Ajuk-Ajuk (bahasa Inggris: Mockingbird) adalah sekelompok burung pengicau Dunia Baru dari keluarga Mimidae.Mereka terkenal karena kebiasaan beberapa spesies meniru nyanyian burung lain serta suara serangga dan amfibi. [1]. Ada sekitar 17 spesies dalam dua genus, meskipun tiga spesies dari Kepulauan Galápagos sebelumnya dipisahkan menjadi genus ketiga, Nesomomus. Burung Ajuk-Ajuk tampaknya tidak membentuk garis keturunan monofili, karena Mimus dan Melanotis bukan kerabat terdekat satu sama lain. Sebaliknya, Melanotis lebih dekat dengan burung-kucing tutul, sedangkan kerabat terdekat Mimus yang masih hidup adalah Ajuk-Ajuk penebah, seperti Ajuk-Ajuk penebah berparuh batu . [2] [3]
Monday, April 27, 2026
Draft of Developed Research Topic on Politeness and Impoliteness Strategies
Draft of Developed Research Topic on Politeness and Impoliteness Strategies
Politeness and Impoliteness Strategies in Lecturer–Student Communication Within Cyberpragmatic Chats: A Relational and Rapport-Based Perspective
This proposed research develops the earlier cyberpragmatic study by repositioning politeness and impoliteness not merely as rule-governed linguistic behavior, but as dynamic relational practices negotiated between lecturers and students in digitally mediated academic interaction. In the last five years, scholarship on politeness and impoliteness has increasingly moved beyond the traditional Brown and Levinson face-saving paradigm toward interactional, relational, multimodal, and context-sensitive approaches. Therefore, lecturer–student communication in WhatsApp, Telegram, email, Google Classroom, and other online platforms should be analyzed as sites where power, identity, solidarity, institutional hierarchy, and interpersonal meanings are constantly co-constructed.
Arundale’s Relational Theory of Face views face not as an individual possession but as participants’ emergent sense of connectedness and separateness during interaction. This perspective is highly relevant to cyberpragmatic chats because students and lecturers continually negotiate distance and closeness through greetings, response timing, address terms, emoji use, apologies, directives, and silence. A delayed lecturer response, for example, may be interpreted either as institutional busyness or relational distancing, depending on contextual expectations. Likewise, overly brief student messages such as “Sir, task?” may threaten relational connectedness because they minimize respect rituals expected in Indonesian academic culture. Thus, the study can examine how digital utterances index inclusion, exclusion, authority, and mutual recognition.
Spencer-Oatey’s Rapport Management Theory also provides a strong analytical lens because it explains how interactants manage three domains: face sensitivities, sociality rights, and interactional goals. In lecturer–student cyber communication, students often seek academic goals (extensions, clarification, recommendations), while lecturers balance pedagogical authority with approachability. Recent developments in rapport studies emphasize the role of expectation management, appropriateness norms, and emotion in online interaction. For instance, students may perceive a lecturer’s one-word reply as impolite because it violates expectations of warmth, even if the message is informationally sufficient. Conversely, lecturers may evaluate repeated reminders from students as intrusive violations of their autonomy rights.
Recent impoliteness theory (2019–2025) has also highlighted unintentional impoliteness, perceived impoliteness, algorithmic pressure, and digital aggression. In asynchronous chat environments, impoliteness often arises not from deliberate offense but from absent paralinguistic cues, message brevity, typing style, punctuation, or timing. A lecturer’s use of capitals (SUBMIT TODAY) may be read as urgency or anger. A student’s failure to greet may stem from efficiency rather than disrespect. Therefore, the study should distinguish speaker intention, hearer perception, and community norms, especially in bilingual Indonesian-English contexts where pragmatic transfer frequently occurs.
The Indonesian Islamic university context adds further novelty because politeness is frequently enhanced through religious expressions such as Assalamu’alaikum, Jazakumullah khairan, mohon izin, insyaAllah, or barakallah. These expressions function not only as lexical politeness markers but also as identity resources that strengthen moral alignment, humility, and relational warmth. However, recent discourse studies suggest such expressions may also become routinized or strategically instrumental. Hence, this research can investigate whether religious language genuinely builds rapport or merely performs expected etiquette within institutional communication.
Saturday, April 25, 2026
FLOW (2024) Oscar-winning & Best animation movie ever!
