Rabu, 06 Desember 2017

SUKU SAMIN & MASYARAKAT SUKU SAMIN




Suku Samin, adalah suatu kelompok masyarakat yang terdapat di daerah Blora provinsi Jawa Tengah dan Bojonegoro provinsi Jawa Timur.
Pemukiman suku Samin ini berada di tengah hutan, mereka sengaja menjauhkan diri dari kehidupan keramaian dan menjalankan tradisi hidup mereka yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Mereka memperlakukan alam dengan baik. Mengambil kayu bakar hanya seperlunya dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan. Mereka lebih suka berjalan kaki, sejauh apapun yang mereka tempuh. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia.
Semua ini mereka jalani karena sesepuh mereka, Samin Surosinteko merupakan penentang keras materialisme dan kapitalisme yang dibawa oleh kolonial Belanda. Orang Samin berbicara menggunakan bahasa Kawi yang dikombinasikan dengan dialek setempat, yaitu bahasa Kawi desa kasar. Suku Samin mengalami perkembangan dalam hal kepercayaan dan tata cara hidup. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat pecahan suku Samin yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar, yang telah meninggalkan tatacara hidup suku Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora) Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal Wong Sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan tata cara hidup dan keyakinan suku Samin yang dahulu, dan memilih agama resmi, yakni agama Budha-Dharma.
Ajaran dan kepercayaan Saminisme, muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri yang akhirnya terbentuk suatu komunitas tersendiri serta kepercayaan dan tata cara hidup tersendiri, dan komunitas mereka ini disebut suku Samin.
Tokoh perintis ajaran Samin Raden Surowijoyo. Pengetahuan intelektual Kyai Samin ini didapat dari ayah, yaitu anak dari pangeran Kusumaniayu (Bupati Sumoroto). Laki-laki kelahiran tahun 1859, Raden Surowijoyo melakukan perampokan pada keluarga kaya dan hasilnya dibagi-bagi kepada fakir miskin (mirip kisah Robinhood, atau Robinhood ala Jawa). Gerakan agresif revolusioner Kyai Samin Surosantiko, dicekal oleh Belanda dan dibuang ke Tanah Lunto pada tahun 1914. Kyai Samin Surosantiko merupakan generasi Samin Anom yang melanjutkan gerakan dari sang Ayah yang disebut sebagai Samin Sepuh..

sesepuh suku Samin
Samin yang ditulis dalam bahasa jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional (tembang macapat) dan prosa (gancaran). Secara historis ajaran Samin ini berlatar dari lembah Bengawan Solo (Boyolali dan Surakarta). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha, sebagai sinkretisme antara Hindhu-Budha. Namun pada perjalannnya ajaran ini juga dipengaruhi oleh ajaran ke-Islaman yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa oleh muridnya yaitu Ki Ageng Pengging. Sehingga patut dicatat bahwa orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius. Daerah persebaran ajaran Samin menurut Sastroatmodjo (2003) diantaranya di Tapelan (Bojonegara), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati) dan Tlaga Anyar (Lamongan). Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah gerakan meditasi dan mengerahkan kekuatan batiniah guna menguasai hawa nafsu. Sebab perlawanan orang Samin sebenarnya merefleksikan kejengkelan penguasa pribumis etempat dalam menjalankan pemerintahan di Randublatung.
Lima aturan dalam ajaran Samin:
    tidak bersekolah.     tidak memakai peci, tapi memakai "iket", yaitu semacam kain yang diikat di kepala.     tidak berpoligami.      tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut.     tidak berdagang
Pokok-pokok ajaran Saminisme
    Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.
    Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka irihati dan jangan suka mengambil milik orang lain.     Bersikap sabar dan jangan sombong.
    Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama denganroh dan hanya satu dibawa abadi selamanya.Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.     Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena tertulis dalam Kitab Suci Orang Samin.
Daerah penyebaran dan para pengikut ajaran Samin pertama kali tersebar di daerah Klopoduwur, Blora provinsi Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin berkembang ke dua desa hutan kawasan Randublatung kabupaten Bojonegoro provinsi JawaTimur.
Ajaran Samin
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ini adalah versi yang telah diperiksa dari halaman initampilkan/sembunyikan detail
Ajaran Samin (disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme) adalah salah satu suku yang ada di Indonesia. Masyarakat ini adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan.[1] Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya.[2]
Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun '70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar sampai Jawa Tengah, namun konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur yang masing-masing bermukim di perbatasan kedua wilayah.[3] Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi. Kelompok Samin lebih suka disebut wong sikep, karena kata samin bagi mereka mengandung makna negatif.[4] Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, tidak suka mencuri, menolak membayar pajak, dan acap menjadi bahan lelucon terutama di kalangan masyarakat Bojonegoro. Pokok ajaran Samin Surosentiko, yang nama aslinya Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan ke Padang, 1914.[5][6]

Ajaran
Pengikut ajaran Samin mempunyai lima ajaran[7]:
    tidak bersekolah,     tidak memakai peci, tapi memakai “iket”, yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa dahulu,     tidak berpoligami,     tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut,     tidak berdagang, dan     penolakan terhadap kapitalisme.
Penyebaran
Tersebar pertama kali di daerah Klopoduwur, Blora, Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin berkembang di dua desa hutan kawasan Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Gerakan ini lantas dengan cepat menjalar ke desa-desa lainnya. Mulai dari pantai utara Jawa sampai ke seputar hutan di Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan, atau di sekitar perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur menurut peta sekarang.[8]
Pokok-pokok ajaran Saminisme
Pokok ajaran Samin adalah sebagai berikut:
    Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.     Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang.     Bersikap sabar dan jangan sombong.
    Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.
    Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan terdapat unsur “ketidakjujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang.
Kebudayaan
Sebagaimana paham lain yang dianggap oleh pendukungnya sebagai agama, orang Samin juga memiliki "kitab suci". "Kitab suci"' itu adalah Serat Jamus Kalimasada yang terdiri atas beberapa buku, antara lain Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, Serat Lampahing Urip, dan merupakan nama-nama kitab yang amat populer dan dimuliakan oleh orang Samin.
Ajaran dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten (pengukuhan kehidupan sejati) ditulis dalam bentuk puisi tembang, yaitu suatu genre puisi tradisional kesusasteraan Jawa.
Dengan mempedomani kitab itulah, orang Samin hendak membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren. Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah "Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokali dilakoni."
Sikap
Walaupun masa penjajahan Belanda dan Jepang telah berakhir, orang Samin tetap menilai pemerintah Indonesia saat itu tidak jujur. Oleh karenanya, ketika menikah mereka tidak mencatatkan dirinya baik di Kantor Urusan Agama/(KUA) atau di catatan sipil.
Secara umum, perilaku orang Samin/ 'Sikep' sangat jujur dan polos tetapi kritis.
Bahasa
Mereka tidak mengenal tingkatan bahasa Jawa, jadi bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa ngoko. Bagi mereka menghormati orang lain tidak dari bahasa yang digunakan tapi sikap dan perbuatan yang ditunjukkan.
Pakaian
Pakaian orang Samin biasanya berupa baju lengan panjang tanpa kerah, berwarna hitam. Laki-laki memakai ikat kepala. Untuk pakaian wanita bentuknya kebaya lengan panjang, berkain sebatas di bawah tempurung lutut atau di atas mata kaki.
Sistem kekerabatan
Dalam hal kekerabatan masyarakat Samin memiliki persamaan dengan kekerabatan Jawa pada umumnya. Sebutan-sebutan dan cara penyebutannya sama. Hanya saja mereka tidak terlalu mengenal hubungan darah atau generasi lebih ke atas setelah Kakek atau Nenek.
Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin maupun masyarakat di luar Samin terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan masyarakat Samin memiliki tradisi untuk saling berkunjung terutama pada saat satu keluarga mempunyai hajat sekalipun tempat tinggalnya jauh.
Pernikahan
Menurut Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan “Atmaja (U)Tama” (anak yang mulia).
