Rabu, 28 September 2011

Kritik Terjemahan di Indonesia


Penilaian di atas menggarisbawahi apa yang selama ini santer diwacanakan di masyarakat. Dalam "Seminar Sehari tentang Penerjemahan Buku", 1991, di Jakarta, misalnya, kita mendengar tentang seorang dosen di Universitas Indonesia yang melarang para mahasiswanya membeli buku-buku ekonomi terjemahan terbitan sebuah penerbit di Jakarta sebab karya-karya terjemahan itu menyesatkan. wew sadis banget yach :(


Dalam babak final Kontes Putri dan Pangeran Buku Indonesia, September 1996 di Jakarta, seorang peserta menilai, terjemahan karya asing yang dibacanya jelek bahasanya. Dalam peluncuran dan diskusi buku, 2 Oktober lalu di Lemhanas, Dr Salim Said berkisah bahwa ia kapok membaca buku terjemahan, terutama dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, karena sering menyimpang dari makna teks asli. Dan menurut Satmoko Budi Santoso, (Matabaca Oktober 2003), masalah ini telah dipersoalkan dalam berbagai artikel, reportase, dan surat pembaca di koran-koran. Bila memang demikian kondisi karya terjemahan yang beredar dalam masyarakat kita, menjadi pertanyaan siapa yang bertanggung jawab? Penerjemah? Editor? Penerbit? Publik pembaca? Lalu apa yang perlu dilakukan?



Pengertian Penerjemahan



Menerjemahkan ialah "me-reproduksi di dalam bahasa sasaran padanan yang secara wajar paling dekat dengan pesan dalam bahasa sumber, pertama-tama sehubungan dengan arti dan kedua sehubungan dengan gaya" (Nida & Taber, 1974).


 Menurut Nida dan Taber, penerjemahan harus pertama-tama bertujuan me-re-produksi pesan, bukan kesamaan antara ungkapan dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran. Terjemahan terbaik, menurut mereka, ialah terjemahan yang tidak berbau terjemahan. Sementara itu, Newmark mengemukakan delapan "metode" penerjemahan yang didasari oleh "tujuan" di samping pertimbangan "untuk siapa" penerjemahan dilakukan. Empat dari kedelapan metode itu berorientasi pada "bahasa sumber", empat lainnya berorientasi pada "bahasa sasaran". Oleh Newmark kedelapan metode penerjemahan itu digambarkan dalam suatu diagram yang disebutnya diagram-V. Delapan metode penerjemahan itu ialah: (1) penerjemahan kata demi kata, (2) penerjemahan harfiah, (3) penerjemahan setia, (4) penerjemahan semantis, (5) saduran, (6) penerjemahan bebas, (7) penerjemahan idiomatis, dan (8) penerjemahan komunikatif. 


Menurut Newmark, hanya metode (4) semantic translation, (7) idiomatic translation, dan (8) communicative translation yang hasilnya bisa disebut terjemahan (Lih Benny Hoed, Op.Cit).


Masalah pokok dalam penerjemahan, seperti ditegaskan Benny Hoed, ialah kesulitan menemukan padanan.


 Seandainya padanan sudah ditemukan, setiap unsur bahasa yang kita padankan masih terbuka untuk berbagai penafsiran. Demikianlah sehingga pengertian penerjemahan yang "benar" sangat tergantung dari faktor di luar teks itu sendiri. 


Faktor luar itu yang pertama ialah "penulis teks", yang dalam menghasilkan tulisannya tidak kalis dari pengaruh pendidikan, bacaan, dan faktor luar lain yang mempengaruhi tulisannya. Ia sudah berada dalam jaringan intertekstual. 


Faktor kedua ialah "penerjemah", yang dalam upaya mengalihkan pesan dari bahasa sumber tak terbebas pula dari jaringan intertekstual tersebut. Ia mempunyai peranan sentral pada proses penerjemahan berkat keputusan yang diambilnya dalam menjatuhkan pilihan antara ideologi foreignization, yaitu pemberian emfasis pada bahasa sumber dengan segala implikasinya dan ideologi domestication, yaitu pemberian emfasis pada bahasa sasaran dengan segala implikasinya.


 Faktor ketiga ialah sidang "pembaca" yang karena juga berada dalam jaringan intertekstual bisa mempunyai macam-macam tafsiran tentang teks yang dibacanya. 


