Senin, 03 Mei 2010

PERGURUAN TINGGI IDAMAN

Perguruan tinggi idaman. Ya, “Perguruan tinggi Idaman”, sebuah frasa yang begitu indah didengar tapi perlu perjalanan dan perjuangan panjang untuk merealisasikan idealisme yang diinginkan. Menurut yang saya pahami sejak pertama kali duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswa baru dan Alhamdulillah sudah 9 tahun jadi dosen sampai sekarang ini rasanya antara idealisme dan realitas yang dilihat masih jauh dari harapan.Banyak kekurangan-kekurangan di sana-sini yang kayaknya masih perlu dibenahi. Berikut kini gambaran kampus ideal dan solusi realistis yang bisa dikerjakan:

POIN GAGASAN YANG PERTAMA:
Perguruan tinggi idaman adalah perguruan tinggi yang di dalamnya telah terintegrasikan 3 unsur penting dalam proses belajar dan mengajar yaitu: kognitif, psikomotorik dan afektif. Selama ini aspek kognitif telah diberi penekanan yang “overload” alias terlalu banyak sehingga mengabaikan aspek psikomotorik dan afektif. Padahal jika aspek psikomotorik diabaikan yang terjadi adalah mahasiswa yang “gagap” dan bingung memasuki dunia kerja dan kancah kehidupan di masyarakat. Kurangnya aspek ini kelihatan sekali ketika mahasiswa terjun di Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan setelah lulus dari studinya dan mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang masing-masing. Yang saya tahu banyak perusahaan besar yang malas menerima lulusan “fresh graduate” karena dianggap ngga punya skill/keterampilan yang memadai karena mereka meski pandai tidak siap pakai alias perlu ditraining dulu. Kemudian kurangnya aspek afektif menyebabnya munculnya generasi muda yang meski pandai tapi kurang memegang prinsip religiusitas dan moralitas. Di alam yang cenderung bernuansa materialistik ini guru dan dosen dianggap sebagai sekedar seorang pekerja yang dibayar mahal untuk menyampaikan ilmu. Sehingga adab dan sopan santun mulai luntur dan sirna. Untuk itu saran saya ketiga aspek ini perlu diintegrasikan dan disinergikan sehingga menghasilkan output/lulusan yang berkualitas luar dalam. Bukan hanya pandai saja tapi punya keterampilan yang cukup dan moralitas yang baik.