Flow memenangkan Academy Award (Oscar) untuk Best Animated Feature pada ajang Academy Awards ke-97 yang digelar tahun 2025. Film ini mengalahkan nominasi besar seperti Inside Out 2, The Wild Robot, Wallace & Gromit: Vengeance Most Fowl, dan Memoir of a Snail.
Kemenangan ini dianggap bersejarah karena Flow adalah film independen dari Latvia dan menjadi film Latvia pertama yang memenangkan Oscar. Film ini dipuji karena berhasil menyampaikan emosi mendalam tanpa dialog, hanya melalui visual, musik, dan ekspresi karakter hewan-hewan di dalamnya.
Keberhasilan Flow menunjukkan bahwa kreativitas, cerita yang kuat, dan nilai kemanusiaan dapat mengalahkan produksi besar beranggaran tinggi. Pesan film ini tentang kerja sama, keberanian, dan hubungan dengan alam menjadi salah satu alasan mengapa film ini sangat menyentuh penonton dunia.
Flow (2024) adalah film animasi tanpa banyak dialog yang menyajikan kisah seekor kucing yang harus bertahan hidup setelah dunia dilanda banjir besar. Dalam perjalanannya, sang kucing bertemu berbagai hewan lain di sebuah perahu kecil, seperti anjing, kapibara, dan burung. Meski memiliki sifat dan kebiasaan berbeda, mereka dipaksa bekerja sama untuk menghadapi arus deras, ketakutan, serta ketidakpastian. Film ini mengandalkan visual yang indah dan suasana emosional untuk menunjukkan perjuangan makhluk hidup dalam mencari keselamatan dan harapan.
Secara filosofis, film ini mengajarkan pentingnya mencintai alam. Banjir besar dalam cerita menjadi simbol bahwa alam memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada manusia maupun makhluk lain. Ketika keseimbangan alam rusak, semua makhluk akan merasakan dampaknya. Karena itu, manusia diajak untuk hidup selaras dengan lingkungan, menjaga hutan, air, dan ekosistem agar kehidupan tetap harmonis.
Film ini juga menonjolkan nilai persahabatan. Para hewan yang awalnya asing bahkan saling curiga akhirnya belajar saling membantu. Mereka menunjukkan bahwa perbedaan karakter bukan penghalang untuk bersatu. Persahabatan sejati lahir bukan karena kesamaan, tetapi karena kesediaan untuk peduli dan bertahan bersama dalam masa sulit.
Friday, April 24, 2026
Studi Pragmatik tentang Face, Rapport, dan Kepercayaan diri Berbicara
Dinamika relasional dalam diskusi kelas EFL merujuk pada cara siswa dan guru membangun hubungan interpersonal saat berbicara bahasa Inggris, dengan mempertimbangkan aspek face (muka/harga diri), rapport (relasi antarpribadi), dan kepercayaan diri berbicara.
Face dalam diskusi kelas
Dalam perspektif pragmatik, face adalah citra diri yang ingin dipertahankan oleh setiap pembicara (siswa maupun guru).library.binus.ac
Dalam diskusi EFL, siswa sering menghindar atau ragu berbicara karena takut “kehilangan muka” (misalnya dihakimi karena kesalahan tata bahasa atau pengucapan), sehingga dinamika relasional berjalan lebih baik ketika wajah dan harga diri peserta dirasa aman.repository.universitaspgridelta+1
Rapport dan interaksi kelas
Rapport adalah rasa kepercayaan, kedekatan, dan keselarasan antara siswa–guru maupun siswa–siswa.alguskha
Dalam diskusi kelas EFL, dinamika relasional yang positif muncul ketika siswa merasa diperhatikan, diapresiasi, dan tidak dihakimi; kondisi ini mendorong partisipasi aktif dan aliran komunikasi yang lebih terbuka.repository.bsi.ac+1
Peran kepercayaan diri berbicara
Kepercayaan diri berbicara berkembang ketika siswa merasa suasana diskusi aman, mendukung, dan tidak menekan.repository.universitaspgridelta+1
Dinamika relasional yang baik (face terjaga, rapport kuat) memperkuat rasa nyaman untuk mengambil risiko linguistik (berbicara walau berpotensi salah), sehingga diskusi kelas EFL menjadi wahana sekaligus untuk belajar bahasa dan membangun relasi interpersonal.repository.bsi.ac+1