Faktor keempat alah perbedaan "norma" yang berlaku dalam bahasa sasaran dan bahasa sumber. 


Faktor kelima ialah "kebudayaan" yang melatari bahasa sasaran. 


Faktor keenam ialah "hal yang dibicarakan" dalam suatu teks yang bisa dipahami secara berbeda-beda oleh penulis teks sumber dan penerjemah, serta pembaca. 


Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa penerjemah mempunyai tanggung jawab berat (dan kadang dibayar murah :(  ) sebab harus mampu memahami dunia teks sumber dan dunia pembaca teks sasaran, dan juga bahwa tidak ada penerjemahan yang sepenuhnya benar dan salah


Konsep "benar-salah" dalam Terjemahan



Relativitas benar-salah dalam terjemahan ini mengakibatkan sulitnya menilai terjemahan. Newmark memilah-milah masalahnya dengan mengemukakan enam cara pandang tentang sebuah terjemahan. 


Yang pertama ialah translation as a science. Dalam pandangan ini, sebuah terjemahan salah atau benar berdasarkan kriteria kebahasaan sehingga kesalahannya bersifat mutlak. 


Cara pandang kedua ialah translation as a craft: penerjemahan sebagai suatu kiat. Dalam hal ini, hanya bisa dikatakan, sebuah terjemahan mempunyai tingkat keterbacaan yang lebih baik dari yang lain. Ini sifatnya tidak mutlak. 


Cara pandang ketiga ialah translation as an art: terjemahan sebagai proses penciptaan. Cara pandang ini biasanya terkait dengan penerjemahan sastra atau tulisan yang bersifat liris. "Penciptaan" dilakukan dengan mencari kata-kata atau ungkapan yang lebih "mengena". 


Cara pandang keempat ialah translation as a taste: terjemahan dipandang sebagai pilihan berdasarkan selera. Dengan demikian, pada kasus cara pandang pertama benar-salah dapat dikatakan "pasti", namun dalam hal cara pandang yang lain, kita harus menanyakan alasan penerjemah memilih terjemahannya (Laporan Diskusi Penerjemahan Relativitas dalam Penerjemahan: Masalah Benar Salah, Lintas Bahasa, No 19/VIII/12, 2000, 1).


Yang pertama-tama harus diperhatikan ialah jenis kesalahan pasti dalam terjemahan, yang masih membeludak dalam karya terjemahan yang beredar dalam masyarakat kita.Beberapa contoh terjemahan ceroboh 
1. Dialog Film


Dalam makalahnya tersebut di depan, Retmono menunjukkan terjemahan yang salah dalam dialog film di televisi, misalnya:* "Get me a shredder". Terjemahannya: "Beri aku baju hangat." Saran: Beri aku penghancur kertas.


* "He wrote a book about chivalry". Terjemahannya: "Ia menulis buku tentang kavaleri". Saran: Ia menulis tentang sifat-sifat ksatria.


* "A whole school of poetry". Terjemahannya: "Sekolah-sekolah puisi". Saran: Suatu aliran puisi tersendiri.


2. "Booklet" Perayaan Ulang Tahun


Sebuah institusi swasta kondang dalam peringatan ulang tahunnya mengeluarkan sebuah booklet dwibahasa yang memuat profil perusahaannya.
 Di bawah ini dikutip beberapa kalimatnya dalam bahasa Inggris.


*To be an excellence institution...


* It started for sale to the public...
*The vision that Indonesian future lives in tourism and believed...
* the title books sold were...
*Total omzet 2002:...


3 Buku Terjemahan


Berikut beberapa buku yang terjemahannya cukup baik, namun tak luput dari kecerobohan yang tidak perlu.


a. Umberto Eco dan Cardinal Martini, 2001, Terj: Yudi Santoso, Beriman atau Tidak Beriman, Sebuah Konfrontasi, Pustaka Promothea, Surabaya. 
Buku aslinya, Belief or Unbelief, A Dialogue, Arcade Publishing, New York, 2000.


*Saya melihat tak satu kitab suci pun yang rasional (hal 54). 
Ini terjemahan dari: I see no scriptural rationale.
Komentar: "rationale" (alasan) berbeda dari "rational" (masuk akal).


*Perintah kesembilan melarang iri hati dengan istri orang lain (hal 55). 
Ini terjemahan dari: The ninth commandment prohibits coveting another man’s woman.
Komentar: padanan "covet" ialah "sangat mendambakan".


