Jumat, 21 Desember 2012

Dunia yang kosong spiritualitas


Dunia yang Hampa Spiritualitas

Masyarakat Amerika baru saja diguncangkan oleh pembunuhan massal dan brutal yang dilakukan oleh Adam Lanza pemuda berusia 20 tahun. Hal ini secara keji dikerjakan di Sekolah Dasar Sandy Hook, Kota Newtown, Negara Bagian Connecticut, sebuah kota kecil yang sebelumnya dikenal sebagai kota yang aman. Saat itu Adam segera secara membabi buta mengeksekusi 26 orang yang diantaranya 20 anak berumur antara lima hingga 10 tahun, dan enam orang dewasa. Kejadian ini merupakan aksi pembunuhan yang paling sadis dalam sejarah  kehidupan orang Amerika.
Aksi ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, terdapat beberapa aksi yang menimbulkan trauma. Pada tahun 1999, terdapat aksi penembakan di sebuah sekolah menengah di Littleton, yang berjarak 27 kilometer dari Aurora. Aksi ini menewaskan 12 siswa dan seorang guru. Tahun 2007, terjadi pula penembakan membabibuta di Blacksburg, Virginia. Sebanyak 32 orang mahasiswa yang tewas secara mengenaskan. Juga terjadi tahun ini kasus penembakan di bioskop Colorado pada bulan Juli saat pemutaran perdana film Batman: The Dark Night Rises yang menewaskan 12 orang dan 59 orang luka-luka.


Dari semua kejadian yang tragis tersebut terutama aksi mengerikan Adam Lanza dapat dikaji tiga aspek penting yang menyebabkan dan mempengaruhi terjadinya  aksi ganas tersebut.Kajian ini diambil dari berbagai sumber pemberitaan media seperti The Guardian, Daily Mail, dan USA today.
Pertama, secara pribadi Adam Lanza digambarkan oleh semua tetangga dan teman-temannya sebagai sosok yang pemalu, tertutup, minder, kaku , anti-sosial, tetapi pintar. Sejumlah sumber mengatakan, para penyidik menduga keterasingan dan kecanggungan sosial Adam Lanza sangat mirip dengan penderita sindrom Asperger. sindrom ini adalah bagian dari spektrum autisme yang ditandai dengan sulitnya melakukan interaksi sosial. Namun, kebanyakan penderita sindrom Asperger justru memiliki keahlian khusus yang tinggi dan sewaktu kecil mereka sering dibilang sebagai "profesor kecil" karena suka membicarakan hal-hal yang hebat di luar semesta pembicaraan teman-teman sebayanya misalnya "bagaimana caranya pesawat ulang-alik bisa mendarat di bulan".
Dr. Harold Schwartz, dari Institut Kehidupan Hartford mengatakan bahwa pengidap sindrom Asperger ini adalah orang yang "kesedihannya terkumpul", orang-orang yang merasa tersinggung dan kemudian kebenciannya terkumpul. sayangnya mereka tak memiliki kemampuan untuk menunjukkan perasaanya dengan cara yang produktif. Menurut Dan Holmes, tukang kebun keluarga Lanza, Adam selalu menghabiskan waktunya di kamar. dia selalu menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, dan kebanyakan memainkan game pertempuran. Selain kecanduan game yang penuh kekerasan,dia bahkan tidak memiliki akun facebook dan twitter.
Kedua, dari aspek keluarga, meskipun adam tinggal bersama dengan keluarga kaya tetapi dia adalah  seorang anak yang menderita akibat perceraian orang tuanya Peter dan Nancy Lanza. Setelah lama mengidap sindrom Asperger yang menyebabkan isolasi dan masalah emosional pergulatan batin Adam semakin memuncak ketika orangtuanya bercerai di tahun 2008 lalu, setelah 18 tahun hidup bersama. Ayahnya adalah seorang eksekutif di General Electric yang bergaji 1 juta dollar pertahun. Setelah perceraian itu, Adam mulai menunjukkan gelagat berubah. dia lebih suka menyendiri dan berperilaku aneh, saat orang mendekati Adam di jalan, dia bakal mendorong orang itu ke dinding atau berjalan ke arah yang berlainan. Mirip bocah berusia delapan tahun yang menolak memberikan boneka Teddy Bear-nya kata Richard Novia, teman sekelasnya yang juga sama-sama mengemari ekstra kurikuler komputer.
