Pilih Kuliah di Luar Negeri atau Dalam Negeri

Namecheap.com Kuliah Sambil Bekerja BANYAK pelajar Indonesia yang ingin sekali melanjutkan kuliah di luar negeri.Masing-masing negara memiliki karakteristik berbeda.Alasan utama karena kualitas pendidikan yang lebih baik.




Konsultan pendidikan internasional dari ANZ, Mimi Ang, mengatakan, secara umum, kualitas pendidikan di luar negeri, terutama Amerika Serikat (AS), Eropa,Australia, dan beberapa negara maju di Asia memang lebih baik dibandingkan Indonesia.

“Secara umum lebih baik, tetapi ada juga perguruan tinggi yang peringkatnya di bawah perguruan tinggi yang maju atau elite di Indonesia,”katanya. Mimi mengungkapkan, negaranegara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat masih menjadi pilihan utama pelajar Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri.

Salah satu penyebabnya karena bahasa Inggris adalah bahasa asing yang diajarkan di kurikulum sekolah Indonesia sehingga kendala bahasa relatif lebih mudah diatasi. “Ini berbeda dengan beberapa negara, seperti Jerman yang menggunakan bahasa Jerman,”katanya.

Karena kendala ini, beberapa negara-negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar kuliah kini sudah mulai menggunakan bahasa Inggris, salah satunya Belanda.Meski belum semuanya, namun sejak 1998, negeri kincir angin itu sudah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Salah satu negara favorit untuk melanjutkan kuliah adalah Australia.

Mimi menjelaskan, satu penyebabnya adalah Australia yang relatif dekat dengan Indonesia dibanding negara berbahasa Inggris lain. “Ini membuat home sick mahasiswa Indonesia atau orangtua yang ingin mengunjungi anaknya relatif bisa teratasi,” katanya. Untuk menyelesaikan kuliah S1 di Australia dibutuhkan waktu rata-rata 4 tahun dan S2, 1–2 tahun.

Biaya per tahun untuk S1 adalah Rp108–269 juta per tahun dan S2 sekitar Rp126–314 juta per tahun. Itu masih khusus biaya kuliah,belum biaya lain. Dengan biaya itu, pemerintah Australia tampaknya sadar perlu aturan pendukung agar biaya itu tidak membebani mahasiswa.

Aturan pendukung itu adalah pemberian aturan yang lebih longgar soal waktu kerja part time bagi mahasiswa. Jika masa kuliah, mahasiswa hanya boleh bekerja maksimal 20 jam per minggu. Jika liburan,mahasiswa boleh bekerja lebih dari 20 jam per minggu. Biasanya, upah kerja part time adalah Rp71.000–134.000 per jam.

Selain itu,pemerintah Australia juga memberikan perpanjangan visa selama 18 bulan bagi mereka yang telah lulus kuliah (baik S1 atau S2). Perpanjangan visa ini untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk mencari pekerjaan di sana. Di Inggris hampir sama dengan di Australia,namun gelar sarjana dapat ditempuh selama tiga tahun dan gelar master hanya dengan satu tahun.

Gelar tersebut dapat diraih dalam waktu singkat karena sistem yang diterapkan secara intensif sehingga lebihefisiendarisegiwaktudanbiaya. Hanya saja, biaya kuliah di Inggris jauh lebih mahal. Untuk S1 perlu Rp130–445 juta dan S2 Rp131–427 juta per tahun.

Khusus siswa yang belajar minimal enam bulan di Inggris akan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis serta izin untuk mencari kerja paruh waktu (part-time job) maksimal 20 jam per minggu selama masa kuliah dan lebih dari 20 jam selama masa liburan.

Efektif sejak Mei 2006, pemerintah Inggris melalui Prime Minister Initiative (PMI) memberikan kesempatan bagi seluruh siswa internasional yang menempuh pendidikan pascasarjana (S2) di Inggris memperolehizinuntuktinggaldanbekerja secara profesional di Inggris selama 12 bulan tambahan setelah lulus.

Di Belanda,kebijakan untuk kerja part time lebih ketat. Jika di luar musim panas, mahasiswa internasional hanya boleh kerja 10 jam per minggu. Saat musim panas, waktunya lebih panjang, yaitu maksimal 8 jam per hari.Minimnya waktu kerja part time inibertujuanagarmahasiswa internasional lebih fokus ke kuliah mereka.

Sama seperti di Inggris, Belanda juga memberikan perpanjangan visa selama 12 bulan bagi mahasiswa internasional. Perpanjangan ini untuk memberikan kesempatan bagi mereka mendapatkan pekerjaan di sana. Lama waktu studi di Belanda, hampir sama dengan Indonesia, yaitu 4 tahun untuk S1 dan 2 tahun untuk S2.