* ...etika yang penuh dengan penghargaan yang dalam terhadap (hal 96).
 Ini terjemahan dari: worthy of respect for...
Komentar: "to be worthy of" berarti "patut dihargai atas"




b. Eric Fromm, 1995, Terj: Thomas Bambang Murtianto, Masyarakat yang Sehat, Penerbit Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. 
Judul asli, The Sane Society, A Fawcett Premier Book, 1955.


Nothing is more >kern199m<>under 500m,500m,K,100,3under ,,,,< >kern 200munder 500m,500m,K,100,3under ,,,,< a great number of individuals... suffer from >under 500m,500m,K,100,3under ,,,,< severe forms of mental illness... and >under 500m,500m,K,100,3under,,,,<.... (Paragraf 1 Bab 1, garis bawah ditambahkan). 


Terjemahannya: 


Tak ada yang lebih >under 500m,500m,K,100,3under ,,,,< daripada ide bahwa kita ... sungguh sehat. >under 500m,500m,K,100,3under ,,,,< sejumlah besar individu menderita bentuk-bentuk penyakit mental yang >under 500m,500m,K,100,3under ,,,,< ganas, >under 500m,500m,K,100,3under ,,,,< menghasilkan... Dan >under 500m,500m,K,100,3under,,,,<, kita melihatnya .. .


(Garis bawah ditambahkan)


Komentar: Tidak cermat mengartikan “common" (lazim), "sane" (waras) dan "more or less" (lebih kurang) serta tak menangkap arti frasa "even the fact that" (bahkan kenyataan bahwa) dan ungkapan "as far as someting is concerned (sejauh halnya menyangkut sesuatu) .




c. Ruth McVey (Ed) 1998, Terj: A Setiawan Abadi, Kaum Kapitalis Asia Tenggara, Penerbit Yayasan Obor, Jakarta. Judul asli: South East Asian Capitalists, Southeast Asia Program, Cornell University, 1992.


* "...the Thai economy is now dominated not only by large firms but also that these have combined into..." (hal 37). 


Terjemahannya: "...perekonomian Thai kini bukan hanya didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar ini telah bergabung menjadi..." (hal 57).


Komentar: Kalimat terjemahan ini tidak berjalan.


* Liem had made a highly publicised takeover of the government’s Semen Madura..." (hal 79). Terjemahannya: "Liem mengambil alih, yang menjadi berita besar, Semen Merdeka..."


Komentar: Aneh memisahkan obyek (Semen Merdeka) dari predikat (mengambil alih).




* "...Indonesian owned and managed oil service companies..." (hal 101).
 Terjemahannya: "... perusahaan jasa perminyakan milik dan yang dikelola oleh orang Indonesia..."


Komentar: Terjemahan aneh dan janggal. 
Saran: "...perusahaan jasa perminyakan milik orang Indonesia dan yang dikelola oleh orang Indonesia..."


d. Rhoda E Howard, 2002, Terj: Nugraha Katjasungkana, HAM Penjelajahan Dalih Relativisme Budaya, Penerbit Pustaka Utama Grafiti, 2000. 
Judul asli: Human Rights and the Search for Community, Wetsview Press, 1995.


.* "States that nowadays protect human rights are perforce liberal societies..." (hal 2). Terjemahannya: "Negara-negara yang sekarang melindungi hak asasi manusia dipaksa oleh kondisi masyarakat liberal..."(hal 2).


Komentar: Terjemahan ini membuat perubahan makna yang sangat jauh dari makna teks sumber sebab meleset menafsirkan arti kata "perforce".


Saran: "Negara-negara yang sekarang melindungi hak asasi manusia merupakan negara liberal karena terpaksa.


* "Equality of status is protected in the UN human rights regime" (hal 11). 
Terjemahannya: "Kesetaraan status dilindungi dalam rezim hak asasi manusia PBB..." (hal 16).
Komentar: Kata "regime" dalam teks sumber berarti "system of organizing something", sedangkan kata "rezim" dalam bahasa Indonesia berarti "pemerintahan yang berkuasa."


* ..."Two social trends...encourage disregard for the poor..." (hal 20).
 Terjemahannya: "Dua kecenderungan sosial... mendorong dilakukannya degradasi terhadap kaum miskin..." (hal 31).
Komentar: "disregard" (sikap mengabaikan) tak identik dengan "degradasi"(penurunan pangkat, mutu, dsb).