Dalam ajaran Samin, dalam perkawinan seorang pengantin laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat, yang berbunyi kurang lebih demikian: “ Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama…… Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.”
Demikian beberapa ajaran kepercayaan yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi warga samin.
Menurut orang Samin perkawinan sudah dianggap sah walaupun yang menikahkan hanya orang tua pengantin.
Ajaran perihal Perkawinan dalam tembang Pangkur orang Samin adalah sebagai berikut (dalam Bahasa Jawa):
Basa Jawa       Terjemahan
“Saha malih dadya garan,     "Maka yang dijadikan pedoman,
anggegulang gelunganing pembudi,          untuk melatih budi yang ditata,
palakrama nguwoh mangun,            pernikahan yang berhasilkan bentuk,
memangun traping widya,    membangun penerapan ilmu, kasampar kasandhung dugi prayogântuk,             terserempet, tersandung sampai kebajikan yang dicapai,
ambudya atmaja 'tama,         bercita-cita menjadi anak yang mulia,
mugi-mugi dadi kanthi.”       mudah-mudahan menjadi tuntunan."
Sikap terhadap lingkungan
Pandangan masyarakat Samin terhadap lingkungan sangat positif, mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal ini sesuai dengan pikiran masyarakat Samin yang cukup sederhana, tidak berlebihan dan apa adanya. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri, artinya tanah memberi penghidupan kepada mereka. Sebagai petani tradisional maka tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya. Dalam pengolahan lahan (tumbuhan apa yang akan ditanam) mereka hanya berdasarkan musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Masyarakat Samin menyadari isi dan kekayaan alam habis atau tidak tergantung pada pemakainya.
Pemukiman
Pemukiman masyarakat Samin biasanya mengelompok dalam satu deretan rumah-rumah agar memudahkan untuk berkomunikasi. Rumah tersebut terbuat dari kayu terutama kayu jati dan juga bambu, jarang ditemui rumah berdinding batu bata. Bangunan rumah relatif luas dengan bentuk limasan, kampung, atau joglo. Penataan ruang sangat sederhana dan masih tradisional, terdiri dari ruang tamu yang cukup luas, kamar tidur, dan dapur. Kamar mandi dan sumur terletak agak jauh dan biasanya digunakan oleh beberapa keluarga. Kandang ternak berada di luar, di samping rumah.
Upacara dan tradisi
Upacara-upacara tradisi yang ada pada masyarakat Samin antara lain nyadran (bersih desa) sekaligus menguras sumber air pada sebuah sumur tua yang banyak memberi manfaat pada masyarakat. Tradisi selamatan yang berkaitan dengan daur hidup yaitu kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Mereka melakukan tradisi tersebut secara sederhana.
Masyarakat Samin saat ini
Perubahan zaman juga berpengaruh terhadap tradisi masyarakat Samin. Mereka saat ini sudah menggunakan traktor dan pupuk kimiawi dalam pertanian, serta menggunakan peralatan rumah tangga dari plastik, aluminium, dan lain-lain.
    Sedulur Sikep/ Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sedulur Sikep dari bahasa Jawa berarti "Sahabat Sikep" adalah kelompok masyarakat yang berusaha menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Samin.
Komunitas masyarakat yang disebut Sedulur Sikep ini terbanyak ditemukan di daerah Blitar, Madiun provinsi Jawa Timur dan daerah-daerah dan kota antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, Indonesia.
Dalam menjalankan ajaran ini (semenjak kematian tokoh penyebarnya Samin tahun 1914 dalam pengasingan di kota Padang Sumatera Barat) kaum 'Sedulur Sikep' sudah mulai beradaptasi dengan perubahan zaman dan tidak terlalu kaku dalam menjalankan konsep murni ajaran tersebut. Namun terdapat juga segolongan masyarakat Sikep yang menentang pembaruan dan menuntut dijalankannya kembali ajaran Samin secara murni.
5 KISAH LUCU ORANG SAMIN, TERLALU JUJUR DIANGGAP KONYOL
Edhie Prayitno IgeEdhie Prayitno Ige
Kisah lucu orang-orang samin.
Liputan6.com, Semarang - Kejujuran dan keluguan warga samin seringkali disalahpahami masyarakat umum. Mereka kemudian dianggap bodoh, tolol, atau bahkan sinting. Meski sesungguhnya sikap dan ucapan tersebut karena sangat jujur cenderung naif.
Berikut ini ada beberapa cerita berbasis kisah nyata yang beredar di masyarakat sekitar Blora, Jawa Tengah, yang mengeksplorasi keluguan dan kejujuran warga samin.
(1) Orang Samin pada masa lalu selalu bepergian dengan jalan kaki. Sejauh apa pun mereka akan jalan kaki. Pada suatu saat ada orang Samin dari Blora yang ingin pergi ke Rembang.
Tentu saja itu adalah jarak yang jauh sekali jika ditempuh dengan jalan kaki. Ketika sampai di jalan raya seorang kondektur bus jurusan Rembang menawari orang itu.
"Pak…Rembang nggih? (Pak ke rembang ya)," tanya kondektur.
"Nggih (ya)."
"Lha monggo nitih bis. (Silakan naik bis)."
"Oh…nggih… (Oh iya)"
Dia pun naik bus itu. Tidak lama sang kondektur mendatangi orang Samin itu untuk menarik ongkos.
"Ongkosipun Pak? (Ongkosnya, Pak)."
"Ongkos menapa? (Ongkos apa?)"
"Ya ongkos nitih bis Pak. (Ya bayar untuk naik bus, Pak)"
    Mitos Samin Surosentiko Tak Bisa Mati
    Awas Kualat, Ada Pura Gaib di Teluk Benoa
    Mengenal Kaum Samin, Orang-orang Jujur Penentang Pabrik Semen
Karena suara kondektur keras, semua mata penumpang tertuju pada mereka berdua.
"Njenengan ingkang nawani kulo nitih bis (Kan, tadi Anda yang menawari saya naik bis)."
"Tapi nggih tetep mbayar Pak (Tapi ya tetap membayar). "
"Kulo mboten gadah arto (Saya tidak punya uang)."
"Lek ngoten mandap mriki mawon (Kalau begitu, turun sini saja)."
"Nggih mboten nopo-nopo (Ya tidak apa-apa)."
Sang kondektur memberi aba-aba sopir untuk berhenti. Orang Samin itu siap-siap turun, tiba-tiba  ada seorang penumpang yang hendak membayari orang Samin itu. Meski demikian, si Samin menolak.
"Sekeca mlampah mawon, mboten wonten ingkang ngajak tukaran (lebih nyaman jalan kaki saja, tidak ada yang ngajak berantem)," kata si Samin sambil melangkahkan kaki turun dari bus.
(2) Salah satu bentuk perlawanan kaum Samin dengan Belanda adalah dengan mogok membayar pajak. Syahdan, saat itu ada petugas pajak kebangsaan Belanda yang menagih pembayaran pajak. Namun orang-orang Samin dengan sangat cerdas melawan tanpa kekerasan.
Penagih pajak itu setelah berbicara apa keperluannya, yakni menagih pembayaran pajak, tiba-tiba orang Samin itu malah masuk rumah membawa sekantung uang dan sebuah cangkul.
Merasa terancam, petugas pajak Belanda menyiapkan senjata dan siap menembak. Namun betapa kagetnya setelah melihat si Samin menggali sebuah lubang dan menanam uangnya di depan petugas Belanda itu.
"Bumi sing gawe Gusti Allah. Aku nandur neng bumi. Njupuk asile seko lemah. Dadi aku ra perlu mbayar pajek neng pemerintah, nanging aku mbayar pajek neng lemah. (Bumi itu buatan Allah. Saya menanam di bumi, mengambil hasil bumi dari tanah, jadi tidak perlu membayar pajak ke pemerintah tetapi membayar pajak ke tanah," kata si Samin.