Hanya saja,keuntungan di Belanda adalah biaya kuliah yang lebih murah. Untuk S1, butuh biaya Rp34–102 juta per tahun dan S2 Rp73–219 juta per tahun. Yan Soesilo dari konsultan pendidikan asing Anzac mengatakan, sebaiknya setiap mahasiswa yang ingin kuliah di luar negeri tidak hanya menentukan pilihan berdasarkan biaya saja.

Pertimbanganlain,sepertijarak, juga jurusan yang diambil juga dipertimbangkan.“ Jurusan itu penting karena di tiap-tiap negara itu ada spesialisasi, atau mereka itu paling jago pada bidang-bidang tertentu,” ungkapnya.

Belanda, misalnya terkenal dengan hukumnya. Yang harus dipertimbangkan juga adalah kemudahan mobilitas.Seperti di Belanda,mahasiswa yang kuliah di sana tidak perlu diributkan dengan persoalan visa untuk bepergian ke negara-negara lain.

Belanda dan 15 negara lain telah membuat kesepakatan Schangen di mana mereka bisa bepergian ke negaranegara itu tanpa mengurus visa baru.Kemudahan ini memberikan kesempatan untuk menjelajah Eropa dan berkenalan dengan peradaban mereka.





Siapkan Mental dan Kemampuan Memasak

MELANJUTKAN kuliah ke luar negeri, tentu perlu persiapan. Selain kesiapan biaya dan mental, kemampuan memasak ternyata memegang peranan penting.

Berliana Gressy Septianti, 27, yang kini menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengaku kesulitan beradaptasi dengan makanan saat kuliah di Australia. Makanan di sana terasa aneh di mulutnya.

“Saya tidak tahu, semua makanan itu terasa aneh saja di mulut. Saya sudah coba paksa, tetap saja tidak bisa. Jadi saya cukup lama melawan lapar,” kata Gressy lalu tertawa. Gressy waktu itu mendapatkan beasiswa master dari Ausaid untuk berkuliah di Curtin University, Perth, Australia, selama 2 tahun.

Persoalan makanan ini cukup mengganggunya sebab dia mengaku orang yang doyan makan. Sialnya, Gressy mengaku tidak bisa konsentrasi penuh jika perut sedang kosong. “Bukan persoalan uang. Kalau uang, kita bisa dapat uang dengan mudah di Australia. Tetapi, kalau makanan tidak cocok, buat apa juga punya uang,” kilahnya. Karena terdesak situasi, Gressy pun terpaksa belajar memasak.

“Saya terpaksa belajar memasak. Kalau tidak, saya tidak bisa survive di sana,” tuturnya. Berkat kuliah di Australia, perempuan asal Malang ini mengaku kini lumayan mahir memasak. Hampir semua masakan Indonesia bisa dibuatnya. Sekarang dia tengah memperluas kemampuan dengan memasak masakan Italia, Meksiko, juga Spanyol.

Pentingnya kemampuan memasak juga dilontarkan Silvia Yulianti yang sedang menyelesaikan studi magisternya di kampus Unesco – IHE, Delf, Belanda. “Benar sekali itu, kemampuan memasak harus kita asah sebelum pergi. Itu sangat membantu sekali,” katanya.

Sama seperti Gressy, Silvia yang mendapatkan beasiswa StuNed juga mengaku tidak bisa memasak saat berangkat ke Belanda. Tetapi, berkat keterpaksaan di Belanda, dia kini mengaku bisa memasak.

“Mungkin saya harus ke Belanda dulu biar bisa memasak,” katanya. Selain menyelamatkan dari rasa lapar, kemampuan memasak itu ternyata juga bisa menekan biaya hidup. Menurut Silvia, dengan memasak, setidaknya bisa berhemat antara 30%–40% per bulan. Biaya hidup di Belanda sendiri rata-rata Rp9–13 juta per bulan.

“Lumayan, selain berhemat kita juga mendapatkan keahlian baru,” tukasnya. Keduanya sepakat bahwa persiapan mental penting untuk kuliah di luar negeri. Sebab, di sana, mereka akan dipaksa untuk mandiri. Persiapan mental ini juga penting untuk menghadapi lingkungan baru dengan beragam orang dari berbagai macam latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Hanya saja, Gressy menyarankan agar mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri tidak merasa minder atau rendah diri bahwa mereka tidak punya kecerdasan yang sama dengan orangorang lain.

“Pengalaman saya, kita punya kemampuan yang sama kok. Tidak ada bedanya. Asal kita mau bekerja keras, tidak ada persoalan,” tegasnya. Namun, untuk bisa bersaing dengan baik. Keduanya mengingatkan agar kemampuan berbahasa Inggris benarbenar disiapkan. Tanpa kemampuan ini, semuanya akan sia-sia. “Kalau biaya pasti harus disiapkan. Itu tidak perlu dibahas lagi,” tutup Gressy.
(Helmi Firdaus)

Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/pendidikan/kuliah-sambil-bekerja-2.html

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Pilih Kuliah di Luar Negeri atau Dalam Negeri"

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Thanks for your comment...I am looking forward your next visit..