* The very possibility of debate is resented... (hal 215).
 Terjemahannya: Kemungkinan besar terjadinya debat tidak disukai... (hal 340).
Komentar: Frasa "the very possibility of" berarti "Kemungkinan debat itu sendiri ..."


e. Karen Armstrong, 2001, Terj: Zainul Am, Sejarah Tuhan, Penerbit Mizan, Bandung. 
Judul asli, A History of God, Vintage, 1999.


* ...bukanlah sekadar sebuah ideal yang ke arah itu manusia harus menuju (hal 30). Ini terjemahan dari: " ...was not just an ideal toward which men and women should aspire...(hal 5).


Komentar: Kalimat terjemahan ini kalimat bahasa Indonesia berstruktur asing.


* ...berbicara dalam bahasa Semitik Barat, yang mana bahasa Ibrani adalah salah satunya (hal 37). Ini terjemahan dari: "..spoke West Semitic languages, of which Hebrew is one" (hal 11).


Komentar: Pemakaian frasa "yang mana" dalam kalimat terjemahan membuatnya berstruktur nonstandar.


* "...allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah... (hal 53).
 Ini terjemahan dari: "... the gods your ancestors served... (hal 24).
Komentar: Ini juga kalimat bahasa Indonesia "berstruktur asing".* Berkali-kali dalam buku terjemahan ini ditemukan kata "risalah" (misalnya pada hal 75, 76) sebagai terjemahan kata "message" (hal 42, 43).


Komentar: "Risalah" adalah "karangan ringkas mengenai suatu masalah dalam ilmu pengetahuan". Padanan "message" ialah "pesan"




f. A Dale Timpe (ed.), 1991, Terj: Susanto Budidharmo, Seri Ilmu dan Seni Manajemen Bisnis, Kepemimpinan, Leadership, Penerbit PT Elex Media Komputindio, Jakarta.


* I decided that one way to find out would be to study... (hal 33). 
Terjemahannya: Saya putuskan bahwa salah satu jalan dengan mempelajari...’’ (hal 41).
Komentar: Tak diterjemahkannya kata "to find out" dan penambahan kata "agar" menyebabkan pengertian kalimat terjemahan menjadi lain dari arti kalimat dalam bahasa sumber.




* ... restating in your own words what you think you understand (hal 36). 
Terjemahannya: "... mengulang lagi dalam perkataan anda sendiri apa yang anda pikirkan adalah pengertian anda sendiri.
Komentar: menerjemahkan "what you think you understand" menjadi "apa yang anda pahami menurut anda" jauh lebih jelas dan sederhana daripada terjemahan di atas.


*...That is not because half of an executive’s life I necessarily involved with trouble (hal 42). Terjemahannya: Hal itu tidak berarti bahwa setengah dari kehidupan eksekutif terdiri dari permasalahan (hal 51).
Komentar: Penerjemah mengubah makna kalimat dengan tidak menerjemahkan kata "“because", dan menambahkan kata "berarti".


*...the application of the Pareto Principle to your lifes... can help you to become more effective... manager (hal 37). 
Terjemahannya: "...dengan menerapkan prinsip Pareto dalam hidup Anda ...dapat menjadikan Anda manajer yang lebih efektif (hal 45).


Komentar: Penambahan kata "dengan" pada awal kalimat membuat kalimat terjemahan menjadi tak jelas subyeknya.


*...it is much harder to spot those few who have the will to manage (hal 39).
 Terjemahannya: ...lebih sukar lagi untuk menilai manusia dalam jumlah sedikit dan memiliki kemauan untuk mengelola (hal 46)
.Komentar: Padanan kata "to spot" ialah "mendeteksi." Kalimat "those few who have the will to manage" menjadi kabur maknanya dalam terjemahan "manusia dalam jumlah sedikit dan memiliki..."