(3) Warga Samin sangat cinta lingkungan. Mereka hanya mau menebang pohon pada pohon yang ditanamnya. Suatu ketika, Belanda menangkap salah seorang Samin dan memenjarakannya karena kedapatan menebang pohon jati untuk membuat rumah.
Salah seorang Samin lalu datang ke Jakarta dan menghadap Presiden Soekarno, meminta pembenaran, karena yang menanam jati adalah mereka maka mereka berhak untuk menebang guna membangun rumah.
Presiden Soekarno waktu itu mengiyakan dan sang Samin pulang sambil membawa foto Bung Karno, meminta temannya dibebaskan dari penjara.
JUJUR ATAU KONYOL?
(4) Ajaran Samin sejatinya adalah kejujuran, tidak mencuri, tidak menebar permusuhan dengan semua makhluk hidup. Tak terkecuali burung-burung.
Suatu ketika ada anak seorang Samin disuruh menjaga padi di sawah oleh seorang lain yang bukan dari komunitas Samin. Ketika orang itu  datang dan melihat padinya diserbu ratusan burung pipit dan anak yang disuruh menjaga hanya diam, maka dia marah besar.
"Aku ki mung dikongkon jaga sawah, ora dikongkon ngusir manuk. (Saya hanya disuruh menjaga sawah bukan mengusir burung)," kata si anak Samin.
(5) Karena sangat akrab dengan alam, orang-orang Samin di masa lalu tak pernah mau memetik buah apa pun sebelum jatuh. Termasuk buah kelapa, meski sejatinya buah kelapa itu sudah layak dipetik.
Selain itu, mereka tak pernah menaruh prasangka kepada orang lain, sehingga selalu siap membantu. Bahkan kepada orang yang tak dikenalnya, ia akan membantu. Kecuali satu hal, merusak alam.
Suatu hari ada pedagang kelapa datang ke perkampungan Samin. Ia hendak membeli kelapa, namun tidak ada. Maka, ia menyuruh seorang anak Samin untuk memetiknya agar bisa dibeli.
"Kowe menek klapa ya. (kamu manjat kelapa ya)," kata si pedagang.
"Ora iso (nggak bisa)," jawab si anak samin.
"Lah apa (mengapa)?" tanya si pedagang.
"Klapa kok dipenek. Sing iso dipenek kuwi wit klapa (kelapa kok dipanjat. Yang bisa dipanjat itu pohon kelapa)," jawab si anak samin.
"Oh ngapurane ya. Ya wis tulung menek wit klapa (oh maaf ya. Ya udah sekarang tolong manjat pohon kelapa ya)," kata si pedagang.
Maka si anak Samin itu bergegas menuju ke sebatang pohon kelapa. Dengan cekatan ia memanjat ke atas. Melihat hal itu, si pedagang tersenyum.
"Sak jam maneh aku mrene. Tak muter dhisik (Sejam lagi saya ke sini lagi. Saya mau keliling dulu)," kata si pedagang.
Satu jam kemudian, si pedagang kembali ke tempat semula. Ia heran tak ada kelapa yang sudah dipetik. Si anak Samin juga tak kelihatan. Ternyata ia sedang asyik tiduran di pelepah daun kelapa yang cukup besar.
"Lah apa kowe neng kana? Kok ora ngopek klapa, ora mudhun? Kebangeten nemen goblogmu (Mengapa kamu masih di situ tanpa memetik kelapa. Juga tidak turun? Kebangetan sekali ketololanmu)" teriak si pedagang.
"Aku mau kon menek wit klapa. Ora kon ngopek klapane. Aku kon menek njur mbok tinggal, ora dikongkon mudhun. Sing kebangeten ki sopo? (Saya tadi disuruh manjat pohon kelapa. Nggak disuruh memetik kelapanya. Juga nggak disuruh turun. Kalau seperti itu, yang kebangetan siapa?)" si anak menjawab.
Cerita-cerita berbasis pengalaman orang-orang berinteraksi dengan itu hingga kini masih beredar dan hidup di masyarakat sebagai folklorewong Samin. Cerita-cerita itu menunjukkan adanya konsistensi antara ucapan dan tindakan warga Samin.
SEMARANG, KOMPAS.com – Banyak orang percaya, warga Samin atau Sedulur Sikep adalah simbol dari salah satu pewaris tradisi kebudayaan di Jawa. Sebaliknya, ada juga memberi stigma bahwa warga Samin adalah warga terbelakang yang tidak mau sekolah. Warga Samin mempunyai prinsip (laku) tersendiri untuk menjalani hidup. Kadang kala, keberadaan mereka terasing di wilayahnya sendiri. Lambat laun stigma itu berubah. Anak Samin mulai bersedia sekolah. Mereka juga hidup bersosial dengan warga sekitar.
Budi Santoso, salah satu warga Sikep dari Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, misalnya. Meski berasal dari Sikep, ia mulai mengarahkan ketiga anaknya untuk ikut belajar di sekolah.
Semua anaknya lulus di sekolah menengah pertama di wilayahnya. Sekolah bagi mereka tidak harus tinggi. Yang terpenting ialah anak-anak mereka bisa bisa membaca dan berhitung. "Kami sudah cukup dengan itu. Mau apa lagi," ujar Budi kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Orang Samin dikenal memiliki kepribadian jujur dan lugu. Ketika kedatangan tamu, mereka menyuguhkan makanan yang dipunyainya. Mereka tidak menyembunyikan apa yang mereka punya. Warga Samin juga mengajarkan kesantunan. Mereka harus mencintai alam dan seisinya. Mereka juga cinta dan setia pada amanat leluhur serta hormat dengan pemerintahan yang dianggap sebagai orangtua dan sesepuh rohani.
Dalam buku berjudul "Hanggo Puso Aji: Ajaran dan Sejarah Pergerakan Ki Samin Surosentiko" karya Budi Santoso (2016:5), orang Samin mendasarkan perilaku pada empat hal. Mereka tidak mengganggu siapa pun, tidak mengambil milik orang lain, mencari makan dari miliknya sendiri, dan menjaga perilaku dengan baik. Ajaran Samin mengandung banyak nilai keluhuran. Maka sewajarnya keberadaa Samin dijaga dalam konteks pembangunan bangsa. Orang Samin mampu melestarikan budaya lokal sehingga nilai kearifan itu bisa merawat kebinekaan. Ajaran Samin identik dengan kejujuran dan paseduluran atau persaudaraan. Konsep paseduluran tidak memandang ras, suku dan agama.
Mereka merasa sebagai sesama makhluk sosial yang diciptakan Yang Maha Kuasa, yang bersosial sesama manusia, dan alam seisinya. Peneliti Samin dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, Jawa Tengah, Mohammad Rosyid mengatakan bahwa warga Samin mulai menyesuaikan perilaku hidup dengan kondisi zaman. Mereka tidak saja memegang ajaran leluhur, tetapi juga memperjuangkan hak dasar warga Samin sebagai warga negara.
Mereka ikut memperjuangkan agar agamanya, agama Adam, untuk diakui sebagai agama negara. "Ciri khas gerakan Samin mestinya pasif, privat, otonom, dan tidak berjejaring. Kredonya adalah wong Samin weruhe te'e dhewe atau tidak ikut campur urusan pihak lain, tapi sekarang sudah mulai bergeser," kata Rosyid dalam sarasehan budaya bertajuk "Bertahan Menjadi Samin" di Taman Budaya Raden Saleh, Semarang, Kamis (15/12/2016).
Menurut Rosyid, warga Samin kini ikut berjuang melawan kemiskinan. Mereka kerap gagal panen akibat banjir, wabah penyakit tanaman, kekeringan, dan sebagainya. Mereka yang miskin lalu mencari penghasilan dengan hidup di kota. Aktivis seni budaya Jawa Tengah, Daniel Hakiki, mengatakan bahwa kebudayaan semestinya tidak sebatas dilihat dari kebutuhan duniawi karena hal itu bisa mendegradasi nilai budaya. Pembauran budaya dan kebutuhan duniawi akan mengurangi kearifan atau keluhuran ajaran Samin itu sendiri. "Samin mestinya selalu kental dengan nuansa welas asih dan kejujuran. Samin merupakan ajaran yang sangat tepat untuk menghindari pertikaian dan permasalahan, seperti sejarah pergerakan India, melawan tanpa kekerasan," ucap Danil.
