Sabtu, 26 Mei 2012

IMPLIKATUR DAN PRESUPOSISI DALAM INTERAKSI BERBAHASA (STUDI KASUS TERHADAP TUTURAN TOKOH UTAMA DALAM DWILOGI FILM BEFORE SUNRISE DAN BEFORE SUNSET)


Penulis

Eliana Candrawati

Pembimbing: Dr. F.X. Nadar, M.A.


ABSTRACT: This research is aimed at finding and describing conversational implicatures along with their implication, and presuppositions including their implications to reach full comprehension in communication. This descriptive qualitative research was conducted through three steps; data collection, data analysis, and data display. Making use of observation method which covers taking notes and recording technique, the data were drawn from Before Sunrise and Before Sunset movie transcripts. Furthermore, the data were classified into the conversational implicature and the presupposition categorizations. 


Then, they were analyzed through interpretative method by using pragmatic approach, and were displayed through descriptive method. The results of the research show that the conversational implicatures resulted from the flouting of the cooperative principles can be classified into four categories. They are: 1) conversational implicatures resulted from the flouting of the maxim of quantity, namely a) refusing, b) concealing something, c) showing uncertainty, d) defence, and e) blaming; 2) conversational implicatures resulted from the flouting of the maxim of quality, namely, a) minimizing guilt, b) lowering dignity, c) showing humour, and d) mocking; 3) conversational implicatures resulted from the flouting of the maxim of relevance, which consist of three foci, namely, a) refusing, b) agreeing, and c) avoiding; 4) conversational implicatures resulted from the flouting of the maxim of relevance, namely, a) asking for understanding, b) raising someone’s spirit, c) informing, d) minimizing guilt, e) giving compliment, f) ragging, g) showing surprise, h) protesting dan i) showing something. Based on the findings above, the implications are 1) giving some contribution more informative than is required minimizes the misunderstanding caused by refusal, and intimidates the the hearer; 2) giving some contribution less informative than is required for the current purposes of the exchange can be used to control the hearer, and can be used to show politeness, to create jokes, and to reach intimacy; 3) giving some contribution irrelevant can be used to conceal something, to shift some foci, or to stop the topic; 4) being perspicuous gives the hearer authority to make decisions first. Meanwhile, the presuppositions were successfully identified through their presupposition triggers, based on Levinson’s, namely, 1) Definite description, 2) Factive verbs, 3) Implicative verbs, 4) Iteratives, 5) Temporal Clauses, 6) Implicit clefts with stressed constituents. It was found out that ineffective communication took place for the reason that the hearer was not able to understand or to identify the presupposition triggers made by the speaker to build assumptions meant by the speaker. Thus, the implication shows that 1) to reach full comprehension and understanding in communication, the speaker and the hearer should have knowledge about the presupposition triggers to presuppose correctly what the speaker’s idea that she or he wants to share ; and 2) to avoid the ineffectiveness in communication, the speaker and hearer should share some culture understanding.
INTISARI: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implikatur percakapan yang ditimbulkan oleh pelanggaran prinsip kerjasama, implikasi implikatur percakapan, dan presuposisi dalam film Before Sunrise dan Before Sunset serta implikasi presuposisi tersebut dalam mendekatkan pemahaman dan kelancaran berkomunikasi. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan melalui tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak, melalui teknik rekam dan catat. Data berupa kata, frase, atau kalimat dalam transkrip dialog film Before Sunrise dan Before Sunset. Selanjutnya data diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu data implikatur percakapan dan data presuposisi. Setelah itu, data dianalisis menggunakan metode interpretatif sedangkan penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data implikatur percakapan yang ditimbulkan oleh pelanggaran prinsip kerjasama dalam film Before Sunrise dan Before Sunset terbagi menjadi empat kategori yaitu: 1) implikatur percakapan karena pelanggaran maksim kuantitas, yang terdiri dari implikatur percakapan a) menolak, b) merahasiakan, c) menyatakan keraguan, d) membela diri, dan e) menyalahkan; 2) implikatur percakapan karena pelanggaran maksim kualitas, yang terdiri dari implikatur percakapan a) mengurangi rasa bersalah, b) merendah, c) menyatakan gurauan, dan d) mengejek; 3) implikatur percakapan pelanggaran maksim relevansi, yang terdiri dari implikatur percakapan a) menolak memberikan jawaban, b) menyetujui, serta c) menghindar; serta 4) implikatur percakapan pelanggaran maksim cara yang terdiri atas a) meminta pemahaman mitra tutur, b) memberikan semangat, c) memberitahukan, d) mengurangi rasa bersalah, e) memberikan pujian, f) mengolok-olok, g) menyatakan keterkejutan, h) memprotes dan i) menunjukkan. Dari kategori di atas diperoleh implikasi implikatur percakapan bahwa memberikan tuturan yang melebihi informasi yang dibutuhkan dapat meminimalisir kemungkinan salah paham akibat penolakan, serta mengintimidasi mitra tutur, sedangkan memberikan tuturan yang tidak informatif kepada mitra tutur membuat penutur memegang kendali atas mitra tuturnya. Implikasi lainnya adalah tuturan yang tidak benar dapat dimanfaatkan oleh pelaku tutur untuk menunjukkan kesopanan, menciptakan kelucuan, serta mengakrabkan diri. Selain itu memberikan tuturan yang tidak relevan dapat digunakan oleh pelaku tutur untuk menyembunyikan rahasia, mengalihkan fokus mitra tutur, atau memberi tanda mitra tutur untuk menghentikan topik pembicaraan tersebut. Sementara itu, implikasi lain juga menunjukkan bahwa tuturan yang tidak jelas memberikan kesempatan mitra tutur untuk menentukan keputusan terlebih dahulu. Sementara itu, presuposisi yang berhasil diidentifikasi melalui pemicu presuposisi Levinson, yaitu: 1) Definite description, 2) Factive verbs, 3) Implicative verbs, 4 ) Iteratives, 5) Temporal Clauses, 6) Implicit clefts with stressed constituents. Sementara itu kegagalan ketidakefektifan komunikasi terjadi karena mitra tutur tidak mampu menangkap pemicu presuposisi yang dimaksud oleh penutur untuk membangun asumsi sesuai yang dikehendaki penutur. Implikasi presuposisi dalam mendekatkan pemahaman dan kelancaran berkomunikasi tersebut adalah pengetahuan terhadap pemicu presuposisi memudahkan mitra tutur menciptakan interaksi berbahasa yang efektif dan komunikatif. Selain itu, untuk menghindari kegagalan mepresuposisikan sesuatu dalam berkomunikasi, pemahaman akan budaya mitra tutur perlu dikuasai oleh para pelaku tutur
Kata kunciimplikatur percakapan, prinsip percakapan, presuposisi, pemicu presuposisi
Program StudiUGM
No Inventaris0509-H-2011
Deskripsixiv, 120 p., bibl., ills., 29 cm.
BahasaIndonesia
JenisTesis
Penerbit[Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2011
LokasiPerpustakaan Pusat UGM
FileTidak tersedia
* Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..