Demikianlah beberapa contoh jenis kesalahan terjemahan yang wajib dihindarkan bila kita mau menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.Siapa yang bertanggung jawab?Kondisi karya terjemahan kita yang memprihatinkan membangkitkan pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab. Penerjemah? Editor? Penerbit?Penerjemah pastilah yang pertama-tama harus bertanggung jawab atas kualitas karya terjemahannya masing-masing. Tetapi ada faktor-faktor yang berpengaruh pada kinerja seorang penerjemah, seperti situasi sosial ekonomi, kondisi perpustakaan, dan penghargaan orang terhadap penerjemah dan hasil karyanya. Suatu contoh, artikel penulis Yang Aneh dan Janggal dalam Buku Terjemahan Kita (Kompas, 12/11/ 1996) mendapat tanggapan yang mengingatkan bahwa tuntutan akan kualitas terjemahan perlu diimbangi dengan penghargaan setimpal kepada penerjemah. Sayang artikel tersebut tidak dimuat oleh Kompas sehingga ia kirimkan ke media lain. Ilustrasi lain, suatu hari penulis ini bertanya kepada seorang bergelar PhD dalam ekonomi apakah tertarik untuk menerjemahkan buku-buku ekonomi. Ia menjawab: "It is not worthwhile." Selain itu, beredarnya karya terjemahan, baik atau buruk, tidak ditentukan oleh penerjemah. Jadi, penerjemah bukan satu-satunya penanggung jawab tunggal atas kualitas karya terjemahan yang beredar dalam masyarakatnya.Bagaimana dengan editor? Menurut tim evaluasi pelaksanaan Program Pustaka, pelatihan penyuntingan untuk para editor, penjaga gawang lolosnya naskah untuk diterbitkan, dapat membantu mengurangi beredarnya karya terjemahan yang rendah mutunya. Namun, seperti dikisahkan oleh Satmoko Budi Santoso dalam Matabaca Vol 2/No 2 Oktober 2003, Helmy Mustofa, seorang editor terjemahan menyatakan kewalahan menghadapi policy makro bos penerbitan tempat ia bekerja atau kebijakan redaksional komunal yang kadang-kadang meloloskan naskah terjemahan yang menurutnya sangat tidak layak edar. Pengalaman seperti itu mungkin banyak terjadi dalam praktik penerbitan.Rupanya penerbit juga harus bertanggung jawab atas kualitas buku terjemahan yang beredar di masyarakat. Adalah penerbit yang memegang tanggung jawab akhir atas terbit tidaknya sebuah naskah. Kenyataan menunjukkan bahwa beredarnya terjemahan yang bermutu rendah sering justru bersumber pada faktor penerbit/stasiun televisi/perusahaan subtitling dan sulih suara, yang demi menekan biaya memilih editor atau penyelaras yang mau mendapat honor kecil. Tetapi, sebagai pengusaha, mereka selalu mempunyai alasan untuk berupaya agar usaha mereka tetap hidup.Di luar ketiga pihak yang disebut di depan, perlu dicatat bahwa publik pembaca buku, pemirsa film layar lebar dan film layar kaca, dan konsumen karya terjemahan pada umumnya juga dapat mempunyai pengaruh terhadap tinggi rendahnya kualitas terjemahan yang beredar di masyarakat. Sebagai konsumen mereka berhak, dan dalam arti tertentu wajib menyuarakan pendapat mereka tentang produk yang mereka pakai. Ali Audah, ketua pertama HPI, ketika menjawab pertanyaan dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 1975, mengatakan bahwa sampai saat itu belum ada koreksi masyarakat terhadap hasil-hasil terjemahan kita. Akibatnya, masih banyak beredar terjemahan yang mengandung kesalahan.


