Minggu, 11 Januari 2015

ANTON BACHRUL ALAM, JENDERAL PERTAMA YANG MINTA POLWAN BERJILBAB

ANTON BACHRUL ALAM, JENDERAL PERTAMA YANG MINTA POLWAN BERJILBAB
 Reporter : Agib Tanjung | Kamis, 27 Februari 2014 13:06




komjen pol anton bachrul alam. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman
Berita Terkait

Merdeka.com - Nama Komjen Pol Anton Bachrul Alam mulai santer dibicarakan di lingkungan Mabes Polri. Dia disebut-sebut sosok paling kuat pengganti Wakapolri Komjen Pol Oegroseno yang akan memasuki masa pensiun pada akhir Februari 2014.

Anton yang sudah berpangkat jenderal bintang tiga ini masih menjabat sebagai Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum Polri). Sebelumnya dia juga telah menjajal beberapa jabatan-jabatan penting di kepolisian.

Pria lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1980 ini pernah menjadi Kapolda Kalimantan Selatan dan Kapolda Jawa Timur di tahun 2008-2009. Anton juga didaulat menjadi Kadiv Humas Mabes Polri periode 2010-2011.

Salah satu yang paling menonjol dari Anton adalah kebijakan yang diterapkannya saat masih menjabat sebagai Kapolda Jatim era 2009. Anton mengimbau kepada seluruh anggota polwan di sana untuk mau mengenakan jilbab saat berdinas.

Pada saat itu Anton pernah menegaskan bahwa pemakaian jilbab untuk polwan adalah bentuk penyegaran untuk Polri dalam bertugas. Bahkan dia menjamin jilbab tidak akan mengganggu kinerja anggotanya. Saat bekerja di lapangan para polwan diperbolehkan untuk menggunakan celana panjang agar lebih luwes.

Selain kebijakan penggunaan jilbab untuk polwan, Anton pernah memberi pengumuman kepada jajarannya di Polda Jawa Timur yang beragama Islam agar mau lebih mengutamakan ibadah salat ketimbang tugas. 

"Pak Anton memberi arahan agar kami mengutamakan salat, karena salat akan mewujudkan trust building (membangun kepercayaan)," kata Kabid Humas Polda Jatim pada saat itu yang masih dijabat oleh Kombes Pol Dra Pudji Astuti MM.



Anton juga pernah melakukan terobosan dengan mencari 30 anggota polisi yang pandai mengaji untuk salat subuh di Mapolda Jatim, kemudian mengaji bersama di ruangannya. Anton ingin anggota-anggotanya setiap harinya khatam (tamat atau menyelesaikan) 30 juz Alquran.
http://www.merdeka.com/peristiwa/anton-bachrul-alam-jenderal-pertama-yang-minta-polwan-berjilbab.html

Tahukah Anda Seorang Jendral Merangkap Seorang Da'i/Ulama?


14 Januari 2011 pukul 14:39
Pemimpin Religius yang Rendah Hati
Sangat langka, Sang Jenderal melayani anggotanya sendiri saat makan siang bersama. Namun ini terjadi di ruang Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Drs. H. Anton Bachrul Alam, S.H melayani bawahanya untuk melaksanakan santap siang bersama.

Siang itu, usai shalat Jumat tepatnya di akhir tahun 2010, enam anggota Humas di bagian Penerangan Satuan (Pensat) Devisi Humas Mabes Polri, dengan langka tergesa menuju lantai dua Humas Polri. Mereka menuju ruang Sepri Kadiv Humas selanjutnya menghadap ke ruang Kadiv.

Wajarlah mereka tergesa, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Drs. H. Anton Bachrul Alam, S.H meminta mereka untuk segera mengahadap di ruangannya.Dalam hati mereka bertanya, perintah apa kiranya yang diberikan sang Jenderal kepada mereka semua.

Sebagian mereka ada yang membawa buku kerja, mungkin untuk mencatat arahan atau perintah dari Kadiv Humas. Ternyata para anggota humas itu bukan mendapat perintah, malah mendapat jamuan dari Sang Jenderal.

Ada yang aneh dari makan siang itu. Dalam institusi kepolisian, makan bersama pimpinan wajib bawahan melayani atasannya. Namun suasana makan siang itu sangat berbeda, Kadiv Humas melayani anggotanya untuk makan siang.