POIN PEMIKIRAN YANG KEDUA:
Perguruan tinggi idaman adalah perguruan tinggi yang mengedepankan aspek moralitas dan religiusitas. Biar pinter dan punya keahlian seperti apapun jika moralitas dan religiusitasnya buruk saya kira negeri kita tidak akan semakin maju tapi makin terpuruk dan menjadi bahan ejeken negeri-negeri lain. Satu contoh adalah sebuah Perguruan Tinggi di Bangladesh lulusannya telah ditunggu-tunggu oleh banyak perusahaan bukan karena alumninya sangat cerdas atau sangat terampil tetapi karena lulusan dari Perguruan tinggi tersebut punya sifat kejujuran yang testable. Hal ini bisa pahami dengan logika ; andai anda seorang pimpinan perusahaan dan ada 2 calon yang melamar untuk satu lowongan. Calon pekerja pertama pandai tapi tipe penipu. Calon pekerja kedua orang yang tidak begitu pandai tapi jujur. Jika hanya ada 2 pilihan kira-kira mana yang akan anda pilih? Tentunya calon pekerja yang kedua yang dipilih. Untuk mewujudkan moral yang baik saya kira tidak cukup hanya sekedar ceramah dan himbauan di kelas tetapi setiap rektor, dekan, dosen dan karyawan kampus perlu menjadi percontohan yang baik mengenai moralitas dan religiusitas. Perlu adanya atau diperbanyak kajian-kajian keagamaan yang “-interaktif-inspiratif-menyentuh Qolbu” dan juga “spiritual outbond” untuk memperbaiki moral anak didik kita di waktu liburan semester. Spiritual outbond ini bukan hanya untuk mahasiswa tapi juga para dosen dan karyawan yang justru lebih perlu karena mereka merupakan “Exemplary” atau percontohan yang bisa “digugu” dan “ditiru” oleh mahasiswa yang notabene lebih muda dalam usia.
POIN PEMIKIRAN YANG KETIGA :
Perguruan tinggi idaman adalah perguruan tinggi yang berpihak pada orang miskin. Mestinya atau seharusnya pemerintah menyediakan sebanyak-banyaknya pendidikan yang biayanya murah kalo perlu gratis agar orang miskin yang anaknya pandai bisa mengenyam pendidikan dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Kalo perlu bisa S2 dan S3 di luar negeri seperti Andrea Hirata si anak pulau Belitong. Satu contoh institusi yang baik adalah STAN (sekolah tinggi Akutansi Negara) yang dipertahankan oleh ibu Sri Mulyani untuk tetap menampung mahasiswa pandai dari daerah-daerah tetapi menghendaki pendidikan yang murah. Terlepas dari kasus Bank Century yang diduga melibatkan Ibu Sri Mulyani , ide sekolah murah tapi berkualitas seperti STAN perlu dipertahankan dan dilanjutkan. Jangan sampai dibubarkan. For more info, di tempatnya Fidel Castro yaitu negara Kuba, pendidikan bisa gratis. Padahal negaranya perfalsafah komunis. Tapi selidik-punya selidik ternyata gratisnya itu karena dibiayai dari peredaran narkoba atau mariyuana. Waaah ngeri ya…kita jangan ikut-ikut jeleknya (pembiayaan pendidikan gratis dari hasil jualan narkoba) tapi ambil baiknya. Pendidikan gratis. Ya pendidikan gartis. Itu yang perlu dipikirkan oleh pemerintah kita. Jangan hanya supaya rakyat taat membayar pajak tapi uangnya dilarikan Gayus Tambunan ^___^

POIN PEMIKIRAN YANG KEEMPAT:
Saya baru belajar sedikit metode mengajar tetapi sejauh ini ada satu falsafah dan metode yang mempersonakan saya yaitu falsafah Konstruktivisme, yaitu satu falsafah yang mengajarkan siswa untuk mengaitkan antara pengalaman yang sebelumnya dengan apa yang sedang dipelajari di kelas. Hal ini juga harus dipahami oleh pendidik dimana mereka harus merangsang dan mendorong anak didiknya untuk meng-eksplorasi korelasi antara pengalaman siswa dengan materi ajar yang diberikan. Dengan falsafah dan metode ini suasana belajar dan mengajar betul-betul dirasakan manfaatnya dan tidak monoton. Metode ini jauh lebih baik daripada metode tradisional yang menganggap siswa hanya sekadar botol kosong yang siap diisi sementara guru dan dosen adalah sumber ilmu yang siap menjadi ‘container’ atau pengisi ilmu di tiap kepala siswa. Sungguh sedih jika anak didik kita sebagaimana kata pak sawali tuhusetya dalam blognya, hanya sekadar mesin penghafal ilmu. Dengan 4 poin diatas apabila benar-benar diresapi dan diamalkan solusinya semoga output pendidikan tinggi kita menghasilkan lulusan yang benar-benar berkualitas.

Impian saya adalah punya mahasiswa yang mandiri, berkarakter kuat, punya moralitas dan religiusitas yang tinggi, punya jiwa peneliti dan enterpreneurship atau kewirausahaan. Yen ketemu yang model gini ga rugi deh kita ambil menantu kalo kita punya anak gadis yang sudah siap menikah. ^_^ Semoga . Oh semoga . Allah Qobul Farmahe. Semoga Allah Kabulkan. Amieeen 99x.
N.B: Tulisan singkat ini dikarang dalam rangka mengikuti lomba penulisan blog yang diadakan oleh kampus UII djogja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..