Senin, 31 Desember 2012

Bulan dan Lentera Bersinar Seperti Dulu

oleh Casofa Fachmy

pada 25 Oktober 2010 pukul 3:46 ·

Semalam, sungai kesukaan kita airnya mengalir tenang; begitu juga angin Dengan genap lingkarannya, tak nampak bayangannya terbelah-belah Hingga berlalu beberapa waktu kemudian, tiba-tiba sehelai daun jatuh pelan Lalu bayangan bulan tersentuh pelan, dan sedikit berhamburan; manis sekali Aku ingat, di beberapa waktu sebelumnya, saat engkau menggamit tanganku mesra Di tengah cahaya bulan yang gemilang dan bintang yang jarang Diiringi siulku sepanjang jalan; dan engkau mengira aku terlalu girang Kita bercerita bukan tentang masa lalu yang sama-sama membuat pipi berbasahan Tapi kita bercerita tentang masa di jalan berpualam di taman langit, yang sering dilewat peri-peri



Saat berhamburan menuju bumi; menemani mereka yang tengah jatuh hati Ah, rasanya, malam itu begitu tenang; walau sesekali ujung bajuku tersepoi sederhana Ah, ingin sekali mengulangnya; dan tahukah, tatapanmu yang polos, seperti dimuati cahaya bulan Suatu hari kelak, kita akan bersama; riang, gembira, bahagia Ah, engkau mungkin menertawaiku kenapa harus kumeyakini itu Sungguh tak memungkin keadaanku; tak bisa ku menemanimu, jawabmu Ah, tahukah engkau, aku selalu ingin melakukan ini: melakukan segalanya karena-Nya Dan biarkan Ia yang memberikan keajaiban-Nya; meluruskan dan memudahkan jalan kita Seperti awan yang menghalang jalan burung-burung yang terbang menuju utara Bagi beburung itu, rasanya justru pemandangan yang memperindah ritme hidup mereka Dalam istikharah, ada dua maknanya: memilih, dan memantapkan Jika hanya satu pilihan, maka tak usah memilih, tapi memantapkan Maka kumantapkan pilihan itu, dan mengadu pada-Nya untuk ikut memantapkan Lalu kita akan benar-benar bertemu, saat lentera pertama dinyalakan, dan reribuan mengikutnya Seperti perayaan awal tahun, yang langit berhiaskan petasan, dan banyak bunga plum bermekaran Kemudian di balik tirai kumala, orang-orang ikut menyumbang doa keberkahan Hingga tiba masanya itu, aku takkan berpenuh janji untuk memberimu ini: “Di tamanku yang kubuat khusus untukmu, ada menara yang berhias willow-willow Tamannya berpadu danau yang penuh angsa di siangnya, dan berhias rembulan di malamnya.” Tapi kan kuajak engkau mengerti bersama pada kekalimat ini: “Semoga kita tetap mampu mengangkat tangan memohon ke langit Agar kita tetap berpijak kuat, agar selalu mulia di langit, mulia di bumi.” Suatu waktu kelak, kisah ini akan dikenang; kemudian menjadi legenda turun-temurun Dan saat orang-orang tengah melakukan itu kepada taulan-taulan mereka Kita sudah berceria di sudut taman langit yang pernah kita bincangkan itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..