Menu makan siang yang disajikan tertata rapi di ruang Kadiv. Di sana tampak lontong pecel beserta bumbu. Dengan senyuman, Kadiv menyambut kedatangan anggotanya. Para anggota dipersilahkan duduk sembari menyalami satu persatu.

Perilaku grogi para anggota mulai tampak. Betapa tidak, Kadiv humas memberikan perlakuan yang lebih kepada anggotanya. Kadiv Humas menyuguhkan bumbu lontong pecel pada setiap anggotanya. Tidak hanya itu, tisu pun sengaja diambil dari meja kerjanya lalu dibagikan secara langsung kepada anggotanya. Sungguh pemandangan yang unik di lingkup Polri, padahal Anton Bachrul Alam baru dua hari menjabat sebagai Kadiv Humas menggantikan Irjen Pol Drs Iskandar Hasan.

Anton Bachrul Alam bukanlah orang baru di lingkup Humas Polri. Sebelumnya pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, 15 Agustus 1956 ini pernah menjabat Wakil Kepala Devisi (Wakadiv) Humas Polri pada tahun 2005. Saat acara pisah sambut Kadiv Humas, ia mengutarakan dirinya “barang baru, stok lama”.

Sebelum, menjabat Kadiv Humas, alumni Akademi Kepolisian tahun 1980 ini telah mengabdikan diri di berbagai daerah di negeri ini. Berbagai jabatan penting telah dipegangnya, mulai dari Dan Sekta, Kapolsek, Kapolres, kapolda hingga staf ahli Kapolri bidang Sosial-Politik.

Bagi warga Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, khususnya masyarakat muslim, tentu profil pria berpangkat dua bintang(Anton Bachrul Alam,red) ini tidak asing lagi bagi mereka. Pasalnya, ia pernah menjabat sebagai Kapolda di sana. Bukan hanya statusnya sebagai Kapolda, Anton Bachrul Alam juga terkenal sebagai seorang anggota Polri yang religius, mengajak para anggotanya untuk tidak lupa melaksanakan sholat lima waktu bahkan menganjurkan kepada Polwan untuk mengenakan jilbab saat bertugas.

Saat menjabat sebagai Wakadiv Humas, Anton Bachrul Alam juga demikian. Ia selalu menyiarkan ajaran agama kepada anggota humas Polri saat itu. Ketika menjadi Kapolda Kalimantan Selatan, para anggota Humas seraya merindukan siraman rohani dari sang Jenderal. Dengan berjalannya waktu, ternyata Anton Bachrul Alam kembali ke Komunitas Humas Mabes Polri.

Sejak hari pertama menjabat, ia menekankan kepada anggotanya untuk tidak lupa melaksanakan sholat lima waktu. Bagi yang non muslim, untuk selalu melaksanakan doa. Bagi dia, kerja tidak menghalangi untuk mendekatkan diri kepada yang Kuasa.

“Kalau ada anggota yang lagi sholat, dan ada tugas maka biarkan ia sholat dulu. Misanya, ada yang akan saya tugaskan, tapi lagi sholat dhuha, maka biarkan ia sholat. Jangan kerja mengganggu kedekatan dengan Allah. Nomor satukan Allah, lalu yang lain. Di mana kita menempatkan Allah maka di situ Allah akan menempatkan kita,” kata Anton Bachrul Alam kepada anggotanya saat makan siang bersama.

Tiba waktu shalat, lanjut Anton Bachrul Alam, segera mengambil air wudhu. Bagi laki-laki sebaiknya melaksanakan sholat ke mesjid. Untuk wanita biar di ruang shalat kantor saja. Di mesjid, kata dia, nilai fahalanya lebih sebab ada perjuangan ke rumah Allah. “Kita harus memiliki pengorbanan untuk Allah, pasti kita akan memperoleh kemenangan dan kebahagian dunia apalagi di akhirat,” ungkap suami Hj. Tine ini.

Banyak wejangan yang diungkapkan Kadiv Humas saat makan siang itu. Namun nilai yang paling berharga, ia memposisikan dirinya dengan begitu luar bisa, menjamu bawahanya, rendah diri, komunikatif. Profil seperti inilah patut dicontoh sebagai seorang anggota Polisi sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

 H.Anton Bachrul Alam S.H
 Saat Beliau Berceramah
https://www.facebook.com/notes/himpunan-santri-indonesia/tahukah-anda-seorang-jendral-merangkap-seorang-daiulama/10150381235300646

Silaturahim Polri TNI dan Masyarakat (Part 1)
REP | 21 February 2011 | 15:49  Dibaca: 1981     Komentar: 23     3

