Thursday, June 18, 2026

Sad but True: A story of Tablighi Jamaat

  Artikel adalah ringkasan dan terjemah dari uraian panjang di web ini: 3 Reasons Why Tablighi Jamaat Split & How it was Reunited!

Ringkasan Singkat

Sejak 1995, Tablighi Jamaat dipimpin oleh sebuah Syura (Dewan Dunia) daripada seorang Amir tunggal. Pada tahun 2014, Maulana Saad—seorang anggota Syura—melanggar kesepakatan tersebut dan secara tidak resmi mendeklarasikan dirinya sebagai Amir baru. Pada Ramadhan 2016, ia melakukan pembersihan kekerasan di Markas Nizamuddin, menyebabkan banyak orang dipukul dan dirawat di rumah sakit. Peristiwa ini menghancurkan semua harapan mediasi dan menyebabkan perpecahan.

Upaya nasihat dan mediasi dari berbagai pihak, termasuk sesepuh Makkah/Madinah, semuanya gagal. Akhirnya, Haji Abdul Wahab Sahab (anggota Syura paling senior) menggalang semua sesepuh untuk mengambil sikap tegas. Kini, krisis sebagian besar telah mereda. Pengikut Maulana Saad masih ada namun minoritas, dan pekerjaan Dakwah serta Tabligh telah pulih di seluruh dunia.


Tiga Penyebab Utama Perpecahan

#1 – Maulana Saad Mengubah Manhaj (Doktrin) Tanpa Persetujuan

  • Doktrin utama Tablighi Jamaat adalah selalu terikat pada Ijma (konsensus) para Ulama dan berpegang teguh pada mufassirin, muhaddisin, dan fuqaha terkemuka.

  • Perubahan terbesar Maulana Saad adalah menyimpangkan gerakan dari Ahlus Sunnah Wal Jama'ah melalui ideologi dan pemahaman baru tentang Islam.

  • Banyak fatwa telah dikeluarkan terhadapnya, termasuk dari Darul Uloom Deoband.

  • Ia juga memperkenalkan buku Muntakhab Ahaadith sebagai buku resmi tanpa persetujuan, serta berbagai perubahan lain yang menyebabkan kebingungan di seluruh dunia.

#2 – Maulana Saad Melanggar Kesepakatan 1995

  • Pada 1995, Syura (termasuk Maulana Saad) menandatangani kesepakatan bahwa tanggung jawab tidak berada pada satu individu, melainkan Syura Dunia.

  • Pada 2014, Maulana Saad secara khianat melanggar kesepakatan dengan mengklaim diri sebagai Amir baru, menolak Syura, dan mulai mengambil Bai'ah (janji setia) tanpa persetujuan (Mashwara).

  • Melanggar perjanjian adalah dosa, apalagi memecah belah gerakan Islam terbesar dengan sekitar 100 juta pengikut.

#3 – Banyak Fatwa Dikeluarkan Terhadap Ideologi Maulana Saad

  • Tablighi Jamaat selalu terikat oleh Ijma para Ulama yang dijaga oleh lembaga-lembaga Islam terkemuka.

  • Keluhan telah tercatat sejak 2001. Ideologi Maulana Saad dinilai semakin menyimpang.

  • Darul Uloom Deoband mengeluarkan fatwa pertama pada 28 November 2016, dan menolak rujoo (pencabutan pernyataan)-nya pada 31 Januari 2018.

  • Pada 2023, Deoband mengeluarkan fatwa tegas bahwa Maulana Saad tidak boleh diikuti.

  • Lebih dari 60 fatwa telah dikumpulkan dari berbagai institusi di seluruh dunia.

Dr. Faizal Risdianto Bekali 80 Mahasiswa KPI UIN Surakarta Strategi Tembus Jurnal Bereputasi



Sukoharjo – Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar pelatihan menulis artikel jurnal ilmiah bagi 80 mahasiswa semester 6 angkatan 2022. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 4 Juni 2025, di Aula Lantai 2 Fakultas Ushuluddin dan Dakwah ini menghadirkan pakar publikasi ilmiah bereputasi internasional, Dr. Faizal Risdianto, S.S., M.Hum., yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Publikasi dan Rumah Jurnal Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga .

