Senin, 01 Maret 2010

UNGKAPAN BAHASA YANG POSITIF

Reformasi yang berasal dari kata Bahasa Inggris reform adalah suatu semangat pembaharuan untuk merombak tatanan lama yang menghambat kemajuan menuju masyarakat madani yang lebih tertata dan lebih baik. Jika dikaji setelah bertahun-tahun lamanya berlangsung era ini selain hasil-hasil yang positif terdapat juga ekses negatif dimana media cetak dan elektronik yang sebelumnya banyak mendapat represi dari pihak birokrat sekarang lebih bebas bahkan terkesan “terlalu bebas” dalam menyatakan gagasan dan opininya.
Kebebasan tersebut terkadang bebas lepas seperti melewati jalan tol sehingga kurang adanya kontrol terhadap ungkapan bahasa yang terkadang menggunakan kata-kata yang kasar, vulgar dan porno. Ungkapan bahasa yang negatif semacam itu mudah kita temui sekarang ini pada judul-judul novel, film komedi nasional dan produk media apapun yang mengarah hanya pada mengikuti selera pembaca atau penonton. Contoh-contoh yang vulgar ialah judul-judul film yang sedang diputar di bioskop sekarang ini yaitu Kutunggu Jandamu, Merem Melek, Mas suka Masukin aja, Maaf saya menghamili Istri anda, Kawin Kontrak lagi dan lain-lain sebagainya.
Persoalan penting yang ingin dikemukakan disini adalah perlunya sosialisasi ungkapan bahasa yang positif agar pikiran kita menjadi lebih konstruktif dan positif. Hal ini saya kira yang justru sangat diperlukan di era kondisi sosial ekonomi yang carut-marut di negeri ini, bukan ungkapan-ungkapan bahasa negatif yang memajalkan otak dan mengotori hati nurani.
Kajian tentang ungkapan bahasa dan korelasinya dengan pikiran manusia merupakan obyek kajian Psikolinguistik. Aitchinson mendefinisikan Psikolinguistik sebagai “Ilmu yang mempelajari proses mental yang dilalui oleh manusia dalam mereka berbahasa” (1998:1). Dalam salah satu cabang Linguistik terapan ini dinyatakan bahwa ungkapan-ungkapan bahasa manusia baik yang mengarah ke positif atau negatif akan sangat mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Taufan M. Piliang seorang motivator muda dalam sebuah presentasinya pernah menjelaskan bahwa jika seseorang berkata ,”Saya bahagia, optimis dan gembira”, maka hal ini sedikit banyak akan membantu membentuk pikiran yang positif, sedangkan ungkapan bahasa yang negatif seperti, “Saya gagal, pesimis dan sedih” juga akan membentuk pikiran dan perasaaan yang negatif. Socrates, seorang filsuf Yunani pernah mengatakan False words are not only evil in themselves, but they infect the soul with evil artinya “Kata-kata yang salah tidak hanya jahat dalam dirinya sendiri/tuturannya, tetapi dia memberi infeksi pada jiwa dengan kejahatan” (Socrates in Tony Crowley,1989:254).
Sebagai solusi dari problema di atas mari kita produksi sebanyak-banyaknya ungkapan bahasa yang positif dan mereduksi seminimalnya ungkapan bahasa yang negatif demi mewujudkan bangsa Indonesia yang benar-benar berbudaya dan beradab .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..