Jamaah Tablih dan mantan Wapres Jusuf Kalla
Minggu, 20 Januari 2011, sebuah acara yang jarang terjadi, yaitu Silarurahim antara Polri TNI dan masyarakat, khususnya Jamaah Tabligh di Mesjdid Agung Brimob, Kelapa Dua Depok. Sekitar dua ribu jamaah hadir dalam acara yang dihadiri oleh Anton Bahrul Alam dan beberapa perwira Polri, dan beberapa perwira tinggi dari Ketiga Angakatan, Darat, Laut dan Udara Tentara Nasioanl Indonesia beserta para jamaah tabligh.
Tujuan pertemuan atau silaturahim adalah untuk merekatkan kembali hubungan anatara Polri dengan TNI yang dulu tergabung dalam Depertemen Pertahanan dan Kemanan, yang kemudian terpisah sejak Masa Reformasi.
Bentuk silaturahim ini jangan dibayangkan sebagai hanya “bersalaman” lalu makan bersama. Tidak. Tapi diisi dengan pengajian atau ceramah Agama Islam, yang disampaikan secara bergiliran baik oleh Bahrul Alam sendiri, waklil-wakil dari Perwira TNI dan oleh Bapak Cecep, Dewan Suroh dari Jamaah Tabligh. Tampak hadir juga KH Muchlisin, yang juga seorang mubaligh besar Jamaah Tabligh.
Jamaah Tabligh
Sebelum laporan ini saya lanjutkan, akan saya jelaskan sedikit tentang Jamaah Tabligh. Sebenarnya kami sendiri tidak pernah menamakan diri sebagai “Jamaah Tabligh”. Tapi nama tersebut diberikan oleh masayarakat, karena memang kegiatan sehari-harinya adalah melakukan tabligh atau menyampaikan.
Kegiatan Jamaah Tabligh adalah mengajak manusia, khusnya umat Islam uantuk menjalankan agamanya secara kaffah, secara keseluruhan, sesuai Perintah Allah, yang dicontohkan oleh Nabi Muhmmad, Rasululuuh salallahu ‘alaihi wasaalam (SAW). Jamaah Tabligh selalau mengajak kepada kebaikan (amal makruf) dan mencegah yang mungkar. Namun dalam pelaksanaannya dilakukan dengan baik, dengan cara mengajak, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, tanpa kekerasan sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa Ormas Islam.
Dalam melakukan dakwah (mengajak) dan tabligh (menyampaikan), Jamaah Tabligh mendatangi umat sampai ke kampung-kampung dan desa-desa terpencil, dari rumah ke rumah dan dari orang per orang. Bukan dengan mengumpulkan jamaah di stadion atau mesjid lalu diadakan cermah agama sebgaimana yang banyak dikenal masyarakat. Dilakukan secara tatap muka, bukan melalau TV atau radio atau tulisan. Begitulah yang dilakukan Rasulullah SAW
Tauziah Irjenpol Drs. Anton Bahrul Alam
Pembicara pertama yang meberikan tauziah (ceramah agama Islam), adalah Anton Bahrul Alam. Beliau memakai pakaian “full sunnah”, yaitu memakaii jubah dan sorban serba putih, tampak sangat berbeda penampilannya sebagai Jenderal Polisi Berbintang Dua, Ka Div Humas Polri..
Di awal tauziahnya pak Anton menjelaskan semula dia tidak bisa hadir dalam acara silaturahim tersebut karena dijadwalkan akan menemani Kapolri Timur Pradopo ke Surabaya untuk suatu acara yang penting. Tapi ahkhamdulillah, dengan kehendak Allah, acara tersebut batal, sehingga pak Anton bisa hadir dalam acara ini. Kapolri sangat mendukung acara ini, namun beliau tak bisa hadir karena ada acara dengan DPR. Namun beliau berjanji akan datang dalam kesempatan yang akan datang. Timur Pradopo mengharapkan agar acara silaturahim ini akan dilakuan secara berkala di tempat lain secara bergantian, di Mabes TNI AD, AU arau AL dan Polri
“Ustadz” Anton Bahrul Alam disamping sebagai Pejabat Tinggi Polri yang saat ini menjabat sebagai Div Humas Polri, adalah seorang “karkun” atau “dai” atau “pekerja agama”, yang berdakwah dan tabligh ke berbagai daerah.
Tauzihnya dimulai dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga para jamaah semua dapat hdir dalam acara yang mulia itu. Anton juga menyebutkan bahwa mesjid adalah tempat turunya Rahmat Allah. Setiap orang ingin mendapatkan Rahmat Allah. Untuk medapatkan Rahmat Allah, maka harus dekat dengan Allah. Kebahaggiaan di dunia maupun di Akhirat ada di mesjid.
Pak Anton juga menjelaskan mengapa dia berpakaian serba putih dan wangi, untuk mengikuti sumah-sunah Rasulullah SAW. Kalau seorang Muslim meninggal dunia, juga memakai kafan yang berwarna putih dan diberi wangi-wangian. Allah suka dengan wangi-wangian,
Selanjutnya beliau menyatakan bahwa kebahagiaan hidup, baik hidup di dunia yang sementara maupun kehidupan di Akhirat yang selama-lamanya tidak ada cara lain, selain mencontoh kehidupan Rasulullah SAW. Cara lain tidak akan membawa kebahagiaan yang hakiki.
Pak Anton memberi contoh, sebagian penduduk Jakarta “mrncari kebahagiaan” dengan pergi ke Puncak. Tapi apa yang di dapat?. Belum sampai ke Puncak, sudah dihadang kemacetan atau mobil mogok. Mau cari “kesenangan” sementara, apalagi dengan berbuat maksiat, bukan kebahagiaan yang didapat, tetapi justru sebaliknya, kesengsaraan baik di dunia, apalagi di Akhirat kelak.
Seandainya uang yang dihambur-hamburkan untuk ke Puncak itu digunakan untuk membantu fakir miskin misalnya, kita tidak saja akan mendapatkan kebhagiaan dengan membahagiakan orang lain, tapi juga mendapatkan ketenangan.
Banyak orang yang punya kekayaan melimpah, rumah mewah dan harta-benda lainnya, tapi mereka belum tentu bahagia. Tidak sedikit justru seblaiknya, ada istri ynag selingkuh, anak-anak terlibat kasus narkoba, minuman keras, dan lain sebagainya.
Panggilan Azan Untuk Shalat
Salah satu contoh “undangan Allah” untuk mendapatkan kemenangan atau kebahagiaan adalah saat Azan dikumandangkan yang memanggil kaum Muslimin untuk menjalankan ibadah shalat. Hayya shalah, haaya alal falah, mari kita raih kemenangan. Datanglah ke mesjid untuk shalat. Azan itu hakikatnya adalah panggilan dari Allah.
Bila kita dipanggil atasan saja atau bapak Presiden, pasti kita akan berusaha memenuhi panggilan tersebut sedapat mungkin. Mestinya panggilan dari Allah, lebih kita perhatikan dan dinomor-satukan. Bila kita memenuhi panggilan Allah, maka ada 70 ribu Malaikat yang akan menjaga istri dan anak-anak serta harta kita. Anton juga menyatakan bahwa rumahnya tidak dijaga polisi. Walau ada 100 polisi yang menjaga rumahnya, tentu kalah jauh dibanding dengan penjagaan para Malaikat yang berjumlah 70 ribu itu.
Pak Anton juga menekankan pentingnya seorang Muslim (laki-laki) dewasa untuk menegakkan shalat wajib lima waktu di mesjid atau mushalla, secara berjamaah di awal waktu. Bukan shalat di rumah atau di kantor, apalagi bila dilakukan sendiri-sendiri dan di akhir waktu.
Saat ini masih banyak Muslim yang tidak shalat seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW tersebut. Ini bukan salah siapa-siapa. Tapi salah kita, karena kurang berdakwah. Bila banyak dakwah, maka iman jadi lurus, bila tak ada atau kurang dakwah, maka umat jadi sesat.
Mestinya semua kegiatan kita termasuk kegiatan di kantor, disesuikan dengan jam waktu shalat. Jangan sampai waktu rapat misalnya, pada saat waktu shalat. Kalau memang rapatnya lama, saat azan berkumandang, maka rapat harus ditunda dulu. Begitu juga kegiatan kantor lainnya, mestinya menyesuaikan dengan waktu shalat. Saat azan dikumandangkan, maka semua kegiatan keduniaan haru dihentikan.
Manfaat Shalat Berjamaah
Pak Bahrul Alam juga menyampaikan-beberapa manfaat dalam shalat berjamaah. Berikut kami sampaiakn beberapa point tentang fadhilah (keutamaan) sholat berjama’ah berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, yang telah dilengakapi oleh penulis.
1. Dicatatnya langkah-langkah kaki menuju masjid.
