Rabu, 28 Januari 2015

KAJIAN SOSIOPRAGMATIK TINDAK TUTUR ADEGAN LIMBUKAN DALAM SENI PERTUNJUKAN WAYANG PURWA DI SURAKARTA

KAJIAN SOSIOPRAGMATIK TINDAK TUTUR ADEGAN LIMBUKAN DALAM SENI PERTUNJUKAN WAYANG PURWA DI SURAKARTA (STUDI KASUS TERHADAP KI ANOM SUROTO, KI PURBO ASMORO, DAN KI WARSENO SLENK)
Oleh :
Suratno
·         Masalah utama dalam penelitian ini adalah penggunaan tindak tutur, khususnya tindak tutur adegan limbukan, dalam kajian sosiopragmatik. Dalam peristiwa tuturan adegan limbukan, tindak tutur dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang berbeda. Penggunaan tindak tutur ini dalam kajian sosiopragmatik, pelaksanaannya direalisasikan secara bervariasi berdasarkan konteks sosial, budaya, dan konteks situasi tutur yang mengiring pertuturan.
·         Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku interaksi verbal dialog dua punakawan wanita dalam adegan pertunjukan wayang di Surakarta. Penelitian ini difokuskan pada (1) mengidentifikasi jenis-jenis tindak tutur, menentukan tindak tutur yang dominan, menemukan strategi bertutur, serta mengidentifikasi penanda lingual sub-subtindak tutur pada adegan limbukan dalam seni pertunjukan wayang purwa (TTALDSPWP) Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk; (2) menemukan strategi bertutur; (3) mengungkap dan menentukan implikatur-implikatur dan daya pragmatik tuturan; (4) menemukan dan memerikan implementasi tindak tutur kaitannya dengan prinsip kerjasama (PKS), prinsip sopan-santun (PS), prinsip relevansi (PR), prinsip humor (PH), dan prinsip kerukunan (PK).



·         Penelitian ini bersifat kualitatif, dengan kategori studi kasus terpancang. Data yang diperoleh dalam kajian ini berupa satuan lingual tindak tutur yang ditranskripsi dari pertunjukan wayang purwa tiga dalang (Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk), yang berasal dari rekaman pertunjukan langsung. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan berperan serta dibantu dengan wawancara dan pengamatan dokumen. Teknik penyediaan data dilengkapi dengan teknik simak dengan dasar cakap dan lanjutannya simak bebas libat cakap, rekam, dan catat. Metode analisis dilakukan dengan menggunakan metode padan, metode yang digunakan untuk mengkaji satuan lingual tertentu dengan memakai alat penentu yang berada di luar bahasa.

·         Metode analisis yang digunakan khususnya adalah pragmatik dengan alat penentu mitra tutur. Interpretasi tentang implikatur-implikatur tindak tutur dianalisis dengan menggunakan konsep Leech (1983), adapun intepretasi data bentuk tuturan dalam rangka menemukan daya pragmatik tindak tutur dianalisis dengan menggunakan strategi heuristik. Analisis ini berupaya mengidentifikasi daya pragmatik sebuah tuturan dengan merumuskan hipotesis-hipotesis, dan kemudian mengujinya berdasarkan data-data yang tersedia.

·         Temuan kajian ini adalah seperti berikut ini. Pertama, subtindak tutur yang paling dominan dalam TTALDSPWP oleh Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk adalah subtindak tutur ‘memberi tahu’ (15,49 %). Kedua, Strategi bertutur yang memilih menggunakan jenis tindak tutur tidak langsung lebih sering digunakan daripada dengan tindak tutur langsung (63,85 %). Ketiga, berdasarkan analisis implikatur konvensional (conventional implicature) yang paling dominan pada TTALDSPWP oleh Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk. Keempat, implikasi dari kepatuhan terhadap maksim-maksim prinsip kerjasama itu diperlukan ketika penutur dan mitra tutur menekankan unsur kerjasama dalam tindak pertuturan. Namun, pada saat yang lain adegan limbukan juga memerlukan berkomunikasi dengan pihak sponsor pertunjukan (yang punya hajat), tamu undangan, pejabat yang hadir pada saat pertunjukan, untuk menarik simpati perlu menjauhkan diri dari permusuhan, jelas maksudnya, berorientasi terhadap makna yang positif dan agar dapat menyenangkan mereka. Oleh karena itu, diperlukan prinsip berkomunikasi yang lain, yaitu prinsip sopan-santun (PSS), prinsip relevansi (PR), prinsip humor (PH), dan prinsip Kerukunan (PK).
·         Akhirnya, dalam seni pertunjukan wayang terdapat berbagai teks baik yang bersumber dari konteks wacana lisan maupun tertulis yang lain yang mempunyai ciri khas dan perilaku kebahasaan yang lain pula.
·          Oleh karena itu, dihimbau agar para peneliti yang lain dapat memperluas dan mengembangkan kajian tentang tindak tutur dengan melakukan penelitian yang sejenis dengan sasaran jenis teks yang berbeda.

Kata kunci           :               Tindak Tutur, Sosiopragmatik, Konteks, Implikatur, Daya Pragmatik, Implementasi, dan Prinsip.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..