Terlepas dari semua hal yang menyelimuti, ajaran Samin hingga kini masih terus diamalnya oleh para penganutnya. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pun akan meminta keberadaan mereka untuk dilestarikan karena mereka hanya ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
KEBERADAAN “WONG” SAMIN
Kata “Samin” mungkin asing di telinga kita. Seperti halnya yang terjadi pada saya. Mendengar kata Samin pertama seingat saya pada waktu SMA, sekitar tahun 1985. Samin dikotonasikan pada orang yang tolol dan  konyol. Sehingga kalau ada teman yang tolol dan konyol mereka bilang “Oooo dasar wong samin”. Kemudian kata samin mulai akrab di telinga saya ketika saya mengajar. Kebetulan saya mengajar di daerah utara bengawan Solo, daerah pinggir hutan Jati. Murid saya ada yang bernama Samin dan kemudian ada lagi yang bernama Nyamin. Dan keduanya hidup di daerah hutan Jati jauh ke utara dari tempat saya mengajar. Dan kebetulan pula Samin dan Nyamin juga tergolong murid menengah ke bawah. Entahlah apakah keduanya termasuk “wong Samin”.
Kemudian cerita dari mulut ke mulut, tentang “wong Samin” ada teman saya mengatakan suku Samin, digambarkan sekelompok masyarakat orang yang aneh yang bisa membuat kita tertawa, misalkan jika kita mempinjam cangkul pada mereka, yang mereka kasih cangkul tanpa tangkainya, (garannya), jadi kalau kita berkomunikasi dengan mereka harus jelas. Jadi misalkan kalau kita mau meminjam cangkul harus dijelaskan beserta dengan tangkainya. Mereka hidup di daerah hutan Jati, pergi kemana saja dengan jalan kaki, jika lebih dari satu orang mereka berjalan dengan urut satu persatu memanjang, tidak berjajar dua dua. Rumah mereka dari papan kayu Jati atau dari anyaman bambu, berlantai tanah, tidak ada radio, atau alat-alat elektronika yang lain.
Itulah keberadaan “Wong Samin” di benak saya. Dalam pikiran saya mereka mirip suku Baduy di Propinsi Banten.  Yang mengisolasi diri mereka dari pengaruh luar, sama tidak mau menggunakan alat teknologi, juga kemana-mana berjalan kaki. Walaupun pada akhirnya kemudian saya menyadari bahwa, saya nenbuat suatu kekeliruan tentang penggambaran keberadaan “wong” Samin. Dan kekeliruan itu tampaknya bukan saya saja, tetapi pada banyak orang, yang ternyata terlalu sedikit yang kita ketahui tentang “Wong” Samin. Mengapa bisa demikian, mungkin terlalu sedikit literartur yang membahas tentang “Wong” Samin. Juga mungkin pada pelajaran Antropologi juga tidak ada pembahasan tentang “wong” Samin. Padahal keberadaan mereka entah diakui atau tidak pernah memberikan warna tersendiri dalam sejarah Indonesia khususnya Sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda di daerah hutan Jati anatara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Asal Mula Masyarakat Samin
Kata Samin berasal dari nama orang “Kyai Samin Surosantiko” yang mengajarkan ajaran Samin. Atau saminisme. Inti ajaran Samin adalah :
1.Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, yang penting adalah tabiat dalam hidupnya. 2.Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan irihati dan jangan suka mengambil milik orang lain. 3.Bersikap sabar dan jangan sombong. 4.Manusia harus memahami kehidupannya, sebab roh hanya satu dan dibawa abadi selamanya. 5.Bila orang berbicara, harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati. Orang Samin dilarang berdagang karena terdapat unsur ‘ketidakjujuran’ didalamnya. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk apapun
Ajaran Samin bersumber dari agama Hidhu-Dharma. Beberapa sempalan ajaran Kyai Samin yang ditulis dalam bahasa jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional (tembang macapat) dan prosa (gancaran). Secara historis ajaran Samin ini berlatar dari lembah Bengawan Solo (Boyolali dan Surakarta). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha sebagai sinkretisme antara hindhu budha. Namun pada perjalannanya ajaran di atas dipengaruhi oleh ajaran ke-Islaman yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang di bawa oleh muridnya yaitu Ki Ageng Pengging. Sehingga patut di catat bahwa orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius. (http://id.wikipedia.org/wiki/Ajaran_Samin).
Meskipun dalam Paham Samin Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, yang penting adalah tabiat dalam hidupnya Namun ada beberapa penulis mempunyai pendapat berlainan, sebagai berikut
Ki Samin mendirikan Peguron Adam (Perguruan Adam) di Desa Klopodhuwur, tempat ia tinggal. Ia menamai perguruannya demikian, karena “punjer kawitan” (awal mula umat manusia) itu memang Nabi Adam. Ajarannya pun disebutnya agama Adam, ajaran yang pertama kali dianut dan diajarkan oleh Nabi Adam.( http://saminist.wordpress.com/ ). “Agama Adam”, agama orang-orang Samin Sangat kental dipengaruhi juga pengaruh Islam dan kejawen, karena Ki Samin Surosantiko, mengakui adanya Sunan Kalijaga seperti dalam petikan berikut ini.
“Baginya, wayang dan sejarah itu memang tidak berbeda dan merupakan kesinambungan. Rantai kontinyuitas ini ialah pertemuan antara Puntadéwa dan Sunan Kalijaga di hutan Glagah Wangi, Bintara, Demak. ertemuan ini ditulis dalam bagian pertama naskah macapat berbahasa-huruf Jawa, Serat Sriyana, tepatnya pada halaman 1-57. Hanya saja, dalam manuskrip ini Puntadéwa disebut Yudhistira, yang anehnya dengan gelar Prabu Darmawangsa. “Setelah (mendapatkan) banyak ajaran mengenai Islam, Darmawangsa akhirnya meninggal dengan tentrem. Jenazahnya dikuburkan di Glagah Arum, dan masih bisa dilihat di sana” .( http://saminist.wordpress.com/ ).
Juga Pengaruh Pujangga Islam Rangga Warsito sangatlah kental mewarnai ajaran-ajaran Samin tentang persamaan derajat, Seperti kutipan berikut ini,
“Warga Samin berusaha hidup dengan kebajikan sosial yang meyakini semua orang sederajat yang puisi Ranggawarsita secara tersamar mengajarkannya”. .( http://saminist.wordpress.com/ )
Sungguh sukar dimengerti kenapa para peneliti Barat sama sekali tidak melihat kemungkinan karakteristik itu berasal dari ajaran Islam yang memang dipelajari oleh Radèn Kohar yang sebagai Ki Samin telah menyederhanakannya agar mudah dipahami oleh para pengikutnya.
Penyederhanaan ini dilakukan Kiai Samin Surasentika mengingat bacaan dalam bentuk tembang yang digunakannya sebagai rujukan, demikian juga buku pedoman keislaman yang menggunakan bahasa Arab, susah dimengerti oleh orang pedesaan, tempat Ki Samin mengabdikan dirinya untuk mengentaskan mereka dari penderitaan akibat penjajahan oleh pemerintah Hindia Belanda, terutama sekali dari sikap lalim yang justru ditunjukkan oleh bangsa sendiri yang menjadi kaki tangan Belanda, seperti yang dialami Radèn Kohar di pendapa kabupatèn. .( http://saminist.wordpress.com/ )
Sayangnya bahwa pemikiran Barat banyak yang dipakai sebagai rujukkan oleh para penulis Indonesia, yang justru sering merugikan bangsa Indonesia dan masyarakat Islam Khususnya.