Pencatatan langkah-langkah orang yang menuju masjid bukan hanya ketika ia pergi ke masjid, tetapi juga dicatat ketika pulang. Imam Muslim meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu anhu tentang kisah seorang Anshar yang tidak pernah tertinggal dari shalat berjama’ah, dan tidak pula ia menginginkan rumahnya berdekatan dengan masjid, bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam: “Aku tidak bergembira jika rumahku (terletak) di dekat masjid. Aku ingin agar langkahku ke masjid dan kepulanganku ketika aku kembali kepada keluargaku dicatat.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:“Allah telah menghimpun semua itu untukmu.” (HR. Muslim).
2. Para Malaikat yang mulia saling berebut untuk mencatatnya.
Imam at Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma, ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Tadi malam Rabb-ku tabaaraka wata’aala, mendatangiku dalam rupa yang paling indah.”(Perawi mengatakan,’Aku menduganya mengatakan,’Dalam mimpi.’). Lalu Dia berfirman, “Wahai Muhammad! Tahukah engkau, untuk apa para Malaikat yang mulia saling berebut?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkata:”Aku menjawab,’Tidak’. Lalu Dia meletakkan Tangan-Nya di antara kedua pundakku sehingga aku merasakan kesejukannya di dadaku (atau beliau mengatakan,’Di leherku’). Lalu aku mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”Dia berfirman,”Wahai Muhammad!Tahukah engkau untuk apa para Malaikat yang mulia saling berebut?” Aku menjawab,”Ya, tentang kaffarat (perkara-perkara yang menghapuskan dosa). Kaffarat itu adalah diam di masjid setelah melaksanakan shalat, berjalan kaki untuk melaksanakan shalat berjama’ah, dan menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai.” (HR. Tirmidzi, hadits ini shahih).
3. Berjalan menuju shalat berjama’ah termasuk salah satu sebab dihapuskannya kesalahan-kesalahan dan ditinggikannya derajat.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang perkara yang akan menghapuskan kesalahan-kesalahan dan juga mengangkat beberapa derajat?” Para sahabat menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,”Menyempurnakan wudhu’ pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah melaksanakan shalat. Maka, itulah ar-ribath (berjuang di jalan Allah).” (HR. Muslim).
Keutaman ini juga berlaku untuk seseorang yang melangkah keluar dari masjid, Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma, ia mengatakan, ”Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa yang pergi menuju masjid untuk shalat berjama’ah, maka satu langkah akan menghapuskan satu kesalahan dan satu langkah lainnya akan ditulis sebagai satu kebajikan untuknya, baik ketika pergi maupun pulangnya.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih).
4. Pahala orang yang keluar dalam keadaan suci (telah berwudhu) untuk melaksanakan shalat berjama’ah seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan umrah.
Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan , dari sahabat Abu Umamah radhiallahu anhu. Ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya menuju masjid dalam keadaan bersuci (telah berwudhu’) untuk melaksanakan shalat fardhu (berjama’ah), maka pahalanya seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan ihram.” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al Albani). Zainul ‘Arab mengatakan dalam menjelaskan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan ihram,” “Yakni, pahalanya sempurna.” (Aunul Ma’buud II/357)
5. Orang yang keluar (menuju masjid) untuk melaksanakan shalat berjama’ah berada dalam jaminan Allah Ta’ala.
Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan dari Abu Umamah radhiallahu anhu, dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda: “Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta’ala, yaitu orang yang keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian orang yang pergi ke masjid, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalau memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan orang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka ia dijamin oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh syaikh al Albani)
6. Orang yang keluar untuk melaksanakan shalat berjama’ah berada dalam shalat hingga kembali ke rumah.
Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia mengatakan,”Abul Qasim Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda “Jika salah seorang dari kalian berwudhu’ di rumahnya, kemudian datang ke masjid, maka ia berada dalam shalat hingga ia kembali. Oleh karenanya, jangan mengatakan demikian-seraya menjaringkann diantara jari-jemarinya-.” (HR. Ibnu Khuzaimah, di shahihkan oleh Syaikh al Albani)
7. Kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan (untuk melaksanakan shalat berjama’ah) dengan memperoleh cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.
Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad as Sa’di radhiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :
“Hendaklah orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid bergembira dengan (mendapatkan) cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR.Ibnu Majah, syaikh al Albani menilainya shahih).
8. Allah menyiapkan persinggahan di Surga bagi siapa yang pergi menuju masjid atau pulang (darinya).
Di riwayatkan dari asy Syaikhan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda : “Barangsiapa yang pergi ke masjid dan pulang (darinya), maka Allah menyiapkan untuknya persinggahan di Surga setiap kali pergi dan pulang.” (Muttafaq ‘alaih).
9. Menjadikan hati bergantung di Masjid sehingga meraih keutamaan berada di bawah naungan (‘Arsy) Allah Ta’ala Pada Hari Kiamat.
Dari sahabat Abu Hurairah radhiallah anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya, seseorang yang hatinya bergantung di masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah berkumpul dan berpisah karena-Nya, seseorang yang dinginkan (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, maka ia mengatakan,’ Sesungguhnya aku takut kepada Allah’,seseorang yang bersadaqah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di nafkahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Alah dalam keadaan sepi (sendiri) lalu kedua matanya berlinang (HR. Bukhari dan Muslim).
(Bersambung)
Depok, 21 Februari 2011
Bakaruddin Is
http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/21/silaturahim-polri-tni-dan-masyarakat-part-1-342558.html
Dakwah Kapolda
 Surabaya - Kapolda Jatim baru ternyata mempunyai instruksi unik untuk anak buahnya. Mantan Kapolda Kalimantan Selatan yang memang dikenal agamis tersebut, menginstruksikan sholat berjamaah bagi seluruh anggota polisi yang berada di wilayah Polda Jawa Timur.
Dalam pidato usai pelantikan atas dirinya, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan bahwa untuk menciptakan suasana sejuk dan damai di Jawa Timur, maka masyarakatnya harus taat beribadah, dan itu dimulai dalam tubuh kepolisian.
“Agar Jawa Timur sejuk, ibadah harus ditegakkan, bagi yang muslim, harus sholat berjamaah,” ujar Anton dalam pidatonya kepada anggota Mapolda Jatim beberapa waktu lalu.
Rupanya instruksi sholat berjamaah tersebut ditindak lanjuti secara serius oleh Anton, hal ini dibuktikan dengan ajakan sholat berjamaah melalui pengeras suara setiap kali waktu sholat di lingkungan Mapolda Jatim. Bunyi ajakan sholat tersebut kurang lebih sebagai berikut.
“Kepada setiap anggota Polda Jatim, sesuai atensi Kapolda, bagi yang beragama Islam, diharap sholat berjamaah di Masjid Nurul Huda (kompleks Polda Jatim) dan tinggalkan segala bentuk aktivitas, tertanda karo ops Mapolda Jatim”.
Ajakan tersebut ternyata sangat berpengaruh, Masjid Nurul Huda kompleks Mapolda Jatim yang biasanya sepi, dari pantauan beritajatim.com tadi siang sewaktu sholat Dzuhur, Selasa (24/02/2009), terlihat penuh hingga ke halaman depan masjid.