Apa yang harus dilakukanUntuk meningkatkan kualitas terjemahan, penerjemah sendiri perlu memotivasi diri untuk selalu belajar tanpa henti sesuai dengan semangat dasar Kode Etik Penerjemah dalam hal orientasi ke arah keunggulan profesional dan integritas moral-intelektual. Sebagai penunjang upaya tersebut, asosiasi penerjemah dan Pusat-pusat Penerjemahan diharapkan bersinergi dengan asosiasi perbukuan yang lain, terutama Ikapi dan Ikapindo, dan perguruan tinggi yang mempunyai program studi penerjemahan dan penyuntingan untuk memperbanyak dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan sarana-sarana pembelajaran seperti seminar, diskusi, dan pelatihan tentang penerjemahan dan editing.Dalam Kongres Penerjemahan Nasional di Solo, Tuntun Sinaga dan Mashadi Said, dalam makalah Penerjemahan Buku Teks di Indonesia: Prospek, Hambatan, dan Komitmen", mengusulkan agar para penerjemah, HPI, dan institusi-institusi yang peduli dengan percepatan transfer ilmu dan teknologi mendorong pemerintah menyediakan anggaran khusus bagi proyek penerjemahan, yang bisa dirancang untuk menghasilkan suatu produk terjemahan secara besar-besaran. Ini mengingatkan orang akan cerita Ali Audah tentang pertemuan pada 1974 antara Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud dan HPI sekitar perlunya mengadakan buku-buku terjemahan di bidang ilmiah dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Pada 1975, menurut Audah, pertemuan demi pertemuan diadakan dengan mengikutsertakan perguruan-perguruan tinggi seperti UI, IPB, ITB, UGM, IKIP, dan kalangan perbukuan seperti UI Press, Ikapi, dan HPI serta Bappenas. Menurut wakil dari Bappenas, dana untuk penerjemahan dan penulisan buku tidak menjadi soal asal sudah ada DUP dan DP-nya. Waktu itu Depdikbud bahkan sudah pula merumuskan beberapa ketentuan, sampai pada prosedur dan pelaksanaannya. Anehnya, kata Ali Audah, rencana itu menguap begitu saja tanpa ada kelanjutan (Lihat: "Buku-buku Ilmiah Masih Perlu Diterjemahkan", dalam Frans Parera (ed.), Pustaka Kita Dari Pameran ke Kultur Membaca, Panitia Pameran Buku Internasional Ikapi, Jakarta, 1982)Mungkinkah kini sudah waktunya untuk membuat proyek penerjemahan besar-besaran seperti itu? Sementara itu, pengalaman lain bertutur bahwa desakan untuk menggelindingkan Keppres No 110, 13 September 1999, tentang Dewan Buku Nasional ditanggapi oleh pejabat pemerintah yang berwenang saat ini dengan sikap khawatir kalau-kalau, seperti dewan-dewan yang lain. Dewan Buku Nasional itu akan membebani anggaran pemerintah.Dalam hal ini relevan untuk disebut usulan Satmoko Budi Santoso (cfr. Matabaca, Oktober 2003) tentang Lembaga Pemantau Penerjemahan. Menurutnya, kualitas karya terjemahan yang beredar di masyarakat kita begitu buruknya sehingga mutlak diperlukan suatu lembaga pemantau penerjemahan yang sebaiknya dipercayakan kepada Departemen Pendidikan Nasional. Bahkan ia mengusulkan agar manuskrip buku-buku hasil terjemahan diseleksi lebih dahulu oleh pihak lembaga pemantau. Menurutnya, cara semacam itu akan mengerem membanjirnya karya terjemahan jelek yang membohongi masyarakat kita. Sensor preventif? Wah, ini usulan aneh dari seorang penulis kreatif.Usulan lain datang dari Dr Ignas Kleden. Dalam pembicaraan dengan penulis, Ignas mengemukakan, sebagai pertanggungjawaban etis intelektual atas karya terjemahan yang beredar, kalangan penerbit wajib menyelenggarakan suatu media yang memuat sorotan-sorotan kritis, ilmiah, dan obyektif atas buku-buku terjemahan yang terbit. Kritik macam itu bukanlah untuk menghancurkan reputasi si penerjemah atau penerbit yang bersangkutan, tetapi untuk melecut komunitas perbukuan, termasuk pembaca, agar terus-menerus saling belajar.Perlu diketahui bahwa Lintas Bahasa, penerbitan intern Pusat Penerjemahan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, UI, sesekali memuat kritik semacam itu. Suatu contoh, Drs Suprapto dalam Lintas Bahasa, No 15, 16, VII/6/99, mengkritik terjemahan Foundations of Behavioral Sciences: Preface, karya Fred N Kerlinger, ke dalam Bahasa Indonesia, oleh Drs Landung R Simatupang. Sejumlah sorotannya yang kritis menyangkut perubahan makna, pilihan padanan kata, perubahan fungsi atau kategori kata tanpa perubahan bentuk, penambahan kata untuk menjelaskan, baik yang bisa dipertanggungjawabkan maupun yang tidak. Antara lain, ia mengkritik terjemahan "devotion" menjadi "devosi", sementara ada padanannya yang pas, "pengabdian". Ia juga mengecam terjemahan frasa "hardheaded attitude" (sikap realistis dan praktis) menjadi "sikap dingin."
Tampaknya, kalangan penerbitan buku perlu secara serius menanggapi usulan Ignas Kleden. Apakah majalah Matabaca dapat memenuhi kebutuhan urgen ini?

sumber: http://aziz.byethost3.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..