Tuesday, March 10, 2026

Antara Gemerlap Peradaban dan Kehampaan Jiwa: Sebuah Perbandingan antara Kemajuan Materi dan Kesejahteraan Spiritual

 
Secara umum, tingkat bunuh diri di berbagai wilayah dunia menunjukkan variasi yang cukup besar. Negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, dan Australia memiliki tingkat bunuh diri yang relatif signifikan, dengan kisaran sekitar 10–15 kasus per 100.000 penduduk. Beberapa negara maju bahkan memiliki angka yang cukup tinggi, seperti Jepang dan Amerika Serikat. Namun demikian, fenomena bunuh diri tidak hanya terjadi di negara maju; beberapa negara berkembang juga ada kasus bunuh diri tapi relatif lebih sedikit jumlahnya. Faktor penyebab bunuh diri tidak semata-mata terkait dengan tingkat kemakmuran ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan tekanan sosial, kondisi kesehatan mental, serta dinamika budaya dan masyarakat. Namun, yang menarik untuk dicermati adalah mengapa di tengah kelimpahan materi, justru keinginan untuk mengakhiri hidup begitu tinggi?
Perbedaan yang lebih jelas terlihat pada tingkat konsumsi alkohol. Negara-negara maju, terutama di kawasan Eropa dan Amerika Utara, memiliki tingkat konsumsi alkohol yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara berkembang di Asia dan Afrika. Rata-rata konsumsi alkohol di negara OECD (developed countries)  mencapai sekitar 8,6 liter per orang per tahun, hampir dua kali lipat rata-rata global. Alkohol, yang seringkali menjadi pelarian dari kehampaan eksistensial atau stres kehidupan modern, dikonsumsi secara massal di negara-negara yang secara materi serba ada. Di banyak negara Asia, termasuk Indonesia dan India, konsumsi alkohol relatif rendah karena pengaruh norma budaya dan agama yang lebih kuat dalam mengatur perilaku sosial masyarakat. Di sini, agama berfungsi sebagai benteng moral sekaligus sumber makna hidup yang kokoh.
Selain itu, tingkat perceraian juga menunjukkan perbedaan yang mencolok antara negara maju dan negara berkembang. Di Amerika Serikat, sekitar 40–45 persen pernikahan berakhir dengan perceraian, sementara di Eropa Barat dan Australia angkanya berkisar antara 30–45 persen. Sebaliknya, di banyak negara Asia Selatan dan Afrika, tingkat perceraian relatif rendah, sering kali di bawah 10–15 persen. Fenomena ini berkaitan dengan perbedaan nilai sosial, struktur keluarga, serta norma budaya yang masih menekankan pentingnya mempertahankan keutuhan keluarga. Di dunia Timur, keluarga bukan sekadar kontrak sosial, melainkan ikatan sakral yang dijaga oleh nilai-nilai agama dan gotong royong. Ketika ikatan ini rapuh di Barat, individu kehilangan jaring pengaman emosional yang paling fundamental, meskipun mereka tinggal di rumah mewah dengan segala kecanggihan teknologi.
Fenomena perjudian juga lebih banyak ditemukan di negara maju. Negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, dan Inggris memiliki industri perjudian yang besar dan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi. Di Australia misalnya, sekitar 70–80 persen orang dewasa pernah terlibat dalam aktivitas perjudian. Judi seringkali menjadi representasi dari hasrat instant gratification dan kekosongan spiritual yang berusaha diisi dengan materi dan sensasi semu. Sebaliknya, di banyak negara Asia Selatan dan Afrika, tingkat partisipasi perjudian jauh lebih rendah, sebagian besar karena regulasi yang ketat serta pengaruh norma agama dan budaya yang melarang tindakan spekulatif yang merusak diri dan keluarga.
Secara keseluruhan, perbandingan ini menunjukkan sebuah ironi mendalam: Barat mungkin maju secara lahiriah, namun rapuh secara batiniah. Negara-negara maju memang memiliki gedung pencakar langit, teknologi canggih, dan jaminan sosial yang mapan. Namun, di balik gemerlap kemakmuran duniawi itu, tersimpan "padang pasir spiritual" yang tandus. Modernitas telah menciptakan manusia-manusia super dalam hal produksi dan konsumsi, tetapi menjadikan mereka kurcaci dalam hal makna hidup. Kemajuan sains dan rasionalitas seringkali berhasil menggeser Tuhan dari ruang publik, namun gagal mengisi kekosongan yang ditinggalkan-Nya. Akibatnya, masyarakat Barat maju secara teknologis tetapi miskin secara eksistensial. Mereka memiliki segalanya untuk hidup, namun kehilangan alasan untuk hidup.
Sebaliknya, banyak negara berkembang—yang secara ekonomi lebih terbatas, bahkan mungkin masih bergelut dengan kemiskinan dan infrastruktur yang minim—justru memiliki ketahanan psikologis dan ruhaniyah yang lebih kuat. Masyarakat Timur mungkin tidak memiliki rumah megah atau mobil mewah, tetapi mereka memiliki "rumah batin" yang kokoh bernama iman. Mereka mungkin tidak memiliki akses ke psikolog ternama, tetapi mereka memiliki komunitas, masjid, gereja, atau pura yang menjadi tempat menambatkan hati. Ikatan keluarga dan komunitas yang kuat menjadi benteng pertahanan utama ketika badai kehidupan menerpa. Mereka miskin secara materi, tetapi kaya secara ruhani.
Dengan demikian, data-data ini menegaskan bahwa kemajuan ekonomi tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan sosial dan psikologis masyarakat. Bahkan, bisa dikatakan bahwa kemajuan materi yang tidak diimbangi dengan kedalaman spiritual justru melahirkan peradaban yang mewah tetapi muram—kaya harta, miskin hati; pintar secara intelektual, namun buta secara moral. Pada akhirnya, manusia tidak bisa hidup dari roti saja. Ketika jiwa kelaparan, sekadar gemerlap dunia takkan pernah mampu mengenyangkannya. Di sinilah letak keistimewaan masyarakat yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai religius dan spiritualitas: mereka memiliki kekayaan yang tak ternilai yang tak pernah tercatat dalam statistik GDP manapun.