Tak hanya menginstruksikan sholat saja, Anton juga memerintahkan seluruh anggotanya, baik yang beragama Islam maupun beragama lain untuk meninggalkan aktivitas pekerjaannya sepuluh menit sebelum waktu sholat untuk berbondong-bondong ke Masjid. Sedangkan bagi yang beragama lain, diharapkan untuk berkumpul di suatu tempat dan melakukan doa atau ibadah menurut ajarannya.
Selain perintah sholat, Anton juga memerintahkan seluruh anak buahnya baik yang ada di Mapolda Jatim maupun jajaran untuk melakukan baca Al Quran sebanyak 30 juz (khatam) setiap harinya sehabis sholat subuh.
Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Puji Astuti, Puji membenarkan bahwa instruksi kapolda mengenai sholat dan baca Al Quran tersebut memang sedang giat dilakukan oleh anggota polisi di seluruh jajaran Polda Jatim.
“Ya, kita memang sedang giat menjalankan kegiatan keagamaan,” ujar Puji saat ditemui di Mapolda Jatim jalan A Yani Surabaya, Selasa (24/2/2009).
Instruksi Anton untuk segera meninggalkan aktivitas ketika memasuki waktu sholat tersebut tidak hanya kepada anak buahnya saja, Anton sendiri juga melakukan hal yang sama, ini bisa dibuktikan ketika acara serah terima jabatan sebagai kapolda beberapa waktu lalu, Anton bersama Kapolda lama Irjen Pol Herman S Sumawireja meninggalkan acara sejenak, ketika sudah tiba waktu sholat Ashar dan melaksanakan sholat berjamaah di Masjid Nurul Huda kompleks Mapolda Jatim.[rif/kun] Reporter : Arif Fajar A
https://fajarhargunaep.wordpress.com/2009/03/16/dakwah-kapolda/
KAPOLDA JATIM: Utamakan Shalat daripada tugas
BY NEXLAIP APRIL 17, 2011
KAPOLDA JATIM: Utamakan Shalat daripada tugas