Jika dilihat dari sisi kehidupan ibunya Adam dijelaskan bahwa dia adalah seorang paranoid. Menurut Marsha Lanza, bibi Adam, Nancy Lanza, sang ibu, adalah anggota gerakan Doomsday Preppers, yang meyakini bahwa setiap orang harus bersiap menghadapi akhir dunia yang kacau balau yang ditandai dengan runtuhnya ekonomi dunia. Dia juga memiliki filosofi survivalis sehingga dia membuat rumahnya seperti benteng untuk pertahanan dan menimbun pangan dan senjata api. senjata yang dimilikinya dalah senapan semi-otomatis Bushmaster dan dua pistol Glock dan Sig Sauer. Adam Lanza sangat pandai memainkan senjata itu karena dia dan kakaknya, Ryan Lanza sejak umur 9 tahun sudah diajari bagaimana menembak dengan baik oleh ibunya.
Seperti dikutip koran Dailymail, Nancy tampaknya terobsesi dengan senjata akibat perasaan tidak aman hidup di tengah masyarakat. Ia sampai mengajarkan anaknya Adam dan Ryan cara menembak. Namun, tampaknya ini menjadi akar permasalahan yang menjadi bumerang yang mengerikan pada Jumat 14 Desember 2012. Adam Lanza dengan membabi buta menembak ibunya di tempat tidur. Senjata makan tuannya. Adam menembakkan empat peluru ke kepala Nancy yang diduga saat itu sedang tidur.
Ketiga, secara umum meskipun Adam dan keluarganya tinggal di salah satu kota kecil terkaya di Amerika Serikat, ibunya mendapat tunjangan senilai 1,9 milyar Rupiah tiap tahun dari mantan suaminya dan tinggal di rumah senilai 1,6 juta dollar, tingkat stress masyarakat amerika telah naik begitu tinggi. Baru-baru ini diungkapkan bahwa Tingkat stres melambung di Amerika sebesar 30% dalam 30 tahun. Peneliti dari Carnegie Mellon University menganalisis data dari tahun 1983, 2006 dan 2009, dan menemukan yang dilaporkan sendiri bahwa tingkat stres masyarakat Amerika telah meningkat 10-30% dalam tiga dekade terakhir.
Dari penelitian tersebut dilaporkan bahwa Perempuan, kaum muda dan berpenghasilan rendah Amerika adalah yang paling stres, menurut data yang diterbitkan dalam edisi bulan ini dari Journal of Applied Psychology. Jika dibandingkan antara pria dan wanita tingkat stres pria meningkat lebih dari waktu ke waktu daripada perempuan, naik 25% sejak tahun 1983 dibandingkan 18%.  Bahkan Dr David Spiegel, seorang psikiater di Stanford University School of Medicine mengatakan kepada USA Today bahwa tingkat stres akan menjadi lebih tinggi hari ini dibandingkan 25 tahun yang lalu.
Dunia yang Hampa Spiritualitas
James Allan Fox dari Northeastern University mengemukakan hipotesis yang menarik mengenai sebab semua pembunuhan massal di Amerika. Menurutnya, pembunuhan massal disebabkan oleh seseorang yang frustasi atas keadaan, kemudian mengalami rasa kecewa atas kehidupan, perasaan terisolasi atau tersingkir dari keluarga, sehingga melahirkan perasaan yang menganggap diri tidak beruntung atau diperlakukan tidak adil.