GERAKAN SAMIN
Gerakan Samin lahir karena keprihatinan Ki Samin Surosantiko melihat kondisi masyarakat Hutan Jati dari kesewenang-wenangan Penjajah Belanda. Berikut adalah petikan tentang kondisi Masyarakat Samin.
Pada zaman itu, kata mereka, orang Samin sangat menderita. Mereka dipaksa membayar pajak. Mereka dipaksa ikut blandhongan, melakukan kerja rodi atau kerja paksa sebagai penebang dan pengangkut kayu di hutan jati. Kalau menolak, mereka akan didatangi pamong desa atau pelpulisi, polisi pemerinah Hindia Belanda. Mereka ditangkap dan disiksa. Banyak tanah pertanian mereka dirampas untuk ditanami jati.
Perlakuan kejam itu mengakibatkan mereka mengalami kekurangan pangan. Badan mereka kurus-kurus. Mereka tak punya keberanian melawan, karena tak punya semangat dan senjata. Padahal, tanah yang mereka miliki rata-rata juga tak begitu layak untuk bertani.
Tapelan, misalnya, adalah desa yang “tandus. Bila musim hujan, air yang tercurah dari langit tidak meresap ke dalam tanah, tapi terus mengalir ke… kali kecil di sekitarnya, dan kemudian bermuara di Bengawan Sala. Hal ini disebabkan oleh… struktur tanah desa… terdiri… tiga lapis… atas… tanah liat, pasir, dan sedikit kapur… tengah… tanah padas… bawah… batu-batuan. Struktur tanah yang demikian ini tentu saja tidak menguntungkan pertanian,” tulis Profesor Suripan.
Pembangkangan madani itu dianjurkan oleh Ki Samin dengan alasan, seperti ditulisnya dalam Layang Punjer Kawitan, Tanah Jawa ini bukan milik Belanda, melainkan titipan Prabu Puntadéwa kepada Sunan Kalijaga. Berpedoman keyakinan akan kepemilikan tanah serta segala yang ada di dalam dan permukaannya itu, ia dan pengikutnya seenaknya saja menebangi pohon jati yang sebelumnya ditanam oleh Belanda melalui progam Tanam Paksa (Cultuurstelsel).
Kewajiban mempertahankan tanah air ini –yang dalam tradisi Jawa, khususnya wong Blora, diungkapkan dalam ibarat “sakdumuk bathuk saknyari bumi” yang secara bebas setara dengan “membela negeri sampai titik darah penghabisan”, — merupakan tujuan perjuangan pasif Ki Samin, yang oleh cendekiawan Australia Dr. C.L.M. Penders, seperti yang digunakan sebagai judul bab ketujuh bukunya yang khusus membicarakan Gègèr Samin, disebut nationalism (semangat kebangsaan).
Lebih jauh tentang sikap politik ini, dalam Serat Pikukuh Kasajatèn, Kiai Samin mengajar dalam metrum Dhudhukwuluh atau Megatruh :
Nagaranta niskala anduga arum
apraja mulwikèng gati
gèn ngaub miwah sumungku
tur iya anggemi ilmu
rukun warga tan ana blekuthu
(Negara Anda niscaya akan harum, pemerintahan yang membuahkan tanda waktu, untuk bernaung dan bersandar, apalagi rakyatnya suka ilmu, rukun tanpa gangguan apa pun);
, memahami hukum dari cendekiawan, supaya tulus pegangannya, menghiasi alam semesta, dan dalam metrum Dandanggula :
Pramila sasama kang dumadi
mikani rèh papaning sujana
supaya tulus pikukuhé
angrengga jagat agung
lelantaran mangun sukapti
limpadé kang sukarsa
wiwaha angayun
suka bukti mring prajèngwang
pananduring mukti kapti amiranti
dilah kandhiling satya
(Maka sesama makhluk Tuhanmelalui niat yang baik, kecendekiaan yang menyenangkan, bak pengantin berkeinginan, suka berbakti pada negerinya, ingin memasak makanan yang siap dengan bumbunya, dian penyulut kesetiaan).
Itulah strategi politik Ki Samin, yang dalam pandangan Profesor Suripan, didasarkan pada budaya Jawa yang religius, bukan pesimistis, melainkan penuh kreativitas dan keberanian, sekaligus membuktikan Kiai Samin Surasentika itu berpengetahuan luas dan memahami budaya serta watak bangsanya.
Perlawanan ini pada umumnya pasif dan ketika ditekan oleh pejabat pemerintah, kadang-kadang pajak dibayar dalam bentuk “sumbangan”.
Selain mengajarkan ajaran etika tentang peri laku hidup baik dunia dan akhirat, Kiai Samin Surasentika juga mengajarkan cara melawan pemerintah kolonial. Mengingat penduduk tidak memiliki semangat dan senjata, ia mengajak mereka nggendheng atau pura-pura gila (ngédan) atau pura-pura bersifat aneh.
Dapat dipastikan ajaran ini merupakan pengejawantahan sederhana anjuran dalam Serat Kalatidha karya Ranggawarsita:
amenangi jaman édan
ewuh aya ing pambudi
melu édan ora tahan
yèn tan melu anglakoni
baya kaduman milik
kaliren wekasanipun
dilalah kersa Allah
begja-begjané kang lali
luwih beja kang eling lan waspada
(Mengalami zaman gila, sukar-sulit dalam akal-ikhtiar. Turut gila tidak tahan. Kalau tak turut menjalaninya, tidak kebagian milik, kelaparan akhirnya. Takdir kehendak Allah. Sebahagia-bahagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar dan waspada).
Sesuai dengan Layang Jamus Kalimasada, menurut Ki Samin, nggendheng itu sifat Prabu Puntadéwa. Ini agak sulit dimengerti, secara umum sulung Pandhawa itu dikenal sebagai orang yang jujur dan apa adanya. Mungkin inilah cara Ki Samin menerjemahkan sifat lugu itu menjadi senjata untuk melawan Penjajah.
 Gerakan Samin tersebar pertamakali di daerah Klopoduwur, Blora, Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin berkembang di dua desa hutan kawasan Randublatung, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Gerakan ini lantas dengan cepat menjalar ke desa-desa lainnya. Mulai dari pantai utara Jawa sampai ke seputar hutan di Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan. Atau di sekitar perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur menurut peta sekarang.
Dua tempat penting dalam pergerakan Samin adalah Desa Klopodhuwur di Blora dan Desa Tapelan di Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, yang memiliki jumlah terbanyak pengikut Samin. Mengutip karya Harry J. Benda dan Lance Castles (1960), orang Samin di Tapelan memeluk saminisme sejak tahun 1890. Dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (1919) diterangkan, orang Samin seluruhnya berjumlah 2.300 orang (menurut Darmo Subekti dalam makalah Tradisi Lisan Pergerakan Samin, Legitimasi Arus Bawah Menentang Penjajah, (1999), jumlahnya 2.305 keluarga sampai tahun 1917, tersebar di Blora, Bojonegoro, Pati, Rembang, Kudus, Madiun, Sragen, dan Grobogan) dan yang terbanyak di Tapelan.
Pada tahun 1907, jumlah pengikut Samin mencapai 5.000 jiwa. Akan tetapi, Encyclopaedie van Nederlandsch Indie yang terbit pada tahun 1919 baru mencatat angka 2.300 jiwa, dengan persebaran di regensi: Blora, Bojonegoro, Pati, dan Kudus.
Pemerintah Hindia Belanda terkejut dan juga takut, apalagi ada desas-desus bahwa pada tanggal 1 Maret 1907, mereka akan memberontak. Waktu itu, di Desa Kedhungtuban, Kabupatèn Blora, ada orang Samin selamatan. Mereka yang menghadirinya ditangkap, karena dianggap mempersiapkan pemberontakan.
Profesor Suripan melihat betapa besar penghormatan –dan juga kepatuhan– warga Samin, terutama di Desa Tapelan, Ploso Kedhirèn, dan Tanjungsari, kepada pemimpinnya.
