Selasa, 26 Juli 2011

The Way Back Movie Trailer Official (HD)




RESENSI FILM: THE WAY BACK 





PELARIAN PANJANG: Sebuah adegan dari fim dengan visual menakjubkan dan akting yang jempolan dari sutradara Peter Weir, “The Way Back.”  (NEWMARKET FILMS)


PELARIAN PANJANG: Sebuah adegan dari fim dengan visual menakjubkan dan akting yang jempolan dari sutradara Peter Weir, “The Way Back.” (NEWMARKET FILMS)
(Epochtimes.co.id)
Mereka mengalami kondisi yang sangat mengerikan, musim dingin di Siberia, teriknya gurun pasir, dan ideologi utopis. Pada 1940, seorang tawanan perang Polandia dan enam tahanan politik lainnya melarikan diri dari kamp kerja paksa Rusia, Gulag, dengan tujuan India.
Mengisahkan perjuangan ‘bertahan hidup’ memilukan secara fisik dan spiritual, adaptasi dari novel memoar Slavomir Rawicz, “The Way Back”-nya Peter Weir menggebrak min
ggu ini setelah terbatasnya pembukaan sekelas Oscar di Los Angeles, akhir 2010.
1940 adalah era buruk bagi orang Polandia di Rusia. Sama sengsaranya dengan orang Rusia di Rusia, kecuali jika nama Anda adalah Stalin. Janusz, seorang perwira Kavaleri Polandia, bertempur melawan Nazi yang menyerang dari Barat. Rusia yang menyerang dari Timur mengecapnya sebagai mata-mata (menggunakan “kontak” dengan orang Jerman sebagai alasan kemunafikan belaka) dan dia dipenjarakan di kamp kerja paksa Siberia. Di sini dia bertemu masyarakat Soviet yang ikut tersapu rezim Stalin.

Janusz dengan cepat berteman dengan Khabarov, aktor Rusia yang dihukum atas perannya yang terlalu simpatik sebagai seorang bangsawan. Dia juga menghormati Mr Smith, seorang insinyur Amerika yang memikat Rusia selama Masa Depresi dengan menjanjikan pekerjaan, namun secara naluriah menyangsikan Valka, salah satu anggota “Urki” (alias “Pencuri Bergengsi”), karir kriminal yang menjalankan kamp-kamp di tingkat barak. Namun, mereka membiarkan si preman bergabung dalam usaha pelarian karena pisau yang dia bawa.
Di tengah perjalanan, mereka juga enggan mengizinkan seorang gadis bergabung — Irena, seorang anak yatim piatu akibat sapu bersih rezim. Meskipun Smith takut dia akan memperlambat jalan mereka, nampaknya dia satu-satunya yang dapat menarik seseorang dari cangkang penjaranya yang keras.





MOTLEY GROUP: Jim Sturgess, Colin Farrell, dan Ed Harris di “The Way Back.”  (NEWMARKET FILMS)
Rencananya sederhana — langsung ke Danau Baikal hanya dengan kain yang mereka bawa di punggung dan dari sana baru kemudian berimprovisasi. Tentu saja, banyak masalah, seperti makanan dan tempat tinggal. Sulit membayangkan lanskap yang lebih menakutkan daripada yang mereka hadapi, Gurun Gobi dan Pegunungan Himalaya.
Perjalanan panjang ini bukan ide asli. Namun, ketika mereka menyadari bahwa Mongolia juga menyerah pada ideologi komunisme, mereka tidak punya pilihan lain selain tetap maju.
Keberhasilan “Way” mengungkapkan perjalanan manusia melawan alam, film ini juga menangkap realitas era Stalin dengan gamblang. Misalnya, kita akan melihat reruntuhan biara Buddha diporak porandakan oleh komunis, yang menggemakan pengalaman Voss, seorang imam Ortodoks Latvia, yang jiwa remuk redam bersamaan dengan dihancurkan gerejanya.
Dengan pemandangan terlarangnya dan terik sinar matahari, “Way” menjadi kendaraan yang sempurna untuk menangkap kepekaan visual sutradara Weir. Para penonton akan dimanjakan dengan sudut terpencil belahan dunia yang sebelumnya tidak pernah diinjak oleh manusia. Namun, film ini juga memiliki performa yang lumayan.
Meskipun Jim Sturgess telah muncul di beberapa proyek kelas atas di masa lalu, tidak ada proyek yang sekaliber ini. Sulit menjadi “orang baik” di sebuah produk tim alias ensemble cast, tapi ia berhasil membuat Janusz menjadi sosok paling mengesankan dari pelarian, sangat efektif membangun motivasi ke sosoksuperhuman-nya.





MR. SMITH: Ed Harris di “The Way Back.”  (NEWMARKET FILMS)
Ed Harris juga berperan sangat bagus sebagai Smith, sangat mampu mengekspresikan kesalahan, kebencian, dan kesopanannya. Sungguh, hampir seluruh pemain menyatu melalui karakter masing-masing, pencampuran yang mulus ke dalam cerita epik, kecuali Colin Farrell, yang agak canggung sebagai Valka.
“The Way Back” mungkin kisah sulitnya kehidupan di antara berbagai elemen, tetapi sebenarnya merupakan bagian dari tragedi buatan manusia yang lebih besar. Weir sangat mampu mengungkapkan rumah menjadi titik akhir yang menggugah. Film ini dibuat dengan sangat halus, drama manusia yang emosional dan layak dipertimbangkan memperoleh penghargaan.  (Joe Bendel / The Epoch Times / feb)
Joe Bendel menulis tentang film independen dan jazz dan menetap di New York. Untuk membaca artikel yang paling terbaru, silakan kunjungi http://jbspins.blogspot.com


wanna download????
CLICK IT HERE



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..