Kapolda Jatim BerpesanLugas, tegas dan terukur dengan jelas pesan dari Bapak Kapolda Jtaim kepada para anggotanya. Semoga para anggotanya dapat menjalankan pesan ini hingga jajaran kapolsek. Karena memang pesan di bawah ini sangat bermanfaat bagi para polisi dalam memperbaiki citra buruk polisi saat ini.
Para polisi:
1. Harus mengutamakan sholat dari pada tugas. Maksudnya tidak boleh meninggalkan sholat. Jangan beralasan menajalan tugas kemudian tidak sholat.
2. Baca al Qur’an minimal ba’da sholat shubuh. Karena itu kumpulkan anggota yang bisa baca al Qur’an dijadwal baca al Qur’an. Hal ini juga berarti para polisi harus belajar al Qur’an.
Pesan secara detai di bawah ini:
SURABAYA — Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam, meminta anggotanya untuk mengutamakan salat dibandingkan tugasnya.Permintaan itu disampaikan Kapolda Jatim yang baru itu saat bertemu dengan anggota untuk pertama kalinya di Mapolda Jatim, Senin, setelah serahterima kesatuan pada tanggal 20 Februari lalu. “Pak Anton memberi arahan agar kami mengutamakan salat, karena salat akan mewujudkan ‘trust building’ (membangun kepercayaan),” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dra Pudji Astuti MM.