Ki Samin dianggap orang suci dan pemimpin yang karismatis. Pada tanggal 8 November 1907 Ki Samin diangkat oleh pengikutnya menjadi ratu adil dengan bentuk gelar Prabu Surya Ngalam yang mereka berikan, ia dipandang bagaikan “cahaya terang yang menyinari dunia”, yang datang menerangi kegelapan hati orang Samin, khususnya di Desa Tapelan, yang telah kehilangan pegangan pada zaman pemerintah kolonial Belanda. (http://saminist.wordpress.com)
Penangkapan tersebut tidak memadamkan Gerakan Samin. Wangsareja giat menyebarkan ajaran itu di Distrik (kini: Kecamatan) Jiwan, Regensi (kini: Kabupatèn) Madiun, pada tahun 1908. Ia mengajak orang desa tidak membayar pajak. Ia bersama dua temannya ditangkap dan dibuang. Surahidin, menantu Ki Samin, dan Engkrak, pengikutnya, menyebarkan ajaran Samin di Grobogan (Purwadadi), sedangkan Karsiyah, juga pengikutnya, di Kajèn, Regensi (kini: Kabupatèn) Pat(h)i, Karesidènan Semarang, pada tahun 1911. Pada tahun berikutnya, 1912, pengikutnya yang lain berusaha menyebarkan ajaran itu di Jatirogo, Tuban, tetapi gagal.
Ki Samin meninggal di pengasingan pada tahun 1414. Saminisme kian merebak, khususnya di wilayah Pati. Gègèr Samin justru mencapai puncak pada tahun tersebut, karena pemerintah Hindia Belanda menaikkan pajak. Di Grobogan, orang Samin tak mau lagi menghormati pamong desa dan pemerintah. Di Distrik Baléreja, Madiun, orang Samin mengibuli pemerintah dan tak mau membayar pajak. Di Kajèn, Karsiyah tampil sebagai Pangéran Sendhang Janur, mengimbau orang desa tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati, orang Samin menyerang lurah dan polisi. Di Tapelan, mereka tak mau membayar pajak, mengancam asistèn wedana, kemudian ditangkap dan dipenjara. Samat, pemimpin Pergerakan Samin di Pati, mengajarkan bahwa Ratu Adil akan datang bila tanah yang “digadaikan” kepada pemerintah Hindia Belanda dikembalikan kepada orang Jawa.
Pada tahun 1915, usaha penyebaran Saminisme di daerah Jatirogo, Tuban, diulang, tetapi lagi-lagi menemui kegagalan. Warga Samin pun mencari daerah baru. Mereka merambah daerah Undhan, Kudus, pada tahun 1916. Pada tahun 1917, pengikut Engkrak meningkatkan perlawanan terhadap pemerintah Belanda penjajah dengan apa yang disebut “perlawanan pasif”. Namun, pemerintah akhirnya dapat memadamkan “pemberontakan” yang menjengkelkan ini.
Pada tahun itu, menurut C.L.M. Penders yang mengutip data J.E. Jasper, di Bojonegoro, ada 283 keluarga penganut Saminisme yang tinggal di Distrik Padhangan, Tambakrejo, dan Ngampak.
Pada tahun 1930, pergerakan Samin terhenti karena tiadanya pemimpin yang tangguh, meskipun pada tahun 1945, menurut tradisi lisan di Blora, Engkrèk dari Klopodhuwur ikut bertempur di Surabaya melawan Belanda. Katanya, ia akan menyambut datangnya Ratu Adil.
Sebenarnya gerakan Samin tidak pernah mati. Gerakan itu tidak pernah benar-benar menghilang. Begitulah, ada rujukan bahwa Saminisme masih ada di bekas Regensi Blora hingga akhir dasawarsa 1960-an, tepatnya 1967. Dan pada tahun 1973, peneliti Belanda mengunjungi masyarakat Samin di Desa Kutuk di Kabupatèn Kudus, di bekas Karesidènan Semarang. Dari total 5.000 jiwa penduduk desa itu, 2.000 jiwa di antaranya diduga keras pengikut Saminisme, (kata Niels Mulder). Sebelum tahun 1920, total jumlah penganut ajaran Samin tidak pernah melebihi 3.000 keluarga pada satu waktu
Siapakah Ki Samin Surasentiko
Menurut Suripan, Samin Surasentika lahir di Desa Ploso Kedhirèn, Kecamatan Randublatung, Kabupatèn Blora, Jawa Tengah, pada tahun 1859, dengan nama Radèn Kohar. Ia lima bersaudara, seperti Pandhawa dalam pewayangan, tepatnya dalam kisah Mahabharata, semuanya laki-laki.
Bagi pemerintah Hindia Belanda, ayahnya, Radèn Surawijaya –orang Tapelan menyebutnya Samin Sepuh–, adalah bramacorah (residivis), penjahat kambuhan yang keluar-masuk bui atau penjara, tetapi bagi wong cilik (orang kecil) yang miskin di daerah pedesaan di wilayah Bojonegoro, ia itu pencuri budiman, semacam Robin Hood di hutan Sherwood di Inggris.
Raden Kohar mengubah namanya menjadi Samin, identitas yang bernafas kerakyatan. Kemudian, setelah menularkan ajarannya –dalam istilah Profesor Suripan “menjadi guru kebatinan”– namanya ditambah menjadi Samin Surasentika, tetapi anak-didiknya lebih suka memanggilnya Kiai Samin Surasentika atau Ki Samin saja.
Ia punya pertalian darah dengan Kiai Keti di Rajègwesi (kini: Bojonegoro), dan juga Pangéran Kusumaningayu, yang dalam tradisi Jawa Timur disebut Kanjeng Pangéran Arya (K.P.A.) Kusumawinahyu, nama lain Radèn Mas Adipati (R.M.A.) Bratadiningrat yang memerintah Kadipatèn Sumarata, kini menjadi daerah kecil di Kabupatèn Tulungagung, Jawa Timur, pada tahun 1802-1826.
Profesor Suripan mendasarkan keterangannya tentang silsilah Ki Samin pada buku pertama dari lima kitab pusaka peninggalannya, yang secara kumulatif disebut Serat atau Layang Jamus Kalimasada. Pakar yang lahir di Blora 5 Februari 1940 ini memang beruntung, berbeda dari peneliti lain mengenai Saminisme, ia tidak hanya berhasil mengumpulkan tradisi lisan dari anak-keturunan penganut kepercayaan ini di Tapelan serta desa lain di Blora dan Bojonegoro, belakangan juga Rembang, melainkan juga tradisi tulis di kalangan mereka.
Memang, menurut warga Samin yang diwawancarainya di Tapelan, pada waktu Ki Samin disélong[9] (istilah lokal untuk “ditangkap, ditahan, dan dibuang ke luar Jawa”), semua bukunya dirampas dan dibakar oleh Belanda. “Untung, beberapa murid tepercaya Ki Samin masih menyimpan salinan buku tersebut, meski anak-cucunya kini tak dapat membacanya,” kata warga Samin itu.
Buku pertama dari lima kitab yang oleh penganut Saminisme dianggap keramat itu ialah Serat Punjer Kawitan atau “buku perihal silsilah keluarga yang pokok atau utama”. Isinya pertalian keluarga adipati di Jawa Timur serta raja dan wali terkenal di Tanah Jawa. Dari segi kronologis, silsihan keluarga Ki Samin ini dapat dikatakan merupakan “penjungkirbalikan” genealogi yang terdapat dalam Babad Tanah Djawi.
Pada tahun 1975, Profesor Suripan menemukan manuskrip (naskah tulisan tangan berhuruf Jawa ukuran folio) Layang Punjer Kawitan itu dimiliki oleh Samsuri (70 tahun), penganut Saminisme di Desa Tapelan. Menurut Samsuri, tidak semua penganut ajaran tersebut dapat membaca Serat Punjer Kawitan, sebab banyak di antara mereka buta aksara Jawa. Bagi mereka ini, Ki Samin mengajar melalui sesorah (ceramah), baik di rumah maupun di tanah lapang, hanya tentang pokok atau inti sari ajarannya saja. Karena itu, ajaran tersebut sampai ke penganut dalam keadaan tidak lengkap dan membingungkan. Hal itu tecermin pada tradisi lisan orang Samin di Desa Tapelan.