Friday, March 6, 2026

Aplikasi PPL bernama simPPLe FTIK UIN Salatiga

 https://simpple.ftik.online



Blog Dr. Faizal Risdianto: Four types of triangulation in qualitative research

Blog Dr. Faizal Risdianto: Four types of triangulation in qualitative research: Denzin (1978) and Patton (1999) identified four types of triangulation: (a) method triangulation, (b) inter-researcher triangulation, (c) th...


Denzin (1978) and Patton (1999) identified four types of triangulation: (a) method triangulation, (b) inter-researcher triangulation, (c) theory triangulation, and (d) data source triangulation. 

Do you remember the discussion about the triangulation of methods for collecting qualitative data in case studies? 


Our discussion at that time was only based on the narrow understanding of triangulation, namely the use of various methods in researching something. In social research, the scope of triangulation is narrower. 


According to Denzin (1970), triangulation integrates various data sources, researchers, theories, and methods to study a particular social phenomenon. Based on this broader understanding, Denzin distinguishes triangulation into four types. 


1. Trianggulasi sumber data, Data Source Triangulation

2. Trianggulasi Peneliti, Researcher Triangulation 

3. Trianggulasi Teori, Theory Triangulation 

4. Trianggulasi Metode, Method Triangulation 


yang bisa dikerjakan di skripsi mahasisw S1 adalah yang no.1 dan no.4

trianggulasi sumber data dan trianggulasi metode. yang no 2 dan 3 belum memungkinkan. karena trianggulasi peneliti itu indentik dengan kelompok peneliti padahal mahasiswa bikin skripsi itu sendirian. trianggulasi teori itu ada di level thesis mahasiswa S2 dan disertasi mahasiswa S3. ingat prinsip ini:

level S1= belajar membaca, (membaca, mengutip dan menulis kadang masih salah-salah gimana mau trianggulasi teori dan menghasilkan new theoretical contribution?)