Didampingi Kasubbid Publikasi Humas Polda Jatim, AKBP H Suhartoyo, ia mengatakan Kapolda Jatim berpendapat kepercayaan masyarakat muncul bila kultur polisi berubah. “Untuk mengubah kultur polisi itu, maka sosok polisi sebagai manusia harus berubah dan perubahan manusia sangat ditentukan salat atau ibadahnya,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, jenderal angkatan Akpol 1980 itu meminta anggota untuk meninggalkan pekerjaan dan salat bila mendengar azan (panggilan untuk salat). “Kalau ada tamu, maka ajaklah tamu untuk salat. Bagi anggota yang non-Muslim dapat mengikuti waktu yang ada dengan berdoa di tempat yang sudah ditentukan bersama,” katanya, mengutip Kapolda.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Jatim juga mencari 30 polisi yang pandai mengaji untuk salat subuh di Mapolda Jatim, kemudian mengaji bersama di ruangannya.”Pak Anton minta 30 orang, karena masing-masing orang diminta mengaji satu juz Alquran, sehingga setiap hari khatam (tamat atau menyelesaikan) 30 juz Alquran,” katanya.

Menurut Kapolda Jatim, katanya, pembacaan 30 juz Alquran setiap hari di Mapolda Jatim, Mapolwil, dan Mapolres diharapkan akan membuat Jawa Timur menjadi aman, karena mendapat perlindungan dari Allah Swt.”Itu karena waktu setelah salat subuh itu merupakan waktu turunnya malaikat ke bumi, sehingga doa yang dipanjatkan akan didengar,” katanya, menirukan Kapolda Jatim.