Masih menurut Samsuri, murid Ki Samin yang dapat membaca dan menulis aksara Jawa sajalah yang diperkenankan membaca dan menyalin buku karya Samin Surasentika. Dengan jalan itulah, ajaran Samin dapat dipelajari dengan baik oleh para muridnya. Buku salinan ini kemudian tersebar di berbagai daerah Samin.
Sebagai petani, Ki Samin sendiri bukanlah orang miskin. Ia memiliki sawah tiga bau, ladang satu bau, dan sapi enam ekor.[12] Dari senarai bacaannya yang luas dan kemampuannya menyusun ajarannya dalam bentuk tembang macapat, dalam pandangan Suripan, Kiai Samin Surasentika tidak hanya merupakan intelektual yang tangguh, melainkan juga berhasil menjadikan diri salah satu pujangga Jawa pasisiran yang hidup setelah Radèn Mas Ngabèhi (R.M.Ng.) Ranggawarsita (h. 1802-1873).
Suripan bahkan menyebut Ki Samin penerus tradisi Ranggawarsita sebagai apa yang disebutnya “pemberontak zamannya”. Bedanya: pujangga penutup Keraton Surakarta itu memberontak melalui karyanya, sedangkan Ki Samin memanifestasi diri sebagai tokoh pergerakan. Bagi Suripan, silsilah yang ada dalam Serat Punjer Kawitan membuktikan bahwa Ki Samin itu pangéran atau bangsawan yang menyamar di kalangan rakyat kecil guna menghimpun kekuatan untuk melawan Belanda penjajah dengan “cara yang berbeda”.
Penutup
Sebagai penutup saya ingin sedikit menggarisbawahi
    Ingin memberi gambaran yang obyektif tentang keberadaan Wong Samin, yang selama ini digambarkan negatif oleh antek-antek Belanda dan pihak-pihak yang tidak suka dengan keberadaan wong Samin.
    Semoga tulisan ini dapat member apa itu “wong Samin” kepada masyarakat umum, karena hampir “tidak ada” buku sejarah yang membahas tentang Wong Samin.
    Saya semula mempunyai pandangan bahwa wong Samin, mirip dengan orang Baduy, namun ternyata, sangat jauh berbeda. Orang Baduy keberadaannya Sengaja mengisolasi diri agar tidak terpengaruh budaya luar, Sedangkan Wong Samin, orang-orang yang mengikuti ajaran Samin Surasentiko, dan kemudian mereproduksi diri menjadi sebuah gerakan Samin yang berjuang melawan penindasan penjajah Belanda tanpa Senjata.
    Gerakan Samin mirip dengan gerakan Ahimsa dan Satyagraha di India yang diperkenalkan Mahatma Gandhi . Ahimsa adalah gerakan Anti kekerasan. Sedangkan Satyagraha adalah gerakan untuk memprotes monopoli garam oleh pemerintah Inggris. Gerakan Satyagraha lahir pada tahun 1930, sedangkan gerakan Samin lahir pada tahun 1890.     Wong Samin lebih suka disebut wong “Sikep” yang artinya jujur.
Wong Samin Penganut Agama Nabi Adam yang Anti-poligami
Blora, kota kecil yang menyimpan sejarah Samin, ‘mungkin’ sering jadi bahan cemoohan. Desa Klopo Duwur yang terletak di Kecamatan Banjarejo, Blora, Jawa Tengah tempat masyarakat Samin tinggal. Dalam sebuah kesempatan beberapa pekan yang lalu, penulis singgah pada komunitas ini, komunitas samin yang enggan di bilang wong Samin mereka lebih suka disebut “Sedulur Sikep”. Dulu, komunitas wong samin ini sangat tertutup. Tapi, seiring dengan arus modernitas mereka mulai terbuka terhadap informasi-informasi yang masuk, TV, radio, tape menghiasi rumah mereka. Masyarakat Samin berkembang dan tumbuh di Klopo Duwur adalah salah satu bentuk perlawanan sikap terhadap pemerintah Belanda. Bahkan, masyarakat Samin ini enggan membayar pajak pada waktu itu. Dahulu memang Saminisme sangat tertutup dalam hidupnya. Mereka tidak mudah percaya kepada orang lain yang dianggap asing. Mereka lebih percaya pada diri sendiri. bentuk-bentuk perlawanan yang sering diimplementasikan komunitas samin ini dengan mbangkang (membangkang), nggendeng nyangkak adalah wujud dsri bentuk perlawanan tanpa kekerasan.
Menurut salah seorang samin yang penulis temui, istilah Samin berarti ‘tiyang sami-sami amin”, maksudnya kelompok orang yang senasib dan sepenanggungan. Munculnya nama Samin berasal dari gerakan gerombolan rampok Saminisme yang dipimpin oleh Surowidjoyo atau Raden Suratmoko. Raden Surowidjoyo ini anak seorang bupati Suromoto. Ia merasa prihatin melihat bangsanya dipaksa membayar pajak dengan kekerasan oleh pemerintah kolonial, sedangkan penarik pajak tersebut tak lain adalah kaum pribumi yang bekerja pada pemerintah kolonial.
Pajak yang harus dibayar pada para petani cukup tinggi, jika ia tidak dapat membayar sebagai gantinya para petani itu harus menyerahkan harta bendanya berupa ternak, makanan pokok, maupun barang keperluan rumah tangga. melihat perilaku bangsa pribumi yang menjadi antek Belanda, Raden Surowidjoyo pergi ke Kadipaten dan bergabung dengan gerombolan perampok. Gerombolan perampok itu bernama Tiyang sami-sami amin.
Orang-orang samin sebenarnya kurang suka dengan sebutan ‘Wong Samin”, sebab sebutan tersebut mengandung arti tidak terpuji yaitu dianggap sekelompok orang yang tidak mau membayar pajak, sering membantah dan menyangkal aturan yang telah ditetapkan, sering keluar masuk penjara, sering mencuri kayu jati dan perkawinannya tidak dilaksanakan menurut hukum islam.
Para pengikut Saminisme lebih suka disebut “Wong Sikep” atau “Sedulur Sikep”, artinya orang yang bertanggung jawab, sebutan untuk orang yang berkonotasi baik dan jujur.
Dari penuturan seorang warga yang penulis temui, ajaran saminisme mulai pertama kali disebarkan oleh Samin Surosentiko, seorang pangeran. Nama Samin adalah nama samaran dari Raden Kohar bangsawan, guru kebatinan yang mempunyai nama samaran Suro Kuncung menurut serat punjer kawitan. Raden Kohar ini adalah salah satu dari lima bersaudara Raden Surowidjoyo, sesepuh Samin.
Paham Saminisme dinamakan juga “Agama Nabi Adam”, sebab ajaran Saminisme yang terwariskan hingga kini sebenarnya mencuatkan nilai-nilai kebenaran, kesederhanaan, kebersamaan, keadilan, dan kerja keras.
Pertama, ojo drengki srei, tukar padu, dahwen kemiren, kutil jumput, lan mbedog colong. Artinya, jangan berhati jahat, bertengkar, iri hati, dan mencuri.
Kedua, pangucap budhelane ono pitu, lan pangucap saka sanga bundhelane ana pitu.
Maksudnya, perkataan dari angka lima ikatannya ada tujuh, dan perkataan dari angka sembilan ikatannya ada tujuh. Maksud dari simbol itu agar manusia memelihara mulut dari tutur kata tak berguna dan menyakitkan hati.
Ketiga, lakonana sabar atau jalani hidup dengan sabar.