In 2022, Institut Agama Islam Negeri Salatiga Officially Established Following Institutional Transformation


Institut Agama Islam Negeri Salatiga (IAIN) Salatiga has officially changed its status to Universitas Islam Negeri Salatiga (UIN) Salatiga following the issuance of Presidential Regulation of the Republic of Indonesia Number 88 of 2022 on June 8, 2022. The transformation marks a significant milestone in the institution’s development and reflects its long-standing aspiration to become a State Islamic University.

Rector Zakiyuddin Baidhawy stated that the issuance of the regulation represents the fulfillment of a major goal shared by the entire academic community. He emphasized that the transition from an institute to a university is not only a structural change but also a strategic step toward achieving broader academic excellence in science, technology, and the arts. He described the transformation as a blessing and the result of three years of dedicated effort by the university’s stakeholders.

The newly established UIN Salatiga upholds the vision of becoming a “Green Wasathiyah Campus,” aiming to promote environmental sustainability and moderate Islamic values. The university seeks to integrate ecological awareness with the principles of wasathiyah (moderation) to foster a harmonious and inclusive academic environment.

Former STAIN Salatiga Chair (2010–2014), Imam Sutomo, noted that the transformation also carries a social responsibility to maintain solidarity and tolerance in Salatiga, a city recognized for its religious harmony. He highlighted the important role of religious-based higher education institutions in preserving the city’s reputation as one of Indonesia’s most tolerant cities.

Currently, UIN Salatiga offers 24 undergraduate programs across five faculties, including one international class program. The university also provides five master’s (S2) programs and one doctoral (S3) program. A total of 4,846 prospective students applied through the SPAN-PTKIN admission track, while entrance examinations for the UM-PTKIN pathway were scheduled for June 14–15, 2022, with independent admissions open until July 10, 2022.

Thursday, March 5, 2026

LIST 244 DOSEN UIN Salatiga

  

NAMA DOSEN              NIP/NIDT           NIDN   PANGKAT         GOL     JABATAN           KET

Prof. Dr. Budihardjo, M.Ag.    19541002 198403 1 001        2002105401   Pembina Utama IV/e       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Muh. Zuhri, MA.        19530326 197803 1 001        2026035301   Pembina Utama IV/e       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Mansur, M.Ag.           19680613 199403 1 004        2013066802   Pembina Utama IV/e       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Muh. Saerozi, M.Ag.              19660215 199103 1 001        2015026602               Pembina Utama Madya          IV/d       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag.    19720521 200501 1 003        2021057201   Pembina Utama Madya IV/d       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Imam Sutomo, M.Ag.            19580827 198303 1 002        2027085802               Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Winarno, S.Si., M.Pd.            19730526 199903 1 004        2026057302               Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Phil Widiyanto., M.Ag., M.A.             19751122 200003 1 001               2022117503   Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag.        19720531 199803 1 002        2031057202               Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Benny Ridwan, M.Hum.       19730520 199903 1 006        2020057302               Pembina Utama Muda            IV/c       Guru Besar      Dosen PNS

Dr. Sa`adi, M. Ag.       19630420 199203 1 003        2020046304   Pembina Utama Muda   IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dr. Agus Waluyo, M.Ag.          19750211 200003 1 001        2011027502   Pembina Utama Muda  IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dr. Anton Bawono, S.E., M.Si.             19740320 200312 1 001        2020037401               Pembina Utama Muda            IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dr. Abdul Aziz N.P., S.Ag., M.M.         19701028 200003 1 001        2028107001               Pembina Utama Muda            IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dra. Djami`atul Islamiyah, M.Ag.    19570812 198802 2 001        2012085701               Pembina Utama Muda            IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Dr. Fatchurrohman, S.Ag., M.Pd.      19710309 200003 1 001        2009037101               Pembina Utama Muda            IV/c       Lektor Kepala Dosen PNS

Prof. Kastolani, M.Ag., Ph.D.               19690612 199403 1 003        2012066902               Pembina Tk.I  IV/b       Guru Besar      Dosen PNS

Prof. Dr. Budiyono Saputro, S.Pd., M.Pd.     19740630 200912 1 001               2030067401   Pembina Tk.I  IV/b       Guru Besar      Dosen PNS