Rabbi Elhanan Beck, seorang tokoh Yahudi yang dikenal anti-Zionis, baru-baru ini melontarkan kritik pedas terhadap kelompok Zionis. Kritik itu disampaikannya dalam wawancara eksklusif bersama podcast Middle East Eye. Pernyataannya langsung memicu perhatian luas karena berani menyoroti sisi gelap logika politik Zionisme.
Dalam wawancara itu, Beck menyatakan bahwa kaum Zionis tidak memiliki batasan moral dalam memperjuangkan keamanan Israel. Ia menegaskan, mereka rela mengorbankan hingga 100 juta jiwa manusia tanpa rasa peduli. Angka ini disebut Beck untuk menggambarkan betapa ekstremnya prioritas politik Zionisme di atas nilai kemanusiaan.
Beck menekankan bahwa bagi kelompok Zionis, keselamatan proyek politik Israel adalah segalanya. Tidak ada harga yang terlalu mahal, termasuk nyawa dalam jumlah masif, demi mempertahankan dominasi mereka. Menurut Beck, logika ini menunjukkan bahwa kepentingan politik telah sepenuhnya mengalahkan rasa kemanusiaan.
Ia juga menuduh kelompok Zionis sama sekali tidak memikirkan nasib warga sipil, baik Muslim maupun Palestina. Yang mereka kejar hanyalah kelangsungan proyek politik dan dominasi atas kawasan. Akibatnya, penderitaan rakyat biasa dianggap sebagai "efek samping" yang boleh dikorbankan.
Salah satu kritik paling tajam dari Beck adalah soal normalisasi kekerasan terhadap anak-anak di Gaza. Ia menyebut bahwa pembunuhan anak-anak Palestina justru dirayakan dalam logika perang Zionis. Hal ini, menurut Beck, memperlihatkan bagaimana korban sipil, terutama yang paling rentan, kehilangan nilai kemanusiaannya.
Beck dengan tegas membedakan antara Yudaisme sebagai agama dan Zionisme sebagai proyek politik. Ia menolak anggapan bahwa tindakan Zionis mencerminkan ajaran Yahudi. Sebaliknya, Beck menyebut Zionisme sebagai penyimpangan yang menyalahkan agama untuk membenarkan pendudukan, perang, dan perampasan tanah Palestina.
Menurut Beck, akar konflik Timur Tengah bukanlah agama, melainkan praktik pendudukan dan pemaksaan kekuasaan atas bangsa lain. Ia menyimpulkan bahwa logika Zionis bersifat kejam, tidak berperikemanusiaan, dan tidak mencerminkan nilai-nilai Yudaisme sejati. Kritik ini sekaligus menjadi seruan untuk memisahkan agama dari praktik politik kolonial.