Kehadiran Dr. Faizal dalam pelatihan ini menjadi sorotan utama mengingat rekam jejaknya yang mentereng di dunia publikasi akademik. Selain menjabat sebagai Kepala Pusat Publikasi dan Rumah Jurnal UIN Salatiga, pria yang juga merupakan Managing Editor REGISTER Journal UIN Salatiga ini telah berhasil membawa jurnal kelolaannya terindeks Scopus dan Emerging Sources Citation Index (ESCI) Web of Science . REGISTER Journal bahkan telah meraih akreditasi SINTA 2 sejak April 2022, sebuah pencapaian yang menunjukkan kapasitasnya dalam mengelola jurnal menuju level internasional .
Dr. Faizal, yang memiliki Scopus ID 57213518975 dan Researcher/Web of Science ID AAN-5614-2020, membawakan materi komprehensif mengenai strategi publikasi artikel pada jurnal ilmiah . Dengan pengalaman lebih dari 23 tahun mengajar dan menghasilkan puluhan publikasi nasional maupun internasional, ia memaparkan secara detail tentang jenis-jenis jurnal ilmiah, struktur artikel yang baik, serta etika publikasi dan penulisan akademik . Sesi yang dipandunya berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang mengajukan banyak pertanyaan .

Keahlian Dr. Faizal tidak hanya terbatas pada aspek penulisan, tetapi juga mencakup tata kelola jurnal secara profesional. Ia sering menjadi narasumber pada berbagai pendampingan jurnal menuju akreditasi nasional dan indeksasi internasional . Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya delapan poin langkah internasionalisasi jurnal, termasuk memperluas dewan redaksi internasional dari minimal empat negara dan tiga benua, serta memastikan adanya proofreading bahasa Inggris untuk semua naskah . Strategi-strategi ini pula yang dibagikannya kepada mahasiswa KPI agar artikel yang mereka hasilkan memiliki peluang lebih besar untuk diterima di jurnal bereputasi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Prodi KPI UIN Raden Mas Said Surakarta untuk meningkatkan kompetensi akademik mahasiswa sekaligus mendukung target kelulusan tepat waktu. Koordinator Prodi KPI, Joni Rusdiana, menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi bekal bagi mahasiswa untuk lulus dengan portofolio berupa artikel jurnal ilmiah . Hal ini sejalan dengan budaya akademik yang telah dikembangkan Prodi KPI, di mana sebelumnya mahasiswa KPI juga telah berhasil menerbitkan artikel pada jurnal nasional terindeks .

Kolaborasi dengan pakar seperti Dr. Faizal Risdianto menunjukkan komitmen serius Prodi KPI dalam membekali mahasiswanya dengan keterampilan menulis ilmiah yang sesuai standar akademik tinggi. Sebagai Managing Editor yang telah berhasil membawa REGISTER Journal ke level internasional, Dr. Faizal tidak hanya memberikan teori, tetapi juga pengalaman praktis dalam mengelola publikasi ilmiah . Ia juga aktif sebagai Asosiate Editor DOAJ, Mendeley Advisor, dan Sekretaris Jenderal INAPRA-Indonesian Pragmatics Association, yang semakin memperkuat kredibilitasnya di bidang publikasi akademik .

Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyusun artikel sesuai standar jurnal akademik, memahami proses publikasi, dan membangun portofolio akademik sejak dini. Dengan bekal dari pakar seperti Dr. Faizal Risdianto, mahasiswa KPI UIN Raden Mas Said Surakarta diharapkan tidak hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi juga mampu menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan secara nasional maupun internasional .

Program Studi KPI berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan serupa guna mendukung prestasi akademik mahasiswa. Pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat budaya riset dan publikasi ilmiah di lingkungan kampus, sejalan dengan visi UIN Raden Mas Said Surakarta untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul dalam bidang akademik dan penelitian .

Sumber:

KPI UIN Raden Mas Said Surakarta. (2025). Pelatihan Menulis Artikel Jurnal Ilmiah Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa KPI UIN Raden Mas Said Surakarta. https://kpi.uinsaid.id/2025/06/16/pelatihan-menulis-artikel-jurnal-ilmiah-tingkatkan-kompetensi-mahasiswa-kpi-uin-raden-mas-said-surakarta/


Internal and External Factors Affecting Students’ Lack of Verbal Participation

 


Internal and External Factors Affecting Students’ Lack of Verbal Participation and the Role of Classroom Activities in Speaking Engagement

Verbal participation is a crucial component of successful language learning, particularly in English as a Foreign Language (EFL) classrooms. Active participation enables students to practice communication skills, express ideas, and engage meaningfully with learning materials. However, many students remain reluctant to participate verbally during classroom interactions. Researchers have identified numerous internal and external factors that contribute to students’ low verbal participation. Understanding these factors is essential for teachers who aim to create supportive learning environments and encourage students to engage actively in speaking activities (Brown, 2004; Krashen, 1985).

One of the most influential internal factors affecting verbal participation is anxiety. Language anxiety often occurs when students feel nervous, worried, or uncomfortable about speaking in front of others. Such feelings may arise from concerns about pronunciation, grammar, or being unable to express ideas effectively. Students experiencing high levels of anxiety frequently avoid speaking opportunities and prefer to remain silent during classroom discussions. Consequently, anxiety can significantly hinder students’ willingness to communicate and participate verbally in language learning activities (Krashen, 1985; Tahang et al., 2025).

