar kata, frasa, dan struktur kalimat. Secara sederhana, AI menghasilkan tulisan dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan probabilitas yang dihitung dari konteks sebelumnya.

Saat menerima prompt, AI memproses teks melalui beberapa tahap, yaitu tokenisasi (memecah teks menjadi unit-unit kecil), mengubah token menjadi representasi numerik (embedding), lalu memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola bahasa yang telah dipelajari. Proses ini berlangsung secara bertahap, kata demi kata, hingga teks selesai atau mencapai batas tertentu. Meskipun hasilnya tampak koheren dan logis, AI tidak memiliki kesadaran, niat, atau pemahaman makna seperti manusia—ia hanya mengenali dan mereproduksi pola bahasa.

Di sisi lain, plagiarism checker seperti Turnitin dan iThenticate pada dasarnya bekerja dengan membandingkan teks terhadap database besar yang berisi jurnal, buku, website, dan karya akademik lainnya. Sistem ini menggunakan algoritma pencocokan string untuk mendeteksi kemiripan frasa atau struktur kalimat. Jika ditemukan banyak kesamaan, maka skor similarity akan tinggi. Namun, sistem ini sebenarnya hanya mendeteksi kemiripan sumber, bukan secara langsung menentukan apakah teks dibuat oleh AI.

Untuk mendeteksi tulisan AI, kini digunakan fitur AI writing detection yang menganalisis pola statistik bahasa. Beberapa indikator yang digunakan antara lain perplexity (tingkat keterdugaan teks), burstiness (variasi panjang dan kompleksitas kalimat), serta konsistensi struktur dan distribusi kata. Tulisan AI cenderung lebih rapi, konsisten, dan mudah diprediksi, sedangkan tulisan manusia biasanya lebih variatif dan tidak selalu sistematis. Sistem ini juga dilatih menggunakan machine learning untuk membedakan pola teks manusia dan AI.

Meskipun demikian, deteksi AI tidak pernah 100% akurat. Terdapat kemungkinan false positive (tulisan manusia dianggap AI) dan false negative (tulisan AI dianggap manusia). Skor yang dihasilkan bersifat probabilistik, bukan bukti mutlak. Secara akademik, dapat disimpulkan bahwa AI menghasilkan teks melalui prediksi statistik tanpa kesadaran, sementara plagiarism checker dan AI detector hanya menganalisis kemiripan dan pola bahasa—bukan memastikan secara absolut asal-usul tulisan tersebut.

No comments:

Post a Comment