Yang menarik dari hipotesis tersebut ialah adalah pernyataannya yang mengatakan bahwa terdapat ribuan orang penduduk Amerika yang merasakan ketidakadilan serta harapan yang terlalu besar dari dunia sosial. Anak-anak muda diwajibkan menggapai ambisi tertentu, sehingga terjebak dalam perjuangan menggapai mimpi-mimpi yang dtanamkan sejak kecil. Anak-anak muda itu lalu menyalahkan sistem yang tak adil, keluarga, atau masyarakat yang banyak menuntut tapi tidak banyak memberi dukungan moral dan spiritual kepada mereka.
Hakikatnya apa yang terjadi Newtown, Conneticut adalah refleksi atas dunia sosial kita yang kian sakit. Banyaknya pembunuhan massa dan fenomena bunuh diri adalah puncak gunung es dari permasalahan sosial yang sesungguhnya mendera manusia modern. Masyarakat dunia terlampau sibuk dan bergulat dalam dilema pencarian kebahagiaan, sebuah titik yang dianggap bisa nyaman sebenar-benarnya, selalu merasa cukup, tanpa diganggu rasa depresi.
Manusia kerap lupa dalam mendefinisikan bahagia. Kita selalu hanya melihatnya dengan capaian-capaian ekonomi dan simbol-simbol material. Untuk itu, kemudi hidup kita tanpa sadar digerakkan dalam suasana atmosfir hedonis-materialistis. Kita mencari ilmu setinggi-tingginya, lalu ingin mengakumulasi harta sebanyak-banyaknya.
Kelak kita akan tiba pada satu titik bahwa semua itu tidak selalu memberikan rasa nyaman bagi kita. Harta yang menimbun itu tidak bisa memberikan rasa damai. Setiap saat kita was-was dan ketakutan. Sementara mereka yang berumah di pinggir kali justru menemukan ketengangan dan bapak becak bisa tidur “ngorok” di becaknya dengan nyaman,  sesuatu yang kita cari hingga mengorbankan banyak waktu kita dalam hidup.
Dalam kasus Adam Lanza, tekanan sebagai pemuda Amerika yang diharapkan bisa berbuat sesuatu, lalu menjadi kaya-raya (sebagaimana American Dreams, impian banyak orang Amerika), akhirnya menjadi tekanan yang tak kuasa untuk ditahannya. Fenomena dirinya yang berasal dari latar sosial yang makmur menjadi cambuk atau “warning” bagi kita bahwa materi bukanlah satu-satunya hal yang dicari manusia. Manusia memang mencari bahagia dan demi kebahagiaan itu kita siap melakukan apapun.
Tapi, apakah bahagia memang sampai sejauh itu? Kata pepatah Inggris, "The fool looks for happiness in the distance whereas the wise grows under his feet" (orang bodoh mencari kebahagiaan ke tempat-tempat yang jauh, sedangkan orang bijak menumbuhkanya dalam dirinya). Kata Jalaluddin Rumi, manusia yang mencari kebahagiaan ibarat ikan laut yang sibuk mencari air. Bahagia ibarat udara yang senantiasa melingkupi kita.
Bahagia adalah sesuatu yang amat dekat dengan diri kita. Dia adalah sesuatu yang tak berjarak, mengisi sesuatu tanpa menuang. Bahagia melingkupi segala sesuatu. Bahagia mengikuti kemanapun kita pergi, namun sayangnya, tak banyak dari kita yang menemukan bahagia tersebut. Banyak yang mencari-cari, tanpa memahami bahwa bahagia itu amat dekat dengan dirinya. Sangat dengan dengan diri kita
Jika semua orang memahami makna bahagia dalam kehidupan, maka Adam Lanza yang jenius  tak perlu menembak dan membunuh 26 orang di SD Sandy Hook. Juga tak perlu  menembak kepala sendiri sampai mati. Tak perlu ada depresi. Semoga Rakyat Indonesia dijauhkan oleh Yang Maha Kuasa akan hal-hal buruk semacam itu. Semoga.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..