Setelah memberi arahan kepada anggota, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam mengisi hari pertamanya dengan mengantar mantan Kapolda Jatim Irjen Pol Herman S Sumawiredja ke Bandara Juanda, lalu meninjau latihan pra Operasi Pengamanan Pemilu 2009.ant/kpo
Sumber: Republika online
Senin, 23 Februari 2009 pukul 23:56:00
https://nexlaip.wordpress.com/2011/04/17/kapolda-jatim-utamakan-shalat-daripada-tugas/
Jika Semua Polisi Seperti Ini, Amanlah Negeri
Posted on 4 Maret 2009by rinaldimunir
Jarang-jarang ada Kapolda seperti Pak Bachrul Alam ini. Dia memerintahkan semua polisi (yang beragama Islam, tentu) di Jawa Timur untuk mengutamakan shalat guna mewujudkan trust building (membangun kepercayaan). Tidak hanya itu, Pak Kapolda juga minta dicarikan 30 orang polisi yang pandai mengaji Al-Quran untuk shalat subuh, satu hari dibaca 30 juz hingga setiap hari khatam Quran (baca beritanya di bawah ini).
Pak Bachrul Sadar kalau citra polisi di mata masyarakat sangat buruk. Masyarakat mengidentikkan polisi dengan perilaku sogok atau suap (denda uang tilang di jalan misalnya), backing bisnis maksiat, dan lain-lain. Tidak heran ICW (Indonesian Corruption Watch) meletakkan Kepolisian sebagai lembaga negara terkorup. Memang tidak semua polisi begitu, itu hanyalah ulah oknum — demikian pembelaan yang sering dikemukakan — tetapi masyarakat nyaris menganggap hampir semua polisi perilakunya sama saja.
Simak berita tentang hal tersebut di bawah ini (dikutip dari sini):
SURABAYA — Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam, meminta anggotanya untuk mengutamakan shalat dibandingkan tugasnya.Permintaan itu disampaikan Kapolda Jatim yang baru itu saat bertemu dengan anggota untuk pertama kalinya di Mapolda Jatim, Senin, setelah serahterima kesatuan pada tanggal 20 Februari lalu.”Pak Anton memberi arahan agar kami mengutamakan shalat, karena shalat akan mewujudkan ‘trust building’ (membangun kepercayaan),” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dra Pudji Astuti MM.
Didampingi Kasubbid Publikasi Humas Polda Jatim, AKBP H Suhartoyo, ia mengatakan Kapolda Jatim berpendapat kepercayaan masyarakat muncul bila kultur polisi berubah.”Untuk mengubah kultur polisi itu, maka sosok polisi sebagai manusia harus berubah dan perubahan manusia sangat ditentukan shalat atau ibadahnya,” katanya.
Oleh karena itu, katanya, jenderal angkatan Akpol 1980 itu meminta anggota untuk meninggalkan pekerjaan dan shalat bila mendengar azan (panggilan untuk shalat).”Kalau ada tamu, maka ajaklah tamu untuk shalat. Bagi anggota yang non-Muslim dapat mengikuti waktu yang ada dengan berdoa di tempat yang sudah ditentukan bersama,” katanya, mengutip Kapolda.
Dalam kesempatan itu, Kapolda Jatim juga mencari 30 polisi yang pandai mengaji untuk shalat subuh di Mapolda Jatim, kemudian mengaji bersama di ruangannya.”Pak Anton minta 30 orang, karena masing-masing orang diminta mengaji satu juz Alquran, sehingga setiap hari khatam (tamat atau menyelesaikan) 30 juz Alquran,” katanya.
Menurut Kapolda Jatim, katanya, pembacaan 30 juz Alquran setiap hari di Mapolda Jatim, Mapolwil, dan Mapolres diharapkan akan membuat Jawa Timur menjadi aman, karena mendapat perlindungan dari Allah Swt.”Itu karena waktu setelah shalat subuh itu merupakan waktu turunnya malaikat ke bumi, sehingga doa yang dipanjatkan akan didengar,” katanya, menirukan Kapolda Jatim.
Setelah memberi arahan kepada anggota, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam mengisi hari pertamanya dengan mengantar mantan Kapolda Jatim Irjen Pol Herman S Sumawiredja ke Bandara Juanda, lalu meninjau latihan pra Operasi Pengamanan Pemilu 2009.ant/kpo
Tentu saja penegakan shalat di kalangan polisi belum menjamin akan tercipta polisi yang bersih. Tidak ada jaminan sekali shalat lalu polisi itu menjadi baik. Banyak juga polisi yang berperilaku kurang baik namun dia dikenal sering shalat. Untuk mencapai insan berperilaku mulia, perlu konsistensi dan kedisiplinan dalam menegakkan shalat, dan yang paling adalah memahami bacaan shalat lalu menjadikan bacaan itu sebagai pegangan moral dalam berperilaku keseharian. Kalau tidak, gerakan-gerakan shalat menjadi kosong belaka, hampa, seperti rangka yang tidak mempunyai jiwa.
But, least or not, gebrakan awal Kapolda Jatim ini patut didukung, niatnya sudah baik (segala sesuatu dinilai dari niat, bukan?). Semoga bukan menjadi sebuah utopia, tetapi realita yang ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia.
http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/03/04/jika-semua-polisi-seperti-ini-amanlah-negeri/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..