Another important internal factor is low self-confidence. Students who doubt their language abilities often hesitate to speak because they are uncertain whether their responses are correct or meaningful. A lack of confidence can discourage students from taking risks in communication, even when they possess sufficient knowledge to contribute to classroom discussions. As a result, students may choose silence over participation, limiting their opportunities to improve speaking skills and language proficiency (Wang, 2019).

Reflection in Learning: A Comprehensive Analysis of Theory and Practice

 Introduction to Reflective Practice

Reflection constitutes a fundamental component of the learning process, serving as a bridge between experiential engagement and meaningful knowledge construction. The capacity to think critically about one's experiences and acquired knowledge enables students to transcend surface-level understanding and develop deeper cognitive connections (Dewey, 1933). This reflective capacity transforms passive reception of information into active intellectual engagement, allowing learners to analyse their actions, comprehend their learning trajectories, and generate profound insights that extend beyond the immediate educational context. The significance of reflection in educational settings has been increasingly recognised by contemporary scholars and practitioners, who view it as an indispensable element of effective pedagogy and holistic student development.

Theoretical Foundations of Reflective Learning

The theoretical underpinnings of reflective learning draw substantially from the seminal work of Donald Schön (1983), who revolutionised understanding of professional practice and learning through his conceptualisation of reflection-in-action and reflection-on-action. Dewey's (1933) earlier philosophical contributions established reflection as a disciplined inquiry into experience, positing that genuine learning occurs when individuals engage in systematic thought about their actions and their consequences. These foundational theories have been extended and refined by subsequent researchers who have demonstrated the transformative potential of reflective practice across diverse educational contexts (Moon, 2004). The integration of reflection into educational frameworks represents a pedagogical commitment to developing thoughtful, self-aware learners capable of navigating complex cognitive and moral landscapes.

Reflection-in-Action: Real-Time Cognitive Adaptation

Naturalistic Inquiry menurut Lincoln dan Guba

 


Naturalistic Inquiry merupakan paradigma penelitian yang diperkenalkan oleh Yvonna S. Lincoln dan Egon G. Guba sebagai respons terhadap dominasi paradigma positivistik dalam ilmu sosial. Pendekatan ini berkembang dari keyakinan bahwa realitas sosial tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui pengukuran kuantitatif dan eksperimen terkontrol. Sebaliknya, realitas dipandang sebagai sesuatu yang kompleks, dinamis, dan dibentuk melalui interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian harus dilakukan dalam lingkungan alami tempat fenomena tersebut berlangsung.

Paradigma ini muncul karena Lincoln dan Guba menilai bahwa pendekatan positivistik sering kali gagal menangkap makna yang diberikan individu terhadap pengalaman mereka. Dalam penelitian naturalistik, fokus utama bukanlah menguji hipotesis atau menemukan hukum universal, melainkan memahami bagaimana manusia membangun dan menafsirkan realitas sosial mereka. Dengan demikian, peneliti berupaya memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai perspektif, nilai, keyakinan, dan pengalaman partisipan.

Salah satu perbedaan mendasar antara pendekatan rasionalistik (positivistik) dan naturalistik terletak pada pandangan tentang realitas. Paradigma positivistik menganggap bahwa terdapat satu realitas objektif yang dapat diamati dan diukur secara independen dari peneliti. Sebaliknya, naturalistic inquiry berasumsi bahwa realitas bersifat jamak (multiple realities), dibentuk secara sosial, dan dapat berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Oleh karena itu, tidak ada satu kebenaran tunggal yang berlaku bagi semua situasi.

Dalam paradigma naturalistik, hubungan antara peneliti dan partisipan juga berbeda secara signifikan. Jika dalam penelitian positivistik peneliti berusaha menjaga jarak dan bersikap netral terhadap objek penelitian, maka dalam naturalistic inquiry peneliti justru menjadi instrumen utama penelitian yang berinteraksi secara langsung dengan partisipan. Interaksi tersebut memungkinkan peneliti memahami konteks, pengalaman, dan makna yang tidak dapat diungkap melalui instrumen standar seperti kuesioner tertutup.

Naturalistic inquiry juga menolak pandangan kausalitas yang bersifat linier dan deterministik. Dalam paradigma ini, fenomena sosial dipahami sebagai hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain secara kompleks. Sebuah peristiwa tidak dapat dijelaskan hanya melalui hubungan sebab-akibat yang sederhana, melainkan harus dipahami dalam konteks sosial, budaya, historis, dan lingkungan tempat peristiwa tersebut terjadi.