Orang Samin juga punya acuan figur bernama Puntadewa. Raja Amarta di dunia pewayangan merupakan tipikal orang sabar, jujur, pantang berbohong, selalu berkata apa adanya. Tak heran bila hingga saat ini wayang kulit masih menjadi tontonan favorit dalam komunitas ini.
Dalam hal mata pencaharian misalnya, mereka hanya menggeluti pekerjaan petani, menggembala sapi atau kambing. Atau sesekali nyambi menjadi tukang ojek. Pekerjaan berdagang, menurut paham Saminisme sangat dijauhi karena lebih dekat dengan kebohongan.
Bahkan ada sebuah cerita, saat sesepuh Wong Samin ini diinterogasi polisi hutan gara-garanya rumah miliknya dibangun dari kayu curian. Ketika rumah itu akan disita, dia dengan enteng menjawab, “boleh disita, tapi berikan pada kami”. Petugas pusing juga. Rumah itu akan dirobohkan. “Boleh, tapi semua rumah harus dirobohkan, termasuk milik Pak Presiden”.
Generasi Samin masa kini telah lama menjalani perilaku wong sikep (sebutan suku samin) selama ini, yang mengajarkan agar jangan menyakiti orang lain kalau tidak ingin disakiti, harus saling hormat menghormati sesama manusia di dunia, dan jangan pernah mengambil apapun yang bukan haknya. Juga, beberapa ajaran lain yang mengikat masyarakat agar tidak berbuat kejahatan.
San realitanya hingga saat ini, tepo sliro (rasa saling menghormati) dan tingkat kerukunan masyarakatnya memang tinggi. Mereka biasa saling membantu dalam keadaan apapun.
Kalaupun ada pencurian dalam komunitas ini, Wong Samin hanya mengambil kayu jati, itupun hanya sebatas untuk kayu bakar karena nenek moyang mereka dahulu ikut menanam jati di hutan tersebut. ajaran Samin ada 3 yaitu, angger-angger pangucap (hukum bicara), angger-angger pratikel (hukum tindak tanduk), dan angger-angger lakonono (hukum perihal yang perlu dijalankan). Semetara konsep ajaran Samin yang diikuti pengikut ada 6, diantaranya tidak bersekolah, tidak memakai peci tetapi memakai iket yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa zaman dahulu, tidak berpoligami, tidak memakai celana panjang dan hanya memakai celana selutut, tidak berdagang, dan menolak segala bentuk kapitalisme.
        Kehebatan Wong Samin Blora
Wong Samin, begitulah orang-orang menyebut kelompok masyarakat di Kabupaten Blora ini. Keseimbangan menjadi pegangan hidup mereka.
Ditulis Oleh Prameswari Mahendrati
“orang yang paling bisa melindungi diri adalah diri sendiri, orang yang tidak punya kesalahan adalah orang paling sakti, dan orang yang paling sakti adalah orang yang tidak punya musuh. Kami percaya pada alam dan alam percaya pada kita. Kejujuran itu penting, kalau semua jujur, tidak ada yang perlu dirisaukan, karena orang saling percaya…”
Sebaris potongan petuah dari seorang Si Mbah, diperankan oleh W.S. Rendra, pemuka dalam masyarakat Samin di Blora. Sebuah film yang mendalami kisah hidup masyarakat Samin beserta pemikiran-pemikiran yang mendasarinya. Begitu banyak film-film bertemakan traveling, seperti Eat Pray Love, Cashing Liberty, Into The World yang berhasil menggugah penonton untuk segera mengangkat ransel, maka film Lari Dari Blora pun berhasil menggugah saya untuk mencari tahu tentang kehidupan masyarakat Samin.
Idealisme saya tentang traveling sedikit bergeser, jika dulu destinasi baru dan menantang yang saya cari, kini saatnya melebarkan sayap untuk mencari tahu juga adat dan tradisi berbagai daerah di Indonesia. Bukankah ada pepatah bahwa tak kenal maka tak sayang? Bagaimana mungkin saya tak mau mengenal salah satu identitas bangsa selain bendera, lagu kebangsaan, dan burung garudanya. Saya lempar bola mata ke arah jendela, baru memasuki stasiun Ngrombo, masih agak jauh untuk menuju Blora. Niat untuk tidur sejenak buyar sudah ketika seorang Bapak tua duduk di sebelah saya dan menyapa dengan ramahnya hingga pembicaraan semakin melebar.
Saya pesan tiket kereta api Blora Jaya, solo traveler menjadi pilihan untuk mengobati rasa penasaran. Masyarakat Samin bukan satu-satunya alasan  untuk mengangkat kaki meninggalkan kota Semarang sementara waktu.
Berkunjung ke rumah seorang teman lama di Cepu juga menjadi salah satu agenda.
Pembicaraan yang lumayan panjang antara saya dengan si Bapak akhirnya mengarah pada kisah masyarakat Samin, Blora. Kantuk pun hilang, tinggal perasaan antusias yang ada.
Salah satu desa yang menjadi pencetus munculnya ajaran Samin adalah Desa Klopoduwur, Kabupaten Blora. Desa ini terbilang cukup maju, sudah ada listrik untuk menerangi, terdapat kendaraan bermotor yang hilir mudik, namun kesan tradisional tidak hilang sepenuhnya. Beberapa rumah masih menggunakan penerangan lampu minyak dan berlantai tanah.
Awalnya, saya pikir Samin merupakan salah satu suku, namun sebutan suku sepertinya kurang tepat, komunitas agaknya lebih cocok. Pasalnya masyarakat Samin tidak hanya terdapat di Blora, tapi juga terdapat di Pati. Tidak terdapat rumah adat, tarian tradisional, hanya memiliki pemikiran dan ajaran yang sama. “Sejarah masyarakat Samin sendiri berawal dari perlawanan terhadap penjajahan Belanda, namun dengan cara halus dengan cara menyendiri membentuk koloni. Mereka menyebutnya ‘sedulur sikep’”.  Ujar si Bapak yang rupanya masyarakat lokal asal Blora.
Komunitas penganut sedulur sikep ini tidak bersekolah, tidak memakai peci, tapi memakai kain yang diikatkan kekepala. Selain itu mereka juga tidak berpoligami dan tidak memakai celana panjang. Biasanya mereka memakai baju lengan panjang tanpa kerah dan celana hitam sebatas lutut atau biasa disebut celana komprang. Komunitas ini juga pantang berdagang, hal ini merupakan penolakan terhadap kapitalisme. Masyarakat ini cenderung terisolir dan memiliki peraturan adat sendiri. Oleh karena itu, jangan heran apabila hukum ketatanegaraan tidak berlaku bagi mereka. Ajaran tersebut menurut ajaran lisan warga Tapelan Blora dikenal sebagai ”angger-angger praktikel”, yaitu hukum tindak tanduk, angger-angger pangucap, yakni hukum berbicara, serta angger-angger lakonana, hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan.
    “Inti angger-angger praktikel adalah keseimbangan sangat diutamakan, baik itu hubungan antar manusia, alam, ataupun Tuhan”
Sempat ragu dengan penjelasan si Bapak ini terhadap masyarakat Samin. Senatural itukah kehidupan mereka di tengah modernisasi yang tengah merebak, tapi apa yang digambarkan si Bapak serupa dengan apa yang diceritakan di film. Ah, entahlah biar waktu yang menjawab setibanya di sana. Benar-benar jarang sekali ada komunitas yang masih saklek terhadap sebuah ajaran yang mereka sebut sebagai sedulur sikep. Ajaran yang dilaksanakan tanpa kompromi di tengah kerasnya arus dan pengaruh modernisasi. Lagi-lagi kereta menjadi ladang pengetahuan baru bagiku. Sebagai orang yang tidak fanatik berburu ilmu di perpustakaan, semakin menguatkan atas keyakinan saya, bahwa pengetahuan tidak hanya datang dari buku-buku di perpustakaan, melainkan di mana saja dan kapan saja.
Dapatkan ulasan menarik lainnya tentang ANTI KAPITALIS, tulisan lain Prameswari Mahendrati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..