Rabu, 01 April 2009

Nuansa rasa leksikon bahasa Jawa

Setiap bahasa tentunya memiliki keunikan dan kekhasan yang dibanggakan oleh setiap bangsa yang menjadi pemilik dan penggunanya. Masing-masing bahasa memiliki kekhasan yang terkadang sulit ditemukan pola atau sistem yang sama persis dalam bahasa-bahasa lain. Misalnya orang Inggris bangga dengan bahasanya yang memiliki 16 pola tenses atau kala yang cukup rumit. Sampai-sampai ada bentuk kala dengan pola past future perfect continous yang jika diartikan “telah akan sedang berlangsung”. Bagi kita yang sudah sangat terbiasa dengan pola kala Bahasa Indonesia yang relatif sederhana tentunya sangat aneh memahami bahwa ada kombinasi suatu pekerjaan yang “telah terjadi” dan juga “sedang berlangsung” di masa yang akan datang. Hal ini konon merupakan refleksi bahwa mereka sangat menghargai waktu. Mereka tidak kenal rubber time atau jam karet. Contoh yang lain adalah orang Hindustan yang bangga dengan bahasa Urdu. Bahasa ini punya ciri pemerlain yang unik pada rangkaian kalimat-kalimat yang terdengar begitu puitis karena kebanyakan kalimatnya diakhiri dengan kata “hai”. Misalnya kalimat “Apka kia nam hai? (Siapakah nama anda?)”, “Pakistani ham char sati hai (Kami berempat dari Pakistan)”, “Kia bolte hai? (Apa yang dia katakan?)” dan yang populer disini film dan lagu berjudul “Kutch-kutch hota hai” (Aku merasakan sesuatu terjadi padaku ketika engkau mendekat kepadaku). Kata “hai” ini adalah to be atau kata kerja bantu yang selalu diletakkan di akhir kalimat.
Nah, jika orang Inggris dan orang India-Pakistan punya kebanggaan yang khas dengan bahasa mereka bagaimana dengan orang Jawa? Apakah orang Jawa terutama generasi mudanya benar-benar bangga punya bahasa Jawa? Jika saja bahasa Jawa sudah dianggap kuno dan usang tentunya situs mesin pencari terbesar sedunia Google.com tentunya tak mau menyediakan menu Google Boso Jowo sebagai salah satu peranti bahasa pilihan. Lalu jika memang benar demikian kemudian aspek apa dari bahasa Jawa yang bisa dibanggakan?.
Untuk menjawab hal ini akan disampaikan satu fenomena yang sangat menonjol dari bahasa Jawa yang semoga membuat kita sadar sepenuhnya akan kelebihan bahasa Jawa. Fenomena kebahasaan ini rasanya sulit ditemui padanannya jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain yang kita kenal.
Menurut Profesor E.M Uhlenbeck, pakar bahasa Jawa dari Belanda (Aneh bin ajaib ya, pakar bahasa Jawa kok malah orang bule?) bahasa jawa dipenuhi oleh leksikon emotif ekspresif. Contohnya leksikon kemresek, kemrosok, kemrusuk, dan kemrisik yang semuanya menyatakan bunyi berkerisik benda-benda seperti daun-daun, air terjun dan lain sebagainya dengan tingkat kekerasan dan kejelasan yang berbeda. Contoh lain adalah leksikon krik-krik yang mengacu pada suara hewan jangkrik dan leksikon cek-cek mengacu pada suara hewan cecak. Secara semantik contoh-contoh di atas mengacu pada kekhasan masyarakat agraris tradisional yang dekat dengan alam secara morfologis (Uhlenbeck:163).
Leksikon emotif ekspresif disebut juga leksikon periferal atau “pinggiran” atau leksikon yang bersifat non-arbitrer. Kenapa disebut non-arbitrer? Karena ada kesamaan spesifik antara aspek formal dan aspek semantik. Misalnya kata pethingil atau methingil mengacu pada munculnya “benda” kecil seperti tikus atau jangkrik. Kata Prof.D.Edi Subroto, guru saya di pascasarjana UNS, secara fonestemik bunyi “i” ada nuansa benda-benda yang kecil, ringan, lembut dan halus. Apabila ada fonem vokal “i” berubah menjadi “u” kemudian menjadi “o” menandakan entitas itu berangsur-angsur menjadi semakin besar, berat dan kasar. Contohnya adalah gradasi yang terjadi pada kata pethingil menjadi pethungil dan pethongol. Atau methingil menjadi methungul dan akhirnya menjadi methongol. Gradasi semacam ini bisa dijelaskan secara fonetik karena ruang resonansinya kecil atau sempit. Contoh lain adalah gradasi kata-kata itir-itir menjadi utur-utur kemudian menjadi otor-otor.
Contoh-contoh itu jelas menunjukkan bahwa bahasa Jawa sangat kaya akan nuansa rasa. Untuk lebih memahami kekayaan unsur emotif ekspresif dalam leksikon di atas cobalah menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris atau bahasa lain apa pun yang Anda ketahui. Rasanya sangat sulit menemukan padanan terjemahan kata yang sama persis nuansa rasanya.
Contoh-contoh gradasi di atas meski sepintas kelihatan sederhana sudah pernah dipresentasikan di International Conference of Austronesian Linguistics di Pulau Bali di tahun 1987. Contoh-contoh ini ternyata pernah menjadi bahan kajian seminar yang pada saat itu mendapatkan tanggapan meriah para pakar linguistik se Asia-Pasifik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..